
Suara musik di klub malam itu adalah sesuatu yang biasa bagi Charlotte. Jika orang lain akan merasa bising, lain hal-nya dengan Charlotte yang justru menikmatinya. Itu karena ia sudah menjadi kebiasaannya untuk mendengarkan musik yang nyaring.
Begitupun juga dengan malam ini, Charlotte tengah berada di klub malam untuk bertemu dengan beberapa teman atau kenalannya termasuk sahabat baiknya Laurent, si pemilik klub.
Drrrtttt!
Drrrtttt!
Ponsel Charlotte bergetar. Ia meraih ponselnya dan mendecih saat membaca pesan dari Xander yang mengatakan kalau dia tak bisa datang malam ini.
"Sudah gue duga." gumam Charlotte sambil meletakan ponselnya dengan bantingan kasar ke atas meja.
Charlotte bukannya tak tahu hal seperti ini akan terjadi. Sejak awal dia juga tahu kalau Xander tak mungkin datang. Tapi dalam hati ia tetap saja berharap.
"Minum?" tawar Laurent yang baru saja duduk tepat di hadapan Charlotte sambil menyodorkan segelas minuman ke atas meja untuk Charlotte.
"Makasih."
"Gue pikir lo nggak bakalan dateng malam ini." ujar Laurent lagi.
"Lo undang ya gue pasti datang." jawab Charlotte santai.
"Ya, lo agak telat. Bahkan tadinya temen-temen yang lain sempet pesimis kalau lo nggak bakal dateng." ujar Laurent yang langsung membuat Charlotte mencebik.
"Memangnya kapan gue nggak dateng kalau lo undang?"
Laurent mengangguk. "Bener juga."
"Ngomong-ngomong dimana Xander? Gue belum lihat dia muncul?" kata Laurent sambil menegak minuman yang ada di tangannya.
"Nggak perlu di tunggu. Dia nggak bakalan datang kesini tepat waktu." ujar Charlotte lemas.
"Nggak dateng?"
"Ya, begitulah. Dia ada urusan lain."
Laurent menatap Charlotte heran barulah kemudian mendekatkan dirinya pada Charlotte yang kini tengah fokus memainkan ponselnya.
"Memangnya dia kemana? Nggak biasanya dia pergi tanpa elo kayak gini"
Charlotte menghela pelan lalu meletakkan ponselnya ke atas meja dan menatap Laurent dengan tatapan datar.
"Dia lagi di kantor kakek. Ada urusan disana."
"Urusan apaan?"
"Nggak tau. Dan nggak mau tau." ujar Charlotte.
"Tapi dia bakal kesini nggak?"
"Dia janji padaku kalau akan datang." ujar Charlotte menggedikkan bahunya acuh kemudian menenggak minuman miliknya.
Charlotte menunduk. Ia sebenarnya masih merasa kesal jika harus membahas tentang Xander sekarang. Entah kenapa ia merasa kalau pemuda itu akan gagal menepati janjinya.
"Kenapa lo?" kata Laurent yang melihat Charlotte tidak terlalu bersemangat saat bicara tentang Xander.
Teguran Laurent itu membuat Charlotte yang semula menundukkan kepala langsung mendongak, menatapnya.
"Gue kenapa?" tanya Charlotte balik.
"Murung gitu. Kenapa?"
Ya, malam itu Charlotte memang tampak tak bersemangat. Ia begitu lesu dan terlihat seperti sedang sakit.
Charlotte hanya tersenyum simpul, kemudian menggeleng, "Nggak apa-apa."
"Sakit lo?" tanya Laurent bersikeras.
Charlotte menghela, memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tak ingin Laurent tau kegelisahannya.
__ADS_1
Sejujurnya ia kesal karena sang kakek yang mengajak Xander pergi. Harusnya Xander bisa pergi bersamanya malam ini kalau kakek-nya tak membawa Xander lebih dahulu.
"Gue baik-baik aja, beneran." ujar Charlotte berusaha untuk meyakinkan.
Laurent mendecih. Ayolah, ia sudah bertahun-tahun menjadi sahabat Charlotte. Tentu saja dia tau bagaimana karakter gadis itu. Dan Charlotte memang terlihat sedang banyak pikiran sekarang.
"Oke, gue bisa terima kalau lo nggak mau cerita masalah lo. Tapi gue cuma minta seenggaknya lo nikmatin pesta malam ini."
"Nggak janji." ucap Charlotte bersandar ke sandaran kursinya.
Laurent mendecih.
"Ayolah Lottie, kita baru ketemu setelah sekian lama dan elo malah pasang ekspresi jelek begitu."
"Sekian lama apanya? Kita bahkan baru bertemu beberapa waktu lalu." ujar Charlotte sinis.
Mendengar itu Laurent langsung tertawa.
"Tetap saja, kita sudah lama nggak bertemu dan bersenang-senang seperti ini, kan?" ujar Laurent bersikeras lalu kembali menuang minuman kedalam gelas Charlotte.
Charlotte menatap Laurent yang tengah mengisi gelas miliknya. "Jangan banyak-banyak. Gue lagi nggak mau minum banyak sekarang. Lagi nggak pingin mabuk."
"Nggak minum banyak?" Laurent menghentikan kegiatan menuangnya dan menaikkan sebelah alisnya. "Sejak kapan?"
"Sejak hari ini."
"Kenapa?"
"Nggak mood aja."
"Nggak mood?" balas Laurent lalu terkekeh. Ia tak menyangka kalimat semacam itu baru saja keluar dari mulut Charlotte. Dia pikir selama ini Charlotte dan minuman keras adalah sesuatu yang tak bisa di pisahkan.
"Sejak kapan lo mau pisah sama minum-minum?" ejek Laurent. Ya, seingat Laurent, gadis ini memang akan selalu menghabiskan dunianya untuk minuman beralkohol.
"Ketawa lo?" sungut Charlotte saat melihat Laurent yang tengah mentertawainya.
"Ya habis, lo nggak kayak biasanya. Kesambet apaan sih lo hari ini? Nggak asik banget, sumpah."
"Alasan lo nggak mood itu, karena Xander nggak ada di sini kan?" tebak Laurent membuat Charlotte menaikkan sebelah alisnya.
"Bagaimana lo bisa tau?"
"Ayolah Lottie. Gue kenal elo bertahun-tahun lamanya. Dan hal kecil kayak gini mudah banget buat gue tebak."
Kepercayaan diri Laurent itu membuat Charlotte terkekeh sinis.
"Sok tau banget sih elo." ujar Charlotte lalu menenggak minumannya.
"Gue memang tau. Dan gue juga tau kalau tebakan gue bener." ujar Laurent santai.
"Oke, gue akuin. Gue kesel karena Xander pergi bareng kakek. Tapi hal yang membuatku kesal adalah dia tak muncul sampai sekarang. Padahal dia sudah membuat janji padaku kalau dia akan datang."
"Nggak semua orang bisa menepati janjinya tepat waktu kan? Mungkin macet."
"Ya, benar. Tapi sejak tadi aku menghubunginya untuk bertanya kenapa dia terlambat. Tapi dia bahkan tak mengangkatnya. Setidaknya berikan alasan."
Laurent mengangguk, "Kalau gitu kita tunggu aja. Mungkin dia akan datang."
"Itu yang sejak tadi aku tunggu." Charlotte mengangguk
"Gue bisa ngerti lo kesel. Kalian memang selalu bareng. Tapi nggak selamanya juga Xander bisa bareng lo."
"Iya. Gue tau. Gue cuma belum bisa rela waktu bersama kami sebagai kakak adik harus berkurang."
"Dia Xander. Dia kakak lo. Dan gue bisa jamin kalau elo tetap bakal jadi nomor satu buat dia."
"Gue tau." Charlotte mengangguk dan tersenyum simpul.
Laurent ikut tersenyum saat melihat Charlotte menundukkan kepalanya. Ia tau kalau gadis itu masih merasa gelisah.
__ADS_1
"Ayolah Lottie. Dalam hidup ini kita kan juga harus bersenang-senang. Jangan terlalu tegang begitu. Masih ada gue di sini." sambung Laurent menghibur sahabatnya sambil menuang minuman ke dalam gelas miliknya dan menenggaknya dalam satu kali tegukan.
"Dan sekarang, daripada pusing, mendingan kita pesta." ujar Laurent, kembali menuang minuman kedalam gelas Charlotte.
Charlotte mendengus. Ia menggelengkan kepalanya pelan. Laurent memang tipe pemuda yang begitu santai dalam menjalani hidupnya. Dia tak pernah menganggap sesuatu sebagai masalah besar.
Bagi Laurent, tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan. Ia selalu menghabiskan hidupnya dengan bersenang-senang.
Sebenarnya, Charlotte juga begitu. Tapi itu dulu saat sang kakek masih membebaskan Xander melakukan segala hal dengannya. Sekarang berbeda, karena sang kakek mulai membawa Xander ke dalam dunianya. Kakeknya bahkan sudah beberapa kali membawa Xander kekantor.
Itu mulai mengganggu Charlotte dan pelan-pelan membuatnya khawatir akan kehilangan Xander karena kesibukannya nanti.
"Lottie!"
Seruan Laurent menyadarkan Charlotte. Pemuda itu tengah mengangkat gelasnya mengajak Charlotte untuk bersulang.
"Ya?" balas Charlotte.
"Ayo bersulang." ajak Laurent.
"Oke, oke." ujar Charlotte, mencoba menyenangkan hati sahabatnya itu.
Akhirnya, Charlotte menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang dengan Laurent di klub itu.
Dan sekarang, sudah hampir dua jam lamanya Charlotte berada di klub malam itu. Ia sudah menghabiskan beberapa gelas minumannya.
Urusannya dengan beberapa temannya sudah selesai. Begitupun juga dengan Laurent. Pemuda itu saat ini terlihat sedang berada di sudut klub malam, menggoda seorang gadis cantik.
"Dasar bodoh." gumam Charlotte saat melihat tingkah Laurent yang tampak begitu mamalukan saat menggoda gadis itu.
Charlotte tersenyum pada Laurent dari kejauhan lalu kembali menenggak minumannya. Ia menatap sekilas jam di tangannya. Charlotte menyadari sudah terlalu lam ia berada di sini kemudian berpikir untuk pulang saja sekarang.
Ya, sepertinya untuk saat ini sudah tidak ada lagi alasan bagi Charlotte untuk bertahan lebih lama di sini. Setelah merasa bosan, pada akhirnya Charlotte memutuskan untuk pulang saja.
Namun saat Charlotte bergerak hendak bangkit dari duduknya, matanya secara tidak sengaja menangkap sesuatu yang mengganggu.
Seorang pria tinggi tengah duduk di meja bar di dekat dinding bata. Ia menggunakan celana panjang hitam, jaket kulit hitam dan topi hitam. Dengan asap rokok yang keluar dari mulutnya, mengepul di sekitarnya.
Charlotte menyipit. Entah itu hanya delusinya atau dia memang seperti mengenali pria yang tengah duduk di bar itu. Meski samar-samar kelihatannya, tapi dia cukup yakin bahwa matanya yang tajam tidak pernah salah dalam menilai ciri-ciri seseorang.
Setelah mengamati seseorang itu selama beberapa detik, Charlotte langsung membulat karena terkejut. Ia menyadari bahwa pria itu adalah Brandon, mantan kekasihnya.
Charlotte mendecih.
"Brandon." gumamnya. "Apa yang sedang dia lakukan di sini?"
Charlotte mengepalkan kedua tangannya dan menatap tajam ke arah pria itu.
"Kenapa dia ada di tempat ini juga" gumam Charlotte.
"Siapa?" tanya Laurent yang baru saja datang kembali ke mejanya. "Siapa yang ada di sini?"
"Seseorang yang kukenal." gumam Charlotte sambil terus menatap tajam ke arah Brandon kemudian kembali menatap Laurent. "Laurent, sepertinya aku harus pergi sebentar."
Laurent melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. "Kemana? Pulang?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Ya, aku ada urusan sebentar dengan seseorang yang ku kenal." ujar Charlotte menunjuk ke arah seorang pemuda dengan dagunya sambil memasang raut datar.
Laurent menoleh ke arah pria itu. Seakan mengerti, pemuda itu menghela pelan dan menganggukan kepalanya.
"Baiklah, kalau ada yang kau butuhkan. Aku akan ada di sini." ujar Laurent sambil menepuk pundak Charlotte.
Charlotte mengangguk.
"Jangan khawatir." ujar Charlotte sambil melangkah pergi. "Aku pergi dulu."
__ADS_1
***