
"Nah, kita sudah sampai. Inilah dia, gedung kantor utamanya." ujar Harry sambil membelokkan mobilnya ke dalam area gedung yang terlihat megah.
Justin menoleh dan langsung menyadari kalau saat ini mobil yang mereka kendarai sudah sampai di depan gedung yang menjadi tujuan mereka.
Jadi ini kantor utama itu. Batin Justin takjub.
Justin sendiri merasa begitu terkejut saat melihat betapa megahnya bangunan yang ada di hadapannya itu. Betapa tidak, lihat saja, bangunannya terlihat begitu modern dan tingginya seperti memiliki puluhan lantai.
Siang ini, begitu pulang dari kuliah, Justin mendatangi Harry ke ruang kuliahnya dan mengajak pria muda itu untuk pergi ke kantor utama yang dia maksud semalam. Sejujurnya Justin bisa pergi sendirian, tapi hatinya terasa ragu dan ia memilih untuk mengajak Harry.
"Tugasku hanya mengantarkanmu ke sini. Ya, karena kau bilang tadi, kau tidak ingin pergi sendirian. Dan itu artinya, aku bisa pulang sekarang kan?" ujar Harry pada Justin.
Mendengar itu, Justin sontak memegang lengan Harry sambil menggeleng, "Mana berani aku masuk ke sana sendirian."
"Kenapa?"
"Aku tidak tau siapapun dan apapun mengenai tempat ini. Tapi kau? Kau kan yang sudah sering bolak-balik datang kemari, jadi kau pasti sudah mengenal jelas mengenai tempat ini."
"Benar juga." Harry menganggukkan kepalanya setuju, kemudian ia tersenyum. "Kalau begitu aku antarkan kau masuk ke dalam."
Harry kemudian membuka pintu mobil yang ada di sebelahnya lalu bergegas turun dari mobil. Ia menoleh pada Justin yang ternyata belum juga turun dari mobil.
"Apa yang kau tunggu di sana, ayo cepat turun!" ujar Harry.
Justin menganggukkan kepalanya pelan. Ia membuka sabuk pengaman yang ada di tubuhnya lalu bergegas turun dari mobil Harry. Justin terus melangkahkan kakinya, mengikuti Harry yang saat ini tengah menaiki anak tangga yang menuju pintu masuk dari kantor itu yang terbuat dari kaca bening transparan.
"Tapi apa kau yakin kalau atasanmu itu bukan orang yang pemarah?" tanya Justin.
Harry menganggukkan kepalanya, "Seratus persen. Ya, walaupun kemarin dia sempat memarahi dan juga mengancam akan memecatku. Tapi sebelumnya dia tidak pernah marah padaku seperti itu."
Harry mendorong pintu masuk dari kantor itu dan berjalan menuju meja resepsionis dimana dua orang wanita.
"Permisi, Adeline."
"Ya,"
"Aku ingin bertemu Tuan Romanov. Apakah dia ada di kantornya?" ujar Harry santai pada salah satu dari dua wanita itu.
"Apa kau sudah membuat janji temu sebelumnya?" tanya wanita itu lagi.
Harry menggeleng, "Tapi kau bisa katakan padanya kalau aku membawa Justin Kim. Dan ini... penting!"
"Kalau begitu kau bisa menunggu sebentar, Harry. Tuan Romanov sedang ada rapat. Aku akan memberitahu pada asistenya begitu rapat selesai. Silahkan duduk di kursi itu!" tunjuk wanita itu pada deretan kursi yang ada di lobi itu
Harry mengangguk kemudian berjalan pelan menuju kursi yang dimaksud.
"Ayo!"
"Ya," Justin mengikuti langkah Harry.
Setelah beberapa menit menunggu di tempat itu, wanita yang bernama Adeline tadi datang dan mendekati mereka.
"Harry, aku sudah memberitahu kedatangan kalian. Dan saat ini tuan Romanov sudah menunggu Justin di ruangannya."
"Harry, apa kau tidak ikut."
__ADS_1
Harry terkekeh. "Tentu saja tidak. Dia ingin menemuimu, bukan aku."
"Tapi-"
"Pergilah! Aku akan menunggumu di sini." ujar Harry menepuk bahu Justin sambil tersenyum.
"Mari, saya akan mengantarmu ke ruangannya." ujar Adeline dengan nada sopan.
Justin mengangguk, menurut atas kata-kata Harry. Ia menghela nafasnya kasar sebelum kemudian segera melangkah mengikuti Adeline.
Sementara itu karyawan wanita di kantor itu saling berbisik dan menatap wajah Justin.
Siapa dia? Karyawan baru?
Sepertinya bukan. Ah, sejujurnya aku sangat berharap kalau dia bekerja di sini. seru seorang karyawan perempuan.
Ya, aku juga. Setidaknya wajahnya itu bisa menyemangatiku saat aku lelah
Aku setuju. Dia sangat tampan.
Bahkan dengan melihat wajahnya saja aku sudah hidup kembali. celetuk karyawan lainnya.
Harry yang mendengar celetukkan para karyawan itu hanya mendecih sinis. "Kalian bukan tipenya. Jadi berhenti berkhayal,"
Ucapan Harry itu sontak saja membuat para gadis itu mendengus kesal. Satu persatu dari mereka tampak beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
***
Saat ini Justin tengah berdiri tepat di depan pintu dari ruang kerja tuan Romanov. Ia menghela nafasnya dalam sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu dari mantan atasannya itu.
Tok! Tok! Tok!
Justin mendorong pintu itu dan melangkah perlahan memasuki ruangan kemudian menghentikan langkahnya di dekat pintu masuk. Dari tempatnya berdiri saat ini, Justin bisa melihat lelaki paruh baya tampak sedang sibuk mengerjakan sesuatu di meja kerjanya.
"Saya dengar, anda mencari saya tuan?" tanya Justin gugup.
"Apa kau mau bicara sambil tetap berdiri disitu?" Tanya tuan Romanov, ia masih fokus pada dokumen kerjanya.
Justin kemudian mengangkat kepalanya sedikit melirik wajah tuan Romanov yang ternyata tengah menatapnya. Mata mereka saling bertatapan selama beberapa detik.
"Duduk." tuan Romanov menujuk kursi yang ada di depannya.
"H-Hah?" Jawab Justin bingung.
"Kau tidak mau duduk?" ujar tuan Romanov.
Justin mengangguk kemudian berjalan pelan menuju kursi yang dimaksud.
"Kakek!"
Terlihat dahi Justin berkerut, ia tidak mengerti. "Ma-maaf?"
"Kau panggil aku kakek!" ujar tuan Romanov seraya bangkit dari posisinya dan berjalan pelan menghampiri Justin.
Justin hanya melongo di posisinya. Ia semakin tidak mengerti dan hanya bisa menatap mantan atasannya itu dengan tatapan bingung. Pria paruh baya itu kini sudah berdiri tepat di hadapannya, menatap wajah Justin intens.
__ADS_1
"t-tapi-"
"Turuti saja!" perintah tuan Romanov dengan nada datar, sementara Justin hanya menganggukkan kepalanya patuh.
"Sudah berapa lama kau bekerja di kafe waktu itu?" tanya laki-laki paruh baya itu. Ia berbalik kemudian kembali berjalan menuju meja kerjanya.
"Sehari tuan.." cicit Justin.
Tuan Romanov menghela napasnya pasrah saat mendengar Justin kembali memanggilnya dengan sebutan 'tuan', tapi ia memilih mengabaikannya karena saat ini ia lebih tertarik pada hal yang lain.
"Siapa namamu?"
"Ju-Justin tuan!"
"Nama lengkapmu..."
"Justin Kim,"
Tuan Romanov terdiam kemudian menganggukkan kepalanya mengerti. "Kau punya saudara?"
Justin menggeleng. "Tidak, saya anak tunggal!"
Justin diam-diam menatap heran pada pria paruh baya yang ada di hadapannya ini. Kenapa dia tiba-tiba malah bertanya tentang kehidupan pribadinya.
Tuan Romanov sendiri sebenarnya sudah mengetahui beberapa informasi pribadi tentang Justin. Dia sengaja menanyakan ulang hal itu untuk mengonfirmasi ulang informasi yang di dapat bawahannya.
"Apa kau tau alasanmu datang kemari?" tanya tuan Romanov lagi.
Justin menggeleng. "Tidak tuan."
"Ini tentang insiden beberapa hari lalu. Kejadian tabrakan waktu itu." tuan Romanov menghela pelan saat mengingat insiden itu. Kejadian saat ia tanpa sengaja menabrak sepeda Justin kembali muncul di kepalanya.
Justin seketika terhenyak mendengar perkataan tuan Romanov itu. Ia sontak menundukkan kepalanya. Justin tahu, sangat tahu apa alasan pria ini memintanya datang kemari sekaranv. Ya, apalagi kalau bukan untuk membahas mengenai insiden waktu itu. Insiden saat Justin menabraknya di kafe.
Apa dia ingin meminta ganti rugi?
Itu sudah pasti!
Justin berpikir kalau pakaian yang tuan Romanov kenakan saat itu pasti memang pakaian mahal dan Justin sudah membuatnya kotor begitu saja. Dan sekarang tuan Romanov pasti memang ingin meminta ganti rugi padanya.
Justin berubah gusar.
Dia benar-benar tidak bisa membayangkan jika nanti pria itu akan melakukan hal yang tidak pernah justin bayangkan sebelumnya. Ya, seperti melaporkan Justin ke polisi misalnya. Apalagi setelah kejadian itu Justin malah menghilang dan itu membuatnya seakan terlihat kabur begitu saja. Dan entah kenapa hal itu membuat hatinya tak enak. Sepertinya dia benar-benar akan di laporkan ke polisi karena kabur.
Dan sebenarnya, seumur hidupnya dia tidak pernah bekerja dalam waktu sesingkat ini. Bayangkan, saat itu dia hanya bekerja dalam hitungan jam saja. Padahal selama ini Justin juga tidak pernah satu kali pun bermasalah dengan atasannya. Dia adalah karyawan teladan. Justin tidak mau, benar-benar tidak mau jika dia harus sampai berurusan dengan kantor polisi atas kesalahannya waktu itu.
Sebenarnya, menurut Justin, pekerjaan di kafe waktu itu sangat mudah bila di bandingkan dengan di tempat lain. Di tambah lagi dengan gaji yang di tawarkan tempat ity jauh lebih tinggi jika di bandingkan dengan tempat yang lain. Ya, sekitar lima kali lipat dari kerja sampingan yang biasa ia tekuni.
Biasanya Justin hanya bisa mendapat sekitar satu juta rupiah sebulan, tapi di tempat itu dia bahkan bisa mendapat sekitar dua hingga tiga juta, hanya untuk posisi pelayan.
Melihat pemuda di hadapannya yang saat ini hanya diam, tuan Romanov kemudian menegakkan posisinya dan menatap Justin lekat.
"Baiklah aku akan langsung saja. Aku memanggilmu kemari karena ada hal yang ingin aku sampaikan padamu. Jadi begini, aku-"
Namun tuan Romanov itu seketika terhenti saat tiba-tiba Justin sudah berlutut dihadapannya. Pemuda itu meletakkan kedua tangannya di paha, sementara kepalanya menunduk menatap ke arah lantai.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau berlutut?" tuan Romanov berseru kaget.
***