
Kini Charlotte sudah tak lagi terjebak di padatnya kemacetan. Ia tengah berada di dalam mobil di depan sebuah kafe, berniat membeli segelas kopi untuk mencegah rasa kantuk yang mulai menyerangnya.
Setelah mematikan mesin mobilnya, Charlotte mengemasi barang-barang pribadinya dan bersiap untuk keluar.
Namun ia menghentikkan gerakannya saat merasakan ponselnya bergetar tanda notifikasi pesan masuk.
Charlotte menarik benda pipih itu dari dalam tasnya dan dengan cepat membuka pesan teks yang ternyata dikirimkan oleh Ceo agensinya.
'Artikelnya sudah keluar...' pesan itu berbunyi.
Charlotte menaikkan sebelah alisnya dan segera membuka internet untuk mencari namanya sendiri.
Detik selanjutnya, ia langsung tersenyum saat membaca headline berita yang baru saja tersebar di internet.
'Charlotte clinton, di kabarkan menjadi brand ambasador produk merk ***.'
Charlotte yakin pada saat ini sosial medianya pasti akan ramai dengan ucapan dari para penggemarnya.
Tentu saja, pasalnya merek kali ini adalah sebuah merek global dan dia sudah berhasil menjadi Brand Ambasador dari produk itu.
Charlotte tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
"Yah, apalagi yang bisa ku katakan. Aku memang sangat berbakat." gumamnya.
Sebenarnya ini adalah hal biasa bagi Charlotte. Tapi tetap saja ia merasakan senang di hatinya karena kali ini Charlotte juga membawa nama negara dengan menjadi satu-satunya model dari negara ini yang di pilih sebagai Brand Ambasador.
Bagi Charlotte, mencari namanya di Internet seperti ini sudah merupakan kebiasaan. Sudah seperti candu yang membuat dirinya tak bisa berhenti melakukannya.
Charlote tersenyum kemudian membuka pintu mobilnya. Ia melangkahkan kakinya melalui parkiran menuju kafe sambil terus menatap layar ponselnya untuk membaca isi dari artikel itu.
Charlotte berjalan masuk ke dalam kafe, setelah sebelumnya mendorong pintu kaca. Charlotte lalu mendekat ke meja barista untuk memesan sesuatu.
"Aku pesan satu gelas Cappucino!" ucapnya pada pegawai yang ada di hadapannya tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.
"Baik. Yang panas atau dingin, nona?"
"Yang panas saja." ujar Charlotte masih terus menatap layar ponselnya.
"Tunggu dulu anda kan-"
Suara dari pegawai kafe itu membuat Charlotte mendongak dan sontak menatap kaget pada pemuda yang berdiri di hadapannya.
"Justin Kim?" ujarnya.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Selama beberapa detik, tak ada satu pun dari mereka yang bicara. Mereka berdua hanya saling menatap mata satu sama lain.
"Ehm." Justin tersadar lebih dahulu dan berdehem pelan untuk memecah kesunyian.
"Apa anda ingin kopi yang panas, nona?" Justin kembali bertanya, meskipun segalanya terasa canggung bagi mereka.
Charlotte dengan cepat berkedip, menyadarkan dirinya sendiri dari keterkejutan. "Ah... aku... ya... panas."
"A-apa ada yang lain?" tanya Justin lagi. Ia bicara dengan agak tergagap. Sejujurnya, itu mungkin karena dia merasa agak gugup sekarang, entah kenapa.
"Tidak." Charlotte menggeleng sambil terkekeh dengan canggung. "Aku hanya ingin itu saja."
__ADS_1
"Baik. Apa anda ingin minum di sini, nona?" tanya Justin, menatap Charlotte masih dengan canggung, menunggu jawaban dari gadis itu.
Charlotte tampak berpikir sebentar lalu kembali menatap pemuda itu.
"Aku bawa pulang saja." jawab Charlotte sambil menyerahkan uang seratus ribu.
"Baiklah..." Justin mengangguk sambil meraih uang itu dan segera membuatkan pesanan.
Charlotte menatap kegiatan Justin yang tengah sibuk membuat kopi. Ia terbatuk canggung sambil meletakkan ponselnya ke dalam kantung jaketnya.
"Ngomong-ngomong..." Charlotte berujar dengan raut wajah ragu. "Aku baru tahu kau bekerja di sini?"
"Hm, ya aku memang baru bekerja di tempat ini. Sebernarnya hanya untuk siang hari saja. Aku bekerja di sini setelah kuliah."
Jawaban Justin itu justru membuat Charlotte jadi merasa kebingungan.
"Apa kau berhenti mengantar ayam?" tanya Charlotte.
"Tidak. Aku masih tetap jadi kurir. Aku bekerja sebagai kurir hanya di malam hari saja." jelas Justin. "Sebenarnya ini adalah hari kedua aku bekerja di sini.".
Charlotte yang mendengar itu sontak saja semakin mengerutkan keningnya. Meski begitu, ia tetap mengangguki ucapan Justin.
"Ah begitu rupanya... " jawab Charlotte.
Charlotte diam selama beberapa detik sebelum kemudian dia menunjuk Justin dengan dagunya.
"Jadi... kenapa kau ada di sini? Maksudku... kau bekerja di sini. Dan restoran milik kakekku... bagaimana... dengan itu."
Justin menghentikkan gerakannya. Ia menghela napasnya perlahan saat mendengar pertanyaan Charlotte padanya. Ia tahu kalau nona muda itu pasti mencoba untuk membahas pekerjaannya di kafe milik kakeknya.
"Untuk masalah itu..."
Justin menghela kembali napasnya.
"Sebenarnya, saya memutuskan untuk berhenti bekerja dari sana," jawab Justin pada akhirnya.
"Ah, kau... berhenti?" ujar Charlotte sebagai tanggapan. Entah kenapa ada rasa kecewa di hatinya setelah mengetahui fakta itu. Ia mencoba menganggukkan kepalanya. "Begitu rupanya..."
"Tapi... apa kakekku tau tentang ini?"
Justin mengernyit bingung. "Tentang ini?"
"Maksudku... tentang kau yang memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanmu di kafe milik kakekku."
"Masalah itu... Tidak. Kakek anda belum tau, nona." Justin menggeleng. "Tapi kakek akan segera tau karena saya telah menitipkan surat pengunduran diri saya pada Harry. Manajer disana."
"Begitu..." Charlotte mengangguk paham seraya tersenyum tipis.
Justin mengangguk dan kembali fokus pada pekerjaannya sementara Charlotte hanya diam dan menunggu.
Sambil menunggu minumannya siap, Charlotte melirik ke kanan dan kirinya, memantau ke sekeliling kafe itu.
Di detik itu juga, Charlotte tiba-tiba saja menyadari sesuatu. Pembeli yang ada di kafe itu adalah wanita. Seluruhnya adalah wanita. Dan Charlotte bisa melihat dengan jelas kalau mereka tengah... menatap Justin.
Charlotte melirik Justin yang tengah fokus membuat kopi pesanannya. Setelah itu Charlotte melihat kembali ke para pengunjung itu.
'Apa-apaan ini. Kenapa mereka menatap Justin seperti itu?' batin Charlotte.
Di dekatnya, terlihat dua orang gadis yang tengah duduk di meja dan sesekali melirik ke arah Justin yang masih fokus pada mesin kopinya. Dua gadis itu bahkan berbisik-bisik seperti sedang membicarakan Justin.
Awalnya Charlotte tak yakin, tapi semakin lama ia percaya kalau para gadis itu memang sedang melirik-lirik Justin. Beberapa dari mereka bahkan menatap Justin dengan tatapan tergila-gila.
__ADS_1
'Kenapa para gadis itu menatap Justin dengan tatapan aneh seperti itu? Apa mereka mencoba menggoda bocah ini?' batin Charlotte sewot.
Charlotte kemudian mendecih kesal.
"Sial… jika memang mereka menyukai Justin, itu jelas tidak bagus. Karena artinya aku tidak sedang berjuang sendirian untuk mendapatkan bocah ini." gumamnya kesal.
Charlotte diam untuk sejenak.
'Ck, lihat saja tatapan para gadis itu. Menjijikan.' batin Charlotte lagi dengan ekspresi kesal.
Sangat tidak baik kalau Justin berada di sini. Para gadis itu bisa mengganggunya nanti. Menggoda Justin. Dan membuat Justin jadi sulit ia dekati.
"Nona, pesanan anda sudah siap."
Lamunan Charlotte terpecah saat Justin mengajaknya bicara.
"Ah, iya."
"Ini kembaliannya." ujar Justin sembari menyodorkan secangkir kopi dan uang kembalian milik Charlotte.
Setelah menerima kopi dan kembalian, Charlotte manatap Justin selama beberapa detik.
Tak lama kemudian, mulut Charlotte sedikit menganga. Charlotte seakan ingin mengatakan sesuatu pada pemuda di hadapannya ini, tapi entah kenapa suaranya tertahan. Ego-nya lah yang sudah menahan perkataan yang akan keluar dari mulutnya.
"Kalau begitu selamat tinggal. Terimakasih sudah mampir." ujar Justin pada akhirnya, membuat Charlotte dengan pasrah menganggukkan kepalanya dan melangkah pergi dari kafe itu dengan langkah enggan.
Charlotte terus melangkah keluar dari kafe dengan langkah menghentak, ia tak peduli lagi dengan kondisi sepatu hak yang ia kenakan saat ini."
Sampai di dekat mobilnya Charlotte berbalik, menatap bangunan kafe tadi dengan tatapan sengit.
"Apa-apaan ini? Kenapa dia pindah bekerja kesini?"
"Memangnya apa beratnya bekerja di kafe kakekku? Kenapa dia tidak betah?"
Charlotte merasa kesal karena mengetahui Justin sudah bukan anak buah sang kakek lagi. Itu jelas membuat kesempatannya yang terbuka lebar untuk mendekati Justin menjadi berkurang.
Ia benar-benar tak habis pikir. Kenapa Justin memilih pergi. Padahal setahu Charlotte, gaji di kafe milik kakeknya sangat tinggi. Bahkan jauh lebih tinggi untuk kalangan para pekerja paruh waktu seperti Justin.
"Kami pasti akan jarang bertemu lagi setelah ini." gumam Charlotte kesal. "Padahal aku berencana untuk bertemu dengannya setiap hari di kafe kakek."
"Dan bukankah kakek juga terobsesi dengannya, sama sepertiku. Lantas kenapa kakek tidak melarangnya. Apa Harry belum memberitahu kakek?" gumam Charlotte.
Charlotte kemudian meringsek masuk dan duduk di kursi mobilnya. Ia meletakkan gelas kopinya kemudian membenarkan posisi duduknya yang tidak pas.
Detik selanjutnya Charlotte kembali membenarkan posisi duduknya. Dan berkali-kali seperti itu. Ya, Charlotte benar-benar merasa tidak tenang sekarang. Sangat resah. Bahkan sudah beberapa kali terdengar suara gerutuan tak jelas dari mulutnya.
Charlotte menghela napas, raut wajahnya tampak kesal. Ia tak rela Justin pergi begitu saja seperti ini. Charlotte bahkan belum melakukan apapun untuk mendekatinya. Meneleponnya saja belum. Tapi pemuda itu sudah lebih dahulu menjauh darinya.
Ah, Charlotte benar-benar tak mau berada jauh dari pemuda itu. Tapi ia saat ini ia bisa apa? Keluar dari pekerjaan adalah hak pribadi seseorang.
Charlotte meraih lalu menenggak kopi yang baru ia beli. Sementara kedua matanya tetap fokus menatap pada gedung yang ada di hadapannya.
"Ayo Charlotte, cari cara..." Charlotte mengetuk-ketuk stir mobil yang ia pegang.
Charlotte menarik napas dalam-dalam sembari memejamkan kedua matanya, mencoba mencari ide yang bagus. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang cara apa yang bisa dia gunakan untuk tetap dekat dengan pemuda tampan itu.
"Si*l! Aku tidak mendapat ide apapun…" Charlotte menghela napasnya putus asa dan menghempaskan tubuhnya ke sandaran mobil. Dia benar-benar kesal karena sadar tidak bisa mendapat cara apapun agar mereka bisa terus berdekatan.
"Bagaimana ini?" Charlotte menggusak rambutnya frustasi.
***
__ADS_1