
“Naura, maafin Ken. Kemarin Ken udah kasar sama Naura!” tutur Ken tulus sambil mengulurkan tangan kanan nya untuk meminta maaf, “Mama Ken masuk rumah sakit karena hamil. Ken mau punya adik, tapi Ken gak tahu. Ken sudah salah paham sama Naura, maaf. Ken janji tidak akan begitu lagi.”
Gadis itu masih terdiam menatap Ken dengan sangat lekat, “Janji ya?” Naura menyambut uluran tangan Ken, matanya Masih menatap Ken dengan bibir yang sedikit cemberut kesal.
“Kemalen, om Abas sudah jelasin sama Lala, kalau Ken mau punya adik, Lala seneng, nanti Lala ikut main sama adik nya Ken, boleh kan?” tanya Lala dengan polos nya dan kini wajah nya sudah terlihat lebih girang dari sebelumnya, ia sudah melupakan kesalahan yang Ken lakukan padanya.
“Memang nya kamu gak punya adik? Minta saja sama mama kamu! Kemarin Ken juga pas ulang tahun minta sama mama, terus di kasih sekarang.” Ujar Ken mengerutkan dahinya menatap Naura, “Emmm, Cuma tiga hari kok, kan pas Ken ulang tahun, mama Ken belum hamil, dan kemarin sudah hamil, berarti cepet kan.” Imbuh nya polos berfikir dan menghitung nya dengan jari.
“Benalkah?” tanya Naura sedikit ragu, “Nanti saat pulang sekolah, Lala coba minta sama Mama juga,” imbuh nya dengan antusias.
“Nanti kamu punya adik, Ken juga punya adik. Kita sama sama punya adik!”
__ADS_1
“Hihihi, iya nanti kita main bareng jaga adik!”
Kedua anak itu sudah berbaikan, dan mereka kembali bermain bersama lagi di taman. Hari hari Ken memang lebih banyak bermain bersama Naura, entah mengapa ia kurang suka berteman dengan yang lain, sejak awal, dirinya sudah sangat akrab dengan Naura.
****
Beberapa hari telah berlalu, Nisa sudah di perbolehkan pulang, namun gadis itu masih terlihat bingung akan kemana. Ia takut bila orang suruhan kedua orang tuanya akan menemukan dirinya. Uang nya sudah menipis, karena semua kartunya di blokir oleh sang papa. Hanya tinggal ponsel saja, dan itu tak mungkin akan ia jual.
“Aku bingung, aku mau pulang kemana,” ujar Nisa dengan lirih.
“Dimana rumah kamu? Aku akan mengantarkan mu,” kata Bastian tulus berniat menolong.
__ADS_1
“Jangan!” pekik Nisa sedikit panik, “A- aku tidak punya rumah. A- aku tidak punya siapa siapa lagi, hiks hiks.”
“Kemana orang tua mu? Dan yang kemarin mengejar mu siapa?” tanya Bastian sedikit curiga, ada sedikit perasaan takut bila ternyata Nisa adalah orang jahat, walau tidak terlihat dari wajah nya yang mengatakan dia bukan gadis baik, namun di jaman sekarang banyak sekali modus modus penipuan.
“I- itu rentenir hiks hiks. Iya itu rentenir. Dia mau nagih hutang, papa ku menjual ku ke rentenir, aku tidak mau, makanya kau kabur.” Jelas nya terisak.
Bastian diam, mendengarkan cerita dari Nisa, ia tidak menyangka bahwa di jaman sekarang masih ada orang tua yang begitu tega hendak menjual anak gadis nya. Kasihan, itu yang ada di benak Bastian, meskipun dia terlihat kasar, dan tengil, namun hatinya begitu lembut. Ia sangat mudah kasihan.
“Kalau sampai aku pulang, papa ku, dia akan meyerahkan ku pada rentenir itu, aku gak mau. Hiks hiks hiks, aku gak mau, aku harus bekerja tapi aku gak tahu kerja apa dan dimana.”
“Kaki kamu masih begitu, apa yang bisa kamu kerjakan!” kelu Bastian dengan menghela napas nya kasar.
__ADS_1
“Apa kamu tidak butuh pembantu? Atau asisten, atau apapun itu, a- aku bisa.” Kata Nisa penuh harap menatap bastian membuat sang empunya terdiam. Karena tidak mungkin ia membawa Nisa pulang ke rumah nya kan.