
Pagi ini, Charlotte terbangun di kamarnya pukul enam lewat tiga puluh lima. Namun beberapa saat setelah itu, ia terlihat hanya menghabiskan waktunya dengan uring-uringan saja di tempat tidurnya.
Charlotte memang sengaja tidak bersiap untuk pergi ke kampusnya karena terlalu malas untuk bangun apalagi harus beranjak dari tempat tidurnya. Kepalanya terasa begitu pusing karena terlalu banyak minum.
Charlotte akui, ia memang minum minuman keras tanpa batas semalam karena masalah dengan Xander dan juga Brandon. Alhasil, pagi ini begitu membuka mata, tubuhnya tak bisa bangun sama sekali dan kepalanya juga terasa pusing bukan main.
"Ya ampun, kepalaku sakit sekali..." gumamnya begitu kembali membuka mata, sambil sesekali pangkal hidungnya.
Charlotte berdecak kesal saat mengingat berapa gelas minuman beralkohol yang sudah ia habiskan semalam.
"Aku tidak akan minum sebanyak itu lagi... dasar bodoh." ujar Charlotte lagi, berdecak kesal.
Sejujurnya, Charlotte sendiri sudah terbiasa berurusan dengan minuman beralkohol seperti ini. Tapi harus Charlotte akui, kalau ia memang sudah kelewat batas semalam. Ia bahkan sampai lupa berapa gelas yang sudah ia tenggak, saking banyaknya.
Dan sakit kepalanya semakin bertambah parah karena kakaknya, Xander. Kakaknya itu bukan mengerti rasa sakit kepalanya akibat mabuk, justru malah memilih untuk mengomeli dirinya begitu pulang. Tentu saja dirinya yang sejak awal sudah penuh emosi, semakin emosi saja padanya.
Charlotte tiba-tiba saja ingat segala perkataannya yang ia tujukan pada sang kakak semalam. Bukankah ia terlalu kejam pada Xander?
"Ya ampun, kenapa aku mengatakan hal sekejam itu padanya." gumam Charlotte.
Ucapannya yang kejam itu bahkan masih terus terngiang dengan jelas di kepala Charlotte dan membuat dirinya semakin merasa bersalah saja.
"Haruskah aku minta maaf?" gumam Charlotte. Namun ia buru-buru menggeleng. "Kenapa harus minta maaf, semua yang aku katakan memanglah benar."
Charlotte memejamkan matanya sekali lagi. Tapi Xander adalah satu-satunya orang yang bisa membuat moodnya menjadi lebih baik.
Jauh dari Xander adalah masalah besar karena dia akan merasa begitu kesepian.
"Tidak apa. Seorang Charlotte tidak akan pernah menjilat ludahnya sendiri. Aku juga tak akan menarik ucapanku lagi." gumamnya penuh tekat.
Beberapa saat setelah itu jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi.
Charlotte baru saja selesai membersihkan diri. Ia kemudian mengambil segelas air putih yang berada di atas nakas di dekat tempat tidurnya.
Detik selanjutnya, pintu kamarnya diketuk. Pintu kemudian terbuka dan menampilkan Xander yang kembali datang ke kamarnya.
Charlotte melengos, "Untuk apa kau datang kemari? Ini masih pagi. Jangan merusak suasana hatiku lagi."
"Jangan main drama kesal-kesalan begitu. Itu sama sekali tidak cocok untukmu." ujar Xander. Ia lalu mengulurkan tangannya yang ternyata berisi sekeping obat pada Charlotte.
"Apa ini?"
"Kau tidak lihat ini apa? Ini obat!"
"Ya aku tau. Tapi untuk apa kau berikan padaku?"
"Ini obat sakit kepala. Untukmu. Ambil! Kau ini menyusahkanku saja." ujar Xander mulai mengeluarkan segala macam omelannya, seperti biasanya.
Pemuda itu sepertinya tak terlalu terpengaruh dengan ucapan kejam Charlotte semalam.
Charlotte hanya mencebik. "Kalau tidak ikhlas membantu ya sudah. Tidak perlu mengomel."
"Ambil saja."
"Tidak perlu. Aku tidak butuh!" ujar Charlotte kesal.
Xander berdecak sambil melirik jam di pergelangan tangannya. "Aku mau kuliah. Buruan ambil!"
"Tapi berhenti mengomeliku lagi."
"Iya, iya. Ambil, buru!"
Charlotte meraih kepingan obat itu dengan gerakan kasar. Ia masih kesal. Tapi ia memang butuh obat itu.
Xander hanya menggeleng melihat sikap manja gadis itu.
"Ya sudah, aku pergi kuliah dulu." ujar Xander sambil menyampirkan sebelah tali tasnya ke bahu.
Pemuda itu berbalik sebelum kemudian mendengar seruan Charlotte
"Tunggu!"
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Xander tanpa menoleh.
"Kau tidak akan menungguku.... kan?" Entah mengapa Charlotte terlihat seperti sedang mencoba memastikan.
Xander tersenyum kecil.
"Semalam kau mengatakan tidak mau pergi bersamaku. Jadi aku pergi sendiri." ujar Xander tenang.
Xander kemudian melanjutkan. "Aku hanya sedang memberi waktu padamu agar bisa lebih tenang. Lalu setelah itu kau putuskan masih ingin pergi kemanapun bersamaku... atau tidak."
Xander melanjutkan langkah kakinya hendak pergi meninggalkan Charlotte.
"Tunggu dulu!" tahan Charlotte sekali lagi.
"Ada apa lagi?"
Charlotte tampak berpikir selama beberapa detik sebelum kembali bicara.
"Apa kau tidak sakit hati dengan ucapanku semalam?"
Xander terkekeh kecil, "Kau pernah mengataiku lebih parah dari semalam ketika mabuk. Aku sudah terbiasa."
Charlotte menganggukkan kepalanya mengerti. Ia tahu maksud Xander. Selama ini mereka memang sering bertengkar. Dan itu adalah hal biasa bagi Charlotte dan Xander.
"Untung saja sang kakek sudah pergi pagi-pagi sekali untuk mengecek pabrik. Kalian tak akan bertemu. Jadi sepertinya kau akan aman dari omelan kakek pagi ini." lanjut Xander.
Setelah mengatakan itu pada akhirnya Xander keluar dari kamar. Ia pergi ke kampus, meninggalkan Charlotte seorang diri di kamarnya.
Charlotte lanjut dengan meminum obat sakit kepalanya. Setelah itu ia meletakkan gelas dan memilih untuk kembali berbaring saja di tempat tidurnya. Ia memejamkan matanya mencoba untuk kembali tidur. Toh ia juga tak punya kegiatan apapun selama seharian ini.
Ia memang memutuskan untuk tak pergi ke kampus dan beristirahat saja di rumah.
Namun rencananya untuk tidur seketika gagal saat tiba-tiba saja ponselnya berdering. Hal itu membuat Charlotte kesal dan melempar guling yang baru saja ia pegang dengan sembarangan.
Gadis itu mengambil ponselnya dan menatap layar.
Laurent menelepon...
Charlotte sejak tadi memang mengacuhkan panggilan telepon dari siapapun karena memilih untuk uring-uringan saja.
"Ada apa?" tanya Charlotte tanpa menjawab pertanyaan Laurent sebelumnya.
"Aku sudah menyewa arena renang."
"Arena renang?" dahi Charlotte mengkerut heran. "Untuk apa?"
"Sore ini kita akan tanding renang. Seperti biasa. Kau tidak lupa kan?"
"Ah itu..." Charlotte baru ingat sekarang. "Tentu saja tidak lupa."
"Oke, akan aku kabari lagi sore nanti. Aku akan kirim alamatnya lewat pesan ssja..." ujar Laurent.
"Hm." ujar Charlotte kemudian menutup sambungan telepon.
***
Charlotte duduk di tepi kolam renang, mengatur napasnya yang memburu dengan raut kesal terpatri di wajahnya. Hari ini, Laurent baru saja mengalahkannya dalam lomba renang mereka untuk yang ketiga kalinya secara berturut-turut dan itu sedikit memalukan bagi Charlotte. Ia tak pernah kalah. Tidak pernah. Dan ia harusnya 'tidak pernah' kalah.
Laurent yang baru saja muncul keluar dari berenang di kolam renang terlihat menyisir rambut basahnya lalu meletakkan kedua tangannya ke tepi kolam renang, melipatnya, kemudian tersenyum sambil menatap wajah masam Charlotte.
"Ada apa dengan dirimu hari ini? Kau biasanya nggak seburuk ini." tanya Laurent.
"Buruk?" Charlotte menaikkan sebelah alisnya, menatap Laurent yang berenang di depannya dengan sinis. "Apa maksudmu?"
Laurent lalu menggedikkan bahunya santai. "Ya! Kau lihat saja, lomba renang hari ini gue bisa mengalahkan elo bahkan sampai menang tiga kali berturut-turut!"
Charlotte mendecih sinis.
"Denger! Gue bahkan lebih suka menyebut itu sebagai keberuntungan daripada sebuah kemenangan!" ejek Charlotte.
"Ya, terserah! Intinya aku bisa mengalahkan dirimu untuk hari ini." Laurent menatap Charlotte angkuh.
__ADS_1
"Jangan terlalu sombong, Laurent. Kau bahkan baru mengalahkanku satu kali ini saja. Hari ini saja."
"Aku yakin aku pasti akan mengalahkanmu lagi di lain waktu." tandas Laurent.
Laurent tersenyum senang lalu menarik dirinya untuk keluar dari kolam renang. Ia ikut duduk di pinggiran kolam renang, bergabung dengan Charlotte. Duduk di samping gadis itu. Laurent mengusak-usak rambutnya yang basah dengan tangan kemudian kembali menatap wajah sahabatnya itu.
Sekilas, Laurent menatap lekat wajah Charlotte yang saat ini tengah duduk diam di posisinya. Melamun.
"Kau kenapa sebenarnya? Sakit?" tanya Laurent pada Charlotte yang terlihat tidak bersemangat.
Charlotte hanya diam, tak menjawab.
"Kau ada masalah dengan kakekmu, ya?" tanya Laurent penasaran.
Charlotte melirik Laurent. Ia menghela napas, lalu melepaskan topi renang yang sejak tadi membungkus rambutnya dengan gerakan malas. Charlotte lalu menyisir rambut panjangnya dengan perlahan ke depan tubuhnya.
"Ini bukan kakek, tapi ada hal lain yang sedang aku pikirkan saat ini, Laurent." jelas Charlotte masih terus menyisir rambutnya dengan jari tangannya.
Laurent menatap takjub pada Charlotte.
"Wow, ternyata seorang pembuat onar seperti Charlotte Clinton, bisa punya masalah pribadi juga rupanya."
"Apa maksudmu, hah?" Charlotte menendang air kolam renang ke arah Laurent dengan senyum sinis.
"Kau mau cerita?" tawar Laurent.
"Tentang?"
"Tentang masalahmu itu."
"Tentu saja, tidak!" Charlotte terkekeh sinis sambil menggelengkan kepala. "Curhat masalah pribadi ke orang lain sama sekali bukan gayaku!"
Charlotte menunduk. Mana mungkin dia cerita pada Laurent tentang masalahnya. Tentang Xander dan kakeknya adalah hal yang Laurent tau.
Dan juga masalah tentang Brandon yang masih saja menggangu dirinya. Masalah 'mantan pacar' bukanlah masalah besar. Akan memalukan baginya jika menceritakan itu pada Laurent.
Sementara Laurent mendecih sinis.
"Apa maksudmu dengan 'curhat bukan gayamu', hah? Memangnya kau pikir selama ini kau tak pernah curhat padaku? Toh buktinya selama ini kau memang selalu curhat tentang masalahmu padaku."
Laurent kemudian menggedikkan bahu. "Tapi tak masalah kalau kau tidak ingin cerita. Ya, lagipula gue cuma menawarkan! Hitung-hitung gue sedang mencoba menjalankan tugas gue sebagai sahabat."
Charlotte tersenyum geli kemudian menggeleng.
"Aku sangat berterima kasih. Jangan khawatir, aku memang baik-baik saja!" Charlotte mengibaskan tangannya acuh.
"Ya sudah, kita lihat saja nanti. Oke, sekarang aku mau membasuh badan dan bersiap untuk ganti baju dulu. Tubuhku akan lumutan kalau aku ada disini lebih lama lagi." jelas Laurent.
Charlotte mengangguk. "Ya,"
"Apa kau ikut malam ini?"
"Kemana?" Charlotte menaikan sebelah alis.
"Klub malam!"
"Lagi?"
Laurent mengangguk. Sementara Charlotte hanya menatap tak percaya.
"Kenapa? Apa kau tidak akan datang?"
"Tentu saja aku akan datang." Charlotte tersenyum.
Pemuda itu kemudian mengusak rambut pirangnya yang basah sekali lagi lalu mengacak-acak rambut Charlotte saat ia berjalan melewati gadis itu.
"Kalau begitu, sampai jumpa nanti malam, di klub!" tambahnya lagi, kemudian melambaikan tangan, lalu meninggalkan Charlotte sendirian di kolam.
"Sampai jumpa!" balas Charlotte.
Setelah kepergian Laurent, Charlotte lalu kembali diam sambil menatap pantulan dirinya di kolam renang.
__ADS_1
***