
Charlotte melangkah perlahan sambil mendorong letak kacamatanya lebih dekat ke pangkal hidungnya sambil mendorong pintu kaca kafe dan berjalan mendekat ke meja kasir.
"Aku pesan dua gelas cappucino, tanpa es!" Charlotte berkata pada wanita yang tengah berdiri di dekat meja kasir. Wanita itu saat ini tengah menatap wajah Charlotte tanpa berkedip.
Charlotte mengerutkan dahinya saat melihat wanita itu belum juga membuat pesanannya dan malah berdiri mematung di posisinya, terus menatapnya.
"Permisi!" seru Charlotte sekali lagi.
"Ah, maafkan aku nona." ujar wanita itu tersadar dan berkata dengan gugup. "Apa yang anda pesan tadi?"
"Dua Cappucino, tanpa es!" ulang Charlotte.
"Baik! Akan saya buatkan sekarang. Apa anda minum di tempat nona?"
Charlotte menggeleng pelan. "Aku agak buru-buru sekarang, aku minum di jalan saja!"
"Ba-baik!" ujar wanita itu lalu mulai membuat kopi pesanan Charlotte. Setelah beberapa saat kemudian, dengan gugup ia memberikannya dua gelas kopi itu pada Charlotte.
Saat hendak membayar, Charlotte menyadari kalau wanita itu masih saja terus menatapnya.
"Apa ada yang salah dengan wajah ku?" Charlotte bertanya tanpa basa basi sambil memegangi kedua pipinya.
"Ah... ti-tidak, tidak ada yang salah pada wajah anda, nona. Hanya saja...apakah anda ini Charlotte Clinton? Charlotte yang model itu?" barista itu terlihat menatap Charlotte dengan senyum malu.
"Astaga, aku pikir dandananku hari ini terlihat berantakan! Emm ya, kau benar. Aku Charlotte Clinton." jawab Charlotte sambil tersenyum.
"Sudah saya duga! Saya tidak menyangka anda akan datang lagi kemari! Ternyata anda yang asli sangatlah cantik, nona..." ujar gadis itu dengan nada memuji.
Charlotte tersenyum. "Terima kasih!"
Wanita itu mengangguk. "Ya, nona! Beberapa waktu lalu saya melihat anda datang kemari, tapi saya tidak begitu yakin kalau itu anda."
"Ya! Itu memang aku!" jawab Charlotte sambil memberikan uangnya untuk membayar. Ia mengambil dua cup kopi pesanannya. "Kau bisa ambil kembaliannya."
Setelah mendapatkan minuman pesanannya, Charlotte berbalik dan berjalan dengan cepat keluar dari kafe itu. Ia membuka pintu dan melangkah dengan sedikit terburu-buru, hingga…
BRUK!
"Sial!" Charlotte mengumpat begitu salah satu kopi yang ia pegang terjatuh saat tubuhnya tanpa sengaja menabrak seseorang tepat di depan pintu keluar.
Charlotte menatap gelas kopinya yang sudah berada di atas tanah. "Apa yang kau lakukan. Kau sudah-"
Charlotte yang hendak mengomel mengadahkan kepalanya dan langsung terbengong saat melihat siapa yang baru saja ia tabrak.
Tubuhnya hanya diam terpaku, menatap lurus pada objek di depannya.
Tampan.
Manis.
Untuk sesaat, tatapan Charlotte langsung membeku. Matanya tak berkedip menatap wajah pemuda yang baru saja bertubrukkan dengannya itu. Bagi Charlotte wajah pemuda ini luar biasa tampan, hidungnya mancung, berkulit putih, tubuh tinggi dan hal sempurna lainnya.
Bahkan dengan warna dari kacamata yang sedang Charlotte kenakan saat ini tidak membuat kadar ketampanan pemuda itu berkurang sedikitpun.
Satu hal yang muncul di benak Charlotte saat ini adalah... pemuda di hadapannya ini, dia benar-benar luar biasa.
Dia seperti malaikat!
Tapi tunggu dulu, apa ini? Charlotte seketika langsung tersadar dan membulatkan kedua matanya saat ia kembali menyadari jika kopi miliknya sudah tumpah.
Charlotte lalu mengadah. Ia menatap kembali pemuda tampan di depannya itu. "Yang benar saja. Apa kau tidak bisa lihat jalan?"
Pemuda itu sontak mengerutkan dahinya. "Apa yang~"
"Kau tidak lihat, kopiku jadi tumpah." ujar Charlotte galak sambil menunjuk gelas kopinya yang sudah kosong.
__ADS_1
Pemuda itu mengerjap bingung sebelum akhirnya menunjuk dirinya sendiri. "Apa anda baru saja menyalahkanku, nona?"
"Bukan! Aku sedang menyalahkan orang yang sedang berdiri di belakangmu!" ujar Charlotte dengan nada kesalnya.
Namun dengan bodohnya pemuda tampan itu malah menoleh ke belakangnya, mencari orang yang dimaksud Charlotte barusan.
Melihat hal konyol itu Charlotte langsung memutar bola matanya malas. "Kau ini bodoh atau apa sih? Bukankah sudah jelas kalau aku sedang bicara padamu, kenapa harus bertanya lagi!"
"Ah, padaku rupanya!" pemuda itu mengangguk sembari menggaruk belakang kepalanya. Ia bahkan tersenyum seakan menganggap ucapan Charlotte barusan adalah hal biasa.
Charlotte menaikkan sebelah alisnya saat melihat pemuda itu malah tersenyum. Apa yang lucu di sini?
Pemuda itu lalu menatap Charlotte bingung. "Tapi kenapa nona menyalahkanku. Bukankah nona sendiri-lah yang sudah menabrakku barusan?"
Charlotte mendecih. Apa-apaan, pemuda ini baru saja mencoba melimpahkan kesalahan padanya.
Ia yakin, pemuda ini hanya sedang bermain trik murahan saja. Bukankah hal konyol seperti ini adalah sesuatu yang sangat biasa terjadi, di saat seseorang berpura-pura menabrak lalu bertingkah polos. Bukankah adegan ini sangat jelas terlihat seperti adegan di dalam drama-drama di televisi.
Ah, entah kenapa Charlotte merasa jika semua itu dia lakukan hanya karena dia ingin meminta tanda tangan atau foto dari Charlotte saja.
"Cepat minta maaf!" ujar Charlotte tiba-tiba dan sontak membuat dahi pemuda itu mengkerut.
"Maksud nona, aku-lah yang harus meminta maaf atas kejadian ini?"
Charlotte melipat tangannya di depan dada kemudian mengangguk angkuh.
"Tentu saja! Kau harus minta maaf karena sudah membuat minumanku jatuh! Aku tahu kalau kau tadi memang sengaja menabrakku!"
"Anda bilang aku sengaja menabrak?" pemuda itu menatap Charlotte tak percaya. "Tapi aku kan sudah menjelaskan tadi. Nona-lah yang sudah menabrakku karena terlalu buru-buru."
Charlotte menggedikkan bahunya acuh. "Aku tak peduli dengan penjelasanmu. Cepat minta maaf!"
Pemuda itu diam, tampak berpikir membuat Charlotte menghela malas.
"Apa lagi yang kau tunggu? Aku tak punya waktu untuk menunggumu. Cepat minta maaf!"
Charlotte tersenyum senang. "Bagus. Memang semua orang yang salah harus minta maaf."
Pemuda itu hanya diam. Tak menanggapi apapun.
Charlotte mengibas rambutnya angkuh. "Yah, memangnya apalagi yang harus aku katakan. Aku tahu kalau aku ini sangat terkenal. Tapi harusnya kau tak perlu menggunakan cara seperti ini untuk mendapat perhatianku. Cara ini begitu merugikan aku, kau tau?"
"Mendapatkan perhatian?"
"Ya sudah sini, mana spidol sama kertasnya, biar aku bisa memberikan tanda tanganku sekarang?!"
Pemuda itu malah mengernyit kebingungan.
"Hah?"
"Spidolnya mana?" Charlotte mengulurkan tangannya pada pemuda itu, menunggu dengan tak sabar.
"Spidol apa?"
"Tidak punya spidol?"
"Aku tidak mengerti maksud anda, nona!"
Charlotte mendecih. "Cih, kau tidak perlu pura-pura polos begitu. Aku tahu, kau pura-pura menabrakku tadi, hanya karena kau mau minta tanda tanganku, kan?"
Pemuda itu menggeleng.
"Aku tidak mengerti tanda tangan apa yang anda maksud, nona! Memangnya anda ini siapa? Kenapa aku harus meminta tanda tangan anda?"
"Jangan pura-pura tidak mengerti. Aku tau kalau kau~ tunggu dulu, apa kau bilang barusan?" mata Charlotte membelalak tak percaya. Ia bahkan ragu jika pendengarannya masih berfungsi dengan baik sekarang.
__ADS_1
"Aku bertanya, anda ini siapa?"
"Memangnya kau tidak kenal aku siapa?" tanya Charlotte mencoba memastikan.
Pemuda itu lalu menggeleng. "Tidak, aku tidak mengenal anda, nona!"
Charlotte lalu menurunkan kacamatanya ke pangkal hidung. Ia menaikkan sebelah alisnya dan menatap pemuda tampan di hadapannya ini dengan pandangan heran.
Apa benar kalau pemuda ini tak mengenal siapa dia? Charlotte Clinton, bukankah namanya sudah sangat di kenal oleh publik bahkan dari berbagai kalangan.
"Kau sungguh tak kenal siapa aku?" Charlotte bertanya lagi dengan nada menyelidik.
Pemuda itu mengerjapkan matanya, mencoba mencerna pertanyaan yang sudah berkali-kali Charlotte ajukan padanya itu. Ia lalu menghela napasnya perlahan.
"Maaf nona, begini saja, aku kan sudah meminta maaf atas apa yang terjadi barusan, yah sekalipun itu bukan kesalahanku. Jadi sekarang, aku akan pergi! Permisi, nona."
Charlotte mengerjapkan matanya sesaat, terkejut dengan reaksi pemuda itu. Sedetik berikutnya gadis itu menggelengkan kepalanya, mencoba menyadarkan dirinya sendiri dari keterkejutan.
Pemuda itu baru saja meninggalkannya di tengah percakapan begini?
"Hei, tunggu!" Charlotte bergerak menahan lengan pemuda tampan itu.
"Ya?"
"Coba kau lihat wajahku. Bagaimana bisa kau tak mengenalku. Perhatikan wajahku baik-baik!" ujar Charlotte sambil melepas kacamata hitam miliknya.
Pemuda itu menatap Charlotte dari atas ke bawah kemudian menggeleng sekali lagi sambil menarik lengannya yang di tahan oleh Charlotte.
"Maaf nona, tapi aku benar-benar tidak tahu siapa anda."
"Bagaimana bisa?" desis Charlotte pada dirinya sendiri.
Pemuda itu hanya diam, tidak menjawab apapun perkataan yang keluar dari mulut Charlotte. Ia lalu memilih meninggalkan Charlotte yang saat ini tengah mematung karena terkejut.
Charlotte yang saat ini sedang merasa kesal sudah hampir melangkahkan kakinya untuk pergi keluar dari kafe itu, namun sebuah seruan kembali menghentikan langkahnya.
"Maaf, tunggu! Nona, tunggu sebentar." seru suara itu pada Charlotte.
Mendengar seruan itu Charlotte menghentikan langkahnya dan tersenyum sinis. Itu jelas suara pemuda tadi.
Charlotte lalu kembali menolehkan kepalanya pada pemuda itu lagi, menatapnya dengan senyuman licik.
"Kenapa? Apa kau sudah ingat siapa aku? Cih, sayang sekali, sekalipun kau sudah ingat, tapi aku tidak punya waktu untuk memberimu tanda tangan."
"Tanda tangan?" pemuda itu tersenyum lalu menggeleng. "Bu-bukan, bukan itu. Sebenarnya aku memanggil anda lagi karena ingin memberi anda ini." ujar pemuda itu sambil menyodorkan tissu pada Charlotte.
Pemuda itu menunjuk pada sepatu hak tinggi yang Charlotte kenakan.
"Itu lihat! Sepatu anda terkena tumpahan kopi. Itu terlihat kotor. Aku merasa tidak enak melihatnya, karena sepatu itu pasti mahal."
Tubuh Charlotte sontak kembali mematung di tempatnya. Ia bahkan memerlukan waktu beberapa lama menatap tissu pemberian pemuda itu.
"Ini, ambillah nona! Jangan sungkan!" ujar pemuda itu tersenyum manis. "Em, anda tenang saja. Aku punya banyak tissu di tasku kalau anda merasa tissu yang ini kurang." ujar pemuda itu.
Pemuda itu kemudian mengeluarkan banyak lembaran tissu dari tasnya dan memberikannya pada Charlotte.
"Ini ambillah! Saya permisi dulu! Lain kali semoga anda bisa lebih hati-hati saat melangkah."
Pemuda itu lalu melangkah untuk masuk kedalam kafe dan meninggalkan Charlotte seorang diri di teras kafe. Sementara Charlotte yang saat ini sudah kehilangan kata-katanya, memutar tubuhnya untuk menatap punggung pemuda yang baru saja mengacuhkannya itu.
Pemuda itu kini terlihat tengah asyik memesan kopi pada barista yang tadi sempat melayani Charlotte.
Gadis itu lalu mendengus kesal. Entah kenapa perlakuan pemuda itu memukul harga dirinya dan menyadarkannya pada sebuah realita, bahwa dia baru saja di abaikan.
Charlotte Clinton baru saja di abaikan.
__ADS_1
"Sialan."
***