
Pagi itu, Xander sudah lebih dahulu duduk di meja makan, menikmati sarapannya yang terdiri dari roti tawar dan segelas jus jeruk kesukaannya.
Tak lama kemudian tuan Romanov datang dan ikut bergabung di meja makan diikuti Paul yang berjalan belakangnya sambil membawa jas mahal milik tuan Romanov di tangannya.
"Pagi kakek!" Xander langsung berdiri, memberi sapaan pada tuan Romanov sambil menunduk sopan.
"Pagi Xander!" Tuan Romanov membalas sapaan itu dengan anggukan kecil di sertai senyuman. Ia lalu ikut duduk di hadapan Xander dan mulai mengambil irisan roti tawar di atas meja. Sementara seorang pelayan langsung mendekat untuk menuangkan jus ke gelas yang ada di hadapan tuan Romanov.
"Kau akan kuliah?" tanya tuan Romanov melirik tas ransel milik Xander yang tergantung di sandaran kursi milik pemuda itu.
"Ya, kakek!"
Tuan Romanov melirik jam yang berada di dinding ruangan itu. "Bukankah ini masih terlalu pagi untuk berangkat?" tanya tuan Romanov.
Pertanyaan itu sontak membuat Xander menatap jam di pergelangan tangannya. Ia lalu mengangguk pelan. "Ya kakek! Jam kuliah dimulai lebih awal, sekitar satu jam lagi. Aku sedang menunggu Charlotte sekarang, kek!"
Tuan Romanov tampak menghela nafas, "Jam segini, dia pasti masih tidur. Anak itu benar-benar menyusahkan!" omel tuan Romanov yang langsung di balas Xander dengan senyuman kecil.
"Aku sudah meminta pelayan untuk membangunkan nya beberapa menit yang lalu, kek! Dia pasti sedang bersiap sekarang," jelas Xander. Tuan Romanov langsung mengangguk paham.
Setelah itu, keadaan di meja makan kembali menjadi hening. Kedua orang itu sibuk menikmati sarapan mereka masing-masing.
"Xander, bisakah kau tidak pergi ke kampus hari ini?" ujar tuan Romanov tiba-tiba.
Mendengar perkataan sang kakek, Xander berhenti mengunyah roti di tangannya. Ia menatap pria paruh baya itu dengan kening berkerut. "Tidak pergi ke kampus? Memangnya ada apa, kek?"
"Bisakah pagi ini kau ikut dengan kakek!" ujar tuan Romanov bertanya lalu menyeruput jus jeruk miliknya.
Xander meletakkan roti tawar di tangannya ke atas piring dan menatap tuan Romanov dengan serius. "Ikut dengan kakek? Tapi ikut kemana?"
"Kakek akan memberitahumu nanti." tuan Romanov terdengar misterius.
"Tapi hari ini di kampus akan ada-" ucapan Xander terpotong saat melihat tuan Romanov mengangkat tangannya agar Xander berhenti bicara.
"Tidak apa, Xander! Kakek tadi sudah menghubungi langsung pihak kampus dan meminta izin untukmu hari ini."
Xander mengernyit. "Meminta izin?"
__ADS_1
"Ya." tuan Romanov mengangguk. "Izin kalau kau tidak perlu ke kampus karena kau akan ikut denganku hari ini."
"Dan pihak kampus juga sudah mengizinkan. Jadi tidak akan jadi masalah jika kau tidak hadir di mata kuliahmu." ujar tuan Romanov sambil mengoleskan selai di atas roti tawar miliknya.
Xander menatap tuan Romanov dengan ekspresi bingung. "Kakek meminta izin? Tapi bukankah kampus itu milik kakek sendiri?"
Satu fakta, kampus yang menjadi tempat Charlotte dan Xander berkuliah saat ini adalah kampus swasta terbaik yang juga adalah milik tuan Romanov.
"Kampus itu memang milik kakek. Tapi apa kau lupa kalau kakek pernah mengajarimu untuk tidak memanfaatkan kekuasaan yang kau miliki?"
"Ah, ya kakek! Maafkan aku." ucap Xander pelan.
"Ini adalah izin pertamamu selama kau kuliah di sana bukan?" tanya tuan Romanov sambil menggigit roti tawar di tangannya.
Xander memutar bola matanya mencoba mengingat-ingat. Ia lalu mengangguk. "Ya kakek, seingatku, aku tidak pernah mengambil izin satu kalipun selama lima semester."
"Ya. Aku sudah tau tentang itu semua!" ujar tuan Romanov sambil tersenyum bangga.
"Kakek sudah tau?" tanya Xander terkejut. Ia bingung bagaimana caranya tuan Romanov tahu, padahal ia sama sekali tidak pernah memberitahunya. Selain itu mereka bahkan tidak pernah bertemu selama lima tahun belakangan ini.
Tuan Romanov mengangguk. "Tentu saja kakek tau. Selama ini kakek bukannya tidak mengintai kegiatan kalian. Kakek bahkan tau apa yang kau dan Charlotte lakukan setiap hari."
Tuan Romanov kembali melanjutkan. "Para dosen sangat sering mengatakan padaku betapa luar biasanya dirimu. Nilaimu, kecerdasan dan juga atitude mu. Itu membuat semua dosen di kampus sangat menyukaimu. Kau mahasiswa teladan." lanjut tuan Romanov panjang lebar.
Mendengar pujian dari tuan Romanov itu, Xander hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia merasa malu dan tidak tau harus bereaksi seperti apa saat ini.
"Terima kasih kakek!" ujarnya pelan, namun masih bisa di dengar jelas oleh pria tua itu.
Tuan Romanov lalu tersenyum. "Bukan kau, tapi aku-lah yang harus mengucapkan terima kasih padamu karena selama ini kau sudah berusaha mati-matian dalam menjaga nama baikku."
"Itu sudah kewajibanku kek!" jawab Xander tersenyum, membalas senyuman sang kakek. "Hal itu bahkan belum cukup untuk membalas semua kebaikan kakek."
Tuan Romanov mengangguk-anggukan kepalanya lalu kembali menyeruput jus miliknya yang kini hanya tinggal setengah. Ia kemudian bangkit dari posisinya.
"Kita pergi sekarang, Xander!" kalimat perintah itu dengan tegas keluar dari mulut tuan Romanov.
Paul yang sejak tadi berdiri di dekat mereka segera menyerahkan jas milik tuan Romanov dan membantu sang majikan mengenakannya.
__ADS_1
Xander sendiri langsung mengangguk patuh, menanggapi perintah sang kakek yang sebenarnya sempat membuatnya terkejut. Ia mengambil sisa roti tawar miliknya dan turut bangkit dari posisinya untuk segera mengikuti tuan Romanov yang kini sudah melangkah keluar.
"Tapi kita mau kemana, kakek?" tanya Xander sambil memasukkan sisa roti tawar terakhir miliknya ke dalam mulut.
"Kau akan menemaniku untuk mengecek beberapa pabrik hari ini." ujar tuan Romanov sambil terus berjalan menuruni deretan anak tangga, keluar dari mansion.
Xander hanya mengangguk. Ia terus mengikuti tuan Romanov yang saat ini tengah berjalan menuju mobil.
Saat di dekat mobil, Xander menatap sekeliling dan merasa heran ketika tidak mendapati Mario, bodyguard kesayangan tuan Romanov yang biasanya sering berada di dekat sang kakek. Mario adalah satu-satunya orang yang selalu mengikuti pria paruhbaya itu kemanapun, namun kini ia justru tidak terlihat.
"Aku tidak melihat bodyguard kakek?" tanya Xander masih menoleh ke sekelilingnya.
"Siapa, Mario?" balas tuan Romanov, Xander lalu mengangguk sebagai jawaban.
"Ya, dimana dia, kek?"
"Dia tidak akan ikut menemaniku hari ini." jawab tuan Romanov tenang. "Aku sudah menugaskannya untuk mengurus beberapa pertemuan di kantor utama, jadi hanya kau-lah yang akan menemaniku."
"Hari ini aku membawamu ke pabrik karena aku ingin memperkenalkanmu dengan para karyawanku. Mereka harus mengenal wajah calon pemimpin mereka nanti." ucap tuan Romanov.
Xander hanya diam, tidak menanggapi apapun atas perkataan sang kakek. Ia kemudian melirik pria paruh baya itu sekilas. Ia menunduk. Entah kenapa ucapan kakeknya itu justru membuatnya merasa canggung sendiri saat ini. Bayangkan saja, dia bahkan belum mengetahui apapun tentang perusahaan itu, namun pria di hadapannya ini sudah menyebutnya sebagai 'calon pemimpin'.
Tuan Romanov tersenyum melihat tingkah canggung Xander. "Tenang saja, aku hanya bercanda. Hari ini aku hanya ingin memperkenalkan mu dengan para karyawan. Ini tidak ada hubungannya dengan pergantian pemimpin utama yang aku katakan semalam. Lagipula masih terlalu awal bagimu untuk hal itu." jelas tuan Romanov.
Xander menggaruk tengkuknya sambil tersenyum malu. Ia tidak menyangka kalau sang kakek saat ini sedang mencoba mengerjainya.
Diam-diam Xander berbalik, menatap bangunan mansion di belakangnya, tepatnya menatap pada pintu utama mansion mewah itu. Ia kemudian teringat jika tadi ia tengah menunggu Charlotte yang sedang bersiap untuk pergi ke kampus.
"Kakek, apa Charlotte tahu kalau aku--"
"Tidak. Dia belum tahu!" potong tuan Romanov dengan cepat. "Dia pasti akan mengamuk jika tahu aku membawamu. Tapi, aku sudah memerintahkan Paul untuk memberitahunya saat dia mencarimu nanti!"
Xander mengangguk mengerti. "Baiklah!"
"Oke. Bisa kita masuk ke dalam mobil sekarang?" ucap tuan Romanov sambil bergegas masuk ke dalam mobilnya. "Oh ya, kita tidak membawa supir hari ini."
"Ya, kakek!" jawab Xander lalu berjalan mengikuti tuan Romanov yang saat ini sudah hendak memasuki mobil. Xander berjalan menuju kursi pengemudi. "Em, karena kita tidak memakai supir, biar aku saja yang akan menyetir."
__ADS_1
"Ya!" tuan Romanov tersenyum.
***