
Xander membulat dan menunjuk dirinya sendiri, "Aku ikut bersama kakek?"
"Ya, kenapa? Kau tidak mau?"
Xander menggeleng cepat, "bu-bukan begitu, hanya saja, Charlotte... dia..."
"Itu sebabnya kakek akan menggunakan pemuda itu untuk menjadi teman Charlotte, maksud sebenarnya dari kehadirannya adalah... mengantikan posisimu."
Xander tertegun, "Menggantikan posisiku?"
"Ya, setelah kau pergi nanti, pemuda itu yang akan ada di samping Charlotte, menemani Charlotte dan bersama dengan Charlotte. Dia sudah kakek anggap sebagai cucu bungsu kakek." ujar tuan Romaov. "Dan ya, dia akan menjadi cucu angkat kakek, meski dia tidak akan mendapat hal seistimewa dirimu."
"Tidak sepertiku?"
"Ya, tentu saja. Kau sudah bersama kakek dan Charlotte sejak kau kecil. Kau jauh istimewa, Xander. Kau adalah cucu asli kakek. Sementara dia... kakek dan dia baru saja bertemu. Itu sebabnya dia akan menjadi teman Charlotte, bukan saudara Charlotte, sepertimu."
"Kakek akan menjadikannya sebagai cucu kakek. Dan meskipun posisinya jauh berbeda denganmu tapi kakek tetap akan mengusahakan agar kalian bertiga bisa dekat."
Xander kembali terdiam. Sejujurnya, ucapan dari sang kakek barusan membuatnya semakin merasa terkejut. Bayangkan, kakeknya mengatakan kalau dia akan menjadikan pemuda itu sebagai teman Charlotte.
"Aku tidak masalah dengan semua ini kakek, tapi Charlotte? Apakah dia bisa menerima segala keputusan kakek ini?"
"Dia akan menerimanya," lanjut tuan Romanov dengan mantap. "Kita akan melakukannya dengan pelan-pelan selama tiga bulan ke depan.
Xander mengangguk, dia mengerti rencana sang kakek. Tapi tetap saja Xander merasa ragu dengan hal ini. Bagi Xander tidak mudah merubah kebiasaan adiknya itu. Dia saja yang dekat dengan Charlotte tidak mampu untuk mengatur gadis itu, lantas bagaimana dengan orang lain?
Dan sebenarnya, bukan Charlotte yang sedang Xander khawatirkan saat ini melainkan pemuda itu. Xander tau jelas watak adiknya. Jika Charlotte tidak suka pada seseorang, maka Charlotte pasti akan mengusahakan apapun untuk 'melakukan sesuatu yang buruk' pada pemuda itu.
__ADS_1
'Semoga saja tidak,' batin Xander.
"Ayo! Kita bisa kembali melanjutkan perjalanan ke pabrik." ujar tuan Romanov pada Xander. "Kakek hanya ingin memberitahumu tentang semua itu tadi."
"Baik, kakek." Xander menganggukkan kepalanya patuh. Ia menarik napasnya dan menghembuskannya dengan perlahan.
'Apa yang sedang aku khawatirkan? Kakek pasti tak akan membiarkan Charlotte macam-macam dengan pemuda itu.' Xander membatin dan menggelengkan kepalanya, mencoba untuk melupakan kekhawatiran yang muncul di kepalanya.
Setelah itu barulah kemudian Xander menyalakan mesin dan menancap gas mobilnya, kembali melajukan mobil di atas jalan raya.
"Kau berhenti di depan pagar pabrik saja. Kakek akan turun di situ saja nanti." ujar tuan Romanov saat mobil yang mereka kendarai hampir tiba di bangunan pabrik.
"Aku bisa mengantarkan kakek masuk ke depan pintu masuk lobi." Xander berusaha menolak permintaan sang kakek.
"Tidak, berhenti di sini saja." tuan Romanov menunjuk pagar pabrik sambil menepuk bahu Xander agar cucunya itu menurut.
Xander menyerah untuk menolak permintaan sang kakek kemudian memilih untuk menghentikkan mobilnya di depan pagar yang di maksud oleh sang kakek.
"Kau mau kemana?" tanya tuan Romanov saat melihat Xander yang hendak melepas sabuk pengamannya juga, ingin ikut turun.
"Turun, kek..." jawab Xander.
"Kau tidak usah ikut turun, langsung pergi ke kampus saja!" perintah tuan Romanov.
Xander menghela dan kembali menganggukkan kepalanya patuh, "Apa kakek ingin aku jemput nanti."
"Tidak." tuan Romanov menggeleng. "Kakek akan pulang dengan Mario."
__ADS_1
"Baiklah." Xander mengangguk mengerti.
"Dan jangan sampai lupa, kakek ingin kehadiran kalian berdua malam ini! Tepat jam tujuh malam." kata tuan Romanov kembali mengingatkan.
"Baik kek, aku akan mengatakannya pada Charlotte siang ini."
"Kakek pergi dulu." ujar tuan Romanov.
Brakk!
Xander akhirnya bisa menghembuskan napasnya lega setelah sang kakek akhirnya turun dari mobilnya dan menutup pintunya. Benar-benar lega, rasanya seperti ia baru saja keluar dari ruangan tanpa oksigen.
Xander menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobilnya. Dari dalam mobilnya, Xander menatap lekat punggung dari pria paruh baya yang saat ini tengah berjalan semakin menjauh darinya itu. Ia menatap setiap langkah sang kakek yang sedang memasuki halaman pabrik.
Diam-diam Xander kembali terngiang-ngiang oleh percakapannya dengan sang kakek beberapa saat yang lalu. Ia tak percaya kalau Tuan Romanov sudah benar-benar mempercayakan masa depan perusahaan pada dirinya.
"Kenapa kakek melakukan ini padaku? Kenapa kakek harus sebaik ini padaku." batinnya lirih. Bagi Xander, ini adalah tugas yang berat untuk ia kerjakan. Tapi mau bagaimanapun Xander tak kuasa untuk menolak.
Xander tanpa sadar kembali mengingat, bertahun-tahun yang lalu saat ia hanya seorang anak kecil tanpa orang tua yang tinggal di sebuah panti asuhan. Dan suatu hari tuan Romanov datang ke tempatnya. Ia berada di sana untuk memberikan santunan pada panti asuhan itu.
Dan tiba-tiba saja, tuan Romanov memberikan sebuah tawaran padanya untuk ikut ke rumahnya. Tuan Romanov bahkan tak segan-segan memasukkannya ke dalam kartu keluarga dan membuatkannya sebuah akta kelahiran baru dengan tuan Romanov sendiri sebagai walinya.
Tanpa ragu tuan Romanov juga menyekolahkannya di sekolah swasta tempat cucu nya, Charlotte bersekolah. Ia juga di berikan uang jajan bulanan yang tak sedikit. Tabungan masa depan. Dan sekarang tuan Romanov menjadikannya sebagai calon Direktur Utama. Xander tersenyum miris, baginya tak ada lagi keistimewaan yang indah di bandingkan dengan semua yang tuan Romanov berikan padanya.
Xander menundukkan kepalanya seraya mengeratkan pegangannya pada stir mobil yang ada di tangannya.
"Aku tidak punya banyak hal lain untuk membalas semua yang pernah dia berikan padaku selain menuruti semua ucapannya."
__ADS_1
***