
“Memang itu obat apa Dok?” tanya Kiara yang begitu penasaran, karena memang selama ini dirinya meminum obat yang di berikan oleh Bastian dan Kaisar tanpa tahu obat apakah itu.
“Sebenarnya, itu hanya vitamin, juga penyubur untuk rahim. Untuk mempersiapkan rahim agar sehat saat menerima pembuahan, sehingga mempercepat kehamilan. Tapi semua itu kembali lagi pada yang Kuasa ya, dan menurut saya anda sangat cepat.” Jelas Dokter Silvi, membuat Kiara langsung menatap ke arah suami nya, namun Kai malah berpura pura tidka melihat nya.
Setelah menebus obat dan vitamin, kini Kiara dan Kaisar segera pulang ke rumah. Untuk memberikan kabar bahagia pada orang tuanya.
“Kamu sengaja menyiapkan semua ini?” tanya Kiara menatap suaminya.
“Iya, karena aku mau kamu cepat hamil anakku. Sehingga kamu tidak akan meninggalkan ku,” ucap Kai dengan santai nya, “Kamu ingat, saat pertama kita melakukan itu dulu? Kamu masih meragukan ku, dan kamu masih belum yakin akan perasaan kamu. Maka dari itu, aku meminta Bastian untuk mencarikan obat ini, dan berhasil kan. Hanya beberapa bulan saja kamu langsung hamil,” ucap Kai yang langsung memeluk tubuh istrinya.
“Gimana gak langsung hamil, kalau kamu gempur setiap hari. Bahkan kamu sering mengurung ku sampai tidak bisa jalan keluar rumah!” sungut Kiara menggebu dengan kesal.
“Justru itu, usaha tak mengkhianati hasil. Inilah hasil dari kerja keras ku siang dan malam,” ucap Kai begitu bangga namun malah membuat Kia melotot tajam.
“Jangan melihat ku seperti itu Sayang. Aku tahu bahwa aku perkasa, dan hebat.”
“Astaga, Kai, kamu benar benar!” sungut Kiara semakin kesal melihat ke narsis an suaminya, “Menyebalkan!”
Kai tergelak, ada perasaan lega dalam hatinya saat melihat sang istri sudah kembali memarahi nya. Itu berarti, Kiara sudah mulai tenang, pikiran nya tak lagi terfokus tentang kesedihan. Dan kini tugas nya untuk mempertahankan mood Kiara, ia berjanji tidak akan membuat Kiara kembai bersedih lagi.
__ADS_1
Saat sampai di rumah, rupanya Bastian juga sudah duduk bersama kedua orang tuanya. Entah sejak kapan dia sampai di rumah, padahal tadi mereka masih sempat bertemu di rumah sakit.
“Bas, kamu punya ilmu sihir yah, bisa langsung ngilang?” tanya Kiara lalu ia mendudukkan dirinya di seberang Bastian dan mertua nya.
“Kamu pikir aku mbah dukun!”
“Habisnya kamu cepet banget sampai rumah nya. Apa habis aku usir tadi kamu langsung balik?” tanya Kiara lagi, namun Bastian malas menjawab nya.
“Tidak usah di jawab Bas!” kata Kiara yang sebenarnya memang Bastian tidak ingin berbicara, ia hanya ingin membuka mulut untuk memakan kacang.
“Sabar, sabar, sabar.” Gumam Bastian mengusap dadaa nya.
“Apa Sayang? Kamu kayaknya lagi seneng banget,” ujar mama Irish pura pura antusias.
“Mama, sama Papa akan segera punya cucu!”seru Kiara dengan bahagia, membuat mama Irish langsung bangkit dari tempat duduk nya dan menghampiri Kiara.
“Benarkah?” tanya mama Irish yang kini sudah duduk di samping Kiara, “Kamu hamil? Alhamdulillah, Mama bahagia banget Sayang, selamat yah. Mama berdoa, semoga semua lancar sampai persalinan ya Nak. Bayi sehat ibu selamat, mama seneng banget,” ujar mama Irish sampai meneteskan air mata.
Bukan karena mendengar kabar kehamilan Kiara, namun ia terharu karena kini akhirnya Kiara kembali ceria lagi. Setelah masalah demi masalah yang di hadapi Kiara, kini akhirnya mama Irish kembali melihat keceriaan di wajah menantunya.
__ADS_1
“Bas, kok kamu gak kaget! Gak mau ngasih aku ucapan selamat!” cetus Kiara memanyunkan bibirnya dnegan kesal.
Papa Krish, mama Irish dan juga Kaisar sudah memberikan nya selamat, dan doa untuk dirinya dan bayinya. Kai begitu pandai ber akting berpura pura sangat bahagia bahkan menciumi wajah Kiara dengan penuh kasih sayang. Tanpa perduli di depan keluarga sekalipun, namun Bastian malah bergidik sendiri.
‘Sejak kapan abang ku jadi sebucin ini,’ gumam Bastian bergidik saat melihat tingkah Kaisar yang sangat berubah drastis sejak Kiara hamil.
“Ya gimana mau kaget nya Ra, aku udah tahu dari kapan tahu!” keluh Bastian dnegan bingung.
“Iihh, kan kemarin aku udah bilang. Pura pura tidak tahu dulu bambang!”
“Astaga Ra, aku gak bisa!”
“Harus bisa!”
‘Dosa apa aku punya kakak ipar kaya gini, dan parah nya aku pernah jatuh cinta pada nya, astaga!’ teriak Bastian dalam hatinya.
“Kenapa kau hobi sekali mengumpat kami Bas!” Kiara langsung menatap tajam pada Bastian dan melemparnya dengan bantal sofa, hingga akhirnya Bastian mengalah dan berpura pura terkejut.
"Iya Ra, iya ... astaga, sabar. Besok aku harus beli stok sabar dulu ini!" gerutu Bastian lalu mencoba ber ekspresi sesuai kemauan Kiara.
__ADS_1
Namun, usaha Bastian tidak hanya sekali dua kali. Seperti hal nya orang melakukan syuting, Bastian sampai mengulang nya beberapa kali, hingga saat take ke sepuluh barulah Bastian berhasil dan membuat Kiara mengucapkan Terimakasih.