
Siang itu, karena merasa bosan, Kiara akhirnya memutuskan untuk menghubungi Zaskia di Paris. Sudah beberapa minggu dirinya tidak berhubungan dengan kakak nya, hingga membuatnya lupa untuk memberikan kabar bahagia itu. Namun, sudah lebih dari tiga kali ia memanggil dengan panggilan video, namun tak juga mendapat jawaban dari Zaskia.
‘Hemm, kakak kemana ya?’ gumam Kiara memanyunkan bibir nya, berusaha berfikir positif kemana sang kakak berada, “Aku coba telfon Liam, mungkin dia sudah pulang kerja.”
Tuutt ... Tuuttt ..
‘Halo,’ jawab Liam dari seberang sana, membuat senyum Kiara terbit seketika.
“Liam, akhirnya kau menjawab telfon ku juga. Kalian jahat banget sudah lama tidak menghubungi ku. Dan kakak juga, kakak aku telfon beberapa kali tidka di angkat, kalian kenapa sih jahat banget sama aku, mau lupain aku yah!” seru Kiara beruntun hingga membuat Liam terpaksa harus menjauhkan ponsel nya dari telinga nya.
“Kiara, kamu ini astaga, kenapa masih sangat cerewet sih hem?” tanya Liam berdecak.
“Aku kesel sama kalian!” cetus Kiara yang lagi agi memanyunkan bibir nya karena kesal.
“Maaf yah, ini hemm... Mungkin Zaskia masih sibuk, dia- iya dia akhir akhir ini sedikit sibuk karena—"
Entah mengapa, kini Kiara seperti mendengar nada mencurigakan dari Liam. Entah hanya perasaan nya, atau memang ada yang di sembunyikan oleh Liam, Kiara tidak tahu, namun yang jelas, Kiara merasa bahwa Liam tengah menyembunyikan sesuatu.
“Liam, kamu tahu aku benci pembohong,” gumam Kiara pelan, wajah nya langsung berubah menjadi datar.
__ADS_1
“Heem, aku tau Ra. Beneran mungkin Zaskia masih sibuk, nanti aku coba kasih tau dia kalau kamu menelfon, oke.”
“Kamu gak nyakitin kakak aku kan!” tuduh Kiara langsung berfikiran buruk.
“Astaga, Kiara mana mungkin aku lakukan itu. Aku sangat mencintainya, bagaimana bisa aku menyakiti dia, ckck!”decak Liam seketika membuat Kiara kembali terkekeh, ia juga tersenyum lega karena Liam tidak akan melakukan itu, terbukti dari jawaban nya yang langsung tidak seperti sebelumnya yang seolah dia sedang berfikir.
“Lalu kamu dimana sekarang? Kamu gak sibuk? Kamu bukan pengangguran kan?”
“Astaga, kamu kenapa sih Ra. Aku angkat telfon di kata pengangguran, nanti gak aku jawab, kamu mikir nya aneh lagi Kaya Zaskia yang gak angkat telfon kamu.”
“Iya juga yah,” gumam Kiara terkekeh sendiri, “Ya udah, pokoknya nanti segera kabari kakak kalau aku menelfon dan suruh dia menelfon ku balik!” kata Kiara dengan tegas.
Setelah selesai menelfon, Kiara kembali di landa bosan, ia memutuskan untuk keluar kamar, menuruni anak tangga dan mencari keberadaan orang. Namun rumah besar itu nampak sepi, papa Krish dan Kai masih bekerja. Dan mama Irish, entah kemana dirinya belum bertemu sejak pagi.
“Ngapain kamu duduk di situ? Udah persis kaya anak ilang Ra,” celetuk Bastian yang melihat Kiara nampak duduk di anakan tangga terakhir, sambil melihat ponsel nya.
“Bas, “ panggil Kiara langsung menatap Bastian dengan tatapan melas.
“Ra, aku baru pulang loh. Wajah kamu itu buat perasaan ku gak enak,” keluh Bastian dan hendak mencoba kabur ke kamar.
__ADS_1
“Bastian, nanti gak lucu loh kalau kamu punya ponakan ileran,” melas Kiara lagi dan terus menatap Bastian dengan tatapan iba.
“Ra, apalagi sekarang?” keluh Bastian menyerah, ia tidak tega melihat wajah Kiara yang begitu lemas dan melas, namun setelah mendengar pertanyaan Bastian, wajah itu langsung berubah menjadi sumringah dan antusias, tentu saja hal itu membuat Bastian selalu ingin mengumpat kasar.
“Kamu lihat gambar ini deh Bas, kayaknya enak banget yak. Duh, apalagi kalau di siram pakai jeruk, astaga Bastian pasti seger banget deh.” Kiara sampai menelan saliva nya membayangkan makanan berkuah pedas dan di kucur jeruk nipis atau limau, rasanya ia ingin segera menyantap nya.
“Ra, itu kan makanan online, ya udah kamu tinggal klik order aja, barang sampai nanti.” Kata Bastian bingung.
“Tapi kalau nunggu di kirim itu lama Bas, aku mau sekarang!” rengek Kiara.
“Mana bisa Ra, itu P.O loh.”
“Bisa Bas, kamu datengin pabrik nya.” Saut Kiara dengan santai nya.
“What! Kau gila Ra, ya kali aku mesti ke bandung Cuma buat beli itu, astaga Kiara,” seru Bastian tak habis pikir. Pasalnya, ini bukanlah kali pertama Kiara meminta hal aneh padanya, mengapa harus dia, pikir Bastian.
“Cuma Bandung Bas, belum ke jawa timur, atau Bali atau—"
“Cukup! oke aku belikan!” potong Bastian menghela napas nya dengan kasar.
__ADS_1