
Pemuda tampan itu tampak tengah duduk sendirian di kantin kampus. Ia menikmati menu makanannya, yang terdiri dari semangkuk bakso dan sebotol air mineral biasa.
Terlihat para wanita yang duduk di meja sebelahnya, tengah berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arahnya. Namun pemuda itu tampak tak sadar, bahkan terkesan acuh. Ia justru memilih untuk terus fokus pada makanan yang ada depannya.
"Aku mencarimu kemana-mana sejak tadi, Justin Kim!" seru seseorang pada pemuda tampan itu.
"Aku baru saja tiba di sini!" jawab Justin santai, masih terfokus pada mangkuk bakso di hadapannya.
Justin sendiri tidak perlu repot-repot melihat siapa yang baru saja mengajaknya bicara. Tanpa menoleh ia bahkan bisa mengenal dengan jelas siapa pemilik suara itu. Dia pasti Charlie, sahabatnya.
Saat ini Justin masih dengan lahap menikmati makanannya. Ia lalu menusuk salah satu bakso dan memasukkan daging berbentuk bulat itu ke dalam mulutnya. Entah kenapa menu makanannya hari ini terasa dua kali lebih enak daripada biasanya.
Sebuah tas punggung kemudian mendarat di atas meja tepat di depan Justin, sebelum akhirnya Charlie, si pemilik tas itu juga ikut duduk dan turut meletakkan mangkuk berisi bakso dan segelas es jeruk dingin yang sejak tadi berada di tangannya ke atas meja.
Justin mendongak sekilas lalu memutar bola matanya malas. 'Cepat sekali dia tiba di sini! Ini bahkan jauh lebih cepat daripada biasanya.' gumam Justin dalam hati.
Ia sebenarnya tahu sahabatnya ini cepat atau lambat akan datang untuk duduk di dekatnya. Tapi tetap saja ia masih merasa kesal. Bahkan sudah lama sejak ia berhenti protes pada Charlie agar tidak mengganggu makan siangnya tapi tidak pernah berhasil.
"Kenapa kau selalu saja datang setiap aku sedang menikmati makan siangku?" gerutu Justin sambil meletakkan sendoknya ke dalam mangkuk makanannya.
"Karena... Justin, aku tidak akan pernah melewatkan kesempatan untuk melihat para gadis cantik yang sedang mencoba mendekatimu itu." cengir Charlie antusias.
Charlie lalu mengedarkan pandangannya, mengamati para gadis yang saat ini tengah menatap ke arah meja mereka, tempat dimana ia dan Justin duduk saat ini.
"Oh lihat itu. Para gadis cantik itu bahkan sudah datang lebih dulu daripada aku." Charlie menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ck, ck, ck, mereka sangat tergila-gila padamu rupanya."
"Mereka tidak sedang mendekatiku, Charlie! Dan mereka datang bukan untukku. Tapi mereka itu hanya ingin makan siang." ucap Justin malas.
Charlie lalu berdecak sinis, sambil menyipitkan kedua matanya. "Ck, kau ini sangat tidak peka! Padahal sudah sangat jelas kalau para gadis itu datang hanya untuk melihatmu. Mereka pasti tahu kalau pada jam-jam segini kau akan datang ke kantin kampus untuk makan siang. Itu sebabnya mereka pasti akan selalu ada di sini untuk menunggumu makan siang."
"Ini benar-benar gila." Charlie menggelengkan kepalanya pada Justin. "Luar biasa, Justin. Ini bahkan baru minggu pertama di semester pertama kau masuk universitas ini tapi kau sudah sangat populer. Tidak ada bedanya saat kita SMA." puji Charlie.
"Omong kosong." Justin menjawab sambil tertawa kecil.
"Hei, aku kan hanya bicara yang sebenarnya. Para gadis dari SMA kita bahkan berbondong-bonding mendaftar di kampus ini saat mengetahui kau akan berkuliah di sini. Namun mereka tidak lolos karena kampus ini hanya untuk orang-orang yang pintar saja." Charlie menepuk dadanya bangga. "Untung saja aku termasuk murid pintar saat sekolah dulu."
"Dan kau sengaja mengambil jurusan yang sama denganku. Dasar penggangu!" omel Justin.
"Itu karena aku bingung ingin mengambil jurusan apa untuk kuliahku. Dan kebetulan aku melihatmu mengambil jurusan ini, jadi-"
"Terserah!" potong Justin mengangkat bahunya acuh sambil kembali meraih sendok makannya. "Sudahlah!Sekarang aku mau makan dulu, aku merasa sangat lapar sekarang. Lagipula aku sudah ribuan kali mendengarkan alasanmu itu.." ujarnya.
"Baiklah. Kau makanlah yang banyak!" jawab Charlie sambil menepuk-nepuk kepala Justin gemas.
Setelah itu Charlie kembali melirik kumpulan gadis tadi. Ia kemudian memajukan tubuhnya, mencoba mendekat pada Justin sehingga dia bisa berbisik di telinga pemuda itu. "Tapi kenapa tidak kau panggil saja para gadis itu agar mereka duduk bersama kita disini."
__ADS_1
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
"Makan pelan-pelan." ujar Charlie dengan cepat menyerahkan minuman es jeruknya miliknya. Sementara sebelah tangannya bergerak menepuk pelan punggung sahabatnya itu. Charlie terkejut saat melihat Justin tanpa sengaja tersedak kuah baksonya sendiri.
Setelah meminum air jeruk milik Charlie, Justin dengan masih terbatuk-batuk menatap wajah Charlie. "Kau bilang apa? Aku memanggil mereka kemari? Para gadis itu? Tidak mungkin." ujar Justin tegas sambil menggelengkan kepalanya.
"Oh ayolah, coba kau lihat saja mereka." ujar Charlie sambil tersenyum, menunjuk para gadis itu dengan dagunya. "Mereka itu sangat tergila-gila padamu, Justin. Bukankah harusnya kau bisa sedikit merespon mereka."
"Aku sudah selesai!" ujarnya mendorong mangkuk baksonya lalu mengambil botol air mineral miliknya yang tersedia di atas meja. Ia tampak tak peduli dengan kata-kata Charlie padanya barusan.
"Justin!" panggil Charlie lagi saat merasa perkataannya di acuhkan oleh Justin.
"Sudahlah Charlie!" Justin memotong ucapan Charlie dengan nada malas. "Berhentilah membahas tentang para gadis itu padaku."
"Baiklah!" Charlie lalu menggedikkan bahunya pasrah kemudian memajukkan tubuhnya, mendekat kembali pada Justin. "Tapi aku penasaran. Apa sebenarnya yang membuatmu sama sekali tak tertarik pada para gadis itu. Lihatlah! Mereka itu sangat cantik, Justin. Kau bahkan hanya tinggal pilih saja jika menginginkan mereka."
Justin hanya tersenyum tanpa nafsu. "Kau pikir mereka barang?" ujarnya.
"Apa mereka kurang cantik untukmu? Apa seleramu itu sangat tinggi? Ayo beritahu aku!" Charlie menatap Justin dengan ekspresi penasaran.
Justin berdesah malas. "Aku bahkan tidak tahu tipe wanita yang ku inginkan, Charlie!"
"Kalau begitu, bagaimana kalau kau menjadikan salah satu dari mereka sebagai kekasihmu. Dengan begitu kau baru akan mengerti."
Justin menggeleng. "Aku tidak berminat!"
"Jangan berlebihan, Charlie! Kau pikir aku ini artis terkenal hingga semua orang menyukaiku."
"Bukankah memang?" Charlie mengeluarkan ponselnya, mencari sesuatu kemudian mengarahkannya pada Justin. "Lihat! Ini adalah akun fans clubmu di sosial media dengan ribuan followers! Kau bisa pilih salah satu dari mereka!"
Justin melirik layar ponsel itu sekilas. Ia lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak, Charlie. Kau tidak mengerti. Aku hanya tidak menyukai mereka."
"Bagaimana bisa?" Charlie membanting tangannya ke atas meja karena terlalu gemas. "Bagaimana bisa kau tidak menyukai satupun dari para gadis itu."
"Tapi memang itu adanya. Aku tidak merasakan perasaan apapun pada para gadis itu." jelas Justin.
"Tapi kau kan-"
"Justin!" terdengar sebuah suara lembut memanggil memotong kalimat Charlie.
Justin dan Charlie langsung mengalihkan pandangan mereka pada gadis di hadapan mereka itu. Charlie kini hanya bisa diam terpaku saat melihat siapa yang barusan memanggil Justin.
Sementara Justin sendiri langsung tersenyum saat melihat Valery. Gadis berparas cantik itu adalah salah satu gadis kenalannya dari fakultas kedokteran dan dia merupakan salah satu kakak kelas Justin semasa sekolah.
Tapi tunggu dulu!
__ADS_1
Kenapa seseorang dari fakultas kedokteran bisa ada di gedung fakultas Ilmu Politik?
"Kau terlihat tampan!" ujar Valery pelan dengan senyum malu-malu, kemudian mulai berjalan mendekat ke meja mereka.
"Ah, terima kasih, anda juga cantik." Justin menjawab Valery dengan pujian balik. Nada bicara pemuda itu terdengar menjadi canggung karena pujian yang Valery katakan padanya barusan. "Tapi kenapa anda bisa berada di sini?"
"Aku mendengar dari temanku kalau kau masuk ke universitas ini juga. Universitas yang sama denganku. Jadi aku datang jauh-jauh dari fakultasku untuk menemuimu."
"Jadi begitu." Justin mengangguk paham. "Apa ada yang ingin anda katakan?"
"Em, aku hanya ingin mengetahui kabarmu." ujar Valery gugup. Valery tersipu malu saat melihat Justin yang masih menatapnya.
"Oh ya, aku membawakan ini untukmu." ujar Valery memberikan dua lembar tiket bioskop. "Bagaimana kalau kita nonton malam ini sambil membahas tentang kampus ini."
Justin menatap tiket pemberian Valery padanya itu untuk beberapa saat, "Tiket nonton?"
"Em, ya!" Bagaimana kalau kita nonton film bersama? Malam ini!" tawar Valery.
Justin menghela. "Maaf nona. Aku sangat ingin datang, tapi aku tidak bisa pergi untuk menonton film. Aku harus bekerja!" jawab Justin berterus terang.
Senyum Valery perlahan memudar. Ia merasa kecewa. Tentu saja, gadis itu telah lama menyukai Justin, sejak SMA. Ia juga sudah mencoba untuk membuat Justin menyukainya, namun selalu gagal. Saat ia menyatakan perasaannya, Justin menolaknya.
Justin hanya menganggapnya kakak.
"Baiklah! Mungkin lain waktu. Kita akan bertemu lagi! Oke. ujar Valery tersenyum pahit kemudian pamit meninggalkan Justin dan Charlie.
"Kau gila, Justin! Kau baru saja menolak bidadari!" ujar Charlie tak percaya. "Dia itu kan gadis yang selalu jadi incaran setiap murid lelaki saat kita sekolah dulu."
"Benarkah?" tanya Justin polos.
"Ah... kau benar-benar membuatku frustasi. Kenapa kau harus menolaknya untuk nonton bersama." gerutu Charlie.
"Aku kan sudah mengatakan tadi. Aku harus bekerja." tegas Justin.
"Padahal kau dan dia sangat cocok!" Charlie berkata lirih. "Kalau begitu, kau pacari saja mereka. Carilah mana yang kau cintai akhirnya nanti." saran Charlie menunjuk kembali kumpulan para gadis tadi.
"Kau gila!" Justin tertawa di kursinya. "Jangan bercanda, Charlie."
"Aku tidak bercanda." Charlie berkata dengan ekspresi seriusnya. "Kau bisa memacari mereka semua agar aku juga bisa berkumpul dengan para gadis cantik itu."
Sekali lagi, tawa riuh Justin kembali terdengar, namun itu hanya berlangsung selama tiga detik sebelum akhirnya menghilang karena Charlie masih menampilkan ekspresi seriusnya.
Dan akhirnya, tawa Justin benar-benar hilang saat dia menatap pemuda di depannya dengan serius. Dia menatap mata Charlie lekat, lalu dengan nada serius Justin bertanya...
"Apakah kau benar-benar sudah gila?"
__ADS_1
***