
Malam itu Justin mengayuh sepedanya memasuki kawasan perumahan elite. Sepanjang hari ini Justin sudah menghabiskan waktunya untuk mengantarkan pesanan ayam pada para pelanggan. Dan ini adalah pesanan terakhir yang harus ia antarkan, barulah setelah itu ia bisa pulang untuk beristirahat.
Ia memang sudah memutuskan untuk kembali menjadi kurir karena ia baru saja berhenti bekerja dari kafe mewah yang menjadi tempatnya bekerja waktu itu.
Setelah beberapa lama menyusuri jalan, Justin lalu memberhentikan sepedanya tepat di dekat pos keamanan yang berada di jalanan depan dari kawasan elite itu. Daerah ini memang dikenal sebagai tempat tinggal para orang-orang kaya, jadi sudah wajar jika pemeriksaannya sangatlah ketat dan pastinya penjagaannya juga tidak main-main.
Setelah meminta izin pada para satpam yang berjaga di pos keamanan jalan itu, barulah kemudian Justin kembali mengayuh sepedanya sambil sesekali menatap alamat yang di ketikkan di ponselnya.
"Menurut alamat yang di berikan bos, pelanggannya berada di alamat ini." gumamnya terus mengayuh sepedanya sambil sesekali menolehkan pandangannya ke kanan dan kiri jalan.
"Aku harus mengantarkan paket ini dengan cepat, pembelinya tidak boleh menunggu pesanannya terlalu lama,"
Tak lama setelah itu, Justin akhirnya berhenti mengayuh sepedanya tepat saat ia sampai di depan sebuah rumah mewah. Dan rumah mewah ini adalah rumah yang menjadi tempat tujuannya. Justin lalu turun dari sepedanya, kemudian bergegas memencet bel yang ada di pagar rumah mewah itu.
Beberapa kali memencet bel, tak ada tanda-tanda apapun dari pemilik rumah.
"Apa bel-nya mati?" gumam Justin bingung sementara tangannya kembali memencet tombol bel itu.
"Permisi, paket!" seru Justin dengan nada nyaring ke arah rumah mewah itu.
Tetap tidak ada tanggapan apapun dari pemilik rumah mewah itu. Lama Justin menunggu di tempat itu, namun tetap tak ada satu pun orang yang keluar untuk membuka pintu gerbang.
Justin mengernyitkan alisnya heran. "Rumah sebesar ini, kenapa tidak ada satu pun satpam atau penjaga rumah?"
Setelah beberapa lama menunggu, Justin menghela napasnya pelan lalu menatap bungkusan makanan yang ada di tangannya. Ia tak mungkin menunggu lebih lama lagi di sini, ayamnya bisa dingin nanti.
Justin menoleh pada pos keamanan yang ada di depan jalan sana. 'Kalau aku masuk ke halaman rumah orang sembarangan, bisa-bisa nanti aku di bilang maling.' batinnya.
Sekali lagi Justin menatap bungkusan makanan yang ia bawa. Dan akhirnya, karena tak ingin ayam yang ia bawa menjadi dingin, Justin memilih untuk masuk saja ke dalam pagar. Ia mendorong pintu pagar itu hingga terbuka, kemudian perlahan melangkahkan kakinya memasuki halaman dari rumah mewah itu.
Sesampainya ia di depan pintu, Justin kembali mengetuk pintu utama dari rumah itu. Justin merasa lega karena ia bisa mendengar suara tawa pemilik rumah dari tempat ia berdiri saat ini. Tapi yang aneh adalah kenapa ia tak keluar saat Justin memencet bel di pagar tadi? Ah, tapi sebenarnya itu juga bukan masalah besar.
Dan setelah beberapa kali ia mengetuk pintu rumah itu akhirnya pemilik rumah itu menyahut. Pintu itu terbuka dan menampilkan seorang pria tampan. Pria itu berdiri dengan tegak di hadapan Justin saat ini.
"Ya? Ada yang bisa di bantu?" tanya pria itu.
"Permisi tuan, saya kurir yang mengantarkan pesanan makanan." ujar Justin sopan pada pria itu. "Menurut alamat, rumah ini memesan ayam goreng pedas."
"Siapa sayang?" terdengar seorang wanita berteriak dari dalam rumah itu.
"Bukan siapa-siapa, ini hanya kurir makanan!" jawab pria itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Justin.
"Kurir makanan?"
"Ya!" jawab pria itu lagi.
__ADS_1
"Sudah datang, ya? Sebentar, aku ambil dompetku dulu." ujar wanita yang berteriak tadi.
Lalu, pada detik itu juga seorang gadis cantik turut muncul, keluar dari pintu. Gadis itu terlihat tengah mengenakan gaun tidur berwarna mewah tua. Rambutnya yang panjang tampak terurai indah melewati bahunya. Gadis itu merangkul pinggang pria tampan itu dengan mesra sambil membawa dompet di tangannya.
Kedua mata Justin sontak saja membulat saat melihat siapa yang baru saja muncul di hadapannya. Seketika tubuhnya membeku dan Justin kini hanya bisa berdiri terdiam di posisinya. Sementara itu matanya terus menatap pada gadis cantik itu tanpa berkedip.
Dan begitupun dengan sang gadis cantik yang saat ini juga balas menatapnya dengan tatapan tak kalah terkejutnya. Dalam beberapa detik mereka hanya diam, saling menatap wajah satu sama lain dan saat itu barulah Justin menelan ludahnya kasar. Gadis itu, Justin mengenalnya. Sangat!
Itu Charlotte, model terkenal yang kuliah di kampusnya. Gadis semester lima yang juga terkenal sebagai ratu kampus di Universitas tempat Justin berkuliah. Dia gadis paling cantik di kampus Justin dan gadis yang sama yang untuk kesekian kalinya berhasil membuat jantung Justin berdetak kencang.
Justin sama sekali tidak bisa melupakan sosok dari gadis itu sama sekali. Karena dia adalah gadis yang selalu bertemu dengannya secara kebetulan dan menjadi gadis nomor satu yang selalu ada di kepala Justin selama ini. Apalagi setelah Justin teringat kembali akan pertemuan mereka di kampus, saat dimana Charlotte memanggilnya buta. Itu adalah pengalaman yang sama sekali tak bisa terlupakan bagi Justin, ya meskipun agak mengesalkan baginya.
Saat ini, mereka bertemu lagi secara kebetulan. Dan untuk kesekian kalinya, Justin menatap Charlotte tanpa berkedip. Saat ini ia benar-benar merasa terpesona saat menatap wajah dari gadis itu.
Bayangkan saja, gadis itu kini hanya mengenakan gaun tidurnya. Dan wajahnya tampak bersih dan polos, terlihat sangat cantik meskipun tanpa polesan makeup seperti biasanya.
" Kau? Apa yang sedang kau lakukan disini? Sedang apa kau dirumahku?" seru Charlotte dengan ekspresi wajah yang datar. Lalu terlihat sebelah alisnya kini terangkat, menatap Justin heran. Sementara rangkulan mesranya pada pria tampan tadi sudah terlepas.
Mendengar pertanyaan Charlotte, Justin sontak saja tersadar dari lamunannya. Ah, jadi ini rumahnya?
"A-Aku... i-itu... ini ayam..." ujar Justin gugup sambil mengangkat bungkusan berisi tiga kotak ayam pedas di tangannya.
Pandangan Charlotte beralih pada bungkusan yang Justin tunjukkan padanya. Ia menatap bungkusan ditangan Justin dengan ekspresi bertanya-tanya. Dan sedetik kemudian baru-lah Charlotte tersadar.
"Oh, apa kau sedang mengantar pesanan ayam? Kau kurirnya?"
"Kemari, berikan makanannya padaku. Aku akan menyiapkan minumannya," ujar pria tampan tadi pada Charlotte lalu mengambil bungkusan makanan dari tangan Justin dan masuk kembali ke dalam.
Justin hanya diam menatap kepergian dari pria tampan itu yang Justin yakini adalah kekasih dari Charlotte. Diam-diam Justin menghela napasnya perlahan. Entah kenapa hatinya merasa kecewa setelah mengetahui kalau saat ini Charlotte tengah bermesraan di rumahnya bersama dengan kekasihnya.
Sementara itu Charlotte sendiri masih menunggu di pintu.
"Berapa?" tanya Charlotte tiba-tiba sambil membuka dompet yang ada di tangannya.
Justin tersadar dari lamunannya. "Hah?"
Charlotte menghentikan kegiatannya dari memilih uang dan menatap Justin datar. "Aku tanya, berapa harga ayamnya?" ulangnya.
"Ah, semuanya seratus lima puluh ribu, Nona!" jawab Justin gugup. "Sa-satu kotak ayam senilai lima puluh ribu,"
Charlotte mengangguk lalu menyerahkan uang bayarannya pada Justin.
"Ini... lima ratus ribu, nona!" ujar Justin bingung sambil menatap uang yang ada di tangannya.
"Ya, itu lima ratus ribu. Kau ambil saja sisanya, untukmu. Kau gunakan uang itu untuk pergi ke dokter dan periksakan telingamu itu." ujar Charlotte menunjuk telinga Justin. "Sepertinya itu sedikit rusak!"
__ADS_1
"Hah?"
"Baiklah, terima kasih sudah mengantar," kata Charlotte sambil bergerak memasuki rumahnya lagi.
BLAM...!!
Justin hanya bisa mematung, menatap pintu kayu itu dalam diam saat Charlotte menutup pintu rumahnya itu dengan bantingan kasar. Ia menundukkan kepalanya, menatap pada lembaran uang yang di tangannya dan kembali menatap pada pintu rumah Charlotte.
"Aku akan memeriksakan telingaku, nona. Terima kasih, sebelumnya." ujar Justin pelan sambil memasukan uang bayaran tadi ke dalam kantong jaketnya dan segera beranjak pergi dari tempat itu. Namun...
Bruk!
Langkah Justin terhenti dan tubuhnya langsunh jatuh ke atas tanah ketika ia tanpa sengaja menabrak tubuh seseorang.
"Hei, perhatikan langkahmu." ujar orang yang baru saja Justin tabrak itu, yang ternyata seorang adalah laki-laki.
"Ma-maafkan saya, tuan." Justin memohon maaf.
"Apa kau tidak lihat jalan?" ujar lelaki itu berjongkok sambil mengangkat ujung topi yang Justin kenakan saat ini hingga menampilkan wajahnya.
"Hmm.. sepertinya ujung topi ini-lah menghalangi pandanganmu."Pemuda itu lalu mengetuk-ketuk ujung topi dari Justin beberapa kali, "Harusnya kau perhatikan langkahmu itu" ujarnya sinis.
"Apa yang kau lakukan di situ, Laurent?" seru seseorang yang ada di belakang pria itu tampak baru saja turun dari mobilnya.
Justin lalu mendongak untuk menatap seseorang yang ada di belakang dari laki-laki itu dan ia terkejut saat mengetahui kalau orang itu adalah Xander Clinton. Seseorang yang Justin ketahui adalah kakak dari Charlotte Clinton.
"Apa kau baik-baik saja? tanya Xander sambil mengulurkan sebelah tangannya mencoba membantu Justin untuk berdiri.
"Saya baik-baik saja, maaf sudah menyusahkan," ujar Justin membungkukkan badannya, memohon maaf pada Xander dan Laurent secara bergantian.
Xander menganggukkan kepalanya sementara Laurent hanya diam, memasukkan sebelah tangannya kedalam kantong celana menatap Justin dengan tatapan anehnya.
"Tapi sedang apa kau berada disini?"tanya Xander lagi.
"Aku... bekerja..." jawab Justin sambil menepuk-nepuk celananya membersihkan kotoran yang menempel. "Aku mengantar pesanan.
"Ah, jadi kau be-"
"Ya sudah, minggir." ujar lelaki yang di panggil Laurent tadi sambil mendorong bahu Justin yang menurutnya menutupi jalan. Ia lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Justin yang saat ini masih diam, menatap kepergiannya.
Xander yang masih berada di tempat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu mengangguk sambil tersenyum.
"Baiklah. Sepertinya aku juga harus masuk sekarang dan kau lain kali berhati-hatilah saat melangkah." ujarnya.
Xander kemudian mengikuti Laurent, berjalan menaiki anak tanga dan memasuki rumah itu bahkan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
__ADS_1
"Tubuh mereka sangat tinggi." gumam Justin takjub sambil berjalan melewati pagar yang kini sudah terbuka lebar, sepertinya di buka oleh Laurent dan Xander memasukkan mobil mereka tadi.
***