
Pagi hari ini Justin bangun tidur lebih siang daripada hari biasanya. Semalam, begitu ia sampai ke rumah ia memutuskan untuk langsung tidur saja agar bisa beristirahat karena merasa terlalu lelah.
Justin segera pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dan setelah beberapa saat dia berada di kamar mandi akhirnya dia keluar dan segera berpakaian.
Hari ini jam kuliah pertama kosong jadi dia bisa pergi kuliah lebih siang dari biasanya. Sepertinya Justin akan menggunakan bis saja karena sepeda miliknya masih berada di rumah milik tuan Romanov sejak semalam.
Saat ini Justin tengah duduk santai di sofa ruang tamunya. Ia tengah menikmati semangkuk mie instan buatannya sambil menyalakan televisi. Ia tengah fokus menonton tayangan berita di televisi sampai tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu rumahnya.
Justin melatakkan mangkuk mie di tangannya dan bergegas membuka pintu rumahnya. Begitu pintu terbuka, Justin merasa terkejut saat melihat beberapa orang tengah berdiri tepat di teras rumahnya dengan membawa kotak berukuran besar dan kecil.
"Selamat pagi tuan," sapa salah satu dari orang-orang itu. Sementara Justin masih menatap satu persatu orang itu dengan tatapan agak bingung.
"Ya pagi." jawab Justin.
"Apa benar ini rumah tuan muda Justin Kim?" tanya pria itu lagi.
Justin mengernyit bingung saat mendengar kata "tuan muda" namun ia tetap menganggukkan kepalanya sambil memasang raut bingung.
"ya, itu saya sendiri." jawab Justin.
"Kalau begitu bolehkah kami masuk ke dalam rumah anda, untuk meletakkan ini? Ya, sebenarnya ini agak berat." ujar pria itu sambil menunjukkan kotak yang ada di tangannya.
Belum sempat Justin menjawab apapun atas pertanyaan itu, pria yang baru saja bicara dengannya mulai melangkah masuk ke dalam rumah Justin sambil membawa kotak itu, diikuti oleh beberapa pria lain di belakangnya.
"Tapi ini apa? Saya tidak-"
"Permisi tuan muda." ujar seorang dari mereka pada Justin membuat Justin yang hendak bicara segera menyingkir.
Justin hendak protes namun jelas tak bisa karena saat ini masing-masing dari orang itu terlihat tengah sibuk dengan pekerjaan mengangkat barang.
"Dimana anda biasanya meletakkan karung beras tuan?" tanya seorang pria yang baru masuk.
"I-itu..."
"Tuan Justin, ini adalah makanan ringan, bolehkah saya meletakkannya di sini, di dapur agak penuh dengan tumpukkan kotak." ujar pria lainnya.
"Ya, tapi-"
"Apa ada ruang untuk kami menyimpan kotak-kotak itu tuan?" tanya pria yang lain lagi sambil menunjuk ke kotak yang ada di teras.
'Masih ada lagi?' batin Justin dengan mata yang membulat kaget.
Justin kini hanya bisa mengernyit bingung karena mendapati kejadian aneh di pagi hari ini. Siapa sebenarnya orang-orang ini? Lalu kenapa mereka datang dengan membawa puluhan kotak seperti ini.
Karena merasa begitu penasaran, Justin akhirnya menahan lengan dari salah satu orang-orang itu.
"Tunggu sebentar!"
"Ya, tuan?" tanya orang itu.
"Maaf, tapi bisakah saya tau darimana semua barang-barang ini berasal?"
"Ah, semua barang ini... semua berasal dari-"
Pria itu tampak kebingungan menjawab sampai kemudian tampak seorang pria berjas hitam berlari mendekat ke arah mereka.
"Tuan muda Justin!"
Justin menoleh saat mendengar namanya dipanggil sementara pria yang sempat Justin tanyai tadi langsung menudukkan kepalanya hormat dan berlalu pergi dari situ.
Pria berjas hitam tadi melangkah semakin mendekat.
"Selamat pagi, tuan muda Justin." pria itu membungkukkan setengah tubuhnya, menyapa dengan sopan.
Justin balas membungkuk. "Selamat pagi?"
"Saya adalah pelayan yang di kirim langsung dari mansion utama tuan Romanov." jelas pria itu.
Justin menganggukkan kepalanya.
"Ya, apakah ada yang bisa saya bantu?"
"Ah, tidak ada, tuan." jawab pria itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Saya datang untuk memantau pengiriman barang pagi ini, tuan."
Justin menunjuk tumpukkan kotak yang ada di teras rumahnya.
"Apa maksud anda adalah barang-barang ini."
Pria itu menoleh ke arah tumpukkan kotak yang ada di teras rumah Justin itu kemudian tersenyum simpul.
"Ya, tuan muda."
"Lalu bisa saya tahu untuk apa semua barang ini ada disini? Kenapa dikirim ke rumah saya?"
__ADS_1
"Semua ini... barang-barang milik anda." ujar pria itu membuat mata Justin membulat.
"Barang milik saya?"
Pria itu mengangguk. "Milik anda, sepenuhnya."
"Semua ini?" tanya Justin lagi.
"Ya, tuan muda." sekali lagi pria itu menganggukkan kepalanya. "Ini semua adalah hadiah dari tuan Romanov yang memang sengaja dikirim untuk anda. Makanan, minuman, kebutuhan pokok, dan barang lainnya lagi." jelas pria itu sopan.
"Apa? Semua itu ada di sini? Dan ini diberikan oleh tuan Romanov untuk saya?"
"Ya, tadi pagi-pagi sekali saya di tugaskan langsung oleh tuan Romanov untuk memesan dan juga mengantar semua barang-barang yang mungkin akan menjadi keperluan anda?"
"Keperluan saya? Tapi saya bahkan tidak membutuhkan semua ini." Justin hampir tertawa sekarang. Keperluannya tidak pernah sampai sebanyak ini. Semua ini benar-benar mengejutkan untuk dirinya.
"Anda pasti akan membutuhkannya, tuan muda. Ini semua adalah barang-barang yang dibutuhkan setiap hari. Seperti beras, makanan instan, air mineral kemasan dan kebutuhan lainnya. Semua ini jelas akan anda butuhkan." ujar pria itu lagi.
"Tuan Romanov mengatakan pada saya semua kebutuhan pokok anda harus terpenuhi. Dan anda tidak boleh kekurangan satu apapun."
"Dia mengatakan itu?"
"Ya! Saya sudah berusaha sebaik mungkin agar memenuhi permintaan beliau. Anda mungkin tidak perlu bekerja lagi untuk memenuhi semua kebutuhan ini karena semuanya sudah anda punya sekarang..." lanjut pria itu sambil terkekeh.
"Ya saya rasa juga begitu." Justin tersenyum ragu sambil menatap barang-barang itu. "Tapi kenapa tuan Romanov harus sampai melakukan hal seperti ini."
"Seperti ini?"
"Ah, jangan tersinggung. Tapi menurut saya ini sedikit… berlebihan."
Pelayan itu mengangguk. Ia mengerti jika hal ini memang tampak berlebihan.
"Sebenarnya ini hanya bentuk ungkapan terimakasih dari beliau karena tuan muda sudah bersedia datang di acara makan malam semalam."
"Ah, masalah itu.." Justin menggaruk tengkuknya canggung. "Harusnya tuan Romanov tidak perlu sampai melakukan hal berlebihan begini."
"Saya rasa itu bukan masalah besar. Ini bukan sesuatu yang berlebihan bagi beliau." ujar pria itu lagi.
Justin hanya bisa tersenyum canggung, ia tidak tau harus menanggapi apa lagi sekarang.
"Tuan Romanov bahkan mengatakan pada saya untuk mengirim barang-barang yang sama seperti ini setiap seminggu sekali."
Hal itu membuat Justin melotot kaget. "Seminggu sekali anda bilang?"
"Ya, tuan muda."
"Saya minta maaf. Tuan Romanov hanya mengatakan pada saya kalau ini adalah hadiah untuk anda, tuan muda. Dan hanya itu yang bisa saya sampaikan. Selain itu saya tidak punya wewenang apapun untuk mempertanyakan hal lain pada beliau."
"Mana saya berani mempertanyakan keputusan tuan Romanov." lanjut pria berjas itu menundukkan kepalanya, tanda kalau ia menyesal karena tak bisa menjelaskan apapun lagi pada Justin.
Justin hanya menghela napasnya. Ia bisa mengerti dengan jelas ucapan pria berjas itu.
"Ya sudah tidak apa-apa." Justin berujar pasrah.
"Ah iya... saya hampir lupa sesuatu." pria itu lalu merogoh kantong jasnya.
"Dan ini..." lanjut pria itu lagi sambil mengeluarkan amplop putih dan mengulurkannya pada Justin. "Ini adalah uang yang tuan Romanov titipkan pada saya untuk diberikan pada anda."
"Uang?" Justin sontak bergerak mundur. "Tidak, tidak. Saya tidak bisa menerimanya."
"Tapi-"
"Kenapa harus ada uang lagi? Ini saja sudah cukup. Sangat cukup."
Jelas Justin tidak bisa menerimanya. Bukankah ia sudah menerima uang dari tuan Romanov beberapa waktu lalu. Itupun belum ia gunakan. Bahkan sangat ingin dia kembalikan. Lantas bagaimana bisa dia mendapatkan uang lagi?
'Apa kata nona Charlotte nanti. Dia akan semakin memandangku buruk.' batin Justin.
"Tolong terimalah ini tuan muda. Jika tidak saya akan di pecat nanti karena tidak bisa menjalankan perintah beliau dengan baik."
Justin tersenyum kaku. Kenapa jadi dia yang harus merasa serbasalah disini? Padahal harusnya dia bisa menolak dengan mudah. Tapi karena ini menyangkut pekerjaan orang lain, ia tak bisa berbuat banyak. Dan akhirnya, dengan rasa terpaksa Justin menerima uluran amplop putih itu, membuat pria berjas itu tersenyum senang.
'Akan aku kembalikan sendiri pada tuan Romanov nanti.' Batinnya.
Pria itu tersenyum senang. "Terima kasih tuan."
"Ya," jawab Justin dengan senyum kecil.
"Tuan Romanov juga minta maaf karena tidak bisa datang sendiri kesini. Beliau sedang sibuk karena akan ada rapat di perusahaan pagi ini." jelas pria itu lagi.
"Selain itu... saya sudah membawa sepeda milik anda." Ujar pria itu menunjuk sepeda.
Justin menoleh ke arah halaman rumahnya dan mengangguk. "Terima kasih." ungkap Justin.
__ADS_1
"Baiklah... sepertinya tugas saya di sini sudah selesai." ujar pria berjas itu saat melihat orang-orang yang mengangkut kotak tadi sudah selesai bekerja. "Kalau begitu saya permisi dulu."
Justin mengangguk. "Terima kasih, sekali lagi "
Setelah membungkuk hormat pada Justin pria berjas itu lalu berpamitan barulah kemudian bergegas pergi meninggalkan Justin, diikuti para pekerja tadi yang berjalan di belakangnya.
Justin bergegas memasuki rumahnya lagi. Begitu tiba di dalam, Justin hanya bisa berdiri mematung dengan mata yang menatap seluruh barang-barang yang telah memenuhi rumahnya.
Justin mencebik, lalu berdecak kesal. "Apa yang harus aku lakukan dengan semua barang-barang ini?"
Kepalanya entah kenapa terasa penuh. Justin tak pernah menyangka hal seperti ini akan terjadi. Ia menggelengkan kepalanya. Semua barang itu membuat Justin merasa semakin gila saja sekarang.
Justin berjalan menuju sofa lalu menghempaskan dirinya di atas sofa ruang tamunya itu. Dia menghela napasnya panjang, merasa begitu lelah, entah kenapa. Baginya kejadian pagi ini benar-benar mengejutkan dirinya.
Sekali lagi tuan Romanov berhasil mengejutkan dirinya dengan cara yang tak biasa. Ini terlalu berlebihan. Bukankah begitu? Tuan Romanov pasti sudah menghabiskan banyak uang untuk membeli barang-barang ini.
Ya, sebenarnya tidak mengherankan bagaimana tuan Romanov mampu mengiriminya semua barang ini. Dia adalah orang kaya. Konglomerat. Dia bahkan mampu mengirimi ratusan barang seperti yang dia kirimkan pada Justin. Ini mungkin hanya seperti sedang mengeluarkan uang seratus ribu rupiah baginya.
Tuan Romanov benar-benar sangat kaya. Justin bahkan tidak dapat melupakan semegah apa mansion milik tuan Romanov yang ia datangi semalam. Jalan masuknya saja sudah seperti jalan raya karena lebar sekali. Dia benar-benar sangat kaya.
Tapi satu hal yang Justin tak habis pikir adalah alasan tuan Romanov memberikan banyak hal untuknya. Kenapa? Apa yang tuan Romanov lakukan pada dirinya bahkan tak akan memberikan keuntungan apapun untuk pria paruh baya itu bukan?
Drrtttt...
Drrtttt...
Di sela lamunannya, tiba-tiba saja ponsel Justin bergetar. Justin meraih ponselnya dan menatap layar ponselnya, melihat nomor tak di kenal yang tercantum ia langsung mengernyit.
"Nomor siapa ini?" gumam heran.
Biasanya, Justin selalu memilih untuk menghindari mengangkat telepon dari nomor tak dikenal. Namun kali ini entah kenapa ia memilih untuk mengangkat telepon itu.
"Halo?" ujar Justin.
"Justin, ini kakek."
"Kakek? Tuan Romanov, maksudnya?" tanya Justin. Ia terkejut bukan main karena tak menyangka tuan Romanov bisa mengetahui nomor ponsel miliknya.
Terdengar suara kekehan dari seberang telepon. "Ya, tentu saja ini kakek."
"Kakek tau nomor ponsel saya?"
"Kakek mendapatkannya dari Harry, pagi ini."
"Ah, begitu..."
"Kakek menelepon pagi ini hanya karena kakek ingin memastikan kalau kau sudah menerima hadiah dari kakek. Kau sudah menerimanya kan?"
"Ya, kek... tapi..." Justin menghela napasnya pelan lalu menunduk, memainkan kuku jarinya. "Kakek, ini agak... berlebihan..."
"Apanya yang berlebihan? Justru kakek merasa kalau itu semua pasti kurang untuk dirimu."
"Tidak kek, tidak. Ini justru terlalu banyak. Lebih dari cukup malah."
"Benarkah? Baguslah kalau begitu." ujar tuan Romanov.
"Tapi kek, sepertinya saya tidak bisa menerimanya."
"Kenapa? Apa kau tidak menyukainya?" tanya tuan Romanov dengan nada terkejut.
Justin menggosok tengkuknya, merasa begitu serbasalah sekarang. Ia tak enak jika harus mengatakan kalau dia ingin menolak kebaikan yang di berikan pria paruh baya itu.
"Tidak kek, entah kenapa ini hanya terlalu banyak untuk saya. Semua barang-barang ini bahkan baru akan habis sekitar sebulan atau mungkin dua bulan."
"Ah, itu masalahnya." Tuan Romanov terkekeh.
"Saya serius kek, ini sangat banyak." Justin meyakinkan.
"Tidak masalah, Justin." jawab tuan Romanov lembut.
"Tapi kek-"
"Ah, ngomong-ngomong kakek hanya ingin memastikan barangnya sampai. Dan sekarang kakek harus bersiap untuk pergi bekerja. Kakek tutup dulu teleponnya."
Justin berdehem pelan. "Ya, kek."
Setelah sambungan telepon terputus, Justin meletakkan ponselnya di atas sofa, tepat di sampingnya. Ia menolehkan pandangannya ke atas meja di hadapannya, menatap pada mangkuk mie yang tadi sempat ia santap.
Ah, Justin sama sekali tak memiliki nafsu untuk melanjutkan sarapannya lagi sekarang, dia malah kembali fokus pada tumpukan kotak yang ada di dekatnya.
Selanjutnya, Justin melihat pada jam di dinding rumahnya, ternyata sebentar lagi waktunya pergi ke kampus. Ia memutuskan untuk pergi kuliah saja dibandingkan harus memikirkan hal yang begitu memusingkan ini.
***
__ADS_1