
Justin berjalan cepat keluar dari perpustakaan menuju kelasnya. Saat ini sudah menunjukan jam setengah sepuluh pagi. Artinya sudah waktunya pulang kuliah karena hari ini hanya satu mata kuliah dan itu pun tanpa di hadiri oleh sang dosen.
Suasana kampus juga sudah lebih sepi, hanya ada beberapa mahasiswa yang sesekali melintas tapi Justin berharap Charlie belum pulang.
Ia membuka ponselnya untuk menunggu balasan pesan dari Charlie. Tadi sewaktu di perpustakaan sahabatnya itu mengatakan kalau dia akan menunggunya di ruang kuliah mereka karena ia ingin meminjam buku catatan milik Justin. Tapi sekarang pemuda itu malah tidak membalas pesannya bahkan sama sekali tidak bisa di hubungi.
"Apa dia sudah pulang?" Justin bertanya pada dirinya sendiri.
Justin mengedarkan pandangannya dan menatap ke seluruh area kampus namun tidak mendapati sosok Charlie. Matanya kemudian beralih pada balkon lantai dua dimana ruang kuliahnya berada, berharap melihat Charlie di sana.
Ia melangkah sambil terus menatap balkon kelasnya dan tidak menyadari sebuah pot besar yang berada di hadapannya. Sampai akhirnya…
BRUK!
"Auu!" rintih Justin saat tubuhnya jatuh tersungkur ke atas lantai karena baru saja menabrak pot itu. Ia memegangi lututnya yang terasa perih karena baru saja bertabrakan dengan lantai keramik. Justin meruntuki dirinya sendiri, sebab tidak melihat pot sebesar itu di hadapannya karena sibuk menoleh kanan dan kiri.
"Kau baik-baik saja?" seru seseorang.
Justin mendongakkan kepalanya setelah mendengar sebuah suara. Mata Justin sontak melebar dengan sempurna saat mendapati seorang wanita cantik tengah berdiri di hadapannya, menatap Justin intens, mata mereka kini bertemu.
Dan mata Justin kini sudah benar-benar membulat sempurna saat menyadari siapa wanita yang berdiri di hadapannya itu.
Charlotte Clinton.
Gadis yang membuat Charlie antusias pagi tadi.
Gadis yang membuat hati Justin berdebar pagi tadi.
Dan gadis yang untuk kesekian kalinya ia temui tanpa sengaja.
Sementara itu, Charlotte Clinton saat ini juga terlihat sedikit terkejut saat melihat siapa pemuda yang ada dihadapannya. "Kau?" ujarnya.
Justin mengerjap menatap Charlotte. "Anda?"
Charlotte yang terkejut, memundurkan sedikit tubuhnya kemudian menyilangkan tangannya di dada. "Kau yang menabrak mobilku tadi pagi kan?" tanyanya.
"i-itu…"
"Kau kuliah disini juga?" tanya Charlotte menaikkan sebelah alisnya. "Ternyata kita satu kampus, wow.. ini kebetulan sekali."
'Ya. Kebetulan sekali' batin Justin kembali teringat betapa terkejutnya ia saat melihat wanita ini dari koridor kampus pagi tadi.
Charlotte menatap Justin lekat, kemudian menggeleng pelan. 'Anak ini sepertinya benar-benar ceroboh' batinnya.
"Apa kau baik-baik saja?" Charlotte bertanya lagi, entah kenapa setelah beberapa detik pemuda di hadapannya ini masih menatapnya dengan tatapan kagetnya.
Justin tersentak, kemudian menundukkan kepalanya menatap lantai sambil mengangguk pelan.
"Kau.. kau ini tidak buta kan?" tanya Charlotte sekali lagi.
"Eh?" Justin mendongakkan kepalanya. Ia mengernyit dan menatap Charlotte bingung. Buta? Pertanyaan macam apa itu?
"Mobilku tiga kali lebih besar darimu, kau tidak melihatnya dan menabraknya. Dan juga, pot itu menurutku lumayan besar tapi kau juga tidak melihatnya. Ah dan juga, jangan lupakan insiden di kafe waktu itu." ujar Charlotte.
"Aku jadi penasaran sekarang, apa kau ini buta atau kau memang punya tubuh sekeras baja?" Charlotte bicara panjang lebar. Ia kemudian terkejut dengan kalimatnya sendiri. "Wow, tiga kali pertemuan kita adalah tentang kau yang selalu menabrak sesuatu. Apa tubuhmu itu tidak sakit?"
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa." jawab Justin pelan.
Charlotte mengangguk santai. "Sudah seharusnya, karena tidak akan ada yang menolongmu jika terjadi sesuatu," jawab Charlotte datar sambil menatap Justin yang juga tengah menatapnya, masih dalam posisi terduduk.
Justin sendiri hanya diam, ia tidak tahu harus menjawab apa.
Melihat tak ada reaksi dari pemuda itu, Charlotte hanya tersenyum kecil. Ia lalu berjalan lebih dekat pada Justin. Charlotte kemudian berjongkok dihadapan pemuda itu mencoba menyamakan posisi tubuh mereka.
"Wajahmu benar-benar sangat tampan." kata Charlotte gemas, kali ini sambil menarik pipi Justin. "Kau sangat mirip dengan Doomie, hamster kesayanganku."
Justin masih terdiam, tidak ada yang mengetahui jika saat ini jantungnya sudah berdegup tak beraturan karena di sentuh gadis secantik Charlotte.
Tapi tunggu dulu!
Apa gadis ini baru saja menyamakannya dengan seekor hamster? Yang benar saja!
Charlotte perlahan melepaskan tarikan di pipi Justin yang kini mulai terlihat memerah. Justin langsung menggosok pipinya yang terasa sakit akibat tarikan Charlotte barusan.
"Kulitmu sangat sensitif. Lihatlah! Tarikan kecil saja bisa membuatmu terluka. Sangat lemah." kata Charlotte lagi kemudian kembali berdiri, menegakkan tubuhnya. "Baiklah aku harus pergi sekarang!"
"Dan kau... kau usahakan lah jangan sampai melukai wajah tampanmu ini!" ujar Charlotte menepuk pelan pipi sebelah kanan Justin.
Charlotte kemudian beranjak melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu tanpa menunggu jawaban apapun dari Justin. Ia lalu melangkah dengan santainya, meninggalkan pemuda tampan yang saat ini masih melongo di posisinya.
Di sela langkahnya, Charlotte menengokkan kepalanya ke belakang, menatap pada Justin yang saat ini masih duduk mematung di sana. Dan sekali lagi, Charlotte tersenyum.
'Dia sangat manis. Ah bukan, tapi tampan. Dia sangat tampan. Apalagi jika di lihat dengan jarak sedekat itu.' ucap Charlotte dalam hati.
Charlotte menatap tangannya yang baru saja mencubit pipi pemuda itu. "Kulit wajahnya juga sangat halus." gumam Charlotte.
"Ah, aku suka kebetulan kalau harus menatap wajahnya dengan dekat, seperti tadi. Kalau perlu jadikan kebetulan ini, menjadi kebiasaan. Siapa tahu aku bisa dengan cepat menidurinya." gumam Charlotte menggedikkan bahunya acuh. Ia tersenyum sinis sambil terus melangkahkan kakinya.
Sementara itu Justin kini masih membatu, ia terdiam di tempatnya. Dan lihatlah, wajahnya yang saat ini sudah benar-benar memerah. Entah kenapa ia merasa jantungnya sejak tadi terus berdegup tak beraturan bahkan sampai sekarang.
Justin kembali menundukkan kepalanya sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang tidak terkontrol. Lalu sedetik kemudian ia tersadar dan sontak menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Ia lalu berdiri, mencoba bangkit dari posisi tak elegannya di lantai barusan. Justin lalu menepuk-nepuk pakaiannya sendiri, mencoba membersihkan kotoran yang masih menempel di sana.
Justin kemudian berbalik, menoleh pada Charlotte yang sudah berada jauh darinya. Ia terus memandangi punggung dari sosok wanita cantik yang sudah melangkahkan kaki untuk meninggalkannya itu.
"Dia... nona itu sangat cantik…" gumamnya kemudian tersenyum kecil. "Dia benar-benar sangat cantik."
Namun sedetik kemudian dengan cepat Justin kembali tersadar. Ia berusaha menepis isi pikirannya sendiri. Bahkan menggelengkan kepalanya kuat-kuat saat menyadari isi pikirannya yang saat ini sudah mulai melantur.
Justin menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia terus mencoba meyakinkan dirinya bahwa dia tidak punya rasa apapun terhadap wanita cantik itu. Lagipula wanita itu terlalu sempurna untuknya, sadar jelas dia sangat tidak pantas untuk bersama dengan gadis itu.
Di sela lamunannya, tiba-tiba ia di kejutkan oleh dering ponselnya, sebuah telepon masuk. Justin menatap layar ponselnya yang menunjukkan telepon itu berasal dari Charlie.
Justin segera mengeser tombol hijau di layar ponselnya untuk menjawab, "Halo?"
"Kau dimana, Justin?" tanya Charlie.
"Kau yang dimana? Aku mencarimu tapi tidak menemukanmu dimanapun." kesal Justin.
"Aku menunggumu di lobi kampus, cepatlah kemari!" seru Charlie dari seberang telepon.
__ADS_1
***
"Apa?" pekik Charlie, matanya kini sudah membulat sempurna. "Kau bertemu dengan siapa?"
"Model itu, Charlotte!" tegas Justin.
"Astaga, itu gila!"
Setelah menceritakan semuanya pengalaman indahnya pada sahabatnya itu, Justin langsung mengambil jalan lurus keluar dari lobi kampus. Ia terus melangkah menuju parkiran kampus untuk mengambil sepedanya sementara Charlie terus mengekor di belakang Justin.
"Kenapa kau tidak langsung mengabariku tadi?" ujar Charlie terdengar tak terima. Ia kesal, sekali lagi keberuntungan tidak berpihak padanya.
Justin menghela napasnya pelan. "Sudah ku bilang, kau tidak bisa di hubungi tadi." jelas Justin yang masih sedikit kesal.
"Ah, kau sangat beruntung karena bisa berada dekat sekali dengannya." Charlie berujar lemas.
"Jangan terlalu di pikirkan. Itu bukan hal yang terlalu istimewa." ujar Justin menenangkan kekesalan sahabatnya.
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Charlie kemudian. Ia penasaran.
Justin mengerutkan dahinya. "Yang terjadi?"
Charlie mengangguk. "Apa yang kalian lakukan setelah itu? Kau dan Charlotte."
"Tidak ada." jawab Justin sambil menggelengkan kepalanya polos. "Dia hanya mengataiku buta lalu pergi!"
Charlie hanya mengangguk paham. "Begitu."
Rupanya rumor tentang mulut pedas Charlotte itu memang benar adanya. Informasi yang di dapat Charlie, selain cantik, Charlotte juga di kenal sebagai orang yang bermulut tajam. Gadis itu tidak akan berhati-hati dalam berkata pada orang lain dan memilih bicara apa adanya sekalipun menyakitkan.
"Hanya itu?" tanya Charlie dengan tatapan menyelidik, ia masih terlihat penasaran.
Justin mengangguk. "Ya, dia juga ingat kalau aku yang menabrak mobilnya tadi pagi dan yang menabraknya di kafe waktu itu."
Charlie tertawa renyah. "Tentu saja dia ingat. Wajahmu itu adalah wajah yang paling susah di lupakan oleh orang."
"Maksudnya?" Justin menghentikan langkahnya dan mengernyit bingung.
"Maksudku, kau itu tampan. Wajahmu sangat tampan. Semua orang pasti akan mengingat wajahmu." ucap Charlie sambil mencolek dagu Justin, mencoba menggoda sahabatnya itu.
Justin hanya mendengus. "Rumus hidupmu sangat aneh. Apa hubungannya wajah tampan atau tidak bisa menjadi tolak ukur ingatan seseorang. Mungkin ingatannya saja yang terlalu kuat."
"Itu bukan rumus hidupku? Aku sedang bicara fakta, orang tampan akan selalu di ingat, benar kan? Dan kau itu sangat tampan, sudah jelas dia akan mengingatmu." goda Charlie lagi.
"Apa yang kau lakukan. Berhentilah mengatai aku tampan! " ujarnya mendengus kesal.
"Kenapa kau paling tidak suka di sebut tampan!" omel Charlie.
"Ah, sudahlah. Minggir!" Justin mendorong Charlie yang menghalangi jalannya. Setelah itu ia segera mengambil sepedanya dengan gerakan cepat, kemudian mendorong benda itu menuju gerbang utama kampus.
Charlie yang di tinggal langsung tertawa gemas lalu berjalan mengikuti Justin dengan cepat. "Kau malu ya?" serunya.
"T-tidak.." jawab Justin gugup. "Sudahlah. Aku mau pulang!" ujar Justin lalu menaiki sepedanya dan mengayuhnya meninggalkan Charlie yang masih saja tertawa di tempatnya.
"Kalau malu, katakan saja!" teriak Charlie.
__ADS_1
***