
“Kamu beneran gak mau makan?” tanya Kiara saat baru selesai memesan makanan nya.
Kai hanya duduk di salah satu kursi yang berada di bawah pohon, sambil memainkan ponsel, “Aku sudah makan,” jawab Kai dengan sesekali masih menghela napas nya berat.
“Aku tuh udah lama banget gak lewat sini, jadi udah jarang banget makan disini.”
“Kamu sering makan disini? Ini jauh loh dari rumah kamu?” Kai mengerutkan dahinya menatap Kiara, memang benar, jarak tempat mereka kini dengan rumah Kiara lumayan jauh, mungkin bisa empat puluh menitan dengan mobil.
“Hem, dulu aku sering kesini kalau lagi kesel. Naik sepeda,”
__ADS_1
“Malem malem? Naik sepeda? Kau gila!” seru Kai tiba tiba.
“Hemm,” jawab Kiara kembali mengingat ingat kembali saat saat dirinya berusaha menghindari mama Rani. Lebih tepat nya, menghindari rasa sakit yang ia rasakan setiap kali merasa cemburu dnegan mama Rani dan Zaskia. Ia akan lebih memilih pergi dari rumah, bersepeda adalah pilihan yang tepat untuk Kiara, hingga akhirnya ia menemukan tempat dimana yang ia namakan adalah surga makanan. Karena tak jauh dari sana juga da sebuah lapangan yang biasa selalu di adakan pasar malam yang sering ia datangi juga bersama Liam.
Pasar malam itu, biasa di adakan setiap satu tahun sekali, namun berbagai macam kuliner, selalu ada setiap malam nya. Makanya Kiara bila sedang sedih atau marah, maka ia akan melampiaskan nya pada sepeda dan makan sebanyak yang ia mampu.
FYI, meskipun mama Rani tidak menyukai Kiara, namun mama Rani selalu mencukupi kebutuhan Kiara. Ia juga di berikan kartu oleh mama Rani, walau isinya tak sebanyak Zaskia, namun uang Kiara malah selalu utuh, karena Kiara hanya menggunakan nya untuk membeli makanan dan jajan. Berbeda dengan Zaskia yang suka fashion dan sering belanja.
“Aku gak ngerti sama jalan pikiran kamu! Bagaimana bisa, kamu bersepeda sejauh itu, malam malam. Apa kau lupa, bahwa kau itu perempuan!” Kai masih berbicara dengan nada sedikit tinggi. Sungguh ia tak bisa membayangkan, bagaimana bila sampai Kiara bertemu dengan orang jahat.
__ADS_1
“Aku tidak lupa Kai, tapi aku juga tidak mau mengingat nya. Karena saat aku bersepeda, disitu lah aku bisa merasa tenang. Bahkan aku bisa melupakan segala kesedihan ku,” gumam Kiara sedikit tersenyum, “Seru deh, lain kali kau harus mencoba nya.” Imbuh nya antusias, ia jadi berfikir bahwa ingin bersepeda santai dengan Kai suatu saat nanti.
“Terimakasih,” jawab Kai menolak, ia tidak suka bersepeda. Ia menyukai olah raga, namun tidak dengan sepeda.
“Kenapa?” tanya Kiara sedikit memanyunkan bibir nya.
“Tidak apa, aku hanya tidak menyukai nya.” Jawab Kai dengan malas, “Sudahlah, cepat kau habiskan makanan mu, dan kita segera pulang.”
“Perasaan sore tadi kamu lembut deh padaku. Bahkan saat di depan klien kamu, kamu memanggil ku SAYANG, tapi kenapa sekarang begitu lagi. “Kiara mendengus sambil memakan makanan nya, “Besok aku kenalin kamu sama temen ku. Dia pandai Ruqyah.”
__ADS_1
“Kamu pikir aku kesurupan!” saut Kai langsung tak terima.
“Ya habisnya, sikap kamu berubah ubah. Aku hanya takut kamu kemasukan jailangkung atau jin mana gitu.” Kata Kiara cuek, Kai berusaha menahan geram nya. Ia masih ingat bahwa ini di depan umum. Tak ingin berdebat lagi, ia memilih diam, memasang earphone di telinga nya dan mendengarkan musik.