
"Ini pasti bercanda." Charlotte dengan kesal menekan klaksonnya beberapa kali.
Xander yang tengah memainkan ponselnya hanya melirik singkat pada adiknya yang tampak gelisah itu.
"Sabarlah sedikit." ujar Xander malas.
"Ck, sabar apanya? Sudah setengah jam kita terjebak macet disini dan bahkan tak bergerak sama sekali."
Xander memutar bola matanya, "Ini hanya macet, Charlotte."
"Ini salahmu." ujar Charlotte tajam.
"Kenapa aku lagi?"
"Jelas salahmu. Kita harus bolak-balik begini karena mobilmu. Kenapa juga kau harus menitipkan mobilmu itu di rumah temanmu dan membuat kita harus mengambilnya dulu dan terkena macet begini. Dan juga, kenapa harus aku yang menyetir, sih."
Dengan tenang Xander memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku jaket lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil.
"Kau ingin aku ikut pesta itu, kan? Kalau begitu kau harus bersedia mengantarku mengambil mobil lebih dulu."
"Tapi karena itu kita harus terkena macet saat panas terik begini."
"Oh ayolah. Kenapa kau bertingkah seolah tak pernah terkena macet saja." ujar Xander.
Melihat sang kakak yang tampak begitu santai, membuat Charlotte mendecih.
"Tentu aku kesal. Entah kenapa setiap aku yang menyetir, ada saja ujian jalan raya. Mulai dari ban bocor, menabrak, atau jalanan akan macet."
"Itu karena kau sendiri yang ceroboh." ejek Xander.
"Jangan bicara sembarangan. Kau lihat! Ini tengah hari. Bagaimana bisa semua kendaraan ini keluar di siang hari begini." omel Charlotte.
Melihat kesialan yang melandanya siang ini, Charlotte hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar sambil menatap kanan kiri mobilnya yang penuh dengan kendaraan lain.
Charlotte sungguh amat kesal karena saat ini ia harus terjebak di antara lusinan mobil yang tengah menunggu untuk bergerak maju.
Namun di tengah kegelisahannya itu, tiba-tiba saja pandangan Charlotte teralihkan pada seorang pemuda yang memberhentikan sepeda miliknya di sebelah kiri mobilnya, tepat di sebelah Xander.
Charlotte menatap pemuda itu dengan seksama dan sontak mengerutkan dahinya saat menyadari kalau wajah pemuda itu tampak begitu familiar dari samping.
"Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana, ya?" gumam Charlotte tampak berpikir.
Kedua mata Charlotte terus memperhatikan pemuda tampan itu yang beberapa kali terlihat mengecek jam di pergelangan tangannya.
"Aku memang pernah melihatnya. Aku yakin sekali. Tapi dimana itu. Kami bertemu dimana?" ujar Charlotte lagi.
Dan sedetik kemudian, mata Charlotte langsung membulat saat ia berhasil mengingat dimana dia dan pemuda itu bertemu.
"Dia, kan... pemuda itu..." gumam Charlotte pada dirinya sendiri sambil terus menatap keluar, ke arah pemuda yang tengah mengendarai sepeda itu.
__ADS_1
Charlotte tampak tak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya. Pemuda itu. Dia adalah pemuda yang Charlotte temui di kafe waktu itu.
"Tidak mungkin." ucap Charlotte sembari menggelengkan kepalanya pelan. Jelas sekali dia masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Satu kali ia mencoba memicingkan matanya, mencoba melihat lebih jelas barangkali dia salah lihat. Tapi tidak! Dia memang tidak salah lihat. Pemuda itu benar-benar pemuda yang ia temui di kafe beberapa waktu lalu.
Charlotte masih terfokus menatap sosok pemuda yang kini mulai kembali mengayuh sepedanya. Ia tampak menyelip sela-sela kendaraan lain untuk melewatinya.
"Apanya yang tak mungkin?" tanya Xander saat mendengar kata-kata Charlotte barusan.
Charlotte tak menanggapi. Kedua matanya tak lepas dari pemuda tampan itu, mengabaikan Xander yang saat ini ikut merasa penasaran.
"Ada apa, hah?" tanya Xander lagi karena merasa heran pada Charlotte yang tiba-tiba saja tampak begitu tegang.
Tapi Charlotte masih tak menjawab. Gadis itu masih tampak fokus menatap keluar jendela.
Pemuda itu menggunakan sepeda, kan? Itu membuat Charlotte berpikir apakah pemuda itu tinggal di area ini. Apakah ia harus mencaritahu dimana rumahnya?
"Charlotte!" seru Xander sekali lagi. "Kau melihat apa sih?"
"Tunggu sebentar. Aku harus memastikannya dulu." kata Charlotte masih menatap keluar jendela.
Xander mengerutkan dahinya, curiga saat melihat Charlotte yang mendadak membuka pintu mobil disampingnya.
Gadis itu sudah hendak turun dari mobil, namun terhenti saat tiba-tiba saja Xander memegang lengannya, menahannya agar tak keluar dari mobil.
"Kau mau apa?" tanya Xander.
"Ya, tapi kemana?"
"Jangan banyak tanya. Kau diam disini dulu, oke!"
Charlotte turun dari mobil dan berlari dengan sedikit terburu-buru, mengejar pemuda itu, meninggalkan Xander yang masih diam, memandanginya dalam kebingungan
"Ada apa dengannya sebenarnya?" gumam Xander. Ia lalu menolehkan pandangan ke sebelahnya, menatap kursi bagian pengemudi yang kosong. "Hei, kenapa dia malah meninggalkan aku sendirian begini."
***
Charlotte dengan cepat menyusup diantara barisan kendaraan yang tengah terkena macet itu. Ia terus berlari mengejar sosok pemuda tampan yang barusan ia lihat.
Gadis itu bergerak tak sabaran. Saat ini dadanya sungguh berdebar keras, bergemuruh, benar-benar seperti akan meledak.
Charlotte yakin dia bisa gila jika bertemu lagi dengan pemuda itu sekarang.
Bayangkan saja, pemuda itu adalah satu-satunya lelaki yang sudah mengacuhkan dirinya waktu itu. Dia juga merupakan lelaki yang sangat ingin Charlotte beri pelajaran agar tak meremehkan seorang Charlotte Clinton.
Charlotte menghentikkan langkahnya untuk sejenak. Ia tampak menegakkan kepalanya dan menjinjitkan kakinya, mencoba untuk mengedarkan pandangannya ke segala arah, berharap ia dapat menemukan sosok pemuda tampan itu di tengah keramaian kendaraan ini.
"Ah..dia menghilang!" desis gadis itu menatap ke seluruh area jalan raya.
__ADS_1
Charlotte mendecih. Menghembuskan napas lelah karena habis berlari di jalanan tanpa peduli cuaca terik di siang hari.
Gadis itu berdiri dengan tangan di pinggang, menatap frustasi ke seluruh kendaraan disekitarnya.
"Aku tidak mengerti. Dia hilang kemana." kata Charlotte. "Kalau begini, lalu bagaimana aku bisa mengetahui dimana dia tinggal?"
Ddrrtt..
Ddrrtt..
Ponsel Charlotte tiba-tiba saja berdering, menyadarkan gadis itu dari lamunan kecilnya.
Charlotte meraih ponsel di dalam saku jaketnya. Ia menatap layar ponselnya dan mendapati nama Xander di tampilkan pada layar ponselnya.
'Kenapa dia harus meneleponku sekarang, sih!' pikirnya sebal.
Charlotte bergeming. Dia tidak dalam mood yang baik untuk menerima telepon saat ini. Alhasil dia memilih untuk mengabaikannya.
Namun untuk kesekian kalinya ponsel itu kembali berdering membuat Charlotte jadi sedikit sebal. Akhirnya Charlotte memilih untuk mengangkat telepon itu.
Dengan cepat ia menggeser tombol hijau pada layar dan menempelkan ponselnya ditelinga.
"Halo, ada apa, sih?"
"Hoi, kau yang apa-apaan, hah?" teriak Xander.
Charlotte sedikit menjauhkan ponsel itu dari telinganya, teriakan kakaknya itu sedikit memekik.
"Jangan teriak-teriak, kau pikir aku tuli?"
"Kenapa aku tak boleh berteriak setelah kau melakukan hal konyol? Harusnya aku bahkan berteriak lebih keras dari ini. Memangnya sampai kapan kau akan meninggalkan aku di sini, hah?"
Charlotte mengerutkan dahinya bingung, "Apa? Meninggalkan? Meninggalkan apa maksudmu?"
"Charlotte! Jangan bercanda. Kau lupa? Kau sudah meninggalkan aku disini tanpa mengatakan apapun." jelas Xander. "Sejak tadi orang-orang mengklakson mobil kita karena tak kunjung jalan saat macetnya hilang."
Charlotte menepuk jidatnya.
"Astaga Xander, aku lupa." Charlotte gelagapan. "Begini saja, kau singkirkan dulu mobilnya ke pinggir jalan."
"Aku sudah menyingkirkan mobilnya, Charlotte. Aku tak mau di protes pengguna jalan yang lain."
"Kalau begitu aku akan kesana sekarang! Lima menit, oke!"
"Lima menit, lebih dari itu kau akan kutinggal, aku tak mau tau!"
Beep
Charlotte memutuskan sambungan teleponnya dan langsung beranjak, melangkah ke tempatnya mobilnya berada tadi.
__ADS_1
***