Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
48.


__ADS_3

*Di halaman Mansion Utama.


Tepat pukul sebelas malam, mobil yang Xander kendarai tiba di mansion utama. Ia memang memutuskan pulang satu jam lebih awal dari perjanjian awal dengan Charlotte, karena toh ia merasa Charlotte juga tidak bisa melanjutkan pestanya karena sudah terlalu mabuk.


Namun, baru saja mobilnya berhenti di depan pagar mansion, ia sudah di kejutkan dengan penampakan mobil sang kakek. Ia langsung teringat hari-hari sebelumnya dimana sang kakek yang mendapati mereka saat pulang diam-diam.


Ia takut kalau saat ini kakeknya masih menunggu mereka.


Membayangkan itu, ingin rasanya Xander memutar balik mobilnya dan pergi ke apartment mereka saja hingga pagi agar tidak mendapat omelan dari tuan Romanov. Namun ia merasa itu sama saja dengan lari dari tanggung jawab.


Xander menggelengkan kepalanya pasrah dan mengurungkan niatnya untuk kabur dari sang kakek. Xander mengendarai mobilnya memasuki halaman mansion.


"Lottie kita sudah sampai!" ujar Xander tepat setelah ia memarkirkan mobilnya


Merasa tak mendapat respon Xander lalu menoleh dan mendapati Charlotte yang tengah tertidur pulas di kursi belakang mobilnya sambil memeluk tas mahal miliknya.


"Lottie!" panggil Xander sekali lagi.


Charlotte masih tak menyahut. Gadis itu masih tidur dengan nyenyak, ia bahkan sama sekali tak terganggu oleh panggilan dari Xander dan justru semakin memeluk tasnya erat.


Xander berdecak, lalu mengambil botol kosong sisa ia minum tadi dan langsung memukulkannya beberapa kali ke kepala Charlotte sampai gadis itu bangun.


Merasakan pukulan di kepalanya, Charlotte menggeliat dan sontak saja Xander semakin memperkuat pukulannya pada kepala Charlotte.


"Aduh... Xander!" erang Charlotte sambil menggosok-gosok kepalanya yang baru saja di pukul oleh Xander dengan botol. "Ngapain elo pukul kepala gue sih?"


"Biar lo bangun lah!" jawab Xander enteng sambil meletakkan kembali botol kosong itu di sebelahnya. "Lo kebo parah."


"Bangunin aja, nggak perlu dipukul dong!" protes Charlotte. "Kepala gue di pukul jadi makin pusing nih."


Xander mendecih. "Jangan berlebihan, itu hanya botol kosong. Lagipula kepalamu itu pusing karena terlalu banyak minum. Ayo cepat bangun! Kita sudah sampai."


"Cih, dasar!" gerutu Charlotte.


Charlotte lalu kembali menggeliat pelan, merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku sambil menguap.


"Ini sudah di mansion?" Charlotte menegakkan posisi duduknya sambil mengucek matanya lalu melihat keluar jendela mobil. "Kita sudah sampai?" ucapnya kaget.


Xander mengangguk. "Hm, gue udah bilang dari tadi kalau kita udah sampai."

__ADS_1


"Cepet banget." ujar Charlotte sambil melepas sabuk pengamannya lalu turun dari mobil dan berjalan dengan sedikit sempoyongan hendak memasuki mansion.


Xander menutup pintu mobilnya. "Ya, gue ngebut tadi, takut kemaleman."


Charlotte mengangguk paham.


"Ayo, kita harus masuk sebelum kakek muncul!" ujar Charlotte mempercepat langkahnya.


Charlotte dan Xander berjalan menyusuri halaman rumah hendak masuk ke dalam mansion sampai ketika mereka hampir menaiki tangga, sebuah suara dari arah taman menghentikkan langkah mereka.


"Dari mana saja kalian?" seru tuan Romanov sambil berjalan pelan dari arah taman mansion.


"Kakek?" Xander menatap tuan Romanov terkejut.


Charlotte dan Xander kemudian saling menatap satu sama lain. Entah sejak kapan sang kakek berdiri di sana. Mungkin sebelum mereka pulang. Kalau tidak, bagaimana bisa dia ada di area taman sekarang tanpa di lihat oleh mereka berdua sebelumnya


Tuan Romanov menghela dan berjalan mendekati kedua cucunya dengan tangan yang menyilang ke belakang.


"Kenapa kalian pulang jam segini?" tanya tuan Romanov sambil menatap kedua cucunya secara bergantian.


"Kakek sedang apa di sini? Bukannya jam segini biasanya sudah tidur?" balas Charlotte, mencoba mengalihkan topik pembicaraan. "Apa malam ini kakek tidak tidur cepat seperti biasanya?"


"Kalian minum lagi?" ujar tuan Romanov yang langsung menatap kesal pada Charlotte dan Xander.


Charlotte langsung tersadar dan menutup mulutnya. "I-itu!"


"Siapa yang mengizinkan kalian untuk minum lagi?" tanya tuan Romanov dengan nada dingin.


Tidak ada yang berani menjawab. Charlotte dan Xander hanya diam, menundukkan kepala mereka masing-masing saat tuan Romanov menatap mereka dengan penuh amarah.


Tuan Romanov lalu menoleh pada Xander, menatap cucu sulungnya itu tajam. "Kau mengijinkannya ke klub malam lagi, Xander?"


Xander semakin menundukkan kepalanya kemudian mengangguk. "Maaf kakek! Charlotte tadi memohon padaku, jadi aku tidak bisa menolaknya."


"Ya kakek!" Charlotte balas mengangguk. "Aku yang sudah memaksanya. Tapi kakek tenang saja, hanya aku yang minum, Xander tidak sama sekali."


Tuan Romanov menatap tak percaya pada kedua cucunya itu. Terutama pada Xander, cucu sulungnya itu benar-benar tidak bisa di beri amanah dan tidak mau melarang Charlotte saat gadis itu melakukan hal salah. Cucu lelakinya bahkan malah selalu menuruti dan memanjakan adiknya itu.


"Bukankah kalian mengatakan kalau akan pergi ke apartment? Tapi apa ini?" tanya tuan Romanov kesal. "Tunggu dulu, apa kalian sudah berbohong pada kakek?"

__ADS_1


Xander mengangguk. "Maaf kakek!"


"Sampai kapan kau akan meminta maaf pada kakek, Xander?" ujar tuan Romanov tajam. "Jika kau terus menuruti kemauan Charlotte seperti ini artinya kau tidak bisa menjaganya dengan benar."


Xander tidak tahu harus menjawab apalagi. Tapi dia memang tidak harus menjawab apapun. Lagipula dia yang salah di sini. Dia cucu tertua, ingat?


Tuan Romanov lalu kembali melanjutkan kalimatnya untuk mengomeli dan juga menasehati Xander.


"Dengar Xander! Selama ini, kakek hanya memintamu agar kau menjaga Charlotte dan menjauh dari masalah. Tapi ternyata untuk hal sekecil ini saja kau tidak mampu? Kau bahkan ikut-ikutan membohongi kakek!" ujar tuan Romanov menggelengkan kepalanya.


Ia lalu menghela napasnya kasar. "Kakek merasa jika kau begini terus itu sama saja kau tidak akan bisa bertanggung jawab untuk hal yang lebih besar lagi."


Xander hanya terus menunduk, sementara Charlotte menatap sang kakak lelakinya itu dengan khawatir. Bayangkan, ini adalah salahnya. Seratus persen salahnya. Tapi kenapa hanya Xander yang mendapat omelan.


Charlotte sudah hampir menyahut untuk membela saudaranya itu. Namun gerakannya terhenti saat Xander menahan lengannya. Pemuda itu tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan, memberi tanda agar Charlotte tidak mengatakan apapun.


Charlotte melengos kesal.


Charlotte menutup mulutnya rapat. Rahangnya mengeras karena mencoba menahan amarahnya yang hampir memuncak. Entah kenapa saat ini ia merasa marah dan kesal pada dirinya sendiri.


Xander menghela pelan. "Ma-maaf kakek, aku-"


"Berhenti meminta maaf, Xander!" ucapan Xander itu kembali harus terpotong oleh tuan Romanov. "Kata maaf tidak akan mengubah apapun kecuali kau mengubahnya. Jadi yang kakek mau adalah pembuktian darimu, bukan kata maaf!"


"Kakek!" Charlotte hendak protes.


"Diam, Charlotte!" bentak tuan Romanov. "Ini adalah salahmu! Jadi diam atau kakek akan jauh lebih marah dari ini." ujar tuan Romanov tegas sementara Charlotte memutar bola matanya, jengah.


"Sekarang cepat pergi ke kamar kalian dan bersihkan diri kalian." perintah tuan Romanov kemudian dengan tegas pada kedua cucunya itu.


"Permisi kek!" ujar Xander sopan setelah mengangguk patuh.


Sementara itu, Charlotte tidak menjawab apapun. Dan dengan langkah cepat, gadis itu malah berjalan lebih dulu meninggalkan Xander yang berjalan di belakangnya.


Ia masih kesal dengan apa yang baru saja terjadi.


Setelah kepergian kedua cucunya, Tuan Romanov kemudian menghela lelah. "Sepertinya mereka memang tidak bisa bersama! Xander benar-benar terlalu memanjakannya. Dan ini bukan hal baik."


"Xander akan menjadi pemimpin, artinya dia harus bisa bersikap lebih tegas lagi!"

__ADS_1


***


__ADS_2