
Setelah menyelesaikan acara kencannya, Charlotte segera bersiap untuk langsung meninggalkan hotel itu. Ia melangkahkan kakinya menelusuri lobi hotel mewah itu, keluar menuju parkiran.
Tapi begitu tiba di area parkir, Charlotte justru harus dibuat bingung karena tidak menemukan sosok Xander di dekat mobilnya. Ia mengintip ke dalam mobil untuk mengecek apakah pemuda itu sedang tidur di dalam mobil namun tidak ada siapa-siapa di dalam sana.
"Kemana dia?" gumam Charlotte
Charlotte menoleh ke kanan dan kiri mobilnya, mengecek area sekitar namun tidak menemukan Xander di tempat itu.
"Ah, pemuda bodoh itu pasti menghilang lagi!" omelnya.
Bagaimana bisa Xander menghilang di saat seperti ini. Apa dia bosan menunggu dirinya dan memilih pulang dengan taksi saja?
Charlotte memejamkan kedua matanya, menahan emosinya yang saat ini mulai naik. Lihatlah! Ini masih pagi tapi pemuda itu sudah berani berulah.
"Bukankah sudah katakan padanya untuk menunggu di luar hotel. Tapi lihat sekarang. Dia malah menghilang tanpa kabar seperti ini." desis Charlotte.
"Issh, sebenarnya pergi kemana sih dia?" gumam gadis itu lalu kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh area parkir hotel, masih berusaha mencari keberadaan pemuda itu.
Hingga akhirnya pandangannya terhenti saat mendapati Xander yang saat ini tengah bersandar santai ke sebuah mobil mewah berwarna putih.
"Apa-apaan itu?" Charlotte mengernyitkan dahinya, merasa heran. "Sedang apa dia berdiri di sana?"
Charlott memicingkan kedua matanya, mencoba untuk melihat lebih jelas. Ia bahkan bergeser dari posisinya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya tengah dilakukan kakaknya itu.
Dan tepat saat itu juga, kedua bola matanya langsung membulat saat melihat Xander yang tengah bicara santai dengan sang pemilik mobil putih yang tak lain dan tak bukan adalah seorang wanita cantik dengan pakaian yang seksi.
Charlotte berdecak kesal karena melihat kelakuan kakaknya itu. "Dia pasti sedang mencoba menggoda gadis seksi lagi. Dasar laki-laki mata keranjang."
Merasa kesal, Charlotte lalu berjalan dengan cepat mendekat ke arah Xander yang saat ini terlihat sedang asyik tertawa-tawa dengan gadis seksi itu.
"Aku kepanasan di sana dan dia malah asyik tertawa-tawa di situ." Charlotte terus menggerutu disela langkahnya.
Dan saat jarak antara dirinya dan Xander sudah sangat dekat, Charlotte mengangkat tangannya dan langsung menjambak rambut pemuda itu dengan kasar. Hal itu berhasil membuat Xander terkejut karena serangan tiba-tiba itu.
"Aw, apa yang kau lakukan. Ini sakit!" Xander berseru nyaring sambil berusaha menahan sakit di area kepalanya karena jambakan Charlotte yang terlalu kuat.
Charlotte kemudian menyeret pemuda itu kembali menuju tempat di mana mobil mereka terparkir.
"Lepas, Charlotte!" pekik Xander.
Charlotte sendiri tampaknya tidak peduli dengan teriakan itu, malah terus saja menarik rambut Xander, membuat pemuda itu mau tak mau harus terus mengikuti langkahnya.
"Alexander Clinton! Bukankah sudah aku katakan padamu sebelumnya untuk datang tepat waktu. Aku bahkan mengatakan padamu untuk tak pergi kemana-mana, kan? Tapi apa ini." omel Charlotte di sela langkahnya, nada bicaranya terdengar begitu kesal.
"Harusnya kau tetap menungguku di dalam mobil sampai aku datang. Tapi kau malah asyik-asyikan menggoda seorang gadis di sini?" lanjut Charlotte masih dengan nada ketusnya.
"Oke, oke! Tapi lepas dulu Lottie. Ini sakit!" ujar Xander sambil mencoba melepas jambakan Charlotte pada rambutnya.
"Oh, jadi ini sakit? Lalu bagaimana dengan yang ini?" ujar Charlotte sembari menarik rambut Xander semakin kencang.
"Charlotte jangan di tarik!" pekik Xander sembari meringis kesakitan. "Lepaskan hei, hei! Kau ini gila, ya?!"
"Oke, biar kulepas!" Charlotte akhirnya melepas jambakannya pada rambut Xander dan menepuk-nepuk tangannya seolah dirinya sedang membersihkan debu.
"Satu masalah selesai!" ujar Charlotte dengan nada bangga dan hal itu membuat Xander mendengus kesal.
"Apa-apaan sih kau ini?" Xander berujar kesal sambil mengusap-usap kepalanya perlahan. Ia tampak meringis. Rasa sakit karena jambakan Charlotte di kepalanya saat ini sudah perlahan mereda.
"Kenapa kau main jambak-jambak rambut seperti itu, sih? Lihat ini! Kau baru saja merusak tatanan rambutku." ucap Xander kesal sambil menunjuk keadaan rambutnya yang saat ini terlihat berantakan dari sebelumnya.
"Itu pelajaran untukmu karena sudah jadi lelaki mata keranjang." jawab Charlotte.
Mendengar ocehan Charlotte itu, Xander hanya menyipitkan matanya sinis kemudian mendengus tidak perduli.
"Kau mengganggu saja. Aku bahkan belum sempat mendapatkan nomor ponsel gadis itu. Ah, dia benar-benar seksi."
"Oh, jadi kau belum dapat? Baguslah kalau begitu!" tanya Charlotte dengan senyum mengejek.
"Apanya yang bagus. Kau sungguh mengganggu. Sial sekali aku." gerutu Xander. "Dan kenapa harus menjambakku? Membuatku malu saja."
__ADS_1
Charlotte menggedikkan bahunya santai. "Itu satu-satunya cara membawamu kesini."
"Jangan mengada-ada. Kau bisa memanggil namaku lebih dulu. Lagipula kenapa kau selalu menganggu saat aku sedang asyik bermain dengan para wanita?" lanjut Xander.
Sambil terus menggerutu, Xander kemudian berbalik, berdiri menghadap ke arah spion mobil untuk berkaca. Tangannya bergerak, mencoba merapikan kembali helaian rambutnya yang terlihat berantakan.
Xander lalu melanjutkan kalimatnya sembari terus merapikan rambutnya. "Dan seingatku, kita berdua punya komitmen untuk tidak saling mencampuri urusan percintaan masing-masing kan? Selama ini aku bahkan tak pernah ikut campur dengan urusan percintaanmu itu. Aku bahkan tak peduli saat kau 'meniduri' para laki-laki bodoh itu."
Charlotte melipat tangannya di dada, menatap angkuh pada Xander. "Dengar, aku hanya tak ingin kau sampai mendapat pasangan yang sembarangan!"
"Sembarangan apa maksudmu?" Xander melirik sekilas pada Charlotte lalu kembali fokus merapikan rambutnya.
"Ck, apa kau lupa? Kakek, maksudku tuan Romanov yang terhormat itu sudah memberikan sebagian harta warisannya untukmu. Aku hanya tak ingin para wanita mata duitan itu memanfaatkan kekayaanmu saja. Ah, atau setidaknya kau bisa mencari kekasih yang berpendidikan dibanding gadis yang seksi!"
Xander memutar bola matanya bosan kemudian kembali berbalik, menghadapkan tubuhnya ke arah Charlotte. Ia menatap gadis itu dengan tatapan malasnya.
"Kalau masalahnya adalah harta kakek, maka kau tak perlu khawatir. Aku juga tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kau tau kenapa?" ujar Xander.
Pemuda itu menyilangkan kedua tangannya di dada, tersenyum. Setelah itu mendekatkan wajahnya pada wajah Charlotte.
"Itu karena.. bukan mereka yang akan menghabiskan uang itu. Melainkan aku sendiri-lah yang akan menghabiskan uang dari kakek nanti. Haha…"
Setelah mengatakan itu, Xander kemudian tertawa lebar yang justru membuatnya mendapat pukulan di kepalanya.
"Aw, kenapa dipukul, sih?" gerutu Xander sambil menggosok kepalanya yang baru saja Charlotte pukul.
"Berhentilah bicara omong kosong, Xander!" ujar Charlotte dengan nada dingin. "Kau membuatku semakin pusing saja."
Charlotte kemudian menatap Xander dengan tatapan serius.
"Dengar, aku sedang bicara serius denganmu. Aku sungguh tak ingin kau mendapatkan pasangan yang sembarangan! Apa kau lupa dengan Elena? Kau itu kan harus-
"Ya, aku ingat." potong Xander malas. Ia sudah hafal jelas apa yang akan Charlotte katakan padanya saat ini. "Kau akan meminta supaya aku setia untuk menunggu Elena pulang dari Amerika, kan? Aku harus menunggu mantanku itu kembali dari kuliahnya di sana. Begitu kan?"
"Tepat sekali." Charlotte mengangguk bangga karena pemuda itu selalu ingat dengan kata-katanya. "Dan kau harusnya tak melakukan hal seperti ini, Xander."
Charlotte terlihat tak peduli dengan komentar Xander sebelumnya.
"Maksudku adalah… harusnya kau itu tak melakukan hal konyol, seperti merayu para gadis. Kau harusnya bisa selalu setia pada Elena!" tuntut Charlotte.
"Aku bisa apa kalau mataku ini terlalu bernafsu pada gadis-gadis itu. Setiap melihat gadis seksi, tubuhku ini selalu saja refleks untuk mendekati mereka begitu." balas Xander dengan nada acuh.
"Begitukah?" Charlotte mendengus saat mendengar alasan konyol yang baru saja diucapkan pemuda itu. "Kalau begitu haruskah aku colok saja matamu itu agar kau tak bisa melihat para gadis lagi?"
Charlotte sudah membuat gerakan seperti akan mencolok mata Xander, membuat pemuda itu membulat kaget dan segera melangkah mundur.
"Hei, kenapa kau jadi main ancam be-"
"Diam!" sentak Charlotte tajam. "Dengar! Intinya aku hanya ingin kau bisa mendapat wanita yanh cocok untukmu. Seperti Elena."
Xander mulai merasa bosan karena sejak tadi Charlotte terus menerus membahas tentang mantan kekasihnya itu.
"Ah, terserah kau saja lah!" Xander mengibaskan tangannya acuh. "Aku tak paham. Kenapa sejak dulu kau selalu saja membahasnya. Elena lagi, Elena lagi. Lagipula dia itu hanya masa laluku saja. Hanya mantan. Dia sudah meninggalkanku, ingat?"
Charlotte menghela nafasnya kasar dan menggeleng pelan. "Ya, benar. Tapi dia meninggalkanmu untuk mengejar cita-citanya. Kau harusnya mengerti. Jadi, lebih baik mulai sekarang kau berhenti menggoda para wanita lagi. Berhentilah menjadi lelaki menggoda."
Xander hanya menguap bosan sebagai tanggapan atas ceramah adiknya itu. "Sudah ya, Charlotte. Selama ini aku bahkan hampir mati bosan karena menunggu dia kembali. Tapi apa dia kembali? Tidak kan."
"Lagipula aku juga tak pernah berharap dia akan kembali lagi padaku seperti dulu. Disini hanya kau saja yang selalu mengharapkan aku bisa kembali dengan Elena. Aku bahkan yakin kalau Elena pasti punya pria lain di sana."
"Xander, Elena tidak mungkin-"
"Sudahlah. Bisakah kita tak membahas hal ini lagi?" potong Xander malas. "Lagipula bukan hakmu untuk mengatur dengan siapa aku harus berkencan!"
"Siapa bilang?" bantah Charlotte. "Itu tentu hak-ku, karena kau kan saudaraku! Jadi sudah menjadi tanggung jawabku untuk mengawasi dengan siapa kau akan berkencan."
Sontak saja ucapan Charlotte itu membuat Xander menyeringai senang. "Kalau begitu aku juga sama berhak-nya untuk mengatur dengan siapa kau berkencan?"
"Tidak. Tentu saja, tidak!" jawab Charlotte cepat membuat Xander menaikkan alisnya.
__ADS_1
"Tapi kan kau sendiri yang bilang, kalau-"
"Tidak. Kau tak berhak mengaturku. Aku bisa pilih teman kencan sendiri. Aku tak percaya dengan yang kau pilih, karena pilihanmu itu pasti buruk. Jadi, lebih baik kita hentikan perdebatan ini, oke!"
"Mana bisa begitu, aku bahkan-"
"Sekarang, ayo kita cepat masuk! Kita harus segera pergi dari sini!" Charlotte tak peduli dengan kata-kata yang Xander ucapkan.
Xander yang sebelumnya hendak protes langsung mengernyit heran. "Pergi? Mau kemana memangnya?" tanya Xander.
"Apartment. Kita harus cepat, kalau tidak kita bisa terlambat."
"Terlambat?"
"Issh, apa kau tak lihat ini sudah jam berapa?" balas Charlotte tak sabar sambil menunjukan jam di pergelangan tangannya.
Namun jawaban Charlotte itu malah membuat Xander menjadi semakin bingung saja.
"Memangnya ada urusan apa pagi-pagi begini."
Charlotte memutar bola matanya malas kemudian menghela pendek. "Aku harus pulang cepat untuk bersiap-siap. Hari ini ada banyak pekerjaan. Dan aku harus bergerak cepat, aku sudah telat!"
"Ohh!" Xander mengangguk paham. "Kerjaan apa memangnya?"
Mendengar itu, Charlotte langsung mendengus. Ia menatap tak percaya pada kakaknya itu. "Apa kau lupa? Aku kan ada pemotretan yang tertunda kemarin dan pemotretannya dilanjutkan hari ini. Pihak majalahnya juga sudah meneleponku terus sejak tadi karena pemotretan akan dimulai satu jam lagi. Jadi cepat kau antar aku pulang untuk bersiap-siap, baru kemudian kita lanjut pergi ke studio pemotretannya."
"Tapi kau tak bilang kalau akan ada pemotretan siang ini?"
"Pagi ini." ralat Charlotte.
"Ya, pagi ini, maksudku!" ulang Xander.
"Aku bilang kok!" Charlotte membela diri. "Tapi kau yang tidak dengar!"
Xander menaikkan sebelah alisnya. "Kapan? Kapan kau bilang?"
Charlotte mengibaskan tangannya acuh. "Sudahlah! Jangan banyak tanya lagi. Kau sudah membuat waktuku terbuang percuma dengan semua pertanyaanmu itu, jadi cepatlah naik!" ujar Charlotte sambil buru-buru memasuki mobilnya.
Xander yang mendengar itu hanya menatap Charlotte cengok. "Apa kau bilang. Aku yang sudah membuat waktumu terbuang?"
Charlotte tidak menjawab. Ia malah menutup pintu mobilnya. Tingkah gadis itu membuat Xander mengernyit heran. Ia menatap Charlotte dari luar mobil dengan tatapan kesal sekaligus bingung. Entah kenapa dari nada bicara gadis itu seolah dia sedang menyalahkannya?
Dan apa Xander tak salah dengar dengan apa yang di katakan Charlotte padanya tadi? Dia sudah membuat waktu gadis itu terbuang?
Yang benar saja.
Xander mendengus kesal.
Hei, memangnya dia yang meminta izin pemotretan hanya untuk pergi ke Hotel Clinton untuk bertemu dengan teman kencan barunya itu.
Bukan, kan.
Bukan dia juga yang berada di kamar hotel selama seharian lamanya hanya untuk bermesraan dengan pria bodoh itu.
Xander terus mengumpat kesal dalam hati karena dia harus terus-terusan meladeni gadis tidak waras satu ini.
"Itu jelas bukan salahku. Salahkan saja dirinya sendiri kenapa bukannya pergi ke studio pemotretan tapi malah datang ke hotel ini." gerutu Xander.
"Cepatlah Xander!" teriak Charlotte dari dalam mobil membuat pemuda itu tersentak.
"Ya, tunggu!" jawab Xander ketus kemudian dengan cepat langsung membuka pintu mobil dan menaiki kursi bagian kemudi di sebelah Charlotte.
***
✔ Note :
▪Typo, alur ngaco, kesalahan Eyd tidak akan di perbaiki. Saya author pemalas. Titik!
▪Author peduli dengan kesehatan mata kalian, jadi, kalau kalian kurang suka sama ceritanya, Author sarankan kalian untuk mencari cerita yang lain saja, karena cerita ini bisa menyebabkan sakit mata akut.
__ADS_1