
Seperginya Bastian, Nisa tak langsung istirahat dan tidur. Ia memilih untuk mengelilingi setiap sudut Apartment itu. Setelah puas, dirinya langsung masuk ke dalam kamar dan matanya langsung tertuju pada keindahan kota pada malam hari.
“Gila, bagus banget! Lumayan juga itu om om dokter hihihi. Dia bukan dokter kere, cuma sedikit pelit mungkin, duh gue jadi berasa kaya sugar baby. ” gumam Nisa cekikikan seorang diri, “Semoga papa sama mama gak nemuin gue disini.”
Untuk sesaat ia menikmati pemandangan itu, lalu setelah mengantuk, ia perlahan berjalan menuju tempat tidur dan istirahat. Bayangan demi bayangan dari kejadian beberapa hari yang lalu, membuat nya berulang kali harus menghela napas nya kasar. Ia masih tidak menyangka, di tahun milenial seperti ini, orang tua nya masih memiiki pikiran kuno dan berniat menjodohkan nya dengan anak dari teman mama nya. Sungguh gila bukan.
‘Sayang, kamu lihat teman teman kamu. Michele, Renata, mereka sudah pada menikah dan bahagia. Bahkan sebentar lagi renata akan melahirkan anak kedua. Dan Michele, mama dengar dia sudah hamil. Ayolah Sayang, kamu anak satu satu nya mama. Mau sampai kapan kamu seperti ini, apakah kamu mau menunggu mama dan papa meninggal dulu baru akan menikah hem?’
Sekelebat bayangan perkataan mama nya berhasil mengusik rencana tidur gadis itu, “Michele, dia menikah sama laki laki idaman nya yang sejak kecil. Renata? Ckckck, meskipun dia dijodohkan, tapi om Vino terlihat sangat perhatian dan sayang padanya, lembut dan juga sangat mencintai nya. Sementara gue?? Ckck, apakah mama yakin bahwa laki laki yang mau di jodohin sama gue bisa sayang dan cinta sama gue, ya kalau pun gak bisa setampan om Vino tapi setidaknya bisa lembut dan dewasa kaya dia. Tapi gue gak bisaaaaa!” jerit Nisa menghentakkan kaki nya di atas tempat tidur.
"Gimana kalau ternyata cowok itu, perjaka tua dengan rambut klimis, perut buncit. Pendek, atau jangan jangan, orang itu kaya karena pesugihan, makanya bisa maksa papa sama mama buat ngasih anaknya ke dia. Astagfirullah nyebut nyebut nyebut, untung gue kabur duluan, kalau enggak, hiii!" Nisa bergidik sendiri membayangkan bagaimana calon suami pilihan orang tuanya.
****
“Bas, gimana?” lagi dan lagi, mama Irish kembali menanyakan perihal perjodohan yang sudah ia rencanakan dengan papa Krish.
__ADS_1
Bastian yang kala itu tengah menikmati makan malam pun jadi tidak berselera untuk meneruskan nya. Ia menghela napas nya kasar, lalu menatap mama nya dengan datar.
“Bastian sudah punya pacar mah, jadi berhenti cari jodoh untuk Bastian!” tegas Bastian semakin jengah dengan perdebatan nya.
“Siapa? Wanita mana? Anak siapa? Bagaimana anak nya? Kamu kenal dimana? Dan sudah berapa lama?” tanya mama Irish begitu antusias.
“Mama, tolong lah. Jangan ikut campur sama masalah pribadi Bastian. Bastian capek!”
“Iya mah, biarkan dia memilih calon istri nya sendiri.” Timpal Kai ikut membela sang adik.
“Kai, kamu itu kok seneng banget sih lihat adik kamu masih membujang sampai sekarang! Kamu lihat umur kalian itu gak beda jauh loh. Anak kamu udah gede, dan bahkan otw dua lagi, sementara adek kamu? Apa kamu menunggu mama mati dulu Bas baru mau menikah!” seru mama Irish begitu kesal pada putra bungsu nya.
“Astagfirullah mama, kenapa jadi bicara melantur begitu sih!” saut Bastian mengusap wajah nya dnegan kasar.
“Kalau begitu, kenalkan pacar kamu ke mama. Mama akan melihat bagaimana dia, kalau oke, baru mama akan putuskan berhenti dan membatalkan perjodohan ini.” kata mama Irish dengan tegas tanpa bantahan.
__ADS_1
“Tapi Mah—“ Bastian tidak mungkin mengenalkan pacar nya. Karena hingga kini dirinya tidak ada dekat dengan siapapun. Selama hidupnya, hanya Kiara wanita lain di luar keluarga nya yang dekat dengan nya. Dan sekarang wanita itu sudah menjadi kaka ipar nya.
“Jangan langsung temuin sama mama. Nanti kapan kapan, kamu ajak dia jalan sama Ken dulu, Kalau sama mama mungkin dia masih akan grogi, tapi sama Ken dia pasti bisa santai, berikut nya baru kamu bawa pulang ke rumah.” Kata Kai menengahi perdebatan mama dan adik nya, "Aku yakin, Ken bisa di ajak kerja sama."
“Bang—“ Bastian menatap kakak nya dengan tatapan kesal, pasalnya Bastian tahu bahwa Kai tengah mengerjai nya. Dan Bastian juga yakin bahwa kakak nya tau dirinya sedang berbohong, maka dari itu berbicara begitu.
.
.
.
Hola semua nya ... Masih setia gak nih nunggu kelanjutan bang Abas? Sambil nunggu, mommy mau kasih rekomen novel yang gak kalah seru nih. Yang belum mampir, jangan lupa mampir yah 🥳🥳🥳🥳
__ADS_1