
Pagi itu, Nisa merasa tubuh nya sedikit merasa dingin karena memang cuaca pagi itu sedang hujan. Ia berusaha mencari kehangatan, menarik selimut nya sampai menutupi bagian leher. Tangan nya berusaha meraih guling di samping nya untuk ia peluk, namun ia merasa seperti menemukan keanehan, karena guling nya terasa berbeda.
‘Keras banget sih,” gumam nya pelan sambil semakin mengeratkan pelukan nya. Bahkan kini tangan dan kakinya sudah melingkar pada guling tersebut.
“Tapi hangat banget ... “ ia terus bergumam dan mencari kehangatan pada guling kesayangan nya. Sementara itu, di alam mimpinya, ia sedang menikmati indahnya pantai melihat sunrise dengan di peluk oleh seorang laki laki tampan yang memiliki dada bidang yang mana bisa menghangatkan dirinya di pagi hari.
Untuk beberapa saat, Nisa masih menikmati kehangatan nya, namun saat dirinya merasa ingin membuang air kemih, ia terpaksa harus bangun dari mimpi indah nya. Dan, betapa terkejutnya ia saat membuka mata, dirinya menemukan seorang laki laki yang tengah memeluk nya dengan begitu erat.
“Aaaaaaaaaaaaa!!!” Nisa langsung berteriak dan menjauhkan dirinya dari laki laki yang tak lain adalah Bastian.
__ADS_1
Sementara itu, Bastian yang saat itu masih berselancar di alam mimpi, mau tak mau terbangun saat mendengar suara teriakan seorang gadis. Masih dengan mata mengantuk dan berat untuk terbuka, ia mengusap telinga nya dan membuka nya perlahan. Ia sangat membenci orang yang mengganggu tidurnya, apalagi orang lain selain mama Irish.
Tapi tunggu, siapa yang berani masuk ke dalam kamar nya dan membuat keributan? Batin Bastian seolah berfikir, dan saat dirinya sudah benar benar sadar ia begitu terkejut saat melihat seorang gadis tengah menatapnya dengan tatapan mematikan.
“Kenapa kamu tidur sini!” teriak nya begitu marah sambil terus mencengkram selimut nya.
“Harusnya yang nanya aku, kenapa kamu disini!” seru Bastian tak kalah tinggi intonasi suaranya.
Mendengar ucapan Nisa, seketika Bastian terdiam, ia seolah berfikir kembali dengan nya sebelum tidur. Semalam, karena sudah sangat mengantuk dan sangat lelah, dirinya tidak melihat keadaan sekitar dahulu, bahkan hanya untuk menyalakan lampu pun tak ia lakukan. Ia sudah sangat lelah karena berkeliling mencari keberadaan Nisa. Dan ternyata, orang yang ia cari berada di dalam apartment nya. Padahal ia mengira bahwa Nisa kabur dan menghilang, tapi ternyata –
__ADS_1
Bastian sudah tidak bisa berkata kata lagi, ia memejamkan matanya dengan erat, menari nafas sedalam mungkin, berusaha untuk meredam emosinya agar tidak meledak.
“Harusnya tuh kalau mau tidur lihat lihat orang dulu! Kamu mau perkosaa aku hah! Jangan macem macem ya kamu!” seru Nisa yang melihat Bastian hanya terdiam.
“Dan harusnya, kalau mau kabur, kabur sekalian! Biar aku yang nyariin gak sia sia! Percuma aku keliling kota sampai jam tiga pagi, Khawatir in cewek kaya kamu, tapi ternyata kamu enak enakan tidur disini!” sentak Bastian mengeluarkan emosi nya.
“Dih, ngapain khawatir in aku? Aku udah segede gini. Lagian pikir dong pake logika, aku kabur gak mungkin aku balik ke rumah ku. Dan juga, aku mana ada uang buat cari tempat tinggal dadakan. Udah pasti aku balik kesini lagi!” cibir Nisa dengan berdecak kesal tanpa dosa.
“Kalau udah tau, udah gede, harusnya jangan kaya anak kecil, yang suka nya kabur kaburan!” sindir Bastian, ia segera beranjak dari tempat tidur dan hendak pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
“Heh, aku kabur ada alasan nya yah!” seru Nisa tak terima mendengar sindiran Bastian.
“Ah iya, alasan.” Sebuah senyum terbit di bibir Bastian, ia mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi, ia kembali berbalik dan kini menatap Nisa dengan sangat intens.