
Tuan Romanov terlihat gusar menunggu seseorang di ruang kantor utamanya. Ia memiliki janji temu dengan seorang informan yang beberapa waktu lalu ia bayar untuk mencari informasi tentang Justin Kim.
Sudah lewat sekitar lima belas menit dari waktu yang di tentukan namun sang informan belum juga datang untuk menemuinya.
Tok! Tok! Tok!
"Selamat Siang, tuan Clinton." sapa Mario sesaat setelah ia membuka pintu kantor tuan Romanov. Mario lalu membungkukkan setengah badannya untuk memberi hormat terlebih dahulu pada sang atasan.
"Mario..." sapa tuan Romanov balik.
"Maafkan karena saya datang terlambat, tuan!"
"Masuklah Mario." ujar tuan Romanov menunjuk kursi yang ada di hadapannya.
Mario mengangguk dan segera mematuhi perintah tuan Romanov. Ia menutup kembali pintu di belakangnya dan berjalan menuju meja kerja tuan Romanov. Setelah itu barulah dia duduk.
Tuan Romanov langsung menutup tab yang ada di komputernya agar dia bisa memberikan perhatian penuh kepada pemuda di hadapannya itu.
"Jadi bagaimana, apakah informan itu berhasil mencari apa yang aku minta padanya?" tanya tuan Romanov membuka percakapan dan tanpa basa basi langsung bertanya mengenai topik pembicaraan mereka.
"Anda tenang saja, tuan" ujar Mario tersenyum. Pemuda itu lalu mulai mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya.
Tuan Romanov hanya diam memperhatikan gerakan dari Mario.
"Ini yang anda minta tuan!" ujar Mario lagi lalu meletakkan amplop itu di atas meja kerja, tepat di hadapan tuan Romanov.
Tuan Romanov menaikan sebelah alisnya sambil menatap amplop coklat itu dengan heran. "Kenapa bukan informan itu sendiri yang membawanya?"
"Saat ini dia masih sedang dalam pekerjaannya mengikuti Justin, tuan. Karena anda memberinya waktu yang singkat untuk pekerjaannya, jadi dia menitipkan ini pada saya dan mengatakan kalau dia akan terus mencari sisa informasi lainnya untuk anda." ujar Mario menjelaskan.
Tuan Romanov menganggukkan kepalanya paham. Ia segera meraih dan membuka amplop coklat itu. Tuam Romanov bisa melihat sekilas isi dari amplop coklat yang ternyata berisi sebuah flashdisk dan beberapa lembar foto.
"Ini semua..." ujar tuan Romanov sambil memandang lekat beberapa lembar foto yang ada ditangannya.
Lembaran itu memperlihatkan bermacam-macam foto yang berisi kegiatan seorang pemuda, seperti sedang membaca buku, berjalan kaki, bahkan saat sedang dirumah. Dan terlihat jelas bahwa kumpulan foto itu memang diambil secara diam-diam.
Mario sejak tadi hanya duduk diam menatap majikannya yang saat ini terlihat sangat terobsesi dengan foto dari pemuda itu. Mario kemudian mengambil kertas berisi catatan informasi tentang pemuda di foto itu dan membacanya dengan seksama.
"Namanya Justin. Justin Kim. Umurnya delapan belas tahun tepat pada 28 Juli kemarin. Dia baru saja lulus dari sekolah tingkat atas beberapa bulan yang lalu." jelas Mario, matanya masih fokus pada kertas yang baru saja ia baca.
Tuan Romanov hanya melirik datar Mario kemudian kembali menatap satu persatu lembaran foto yang ada ditangannya. "Lanjutkan..!" perintahnya.
"Jadi... pekerjaannya adalah sebagai pengantar koran pada pagi hari. Dia juga memiliki pekerjaan sampingan lain di sebuah restoran cepat saji milik temannya sebagai pengantar ayam, yang dia kerjakansetelah dia pulang dari kuliah sampai pukul enam sore. Karena setelah itu dia juga harus bekerja di sebuah kafe kecil pada malam harinya pada pukul tujuh hingga pukul sepuluh malam."
"Itu semua pekerjaannya?"
Mario mengangguk, "Ini belum selesai, tuan."
"Belum selesai?"
__ADS_1
"Ya, tuan." Mario kembali mengangguk. "Lanjut! Dia bekerja di kafe kecil itu hanya pada hari senin sampai dengan jumat. Sisanya... pada sabtu dan minggu-nya dia akan bekerja lembur sebagai pengantar atau kurir makanan sejak jam dua belas siang hingga pukul sepuluh malam."
"Pekerjaannya luar biasa," gumam tuan Romanov takjub.
"Tapi semua itu adalah pekerjaan lamanya. Karena sekarang dia bekerja sudah berhenti dari semua pekerjaan itu dan lebih memilih untuk bekerja di kafe mewah milik anda."
"Dia berhenti?"
"Ya, dia masih mengantar koran. Tapi selain itu dia sudah berhenti. Saya rasa itu mungkin karena gaji di restoran anda yang jauh lebih besar."
"Entah bagaimana, tapi saya salut dia bisa membagi waktu kerjanya dengan pekerjaan sebanyak itu. Sebelum bekerja di restoran milik anda." lanjut Mario sambil membaca data diri Justin di tangannya.
"Ya, dia lebih sibuk dariku rupanya!" Tuan Romanov kemudian memasukkan kembali lembaran foto itu ke dalam amplop dan meletakkannya di atas meja, ia tersenyum. "Apa ada lagi?"
Mario berdehem sebentar lalu memajukan kursinya agar lebih dekat pada meja sang atasan, "Tuan, anak ini juga kuliah di Universitas Bhakti Darma, kampus milik anda!" ucap Mario sambil menunjuk amplop di meja itu dengan dagunya.
"Kenapa aku tidak tau itu?" tuan Romanov bergumam.
Mario menganggukkan kepalanya. "Wajar kalau anda tidak tahu tuan. Anda kan sedang berada di Jepang selama bertahun-tahun lamanya. Saat penerimaan mahasiswa baru anda juga tidak hadir dan hanya di wakilkan oleh paman Dimitri."
Tuan Romanov mengangguk setuju. "Bagaimana aku bisa melupakan itu."
"Lagipula anda juga bukan tipe orang yang akan memperhatikan seperti apa wajah para mahasiswa baru di kampus kan." ujar Mario lagi.
"Ya, kau benar. Lalu bagaimana dengan orang tuanya?" tanya tuan Romanov. Sebenarnya ia sudah mengetahui jawabannya dari cerita Harry waktu itu. Tapi sekali lagi, dia hanya ingin memastikan.
Mario membuka beberapa lembar kertas lainnya yang ada di tangannya, mencoba untuk mencari informasi mengenai orang tua Justin.
"Saudara?"
"Tidak punya, tuan." Mario menggelengkan kepalanya. "Dia anak satu-satunya, anak tunggal. Dan informasi lainnya, selama sekolah dulu dia juga bekerja paruh waktu di sebuah minimarket, tapi sudah berhenti."
Tuan Romanov melipat kedua tangannya di dada. "Dia hidup sendiri?"
Mario mengangguk. "Sepertinya begitu, informan kita mengatakan dia tinggal di sebuah rumah di gang kecil, rumah mendiang orang tuanya,"
Tuan Romanov mengangguk paham untuk yang kesekian kalinya. "Aku mengerti. Itu semua bisa menjadi alasan kenapa dia punya banyak sekali pekerjaan. Dia harus menghidupi dirinya sendiri!"
Mario ikut mengangguk setuju. "Entah kenapa saya juga takjub padanya, tuan."
Tuan Romanov lalu tersenyum puas melihat hasil kerja informan yang ia pekerjakan.
"Kerja bagus!" ujar tuan Romanov pada Mario. "Kau bisa menawarkan posisi bagus untuk informan itu. Kalau dia setuju, kita bisa menjadikannya sebagai informan tetap kita."
"Baik tuan." ujar Mario yang kemudian menatap atasannya dengan tatapan lekat. "Bisa saya tahu kenapa anda sangat penasaran dengan pemuda itu tuan?" tanya Mario tiba-tiba.
"Kau sudah punya jawaban atas pertanyaanmu sendiri, Mario." jawab tuan Romanov. "Aku sudah menceritakan segalanya padamu, sisanya bisa kau simpulkan sendiri, tentang kenapa aku begitu penasaran dengan pemuda itu."
Merasa belum mendapat jawaban yang memuaskan, Mario kembali melanjutkan pertanyaannya. "Kalau anda bicara mengenai 'tanggung jawab' yang pemuda itu miliki, saya rasa tuan muda Xander juga sudah memiliki itu tuan."
__ADS_1
"Ada perbedaan besar antara pemuda itu dan Xander, Mario. Dahulu aku membawa Xander untuk menemani Charlotte. Saat mereka kecil, Xander memang berhasil mengubah sikap Charlotte. Tapi semakin dewasa, Xander hanya bisa memanjakan Charlotte. Dia tidak akan bisa mengubah sikap buruk Charlotte."
Mario mengangguk setuju, ia tiba-tiba teringat kejadian beberapa hari yang lalu, dimana Xander justru ketahuan secara diam-diam menemani Charlotte ke klub malam. Mereka bahkan berani berbohong pada tuan Romanov dan berakhir dengan membawa Charlotte yang sudah tak sadar karena mabuk berat ke mansion.
Tapi entah kenapa aku merasa kalau pemuda itu bisa merubah Charlotte dengan segala kebaikan yang dia punya di hatinya." ujar tuan Romanov tenang. "Aku ingin bocah itu menggantikan posisi Xander. Tapi sebelumnya, aku akan membuatnya masuk ke dalam hidup Charlotte entah bagaimanapun caranya."
"Apa anda ingin dia menjadi pembimbing nona Lottie, tuan?" tanya Mario.
Tuan Romanov menggeleng. "Bukan, bukan pembimbing, tapi aku akan menjadikannya sebagai anggota keluarga."
"Maksud anda, tuan?" Mario mengerutkan keningnya.
"Anak itu, aku akan menjadikannya sebagai cucuku!" ujar tuan Romanov dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Jadi maksud anda..." Mario menatap atasannya itu dengan ekspresi tak percaya.
Namun bukannya menjawab pertanyaan itu, tuan Romanov justru kembali mengambil amplop coklat itu.
"Dimana dia sekarang?" tanya tuan Romanov kemudian.
"Dia? Siapa tuan?"
"Justin Kim!" jawab tuan Romanov.
"Kabar yang saya dapat dari informan itu, saat ini dia sedang berkuliah. Dan terakhir kali dia sedang bersama sahabatnya. Ini sudah siang, mungkin dia sudah pulang." jelas Mario.
"Sahabat?" tuan Romanov mengernyit. "Siapa?"
Mario kembali membuka kertas informasi di tangannya dan membacanya. "Seorang pemuda bernama Charlie. Dia adalah sahabat dekatnya semenjak mereka masih SMA"
Tuan Romanov mengangguk. "Bagus jika dia punya sahabat, itu pasti membuatnya tidak terlalu kesepian!"
"Ya, tuan..." jawab Mario yang tidak tahu harus menjawab apa lagi.
Setelah semua penjelasan Mario tentang informasi Justin Kim, tuan Romanov kini kembali menatap kertas berisi informasi tentang Justin itu. Ia menatap lembaran kertas itu dengan perasaan iba. Entah kenapa, tuan Romanov jadi semakin merasa bersalah karena sudah menyusahkan pemuda seperti Justin waktu itu.
Tuan Romanov bahkan masih bisa mengingat kejadian saat ia menyerempet sepeda milik bocah itu hingga semua makanan yang ia bawa berserakan. Ia bahlan masih mengingat senyum penuh kesakitan dari pemuda itu.
Tuan Romanov menarik napasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan sebelum akhirnya membuat keputusan dalam kepalanya sendiri. Aku akan memberikan segala hal yang terbaik untuk pemuda itu, batin tuan Romanov.
Ia kemudian mendongakkan kepalanya untuk menatap Mario yang masih menunggu di hadapannya.
"Mario!" serunya.
"Ya tuan?"
"Cepat kau siapkan mobil! Aku ingin pergi mengunjungi kafe tempat pemuda itu bekerja. Pemuda ini, aku akan menemuinya disana."ujar tuan Romanov pada Mario dengan tegas.
Mario mengangguk. "Baik tuan."
__ADS_1
***