Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
9


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu semalaman di kamar hotel itu. Di sinilah Charlotte sekarang, di dalam kamar hotel berduaan dengan pemuda itu.


Charlotte turun dari atas tempat tidur setelah semalaman tidur berdua dengan Victor di kamar hotel. Ia melangkahkan kakinya menyusuri kamar itu, menuju kamar mandi kamar hotel itu.


Beberapa menit kemudian barulah Charlotte keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar sambil sesekali mengencangkan tali pada jubah mandinya.


"Bagaimana Charlotte?" suara itu membuat Charlotte sontak menghentikkan kegiatannya.


Charlotte menoleh dan menaikkan sebelah alisnya heran. "Bagaimana apanya?"


"Dengan kita?"


Bukannya menjawab Charlotte malah melipat kedua tangannya di dada dan menatap sebal pada lelaki itu. "Apa sebenarnya maksudmu? Bicara yang jelas!"


Victor berdecak kemudian tersenyum.


"Ck, kau tahu pasti apa yang baru saja aku maksud, Lottie!" ujar Victor bangun dari posisi berbaringnya kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur.


"Tentang semalam?"


"Hm."


Charlotte mendecih lalu menganggukkan kepalanya angkuh.


"Aku bisa mengakui kalau selama ini memang tidak banyak lelaki yang bisa membuatku merasa puas. Tapi kau... kau itu masuk kategori lumayan."


Pemuda tampan itu menyeringai kemudian menggeleng dengan senyum sinis.


"Lumayan kau bilang? Ayolah! Aku justru berpikir kalau aku ini masuk dalam kategori luar biasa."


"Apa?" mata Charlotte menyipit. "Luar biasa?"


"Ya, luar biasa. Itu karena aku sudah melakukannya dengan baik denganmu bahkan bukan hanya satu ronde."


"Oh ya?"


"Hm..." Victor mengangguk santai. "Karena menurut rumor yang aku dengar, kau ini selalu suka berhenti secara sepihak bahkan saat para pasanganmu itu belum memulai apapun."


Charlotte menggedikkan bahunya acuh.


"Ya! Itu memang benar." Charlotte mengangguk dan langsung membuat pemuda itu tersenyum bangga.


Pemuda tampan itu menyibak selimut, menampilkan tubuh atletisnya. Kemudian dengan bertelanjang dada Victor mulai bergerak turun dari ranjang, mencoba untuk mendekat pada Charlotte yang kini tengah menatapnya dengan tangan menyilang di depan dada.


"Jadi bagaimana? Apa menurutmu aku ini patut lolos buat jadi pacarmu?" tanya Victor.


"Apa?" Charlotte menaikkan sebalah alisnya. Dahinya terlihat mengernyit karena heran. Ia menatap Victor yang saat ini sudah berada tepat di hadapannya. "Kau bilang jadi pacarku?"


Victor mengangguk. "Aku lolos kan?"


Charlotte memutar tubuhnya, berjalan menuju meja hias dimana terdapat cermin besar di atasnya. Ia menatap pantulan dirinya melalui cermin besar di hadapannya itu.


Melalui cermin besar itu pula, Charlotte bisa melihat pantulan dari pemuda tampan yang saat ini tengah berdiri belakangnya untuk menunggu jawaban darinya itu.


Charlotte tersenyum meremehkan pada Victor.


"Kau itu bisa pergi sekarang!" ujar Charlotte dengan nada dingin.


Mendengar jawaban mengejutkan dari gadis itu, Victor langsung membulatkan matanya. "A-apa?"


"Aku rasa urusan kita sudah selesai!" ujar Charlotte tanpa menjawab pertanyaan Victor barusan.


"Apa kau bilang?" Victor terus mengulang pertanyaannya.

__ADS_1


"Ternyata kau ini tuli ya?" Charlotte menatap Victor dengan tatapan mencibir. "Aku bilang kau bisa pergi sekarang karena urusan kita sudah selesai. Ah, dan juga... aku berharap setelah hari ini kita nggak akan pernah bertemu lagi."


Victor tertegun beberapa saat. "Ta-tapi aku kan sudah-"


"Sudah apa?" Charlotte memutar tubuhnya menghadap ke arah Victor, menaikkan sebelah alisnya dan menatap pemuda itu dengan tatapan sinis.


"Kita ini kan sudah-"


"Oke, oke," potong Charlotte mengangkat tangannya untuk memotong ucapan pemuda itu. "Gue tahu kalau saat ini elo sedang berusaha dan mencoba untuk membanggakan diri lo sendiri atas apa yang baru aja kita lakuin."


Charlotte lalu menatap sinis pada pemuda itu sambil terus melanjutkan kalimatnya. "Tapi satu hal yang kau lupa, Victor... aku ini... Charlotte Clinton. Aku bukan gadis sembarangan! Dan aku jelas nggak akan asal-asalan menjadikan orang lain sebagai pacarku!" tegas Charlotte.


"Jadi maksudnya kita nggak bakal pacaran? Kalau begitu apa kita hanya-


"Berhenti bicara, Victor! Aku masih belum selesai bicara denganmu." Charlotte mengibaskan tangannya acuh.


"Lottie, aku-"


Charlotte dengan cepat meletakkan jari telunjuknya sendiri ke bibir cantiknya. "Sssttt... diamlah dan biarkan aku menyelesaikan kalimatku lebih dulu!"


Dengan tenang, Charlotte kemudian berjalan ke arah Victor. Ia lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Victor dan membisikkan sesuatu ke telinga pemuda itu.


"Jadi biar aku perjelas semuanya untukmu sekarang, Victor! Disini, kau dan aku, hubungan kita ini hanya sebatas teman tidur! Dan kau.. heumm..." Charlotte menatap Victor dari atas ke bawah. "Kau ini tentunya hanya seorang pria yang menemaniku tidur. Itu pun hanya untuk satu kali ini saja, tak lebih!"


"Lagipula, kau ini juga bukan tipe lelaki yang cocok untuk bisa jadi kekasihku, kalau kau mau tau?" tambah Charlotte.


Semua perkataan yang keluar dari mulut Charlotte itu sukses membuat mulut Victor menganga lebar. Pemuda itu hanya bisa menatap tak percaya pada Charlotte.


"Dengar!" Victor menatap Charlotte. "Aku tak masalah kalau pun diriku tak jadi kekasihmu. Tapi bisakah kita main satu ronde terakhir di pagi ini?"


"Tentu tidak." ujar Charlotte mendecih santai. "Aku sibuk untuk hari ini."


Victor menggeram kesal.


Charlotte benar-benar emosi mendapat perlakuan kasar dari pemuda itu.


"Lepaskan tanganku, bodoh!" pekik Charlotte kesal sembari mencoba untuk memberontak.


Victor mendorong tubuh Charlotte hingga telentang ke atas ranjang lalu mulai mencium paksa bibir Charlotte, membuat gadis itu semakin terkejut.


Charlotte yang tengah telentang mencoba meronta atas perlakuan pemuda itu. Ia lalu menendang perut Victor dengan sekuat tenaganya hingga pemuda itu terjungkal dari atas ranjang dan jatuh ke atas lantai.


Charlotte diam-diam memang menguasai sedikit ilmu bela diri yang di ajarkan Xander kepadanya. Setidaknya ia mampu menendang seseorang dalam keadaan terdesak.


"Sial*n!" umpat Charlotte emosi langsung bangkit dari tempat tidur. Dengan cepat kakinya menendang 'bola' milik Victor hingga pemuda itu mengaduh kesakitan sambil memegangi 'milik'nya.


Charlotte hanya berdiri di posisinya, menatap Victor dengan tatapan tajamnya. Ia bahkan sama sekali tak peduli saat melihat Victor yang saat ini tengah terbaring di atas lantai sambil terus mengaduh kesakitan.


"Apa yang coba kau lakukan padaku, hah?" ujar Charlotte kesal.


Victor yang sudah tersungkur di lantai hanya bisa menatap kaku pada Charlotte. Ia benar-benar tidak menyangka kalau gadis itu bisa mempunyai kekuatan sebesar itu untuk menendangnya hingga terjungkal.


Victor meringis kesakitan "Aku tadi hanya ingin-"


Charlotte melipat kedua tangannya, menatap Victor dengan tatapan sinis.


"Kau ingin apa, hah?" Charlotte tertawa sinis sambil memperhatikan tubuh berotot milik Victor yang menurutnya tidak ada gunanya itu. Charlotte mengusap bibirnya. "Asal kau tahu saja, Victor! Ciumanmu itu sangatlah buruk. Benar-benar terasa buruk sekali. Pergilah!"


"Tapi Lottie, kita-"


"Tak ada 'kita', Victor. Dengarkan kalimatku ini untuk pertama dan terakhir kalinya. Aku bukan wanita yang akan menjalin hubungan apapun denganmu."


Charlotte kemudian berjalan lebih dekat pada pemuda itu. Ia menatap Victor dengan tatapan datarnya.

__ADS_1


Charlotte kemudian berjongkok di sebelah Victor dengan sebelah tangannya yang terulur ke bawah dan menyentuh 'bola' milik Victor. Dan dengan gerakan tiba-tiba ia mencengkram milik Victor itu dengan keras hingga pemuda itu memekik karena kesakitan.


"Seķ5! Yang aku mau darimu hanya seķ5. Hanya sebatas itu. Dan kita tak punya keterikatan apapun selain itu. Jelas?" Charlotte berujar dengan seringaian di wajahnya. "Dan jangan lupa, kalau aky bisa dengan mudah menyebarkan rumor apapun tentang dirimu sama seperti apa yang sudah aku lakukan ke mantan-mantanku dulu atau bahkan rumornya bisa lebih parah."


Victor menatap Charlotte dengan tatapan tak percaya di wajahnya. Ia benar-benar terkejut karena kini menyaksikan secara langsung betapa mengerikannya wanita di hadapannya ini. Sebelumnya ia mendengar kalau Charlotte bukan wanita yang bisa sembarangan disentuh. Apakah ini maksudnya? Victor kini hanya bisa menelan ludahnya kasar.


"Kenapa? Kaget? Bukankah sebelumnya, saat di restoran kau memuji diriku dengan mengatakan kalau aku ini 'tak bisa menyakiti orang lain'? Benar kan, Victor Alexander?"


Victor menggeleng ketakutan. "Aku, aku tidak-"


Charlotte berdecak kesal baru kemudian menghela nafasnya dengan santai. "Pergilah atau aku akan menghubungi kakakku. Kau kenal Xander, kan?"


Victor menelan ludahnya kasar.


Charlotte melirik jam di pergelangan tangannya. "Ah, sekarang dia pasti sudah datang dan sedang berada di luar gedung hotel ini. Apa kau mau aku menghubungi kakakku agar dia datang dan langsung menghabisimu di tempat ini."


"Jangan! Tolong jangan." Victor berdesah pasrah.


"Kalau begitu pergilah!"


"Ba-baik!"


Kemudian dengan setengah hati laki-laki itu bangkit dan memilih untuk memunguti pakaiannya yang berserakan di atas lantai. Ia lalu mengenakan seluruh pakaiannya dengan terburu-buru dan berlari keluar, pergi dari kamar itu.


"Jangan menampakan wajah kotormu itu lagi di hadapanku sial*n!" Charlotte berteriak kesal.


Setelah kepergian Victor, Charlotte menghempaskan dirinya ke atas sofa yang ada di tengah ruangan. Ia mengusap kasar wajahnya, lalu menghela nafasnya kasar.


"Kenapa tak ada lagi laki-laki yang bisa membuatku senang dan benar-benar puas. Kenapa? Apa ada yang salah denganku sebenarnya?" ujar Charlotte pada dirinya sendiri.


Charlotte mengatur nafasnya sebentar lalu kembali melirik jam di pergelangan tangannya. Ia meraih ponselnya yang berada di atas meja untuk menghubungi Xander.


"Halo ada apa?" seru Xander ketus setelah mengangkat telepon dari Charlotte.


"Xander, kau sudah datang, kan?"


"Ya."


"Oke, jangan kemana-mana. Aku akan turun sebentar lagi!" Charlotte mengambil gelas anggur dari atas nakas kemudian menyeruputnya.


"Terserah saja!" sahut Xander yang entah kenapa terdengar sangat acuh. "Keluar nanti siang atau besok juga tak apa-apa!"


Charlotte menaikkan sebelah alisnya heran lalu meletakkan kembali gelas anggurnya.


"Apa? Kau ini kenapa?"


"Charlotte, sekarang ini aku sedang sibuk! Jadi aku minta jangan menggangguku dulu, oke!" potong Xander dengan nada kesal. "Dan kalau kau mau turun ya turun saja. Ya sudah, aku tutup teleponnya sekarang. Bye!"


Tuut! Tuut! Tuut!


Begitu sambungan telepon itu terputus, Charlotte hanya bisa mengernyit bingung sambil menatap pada layar ponselnya.


"Apa-apaan itu? Dia memutus telepon dariku begitu saja?" Charlotte mendecih, lalu melemparkan ponselnya ke ujung sofa.


"Dan Xander bilang dia sedang sibuk? Memangnya apa yang sedang dia lakukan di luar hotel ini?" gumam Charlotte menyipitkan matanya, berpikir dengan rasa penasaran.


***


✔ Note :


▪Typo, alur ngaco, kesalahan Eyd tidak akan di perbaiki. Saya author pemalas. Titik!


▪Author peduli dengan kesehatan mata kalian, jadi, kalau kalian kurang suka sama ceritanya, Author sarankan kalian untuk mencari cerita yang lain saja, karena cerita ini bisa menyebabkan sakit mata akut.

__ADS_1


__ADS_2