
Sebuah mobil mewah berwarna hitam terlihat tengah melaju membelah jalanan ibu kota. Cuaca pagi hari itu begitu lembab karena subuh tadi kota Jakarta di guyur oleh hujan yang lumayan deras.
Xander duduk di sebelah tuan Romanov, fokus menyetir mobil tanpa mengeluarkan suara. Ia memang memilih untuk tetap diam selama perjalanannya mengantar sang kakek. Bukannya apa, saat ini Xander sedang menahan dirinya sendiri agar tak memancing obrolan apapun tentang sang adik. Karena ia merasa apapun yang akan ia ucapkan bisa menjadi boomerang bagi dirinya sendiri nanti karena ia tak begitu pandai untuk berbohong apalagi di depan sang kakek.
Ya, kecuali waktu di dekat meja makan tadi. Mungkin itu keberuntungan karena sang kakek dengan begitu mudahnya percaya padanya.
Tuan Romanov sendiri saat ini terlihat sedang menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil sementara kedua matanya mengamati ke luar jendela, lebih tepatnya ke arah jalanan kota yang sudah mulai ramai oleh kendaraan yang lalu lalang karena saat itu memang jam pergi ke kantor.
Tuan Romanov melirik sebentar ke arah cucu sulungnya yang sedang duduk di kursi supir kemudian memandang lagi ke arah luar jendela.
"Di dekat tikungan itu, bisakah kita menepi terlebih dahulu!" pinta tuan Romanov pada Xander.
"Di sini kek?" tanya Xander yang langsung di angguki oleh sang kakek.
Xander yang mendengar ucapan sang kakek itu terlihat agak bingung. Ia penasaran, kenapa tiba-tiba saja sang kakek memintanya untuk berhenti padahal mereka belum sampai ke tempat tujuan. Tapi tanpa banyak bertanya, ia tetap menganggukkan kepala dan mengikuti apa yang tuan Romanov minta.
Dan begitu mobil yang mereka kendarai itu berhenti di pinggir jalan, Xander sudah menatap tuan Romanov untuk bertanya.
"Ada apa kek? Apa kakek melupakan sesuatu?" tanya Xander begitu dia mematikan mesin mobilnya.
"Tidak ada." jawab tuan Romanov.
"Lantas? Bukankah kita bahkan masih jauh dari pabrik miliki kakek?"
Tuan Romanov hanya diam, memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru menatap ke jalanan yang ada di depan mobil mereka saat ini.
Xander manaikkan sebelah alisnya heran saat melihat tuan Romanov yang saat ini hanya diam. Ia turut menolehkan pandangannya ke arah yang sedang pandangi oleh sang kakek. Itu adalah sebuah perempatan jalan.
"Kakek ingin memberitahumu kalau kakek kecelakaan di tempat ini beberapa hari yang lalu," tuan Romanov pada akhirnya berterus terang.
Mendengar ucapan tuan Romanov, Xander pun tersentak dan sontak saja membulatkan kedua matanya. Ia terkejut bukan main saat mendengarkan pengakuan kakeknya itu.
"di-disini, kek?" tanya Xander gagap.
"Ya."
"Lalu bagaimana aku bahkan bisa tidak mengetahui hal mengejutkan seperti ini? Dan kenapa Paul tidak memberitahu aku apa-apa tentang kecelakaan kakek?"
"Untuk masalah itu, kakek yang meminta padanya untuk tidak memberitahumu ataupun Charlotte."
"Tapi kenapa kakek? Kenapa kakek harus melakukan itu? Kenapa merahasiakannya? Lalu bagaimana keadaan kakek, apakah kakek terluka?" Xander bertanya gusar sambil mengecek keadaan sang kakek. Ia merasa begitu khawatir pada pria paruh baya itu.
"Tidak Xander! Kakek baik-baik saja dan memang ada yang terluka, tapi bukan kakek." ungkap tuan Romanov sambil menggeleng, menjawab pertanyaan itu tanpa ekspresi apapun. "Tapi ada orang lain yang terluka."
"Hah? Orang lain? Apa maksud kakek-"
"Ya, kakek sudah membuat orang lain terluka." hati tuan Romanov entah kenapa merasa begitu pedih saat mengatakan hal itu pada Xander.
Kenangan saat ia menabrak Justin kembali muncul di pikirannya. Bahkan ingatan saat pemuda itu memunguti satu persatu paket makanan yang berserakan di atas aspal membuatnya trenyuh. Senyum penuh kesakitan yang Justin berikan padanya waktu itu juga membekas di kepalanya. Semuanya!
"Maksudnya, kakek sudah menabrak orang?" tanya Xander membulat.
__ADS_1
Tuan Romanov menganggukkan kepalanya,
"Kau benar, kakek menabrak seseorang. Dia adalah anak seorang anak muda. Dia berumur sekitar delapan belas tahun." tuan Romanov mengakui semuanya dengan nada yang lirih. "Kakek yang menabraknya bahkan sudah membuat dia terluka. Tapi kakek akui hal itu terjadi karena kakek benar-benar tak sengaja. Kakek begitu menyesal sampai sekarang."
"Kapan tepatnya hal itu terjadi, kek?"
"Kejadiannya...setelah kakek mengantarmu ke hotel untuk bertemu dengan Dimitri." terang tuan Romanov menundukkan kepalanya.
"Itu dia! Itu pasti karena waktu itu aku tidak mengantar kakek pergi ke pabrik. Jadi ini sebabnya kenapa aku merasa tidak enak." Xander menatap sang kakek dengan raut penuh penyesalan.
"Jangan salahkan dirimu, Xander. Ini murni keteledoran kakek." tuan Romanov mengusap bahu sang cucu. Ia tak ingin Xander menyalahkan dirinya atas hal yang bahkan tidak ia lakukan.
"Lalu apa kakek mengantarnya ke rumah sakit? Apakah setelah kejadian itu kondisinya baik-baik saja, kek? Pemuda yang kakek tabrak itu? Dimana dia di rawat?"
Tuan Romanov mengangguk, "Dia baik-baik saja. Kakek bahkan sudah bertemu kembali dengannya kemarin di kantor utama."
"Dia datang ke kantor utama?"
"Ya, dia tidak di rawat. Kakek rasa luka-lukanya juga sudah membaik. Kakek bahkan memintanya datang ke kantor agar bisa membahas kejadian itu?"
"Lalu bagaimana hasilnya?"
"Ya, kakek secara khusus memintanya datang untuk menebus segala kesalahan yang kakek lakukan padanya waktu itu. Kakek memberinya uang sebagai ganti rugi dan juga-"
"Dan juga?" tanya Xander penasaran.
"Kakek juga akan mengundangnya untuk makan malam bersama di mansion kita, malam ini?"
"Ya, dan kakek berharap kalau kau dan Charlotte juga akan datang." tuan Romanov menatap Xander penuh harap.
"Kami akan datang, aku pasti akan memberitahu Charlotte tentang ini kek. Charlotte akan datang!"
Tuan Romanov menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, "Baguslah!"
Keadaan menjadi hening untuk beberapa saat, sebelum tuan Romanov melanjutkan kalimatnya. "Pemuda itu... kakek bisa melihat sesuatu pada dirinya? Sesuatu yang menarik."
"Benarkah kek?"
"Ya, dia memiliki sifat seperti Robert, menantu kakek dulu. Mereka sama-sama memiliki sikap dan sifat yang begitu baik."
Xander menganggukkan kepalanya mengerti. Ya, sejujurnya Xander sendiri tak pernah bertemu dengan ayah Charlotte. Ia hanya melihat foto-foto dari lelaki itu. Tapi Xander sudah mendengar banyak hal yang baik tentangnya melalui tuan Romanov. Selama ini tuan Romanov selalu membanggakan menantunya itu.
"Pemuda itu sangat sempurna untuk menjadi teman Charlotte kan?" tuan Romanov berujar tiba-tiba dengan senyum di wajahnya.
"Ya?" Xander bertanya bingung.
"Bagaimana jika dia menjadi teman Charlotte?"
"Dia akan berteman dengan Charlotte, kek?" Xander terlihat mengerutkan dahinya.
Tuan Romanov mengangguk, "Entah kenapa kakek ingin dia menjadi teman Charlotte. Bagaimana pendapatmu, Xander?
__ADS_1
"pe-pendapatku?" Xander jadi gelagapan, kemudian ia menggaruk tengkuknya kaku. "Masalah itu... aku tidak bisa mengatakan apapun tentang ini, kek. Ya, maksudku... aku bahkan belum bertemu dengannya."
"Kau bisa memberi pendapat pada kakek setelah kau bertemu dengannya nanti. Ah, tepatnya setelah kalian bertemu dengannya di acara makan malam nanti." tuan Romanov tersenyum yang langsung di angguki oleh Xander.
"Tentu saja, kek." Xander tersenyum. "Aku pasti akan memberikan penilaianku tentangnya."
Tuan Romanov tersenyum senang. Ia merasa senang karena ternyata reaksi Xander sama seperti yang ia bayangkan sebelumnya.
"Kakek hanya merasa seandainya dia berteman dan berada di dekat Charlotte nanti, dia pasti akan bisa merubah kebiasaan Charlotte. Kakek yakin kalau dia akan mempengaruhi adikmu itu dengan sikap baik yang dia punya, ya seperti yang kau lakukan pada Charlotte dahulu."
'Kalau begitu, harusnya pemuda itu memiliki mental yang kuat untuk berada di dekat gadis bersifat 'singa liar' seperti Charlotte itu...' batin Xander sambil menggeleng.
"Jadi kakek ingin membuat pemuda itu berteman dengan Charlotte. Ah, apakah itu sebabnya kakek mengajaknya untuk datang dan makan bersama malam ini? Kakek ingin mencoba untuk mendekatkan mereka?"
Tuan Romanov tersenyum, "Sebenarnya tujuan kakek mengundangnnya adalah untuk menebus kesalahan kakek padanya. Hitung-hitung sebagai permintAan maaf secara kekeluargaan karena dia selalu menolak ganti rugi yang kakek berikan."
"Tapi ya, kakek bisa mengatakan kalau itu memang salah satu alasannya. Kakek ingin dia bisa mengenal Charlotte, berteman, dan mengubah sikap liar dari adikmu itu."
Mendengar itu Xander hanya bisa terkekeh dan kembali berkata dalam hati. 'Kakek sangat ingin dia mengubah Charlotte. Dia harus berhasil, karena jika tidak... justru Charlotte-lah yang akan mengubah dia nanti.'
"Ya, seperti yang kita lihat. Kakek sudah tidak bisa mengharapkanmu lagi." tuan Romanov melirik Xander dengan tatapan datar. "Karena selain kau harus fokus pada usaha kakek, kau juga terlalu lemah untuk menolak dengan tegas segala permintaan adikmu itu. Kau terlalu memanjakannya selama ini."
Xander menggaruk tengkuknya malu. Ya, kakeknya ini memang benar. Xander sudah menyayangi Charlotte lebih dari apapun. Ia tak akan bisa menolak permintaan adiknya itu. Apapun yang terjadi ia pasti akan mengikuti permintaan Charlotte meskipun mereka harus berdebat terlebih dahulu.
Lihatlah contoh kecilnya! Baru saja kemarin Xander gagal menolak permintaan Charlotte untuk diam-diam pergi ke klub malam yang pada akhirnya membuat kepalanya jadi pusing sendiri untuk membuat berbagai macam kebohongan.
Tuan Romanov lalu menghela napasnya. Ia diam untuk beberapa saat dan memalingkan kembali pandangan matanya keluar jendela mobil.
"Dan juga... selain semua itu, ada hal lain yang ingin kakek sampaikan padamu, Xander!"
"Ya kakek?"
Xander mengerjapkan matanya menatap sang kakek lekat, menunggu kalimat selanjutnya yang akan di katakan oleh kakeknya itu.
"Kakek sudah tua, Xander. Kakek sangat berharap kalau mulai saat ini pelan-pelan kau bisa ikut campur tangan atas kepengurusan hotel dan seluruh usaha milik kakek." ujar tuan Romanov mencoba memberitahu Xander isi hatinya.
Xander tak menjawab, ia hanya memilih diam untuk menyimak perkataan tuan Romanov itu dengan baik.
"Kau cerdas, berwibawa saat berhadapan dengan banyak orang. Kau memiliki segalanya yang di perlukan untuk menjadi seorang pemimpin. Maka dari itu kau satu-satunya harapan kakek untuk usaha ini. Dan kakek yakin kalau kau akan mampu. Sejak kecil kau sudah menunjukkan kemampuanmu pada kakek."
"Berbeda dengan Charlotte, kalian memiliki jalan yang jauh berbeda. Bidang kalian juga berbeda. Sekalipun Charlotte adalah mahasiswa yang pintar, tapi dia tidak punya minat sama sekali pada perusahaan. Dia juga tak memiliki ilmu bisnis. Dan juga... kakek sudah punya rencana ke depan untuk dirimu."
"Rencana untukku, kek?"
Tuan Romanov mengangguk, "Tiga bulan lagi kakek akan kembali ke Jepang untuk mengurus usaha di sana."
"Kakek akan pergi lagi?"
"Ya." Tuan Romanov berdehem sebentar sebelum melanjutkan, "Dan kau akan ikut dengan kakek nanti."
***
__ADS_1
Author peduli dengan kesehatan mata kalian, jadi, kalau kalian kurang suka sama ceritanya, Author sarankan kalian untuk mencari cerita yang lain saja, karena cerita ini bisa menyebabkan sakit mata akut.