
Malam harinya, setelah menyelesaikan segala urusan pekerjaannya, tuan Romanov memutuskan untuk pulang kembali ke mansion.
Dan setibanya tuan Romanov di mansion mewah miliknya, ia langsung keluar dari mobil yang ia kendarai dan bergegas menaiki tangga menuju pintu utama. Saat sampai di dekat pintu masuk utama, terlihat Paul yang saat ini tengah berdiri tegap, menunggu kedatangannya.
Sambil melangkah memasuki mansion, tuan Romanov melirik sekilas kearah jam dinding di ruang tamu.
"Apa Xander sudah pulang, Paul?" tanyanya kemudian.
"Belum tuan," jawab Paul menggelengkan kepalanya pelan sambil membantu majikannya itu untuk melepas jas mewah miliknya yang masih ia kenakan. Setelahnya, Paul lalu memberikan jas itu pada pelayan yang sejak tadi juga berdiri di sampingnya.
"Ini sudah jam delapan malam dan dia sudah berada di hotel sejak tadi pagi. Aku penasaran, apa yang dia lakukan bersama Dimitri di sana sehingga harus pergi selama ini." ujar tuan Romanov sambil mengerutkan dahinya heran.
Paul tersenyum kecil. "Mungkin saat ini mereka sedang mengerjakan sesuatu yang sangat penting tuan." ujarnya berusaha menghilangkan rasa khawatir yang tuan Romanov rasakan. "Tuan muda adalah orang yang selalu bekerja keras. Jadi saya rasa dia pasti sedang mempelajari semua hal dengan serius hingga lupa waktu saat ini."
"Kau benar!" Tuan Romanov mengangguk. Ia sangat setuju dengan asistennya itu. Xander memang selalu lupa waktu saat mengerjakan sesuatu hal dengan serius. Ia akan menekuni pekerjaannya dengan sungguh-sungguh.
Tuan Romanov lalu menoleh, menatap Paul. "Tapi aku ingin kau hubungi Xander sekarang. Katakan padanya untuk cepat pulang. Ini masih terlalu awal untuknya mengurusi hal-hal kantor, dia hanya perlu belajar saja, jadi jangan terlalu di bawa serius."
"Baik, tuan!" Paul mengangguk cepat.
"Oh ya Paul, sekalian juga kau ambilkan dokumen yang ada di dalam mobil dan bawa ke ruang kerjaku. Setelah mandi aku akan langsung ke ruanganku nanti."
"Baik tuan!" tanpa di perintah dua kali, Paul sudah pergi untuk menjalankan perintah dari sang majikan.
***
Sesaat setelah mandi dan membersihkan tubuhnya dengan air yang segar, tuan Romanov segera memasuki ruangan kerjanya. Tuan Romanov langsung mendudukan dirinya di sofa empuk miliknya yang terletak di tengah ruangan.
Ia menghela nafasnya pelan, lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa sambil memejamkan kedua matanya dengan erat.
Di saat itu juga, tuan Romanov kembali memikirkan rasa penasaran yang masih tertinggal di dalam pikirannya sejak tadi, tentang pemuda kurir makanan itu.
Justin Kim.
Ya, tuan Romanov masih terus saja teringat tentang kejadian yang ia alami tadi siang. Insiden tabrakan saat ia menuju pabrik membuat kesan tersendiri baginya.
Dan entah kenapa rasa penasarannya terhadap pemuda kurir itu belum juga hilang bahkan sampai sekarang. Ia merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati dan pikirannya. Ia benar-benar merasa heran, bagaimana bisa ada orang yang terlahir sebaik pemuda itu.
__ADS_1
Bagaimana bisa ada orang yang masih bisa tenang sesaat setelah mengalami kecelakaan. Ia bahkan tersenyum meskipun saat itu ia tengah terluka. Pemuda itu juga tidak terlihat marah setelah tuan Romanov menabraknya tadi. Dan pemuda itu bahkan sempat menanyakan keadaannya, selaku orang yang sudah menabraknya.
Dan yang lebih mengejutkan lagi bagi tuan Romanov adalah saat pemuda itu pergi begitu saja tanpa meminta ganti rugi apapun darinya.
Bagaimana bisa? Tuhan menciptakan pemuda itu dari apa hingga dia bisa memiliki hati yang mulia seperti itu? Tuan Romanov merinding sendiri sekarang.
"Tuan, ini dokumen yang anda minta tadi." ujar Paul yang baru saja masuk sambil meletakkan beberapa dokumen penting di atas meja kerja tuan Romanov.
"Terima kasih." jawab tuan Romanov.
"Maaf tuan, tapi saya tidak dapat menghubungi tuan Xander, ponselnya mati. Jadi saya memilih untuk menghubungi Dimitri saja, tuan." ujar Paul sambil menyusun dokumen yang terlihat berantakan di atas meja kerja tuan Romanov.
Tuan Romanov tidak merespon dari kata-kata Paul itu dan saat ini ia justru sedang di sibukan dengan pemikirannya sendiri.
"Tuan?" seru Paul pelan.
Merasa tidak mendapatkan respon apapun dari tuan Romanov, Paul segera menatap wajah sang majikan yang saat ini ternyata sedang terlihat melamun.
Paul menghela napasnya pelan. Ia bisa langsung menyadari kalau sepertinya ada yang salah dengan majikannya itu. Ia tahu jika tuan Romanov tengah memikirkan sesuatu yang penting.
"Paul?" seru tuan Romanov tiba-tiba saat Paul hendak menarik knop pintu.
Mendengar seruan itu, Paul langsung menghentikan gerakannya. Ia lalu berbalik menatap sang majikan. "Ya, tuan?"
Tuan Romanov menghela napasnnya sebentar sebelum kembali bicara. "Apa di luaran sana masih ada orang baik?"
Paul mengerjapkan matanya bingung. "Orang baik? A-apa maksud anda, tuan?"
Tuan Romanov menghela nafasnya pelan. "Aku sempat menabrak orang tadi," ujar tuan Romanov.
Begitu mendengar perkataan majikannya itu, kedua mata Paul seketika membulat. Ia begitu terkejut mendengar ucapan majikannya itu.
"Apa? Menabrak? Anda menabrak siapa tuan? Lantas bagaimana keadaan anda sekarang? Apakah anda baik-baik saja. Apa saya perlu menelepon dokter pribadi anda untuk mengecek keadaan anda?" Paul melempar banyak pertanyaan pada sang majikan.
"Aku tidak apa-apa," jawab tuan Romanov sambil mengibaskan tangannya. "Tapi seseorang yang aku tabrak itu. Dia seorang pria muda dan sepertinya dia terluka akibat dari kecelakaan yang aku perbuat itu."
"Dia terluka?"
__ADS_1
Romanov mengangguk pelan. "Ya! Tentu saja. Aku menabraknya. Sudah jelas dia terluka."
"Lalu, apa anda langsung membawa pemuda itu pergi ke rumah sakit?"
"Tidak!" jawab tuan Romanov.
"Tidak?"
"Aku bilang akan mengantarnya ke rumah sakit, tapi dia langsung menolak dan pergi begitu saja." ujar tuan Romanov pelan.
"Tapi kenapa dia malah menolak ajakan anda untuk pergi ke rumah sakit?" Paul bertanya heran, entah kenapa dia jadi merasa penasaran.
"Kau tau kenapa dia melakukan itu?" tuan Romanov bertanya.
Paul menggeleng pelan sambil menatap tuan Romanov dengan bertanya-tanya. Ia menunggu pria itu kembali melanjutkan ucapannya.
Tuan Romanov menatap Paul dalam, kemudian tersenyum kecil, "Pemuda itu tadi sedang mengantar paket makanan. Dia seorang kurir makanan. Dan dia menolak untuk mengobati dirinya sendiri hanya karena dia tidak mau membuat pelanggannya menunggu lebih lama." jelasnya dengan ekspresi yang terlihat sedikit kesal di akhir.
"Dia menolak mengobati dirinya sendiri hanya karena alasan itu." ujar tuan Romanov lagi kemudian dia tertawa sendiri. "Aku tidak menyangka akan bertemu dengan anak muda seperti itu di jaman modern begini."
Paul mengangguk setuju, ia tahu jelas apa yang dimaksud oleh majikannya itu. "Saya rasa akan sulit menemukan anak muda seperti itu tuan."
"Ya, kau benar! Dan yang memiliki sifat sepertinya hanya satu dari seribu orang. Bahkan cucuku sendiri tak punya sifat seperti itu."
Paul kembali mengangguk sambil menatap sang majikannya itu lekat. Dia dapat mengerti apa yang saat ini sedang di pikirkan tuan Romanov. Majikannya itu pasti tidak menyangka dia akan bertemu dengan anak muda seperti itu di jaman sekarang. Jika itu orang lain, mereka pasti sudah memanfaatkan keadaan.
Tuan Romanov kemudian tersenyum. "Bukankah sifat pemuda itu mirip dengan mendiang menantuku, Robert? Aku dapat melihat sosok Robert di dalam dirinya. Menantuku itu juga tidak suka membuat klien-nya menunggu. Dia sangat menghormati semua klien," lanjutnya.
"Tuan Robert bahkan selalu datang lebih dahulu sebelum para klien." Paul ikut memuji. Ia tersenyum baru kemudian menganggukkan kepalanya. "Lalu setelah itu bagaimana keadaan dari pemuda itu, tuan? Bukankah tuan mengatakan sebelumnya kalau dia terluka?"
Tuan Romanov menggeleng. "Aku tidak tau, dia pergi begitu saja setelah kecelakaan itu. Dan sekarang aku sangat ingin bertemu dengannya. Sekali lagi. Aku ingin bertemu dengannya sekali lagi."
"Bertemu dengannya? Tapi untuk apa tuan?" Paul mengerutkan dahinya, menatap heran sang majikan.
"Entahlah. Tapi yang jelas, aku sangat ingin bertemu dengan pemuda itu lagi." ujar tuan Romanov.
***
__ADS_1