
Tuan Romanov berjalan cepat menuju ruangan kerjanya yang berada di lantai tiga kafe itu. Ia lalu membuka pintu ruang kerjanya itu dengan bantingan keras kemudian memasuki ruang kantornya yang berada di lantai tiga kafe itu sementara Harry turut masuk mengikutinya dari belakang.
"Tuan, saya benar- benar minta maaf atas insiden barusan. Jujur, ini adalah hari pertamanya bekerja di kafe ini. Lain kali saya akan berusaha untuk mengajarinya agar bisa lebih baik lagi!" ucap Harry tanpa basa-basi.
Mendengar penjelasan itu tuan Romanov hanya melirik sekilas pada Harry. Dapat ia dengar dari nada bicaranya bahwa pemuda itu benar-benar menyesal.
Tuan Romanov lalu memutar tubuhnya, tubuhnya saat ini membelakangi Harry. Ia lalu memasukkan kedua tangannya ke kantong celananya dan menghela napasnya pelan.
Merasa tidak ada tanggapan apapun, Harry bergerak lebih mendekat pada tuan Romanov.
"Saya berjanji tuan! Ini akan menjadi insiden pertama dan terakhir yang pemuda itu lakukan." ujar Harry lagi.
Tuan Romanov masih terus diam. Dia tidak berniat menjawab kalimat Harry dan terus mencerna semua yang baru saja Harry katakan padanya, sementara punggungnya masih terus membelakangi karyawannya kesayangannya itu.
Tuan Romanov mengusap wajahnya kasar. Setelah kejadian yang terjadi barusan, entah kenapa ia merasa ada sesuatu hal yang bergejolak di hati dan pikirannya dan itu jelas sudah mengusiknya.
Dan entah harus membuatnya senang atau sedih.
Tuan Romanov kembali menghela napasnya kasar baru kemudian tubuhnya kembali berbalik, menatap datar pada Harry yang terlihat masih menunggunya untuk mengatakan sesuatu.
"Pemuda itu," ujar tuan Romanov tiba-tiba membuat Harry bereaksi. "Siapa namanya?"
"Ya?"
"Anak itu! Maksudku, pemuda yang tadi menabrak dan menumpahkan minuman pada pakaianku, siapa namanya?"
Harry menatap bingung pada tuan Romanov. "Tapi kenapa anda-"
"Jawab saja!" sentak tuan Romanov memotong pertanyaan Harry dan membuat pemuda itu seketika langsung tersentak.
Harry dapat melihat dengan jelas tuan Romanov yang saat ini tengah menatapnya tajam, atasan itu terlihat jelas seperti sedang menunggu jawaban darinya. Harry menelan air ludahnya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan itu.
"Justin, tuan," jawab Harry. "Namanya Justin Kim!"
Tuan Romanov sebenarnya sudah tahu nama pemuda itu. Ia hanya ingin memastikan jika mereka memang orang yang sama.
"Asalnya?"
__ADS_1
Harry semakin mengernyit. "Saya tidak menge--"
"Maksudku dari kota mana dia berasal?" tanya tuan Romanov berujar dengan nada penasaran. "Kau terlihat sangat melindunginya. Aku jadi penasaran, apa sebenarnya hubunganmu dengannya."
Saat ini Harry semakin kebingungan mendengar pertanyaan dari tuan Romanov itu. Namun dia tetap saja berusaha menjawab pertanyaan dari atasannya itu dengan tenang.
"Dia berasal dari kota ini, tuan." jawabnya pelan. Dan setelah itu Harry diam untuk beberapa saat, baru kemudian kembali melanjutkan kalimatnya. "Justin, dia adalah adik kelas saya semasa saya masih SMA dan saat ini dia juga menjadi junior di kampus yang sama dengan saya."
Tuan Romanov terdiam sebentar, terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. "Kau bilang tadi dia baru bekerja selama sehari di sini?"
Harry mengangguk. "Benar tuan, dia bahkan baru masuk tadi siang."
Tuan Romanov menganggukkan kepalanya mengerti.
"Apa anda akan memecatnya tuan?" tanya Harry namun tidak ada jawaban apapun dari tuan Romanov. Majikannya itu hanya diam seperti memikirkan sesuatu yang amat penting.
Melihat keterdiaman sang atasan, Harry menghela nafasnya pelan. "Tuan, saya hanya mencoba membantunya bekerja di sini karena dia tidak punya pekerjaan, jadi--"
"Lalu kenapa aku belum mendapat laporan apapun tentangnya? Bukankah kau bilang dia karyawan baru?" tanya tuan Romanov sambil menaikkan sebelah alisnya heran.
Harry mengangguk, "Ya, tuan. Masalah itu-"
"I-itu..." Harry menelan ludahnya kasar. "Dia baru masuk hari ini tuan! Tidak sempat memberikan surat lamarannya. Tapi dia akan segera menyerahkan CV nya pada saya!"
Tuan Romanov kemudian teringat perkataan Harry beberapa hari lalu di telepon.
Dan ya, Harry memang sempat menghubunginya dan meminta izin padanya untuk memasukan satu orang temannya di posisi pelayan dan dia juga ingat saat menyetujui permintaan Harry itu.
Apa itu artinya pemuda itu?
Tuan Romanov menoleh pada Harry. "Apa dia orang yang kau ceritakan padaku di telepon waktu itu. Apa dia pemuda yang kau bilang sudah tidak punya orang tua dan harus bekerja keras untuk hidupnya?"
Harry menunduk kemudian menganggukkan kepalanya pelan. "Ya, benar, tuan. Dia orangnya!"
Seketika tuan Romanov kembali terdiam, sama sekali tidak melihat lagi ke arah Harry. Ia mengusap wajahnya kasar. Jujur saja, ia benar-benar terlihat sedikit kacau sekarang.
"Keluarlah!" perintah tuan Romanov kemudian.
__ADS_1
"Apa tuan?" mendengar perintah itu Harry tampak terkejut. Harry menatap tuan Romanov yang ternyata juga tengah menatapnya dengan tatapan tajam... lagi!
Harry mengernyit heran.
Apa hanya itu?
Hei, tunggu dulu. Tuan Romanov bahkan tidak mengatakan apapun lagi padanya. Atasannya itu hanya bertanya tempat asal Justin saja? Lalu bagaimana dengan nasib Justin setelah ini? Sementara Harry bahkan belum menyelesaikan kalimat pembelaannya untuk Justin. Dia tentu tidak mau Justin di pecat karena masalah ini.
"Keluar!" perintah tuan Romanov lagi dengan nada tajam. "Aku sudah memerintahmu dua kali, Harry! Dan jangan sampai kau membuatku sampai harus mengatakannya sampai tiga kali."
Harry dengan cepat mengangguk patuh kemudian beranjak keluar dari kantor. Namun ia menghentikan langkahnya tepat di dekat pintu.
"Apa anda mau saya memecatnya, tuan?" tanya Harry mencoba memastikan keputusan akhir atasannya itu.
Tuan Romanov menggelengkan kepalannya pelan. "Berani kau memecatnya, itu artinya kau juga akan ku pecat!"
Harry tersentak kaget, namun tetap menurut. Ia menganggukkan kepalanya pelan kemudian kembali melanjutkan langkahnya dan keluar dari ruangan kantor itu, menyisakan tuan Romanov yang kini terlihat sedikit gusar.
Tuan Romanov menghela nafasnya dan kembali mengusap wajahnya kasar.
"Dia, memang pemuda yang waktu itu..." gumamnya pada diri sendiri. "Dia pemuda yang aku tabrak waktu itu...dia ada sini... berdiri di hadapanku... dia bahkan bekerja untukku..."
Ya, pemuda itu!
Pemuda yang beberapa saat lalu sudah tanpa sengaja menumpahkan minuman kepadanya. Pemuda itu adalah pemuda yang sama dengan yang ia tabrak beberapa hari lalu di jalan.
Pemuda yang bahkan tidak marah ataupun kesal karena di tabrak tapi malah khawatir pada keadaan orang yang menabraknya.
Dan yang menjadi alasan utama tuan Romanov sejak awal tidak marah pada pemuda itu adalah karena ia masih mengenal dengan jelas wajah dari pemuda itu. Namun sepertinya pemuda itu tidak mengenalinya sama sekali.
Tapi tunggu dulu, bagaimana bisa?
Bagaimana bisa pemuda itu tiba-tiba bisa kembali muncul di hadapannya saat ini. Padahal selama ini dia sudah mencari-cari keberadaan pemuda itu.
Tuan Romanov mengusap wajahnya kasar. "Harry bilang dia anak yatim piatu?"
"Ck, permainan macam apa ini?" tuan Romanov meruntuki dirinya sendiri. "Aku sudah sangat bersalah pada pemuda itu."
__ADS_1
"Justin Kim! Siapa kau sebenarnya."
***