
Charlotte menatap deretan mobil yang ada di hadapannya dengan tatapan kesal. Jam di tangannya kini tengah menunjukkan waktu pukul lima sore. Dan ini jelas merupakan jam pulang kerja bagi para pekerja kantoran. Itu sebabnya lalu lintas begitu padat.
"Siál! Kenapa macetnya harus sepanjang ini sih?" omel Charlotte sambil menekan klakson mobilnya beberapa kali.
Untuk kesekian kalinya Charlotte menghela napasnya kesal. Ia benci kemacetan. Terutama kemacetan di sore hari.
"Harusnya aku pulang lebih awal tadi." ujar Charlotte sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi mobil.
Saat ini Charlotte memilih untuk duduk diam di kursinya. Ia tau kalau akan berada disini selama beberapa saat, menunggu kemacetan ini berakhir.
Detik demi detik berlalu. Charlotte kini hanya bisa duduk dengan rasa bosan di dalam mobilnya. Tak ada yang bisa dia lakukan selain terus menggerutu.
Selang beberapa menit setelah itu, Charlotte mendengar ponselnya berbunyi dari dalam tasnya. Seseorang sedang menghubungi dirinya.
"Siapa sih..." ucapnya kesal.
Charlotte menghela malas kemudian dengan cepat mengambil ponselnya. Detik selanjutnya ia mengeryit heran setelah melihat nama Xander muncul di layar ponsel.
Meskipun bingung, namun Charlotte tetap menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel di telinganya sambil memijit pangkal hidungnya.
"Ada apa?"
"Dimana kau sekarang?" tanya Xander cepat.
"Di jalan."
"Iya, di jalan mana?"
Charlotte menaikkan sebelah alisnya. Kenapa juga Xander harus bertanya sedetail ini padanya? Dia terlihat seperti polisi yang sedang mengintrogasi dirinya sekarang.
"Kenapa memangnya?" Charlotte kini bertanya balik.
"Kakek... mencarimu." ujar Xander terdengar ragu, entah kenapa.
"Apa?" Charlotte tersenyum getir. "Kakek mencariku?"
"Ya. Kakek bertanya sejak tadi. Kau tidak kuliah. Kau juga pergi dari pagi dan sampai sore begini, kenapa belum juga tiba di mansion. Ini sudah hampir seharian."
"Memangnya ada peraturan kalau aku tidak boleh pergi seharian?"
Terdengar suara helaan dari seberang telepon.
"Kau ada pemotretan?"
"Tidak ada."
"Urusan pekerjaan?"
"Tidak juga."
"Lalu kenapa kau terlambat pulang?" tanya Xander.
Charlotte hanya memutar bola matanya malas lantaran merasa sedikit kesal dengan pertanyaan Xander itu
Kenapa Charlotte terlambat pulang? Pertanyaan apa itu? Dan ada apa dengan Xander? Dia tampak aneh. Bertanya alasan dirinya terlambat pulang adalah hal yang aneh dan konyol untuk pemuda itu.
__ADS_1
"Memangnya kau pikir umurku berapa?" ujar Charlotte dengan nada sinis "Kenapa kalian harus bersikap berlebihan sekali."
"Berlebihan?"
"Ya, berlebihan. Tentu saja." sengit Charlotte. "Dan kau! Sejak kapan kau bertanya-tanya hal tak penting seperti ini."
"Ini tidak berlebihan Charlotte. Aku bertanya karena kita tidak pergi bersama seperti biasanya."
"Kalau begitu biasakan dirimu dengan ini!" balas Charlotte datar.
Xander menghela.
"Ayolah... aku hanya ingin mengetahui keadaanmu saat ini. Karena seperti yang kau tau, aku tidak sedang pergi bersamamu. Jadi aku sedikit-"
"Kau khawatir?" potong Charlotte.
"Ya, kurang lebih begitu."
Charlotte mencemooh.
"Oh, wow... kau merasa khawatir?" sindir Charlotte.
Charlotte tak bermaksud apa-apa. Ia hanya merasa kesal karena Xander yang selalu sibuk dengan sang kakek dan hampir mengacuhkan dirinya. Itu sebabnya dia melakukan ini padanya. Menyindir Xander. Agar pemuda itu sadar kalau Charlotte merasa kesal di acuhkan.
Tak ada jawaban dari Xander atas sindiran Charlotte itu.
"Dengar, Xander. Jika kau tidak ingin merasa khawatir. Harusnya kau pergi denganku. Bukan kakek."
"Aku selalu pergi denganmu kalau kau lupa."
"Tapi tidak dengan akhir-akhir ini, bukan?"
"Dan jika kau memang merasa tak enak begini, bukankah harusnya kau selalu menemaniku. Tapi beberapa kali kau malah pergi bersama kakek. Benar kan? Kau malah menghabiskan waktumu dengan kakek."
"Ya..."
"Jadi berhenti menghenti mengkhawtirkan apapun tentang diriku. Itu sesuatu yang sia-sia."
Xander memilih mengalah. Ia akui kalau saat ini ia memang agak menjauh dari Charlotte. Meskipun baru beberapa waktu lalu ia dan Charlotte menghabiskan waktu bersama. Tapi setelah itu ia memang akan selalu pergi menemani sang kakek. Ya, ini karena sang kakek yang selalu memanggilnya untuk datang membahas tentang hal kantor.
"Ayolah Charlotte, ini kakekmu sendiri. Dan aku ini kakakmu. Tentu saja kami akan merasa khawatir."
Charlotte diam untuk beberapa detik. Ia kembali mengingat Xander yang sudah kesekian kalinya tak pergi dengannya karena harus berurusan dengan sang kakek.
Namun ingatan lain muncul. Charlotte memejamkan matanya dan menyadari kalau Xander adalah satu-satunya orang yang selalu berada di sampingnya selama ini. Melindunginya.
Benar. Selama ini, Xander adalah orang yang selalu menjaga Charlotte. Satu kali pun, Xander tak akan pernah membiarkan Charlotte terlibat dalam masalah. Dan jika memang tanpa sengaja terjadi masalah yang di sebabkan oleh Charlotte, maka Xander lah orang pertama yang akan menyelesaikan segalanya.
Jadi, jika yang khawatir adalah Xander, maka Charlotte masih mengerti. Tapi ini adalah kakek. Ia bahkan masih tak percaya jika kakeknya harus mencarinya hanya karena ia tak pulang hampir seharian.
Charlotte menghela napasnya perlahan. Mencoba mengubah emosinya agar merasa lebih santai.
"Ada perlu apa?" tanya Charlotte setelah beberapa detik.
"Hah?"
__ADS_1
"Ya ampun." keluh Charlotte. Ia meruntuki betapa bodohnya Xander hanya untuk sekedar mengerti kalimatnya barusan.
"Aku bertanya padamu, untuk apa kalian mencari-cari diriku? Ada perlu apa memangnya?" Ujar Charlotte yang akhirnya berhasil dimengerti oleh Xander.
"Ohh... begitu..." Xander berseru mengerti. "Masalah itu... dia hanya merasa khawatir. Itu alasan yang utama."
"Oh."
Mendengar jawaban singkat dari Charlotte itu, Xander sontak mendengus. Apa penjelasannya hanya di anggap angin lalu.
"Hey, jawaban macam apa itu."
"Kau katakan saja pada kakek kalau aku akan segera pulang." ujar Charlotte tanpa berniat menanggapi perkataan Xander sebelumnya.
"Baiklah." Xander kembali menyerah. "Kalau begitu aku tutup teleponnya. Dan ingatlah, kau harus hati-hati di jalan."
"Hm." balas Charlotte kemudian dengan cepat menutup teleponnya terlebih dahulu.
Usai mengakhiri panggilan teleponnya dan Xander, Charlotte hanya diam sambil menatap layar ponselnya.
"Khawatir padaku katanya?" gumam Charlotte.
"Kalau memang begitu, bukankah harusnya dia tetap di sampingku."
Charlotte kemudian mendecih. "Cih, apa dia tak tau, karena dia tak menemaniku semalam, Brandon jadi leluasa untuk menemui diriku. Dasar bodoh."
Selesai menggerutu, Charlotte menghela napasnya perlahan. Jujur saja, ia mulai kembali merasa kesepian sekarang. Seperti ada rasa yang kosong di hatinya. Ia merasa hampa. Ia pikir Xander pelan-pelan sudah mulai meninggalkannya dan pergi bersama kakek.
Namun di sela lamunannya, tiba-tiba saja ia langsung memikirkan Justin. Entah kenapa ia jadi berpikir jika ada Justin di sini, hatinya pasti akan terasa baik-baik saja.
Mungkin...
"Sudah lama aku dan dia tidak bertemu."
"Sedang apa dia sekarang." gumam Charlotte lagi sambil terus memikirkan Justin.
"Apa dia sedang bekerja sekarang?"
Charlotte jadi penasaran sendiri sekarang. Ia bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang sedang di lakukan pemuda tampan itu sekarang.
Untuk sedetik, Charlotte berpikir untuk menelepon Justin saat ini untuk mengurangi rasa bosannya karena macet. Tetapi detik itu juga Charlotte segera menyingkirkan pikiran itu dari kepalanya.
Charlotte melempar ponselnya ke kursi mobil yang ada di sebelahnya.
"Apa yang baru saja aku lakukan?"
Alis Charlotte berkerut. Ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Untuk apa juga aku meneleponnya? Ck, jika aku kesepian, aku punya banyak sekali teman. Lantas kenapa malah memikirkannya."
"Cih, jika membutuhkan teman. Dia akan jadi orang terakhir yang akan aku hubungi.
"Lagipula aku kan sibuk. Aku bisa melupakan segala kesepian itu dan mengantinya dengan kesibukan pekerjaan." gumamnya sambil menatap antrian mobil di depannya.
Setelah itu. Waktu dengan perlahan berlalu. Sudah hampir setengah jam sejak Charlotte terjebak di kemacetan. Ia sudah mulai merasa lelah juga mengantuk sekarang.
__ADS_1
"Sepertinya aku butuh kopi."
***