Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
95.


__ADS_3

Jam kini sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Charlotte dan Xander sudah selesai berbelanja. Mereka kini tengah mengunjungi sebuah restoran mewah yang memang berada di dekat toko perhiasan tadi.


"Ayo cepat pesan, aku sudah sangat lapar." ujar Xander tak sabar karena Charlotte terlalu lama membaca buku menu.


"Sabar, sebentar."


"Kau terlalu lama." omel Xander.


"Aku tidak tau mau makan apa." ujar Charlotte sambil melihat-lihat daftar menu yang berada di buku.


"Pesan steak saja."


"Steak?"


"Ya, aku sudah pesan steak. Bukankah itu makanan favorit kita berdua setiap pergi makan bersama."


"Apa rasanya di restoran ini sama enaknya dengan restoran langganan kita?"


"Entahlah. Pesan saja. Kita coba rasakan bersama nanti."


Charlotte mengangguk dan beralih pada pelayan restoran yang berdiri di sampingnya. "Baiklah, aku pesan menu yang sama dengannya."


"Baik, nona." ujar pelayan itu, mencatat pesanan lalu segera beranjak pergi.


Tak beberapa lama, makanan yang mereka pesan akhirnya datang. Charlotte dan Xander menikmati makanan mereka dengan tenang.


Namun di saat itu, tiba-tiba ponsel Xander bergetar. Itu sebuah pesan. Xander membuka lalu membaca pesan masuk itu dan langsung mengernyit.


Selama beberapa saat setelah membaca pesan itu, Xander hanya bergeming. Ia menatap layar ponselnya itu dalam diam. Tak juga membalas ataupun mengabaikannya. Hanya menatapnya lekat.


Charlotte berhenti memotong steak miliknya. Ia menyadari perubahan raut wajah Xander setelah membuka ponselnya.


"Ada apa?" tanya Charlotte, matanya tampak menyipit karena penasaran.


Xander tidak menjawab. Ia masih menatap ponselnya dalam diam. Sikap pemuda itu semakin membuat Charlotte bingung saja.


"Hei, Xander. Apa yang terjadi?"


Charlotte bertanya, kali ini ia melambaikan tangannya di depan wajah Xander, membuat pemuda itu tersadar.


"Y-Ya?"


"Aku bertanya, kau kenapa?"


"Oh, aku... aku... tidak apa-apa." ujar Xander menggelengkan kepalanya seraya tersenyum canggung.


Charlotte masih menatap Xander dalam diam. Ia tidak yakin dengan jawaban pemuda itu. Ia tahu pemuda itu sedang tidak ingin jujur padanya. Lihat saja betapa canggungnya Xander saat ini.


"Kau yakin tidak apa-apa?"


Xander menatap Charlotte ragu. Tahu jelas kalau ia tak mungkin bisa menyembunyikan apapun dari adiknya itu. Lagipula ini bukan sesuatu yang harus di sembunyikan.


"Sebenarnya... aku... tidak yakin." ungkap Xander pada akhirnya.


"Hah?"


"Ini sesuatu yang tidak baik."


Charlotte menghentikan gerakan makannya, menatap Xander dengan fokus.


"Tidak baik untukmu?"


"Untukmu." jawab Xander. "Juga untuk kita berdua."


"Ada apa memangnya? Hal apa yang sebenarnya membuatmu terlihat begitu gelisah saat ini?"


Xander menatap Charlotte selama beberapa detik kemudian menghela napasnya pelan. Ia berdehem sebentar kemudian menyimpan kembali ponselnya ke dalam kantong jaketnya.


"Dari siapa sih? Aku penasaran." tanya Charlotte lagi, tampak tak menyerah bertanya. "Apa kau menghamili seseorang?"


"Jangan sembarangan. Kau lihat wajahku. Apa aku terlihat seperti laki-laki seperti itu."


"Ya... mungkin..."


"Jangan berasumsi. Kau mengambil kesimpulan sendiri. Ngawur juga." protes Xander.

__ADS_1


"Jadi ada apa? Siapa sebenarnya yang menghubungimu?"


"Ini dari Mario." jawab Xander pada akhirnya.


"Mario?" Charlotte mengkerutkan dahinya, tampak heran. "Barusan itu pesan dari Mario?"


"Ya, begitulah."


Charlotte bergerak mundur. Dari Mario katanya? Apa benar? Apa Charlotte tak salah dengar. Entah kenapa Charlotte merasa aneh sekarang. Untuk apa anak buah kesayangan kakeknya itu mengirimi Xander pesan.


"Kau bilang, Mario mengirimimu pesan?" Charlotte memastikan sekali lagi.


"Ya, benar. Mario-lah yang baru saja mengirimi aku pesan." jelas Xander lagi .


"Lalu?"


"Lalu? Apanya"


Charlotte mendengus, "Lalu apa? Dia mau apa darimu?


"Mario mengatakan kalau kakek memintaku untuk datang ke kantor."


Charlotte menaikan sebelah alisnya. "Kenapa? Ada urusan apa memangnya?"


"Aku juga tidak tau." Xander menggeleng. "Aku diminta datang sekitar jam delapan malam ini."


"Jam delapan? Malam ini? Tunggu dulu, Xander. Bukankah kita ada janji temu dengan Laurent di klub malam ini?"


"Ya, aku tau. Itu sebabnya aku tadi mengatakan kalau ini bukan kabar baik."


Charlotte diam sejenak, menatap Xander.


"Jadi?"


"Jadi? Apanya?"


"Ya maksudku, jadi apa kau akan tetap pergi ke kantor kakek meski kau sudah lebih dahulu punya janji dengan orang lain?"


"Aku... tidak tau."


"Xander, itu janji. Sebagai seorang yang bertanggung jawab, malam ini kau harus menepati janjimu untuk ke klub malam. Aku tidak mau tau."


"Aku tidak mempersulitmu, Xander. Itulah kenyataan. Kau sudah janji denganku. Dengan Laurent. Jadi aku memintamu agar kau jangan sampai melupakan janjimu itu." Charlotte bicara dengan tegas.


Xander menarik napas dalam.


Bukannya Xander lupa dengan rencana mereka malam ini. Ia ingat. Dengan jelas malah. Sehari lalu, Laurent memang mengajak mereka berdua berkumpul di klub malam miliknya untuk bersenang-senang. Charlotte dan Xander bahkan sudah bersedia untuk datang kesana.


"Kita sudah janji padanya, Xander." sambung Charlotte.


"Iya, kau baru mengatakan hal yang sama tiga puluh detik yang lalu."


"Cari cara untuk menolak kakek kalau begitu."


"Itu juga yang sedang aku pikirkan, Lottie. Aku jadi bingung sekarang harus bagaimana…" keluh Xander putus asa.


"Kenapa harus bingung. Kau harusnya menepati janjimu sebagai seorang laki-laki. Katakan pada kakek kalau kau tidak bisa datang."


"Tapi ini perintah kakek, Charlotte!" Xander meninggikan suaranya.


"Memangnya kenapa kalau perintah kakek?" Charlotte mulai geram.


"Ya itu artinya aku tak bisa membantahnya." ujar Xander.


"Jadi kau mau membatalkan janji?"


Xander mengusap wajahnya kasar kemudian membawa punggungnya bersandar pada sandaran kursi.


"Aku... tidak tau. Sungguh." ujarnya putus asa.


Pemuda itu menggigit bibir bawahnya sambil sambil mengetuk-ngetuk atas meja dengan raut wajah penuh kerumitan.


"Lalu aku harus apa?" ujar Xander merasa frustasi sendiri.


Charlotte menggedikkan bahunya. "Hanya kau yang tau."

__ADS_1


Xander menghela napasnya kasar. Ia tau dengan jelas kalau hal ini pasti akan berakhir buruk. Ia yakin, jika ia membatalkan rencana yang memang sudah mereka rencanakan demi menuruti kakek, maka Charlotte pasti akan merasa kesal bukan main padanya.


Jika biasanya ia tak akan merasakan apa-apa saat membatalkan rencana. Tapi kali ini Xander merasa begitu tak enak. Pasalnya ini memang berhubungan dengan kakek yang memanggilnya ke kantor. Dan setahu Xander, Charlotte tidak pernah suka jika Xander berhubungan dengan urusan kantor.


Xander tak mampu berbuat banyak, apalagi ketika mendapati Charlotte yang saat ini tampak sedang menahan rasa kesalnya. Tapi ia bingung, selama ini ia tak pernah membangkang tuan Romanov. Satu kali pun.


Diam-diam Charlotte memperhatikan raut Xander. Kakaknya itu tampak begitu putus asa sekarang. Charlotte yakin ia pasti merasa sangat bingung.


Charlotte lalu menghela pelan setelah melihat raut serba salah yang terpatri di wajah Xander. Ya, sejujutnya ia tidak sedih jika janji temu mereka malam ini gagal, tapi ia sudah pasti merasa kesal.


Charlotte mendorong piring makannya. Ia sudah tak berselera menikmati steak dihadapannya itu sekarang.


"Ya sudah, pergi saja!" ujar Charlotte.


"Hah?"


"Pergi saja ke kantor. Kau temui kakek. " ujar Charlotte pada akhirnya, namun dengan nada ketus. Ia memalingkan wajah sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Ah, ia kesal sekali. Jelas ia merasa begitu kesal. Harusnya kan ia dan Xander bisa pergi berpesta ke klub milik Laurent malam ini. Tapi ia memang harus menurunkan ego-nya. Jika tidak kakaknya ini pasti tersiksa oleh rasa kebingungannya.


Ponsel Xander kembali berdering. Itu Mario, lagi. Kali ini Mario meneleponnya. Namun Xander langsung menolak panggilan itu dan meletakkan ponselnya ke atas meja.


Xander menatap Charlotte lekat sebelum akhirnya kembali berbicara.


"Apa kau tidak apa-apa kalau aku pergi?"


Mendengar pertanyaan itu Charlotte menatap Xander dengan mata menyipit.


"Memangnya kalau aku melarangmu pergi kau akan menurut dan tetap tinggal di sini?"


"Masalah itu..."


Xander tak bisa menjawab dan hanya menatap adiknya itu dengan tatapan serba salah.


Charlotte berdecak kesal. "Bagaimana? Tak bisa kan? Makanya jangan banyak tanya lagi. Kan aku sudah bilang barusan, pergi saja."


Keadaan menjadi hening. Xander dan Charlotte kembali terdiam. Di sibukkan dengan pikiran mereka masing-masing.


Charlotte memilih menyeruput minumannya dengan tenang lalu kembali meletakannya ke atas meja dan melanjutkan makannya.


"Maaf ya. Kalau sempet nanti aku akan menyusul ke klub." ujar Xander.


"Nggak bakal sempet." balas Charlotte.


"Mungkin jam sepuluh atau jam sebelas urusan dengan kakek akan selesai."


Charlotte kembali membuang muka. Ia merasa enggan menggubris perkataan pemuda itu.


"Aku akan usahakan. Kau tunggu aku di sana, ya!" bujuk Xander.


"Kau tidak perlu susah payah. Usahamu itu tidak akan berhasil." ujar Charlotte meremehkan.


"Ayolah Charlotte. Jangan pesimis gitu, lah."


Charlotte mendecih sinis.


"Aku bicara begitu karena aku yakin, kau akan menghabiskan berjam-jam lamanya dengan kakek di kantor."


"Ya, itu tergantung. Tapi aku akan usahakan untuk datang."


"Jangan membuat harapan."


Xander menatap Charlotte lirih.


"Charlotte, kita-"


"Aku sudah selesai!" ujar Charlotte sambil meletakkan sendok ke atas piring steak miliknya. Ia memilih menyudahi makannya kemudian bangkit dan pergi meninggalkan meja makan itu.


Ia tak ingin Xander membuat janji kosong padanya.


Xander yang melihat Charlotte beranjak pergi langsung ikut menyusul.


"Hei, tunggu dulu."


"Dengar dulu!"

__ADS_1


"Tidak perlu. Kau tidak perlu memberi harapan apapun yang tidak bisa kau tepati. Kau juga bukan anggota dewan. Aku tidak ingin mendengar janji palsumu itu. Lebih baik sekarang kita pulang sekarang."


***


__ADS_2