
“Abang, bisa gak sih, lain kali itu kunci dulu pintu nya!” sungut Bastian dnegan kesal, lantaran matanya sudah ternodai oleh kakak nya sendiri.
“Lain kali juga, kalau mau masuk ketuk pintu dulu,” saut Kai dnegan cuek.
“Lah, orang pintu na aja gak di tutup begitu, mentang mentang di atas Cuma ada aku, terus seenaknya gak nutup pintu dan mesumm begitu.”
“Heh, sembarangan aja mesumm! Kamu aja yang main nyelonong!” Kali ini Bastian diam karena yang menyemprotnya bukan Kai, melainkan Kia. Karena percuma berdebat dengan wanita itu, bila pada akhirnya dirinya akan kalah.
“Tau ah, ini yang abang minta tadi!” Bastian memberikan sebuah botol kecil kepada Kai, lalu ia memilih segera turun ke bawah, ia tidak mau melihat adegan live untuk kedua kalinya.
“Kamu minum ini, dua kali sehari. Jangan sampai telat, saat pagi hari dan malam sebelum tidur,” ujar Kai saat memberikan sebuah botol kecil yang berisi kapsul untuk Kiara.
__ADS_1
“Ini apa?” tanya Kiara mengerutkan dahinya.
“Ini-“ ucapan Kai terhenti saat ponsel di saku jas nya berdering.
“Kamu turun duluan, nanti aku menyusul mu, cup!” Setelah mengecup kening Kiara, Kai pun memilih berjalan menuju balkon untuk mengangkat telfon. Bahkan Kiara belum sempat menanyakan siapa yang menelfon Kai, namun laki laki itu tampak terburu buru menghindar darinya.
Menghela napas kasar, Kiara meletakkan obat itu ke dalam laci di samping nakas, lalu ia segera mengambil tas nya dan menuruni tangga menuju meja makan dan bergabung dengan yang lainnya.
“Pagi Sayang, dimana Kai?” tanya mama Irish.
“Eumm, lagi telfon Mah, mungkin Fadil,” jawab Kiara menyiapkan roti untuk sarapan Kai, karena ia tahu Kai tidak bisa memakan makanan berat bila pagi hari.
__ADS_1
Setelah menyiapkan roti selai untuk Kai, Kiara bergantian membuat roti untuk nya sendiri. Cukup lama ia menunggu Kai turun, namun belum juga terlihat tanda tanda Kai akan datang. Mama Irish menyarankan agar Kiara makan terlebih dulu, ia pun akhirnya menurut.
Baru ia akan menyuapkan makanan ke mulut nya, tiba tiba Kai datang dengan langkah tergesa. Ia tidak duduk di meja makan dan malah berpamitan akan segera berangkat ke kantor.
“Tapi kamu belum sarapan?” protes Kiara berusaha mencegah Kai pergi sebelum sarapan.
“Aku bisa makan di kantor nanti, aku duluan yah. Kamu nanti biar di antar Bastian. Dan jangan lupa obat nya di minum, jangan sampai telat,” kata Kai lalu ia benar benar pergi.
“Aku lagi?” gumam Bastian sambil menyuapkan nasi goreng ke mulut nya, “Aku tuh merasa seperti ban serep, di butuhkan, tapi tidak terlihat. Karena di simpan di bagasi mobil, di abaikan keberadaan nya,” imbuh nya mendramasir.
“Hush, kamu ini mulut nya. Masih pagi,” celetuk mama Irish menatap tajam pada putra bungsu nya.
__ADS_1
Kiara tidak menanggapi candaan bastian, pikiran nya masih melayang memikirkan sikap Kai yang menurut nya sedikit aneh. Dari obat yang Kai berikan tadi pagi,hingga menghindar darinya untuk mengangkat telfon, dan berangkat ke kantor terburu buru, tanpa sarapan. Bahkan, hingga kini, Kiara masih belum tahu, obat apa yang Kai berikan padanya. Mengapa Kai terus mewanti wanti nya agar tak lupa meminum obat itu. Dan entah mengapa, pikiran negatif terus hinggap memenuhi kepala nya.