
Mobil yang mereka tumpangi itu melaju melewati jalanan dari halaman luas mansion mewah itu.
"Kita hampir sampai," kata Mario, ketika mobil itu melewati sebuah tikungan terakhir.
'Wah, megahnya!' batin Justin terkesan. Ia menatap lekat bangunan mansion milik tuan Romanov itu. Justin lalu menoleh pada Mario. "Apakah tuan Romanov tinggal di sana?"
"Ya, tentu saja. Saya juga tinggal di situ," jawab Mario sambil menatap bangunan megah itu, ucapannya sontak saja mengejutkan Justin. "Selain saya, semua pelayan yang kau temui disini juga tinggal di mansion itu."
"Bersama tuan Romanov?" tanya Justin.
"Bukan, maksud saya adalah mansion bagian belakang yang memang di khususkan untuk para pelayan." terang Mario.
"Khusus untuk pelayan? Ada yang seperti itu?" Justin menatap Mario.
Mario mengangguk, "Tuan Romanov memiliki mansion lainnya yang posisinya ada di belakang bangunan mansion ini. Ukurannya tak kalah besar dari yang ini, tapi tidak lebih mewah dan sangat cukup untuk tempat tinggal para pelayan dan juga pekerja di sini."
"Luar biasa." balas Justin. "Tentunya akan menyenangkan tinggal di tempat itu."
"Ya, sangat menyenangkan. Kau akan bertemu banyak orang setiap harinya." jawab Mario. "Kau juga bisa tinggal di situ kalau kau mau."
"Bersama para pelayan," tanya Justin antusias.
"Bukan. Maksudku di mansion utama, bersama tuan Romanov."
Justin sontak terkekeh. "Mana bisa seperti itu. Aku ini bahkan bukan siapa-siapa."
Mario hanya menanggapi ucapan pemuda itu dengan terkekeh kecil. Ia tau apa yang sudah tuan Romanov rencanakan untuk pemuda ini. Dan suatu saat Justin memang akan tinggal dengan tuan Romanov di mansion mewah itu. Dan itulah sebabnya ia mengatakan hal tadi pada Justin.
Tak lama kemudian, Mario lalu membelokkan mobil dengan tiba-tiba dan berhenti di halaman parkiran yang sangat luas. Justin mengikuti Mario keluar dari mobil setelah sebelumnya terlihat agak kesusahan membuka pintu mobil itu.
Begitu menginjakan kakinya di luar mobil, Justin langsung menatap ke sekitar halaman parkir itu. Hal pertama yang Justin perhatikan saat itu adalah belasan kendaraan yang tengah terparkir di halaman parkir itu. Jika di hitung, sepertinya ada sekitar dua belas mobil dan juga beberapa buah sepeda motor. Keluarga tuan Romanov pasti sangat kaya sehingga memiliki banyak sekali kendaraan seperti ini.
Dan apa ini? Bahkan parkirannya saja tertata dengan begitu rapi. Ada beberapa patung-patung hias berwarna putih yang berada di dekat halaman parkir itu. Sementara di dekat mereka juga terlihat pohon-pohon hias yang mengelilingi air mancur besar di tengah taman di depan bangunan mansion.
Sekarang Justin hanya berdiri diam, tubuhnya terpaku di tempatnya. Untuk beberapa saat ia melupakan keadaan dan hanya menikmati keindahan dari pemandangan yang ada di hadapannya itu. Semua terlihat seperti gambar. Taman, air mancur, rumahnya, bahkan jalan masuk yang ia lewati beberapa saat lalu terlihat begitu luar biasa. Semuanya benar-benar tertata rapi dan tidak pernah Justin lihat sebelumnya.
__ADS_1
Satu hal yang Justin sadari saat ini. Rumah itu begitu luar biasa. Tidak, ini bukan rumah, tapi ini adalah istana.
"Jadi inilah pemuda itu,"
Sebuah suara memecah lamunan Justin. Justin menoleh untuk melihat siapa yang baru saja berbicara. Seorang pria paruh baya tampak tengah melangkah mendekat ke arah mereka.
"Selamat sore, selamat datang di mansion. Sebelumnya perkenalkan, nama saya Paul, saya adalah asisten pribadi dari tuan Romanov. Anda ini pasti Justin Kim, seseorang yang di undang tuan Romanov untuk makan bersama malam ini."
"Selamat sore," kata Justin sambil membungkukkan setengah badannya. "Anda benar, saya Justin Kim."
"Apa tuan Romanov sudah pulang?" tanya Mario pada Paul.
Paul menganggukkan kepalanya. "Tuan Romanov sudah pulang dari pukul tiga sore tadi. Beliau tampak begitu antusias menyiapkan acara makan malam. Sejak tadi beliau bahkan menghabiskan waktu untuk berdiskusi dengan chef tentang menu yang akan di masak malam ini."
"Ah, apakah beliau sedang sibuk? Kalau begitu berarti saya tidak bisa bertemu dengan tuan Romanov sekarang?" ujar Justin.
"Tentu saja bisa." kata Paul.
"Baiklah sepertinya tugasku di sini sudah selesai. Aku akan pergi sekarang." ujar Mario pada Justin dan Paul. Justin membalas dengan tersenyum dan menganggukkan kepalanya mengerti.
"Baiklah... Mari, ikut dengan saya. Tuan Romanov pasti sudah tak sabar ingin bertemu denganmu. Saat ini beliau sedang ada di taman, sedang berkebun." ujar Paul sopan.
Paul kemudian mulai melangkahkan kakinya untuk menunjukkan jalan pada pemuda itu. Mereka menuju ke taman, tempat dimana sang majikan berada.
***
Paul menuntun Justin melewati jalan kecil yang ada di sebelah kanan mansion. Melalui pohon-pohon besar dan masuk terus hingga ke taman belakang mansion.
"Tuan Romanov suka berkebun di sini, beliau suka menanam tanaman seperti bunga, pohon buah dan tanaman lainnya." kata Paul menjelaskan. "Bukankah ini tempat yang indah?"
"Ah, ya." Justin mengangguk setuju. Baginya segala hal yang ada di mansion ini adalah hal yang indah dan juga luar biasa.
"Kau sudah datang, Justin?"
Dengan cepat Justin menoleh dan mendapati seorang pria paruh baya tengah memegang gunting tanaman. Itu tuan Romanov yang menatapnya dari depan sana dengan senyum sumringah.
__ADS_1
Justin tersenyum lalu menggaruk tengkuk belakangnya canggung. "Saya datang tuan."
Tuan Romanov meletakkan gunting tanaman yang ia pegang ke atas tanah. Ia lalu melepas sarung tangannya dan melangkah mendekati Justin.
"Ini masih satu jam lagi untuk makan malam, bukankah ini terlalu awal untuk datang? Kenapa tidak mengabari kakek kalau kau sudah tiba? Sudah berapa lama kau sampai?" tuan Romanov menghujani Justin dengan banyak sekali pertanyaan, dia sangat senang Justin datang kemari.
"A-aku baru saja sampai, tuan.." jawab Justin sekenanya.
Tuan Romanov tertawa renyah kemudian merangkul bahu Justin. "Kau pasti lelah kan?"
Justin menggeleng pelan. "ti-tidak, aku hanya sedikit bingung mencari alamatnya tadi.."jawab Justin gugup.
"Hm, kau harus menghafal jalan menuju rumah ini, karena mulai sekarang kau akan semakin sering kemari.."
"H-hah?" tanya Justin bingung.
"Ya, mulai hari ini dan seterusnya rumah ini adalah rumahmu juga!" kata tuan Romanov sembari tersenyum.
Justin membulat. "Bagaimana bisa tempat ini menjadi-"
"Karena makan malamnya masih satu jam lagi. Kalau begitu kau duduk saja dulu dan temani kakek sebentar di sini. Kakek akan menyelesaikan mengerjakan tanamannya baru setelah itu kita masuk ke dalam, bersiap untuk makan malamnya."
Tuan Romanov kemudian beralih pada Paul yang terlihat kagum pada kedekatan tuan Romanov dan Justin. Kedekatan mereka bahkan melebihi dengan kedua cucunya sendiri yang selama ini di ketahui memang selalu melawannya.
"Apa kedua cucu ku sudah datang?" tanya tuan Romanov pada Paul.
Paul tersentak dari lamunannya. "B-belum tuan. Tapi mereka mengatakan akan datang saat waktu sudah mendekati jam makan malam." jawab Paul, setelah itu matanya kembali fokus menatap Justin.
Tuan Romanov mengangguk kemudian kembali merangkul pundak Justin dan menggiringnya berjalan menuju ke kursi yang ada di taman itu.
"Duduk dulu dan temani kakek bekerja di sini," ujar tuan Romanov yang di balas anggukan oleh Justin.
Tuan Romanov beralih pada Paul, "Paul, kau uruslah dulu persiapan makan malamnya. Jangan sampai ada yang kurang."
"Baik tuan." ujar asistennya itu yang kemudian di balas anggukan oleh tuan Romanov hingga akhirnya sang asisten itu kemudian pergi.
__ADS_1
"Nah, kalau begitu kakek akan lanjutkan pekerjaan ini lebih dulu" ujar tuan Romanov memasang kembali sarung tangannya.
***