
Jam makan malam telah usai sejak beberapa menit lalu namun tuan Romanov dan Xander masih belum beranjak dari meja makan. Sementara Charlotte sudah terlebih dahulu pergi ke kamarnya.
Seorang pelayan terlihat tengah menuangkan teh ke dalam gelas yang ada di hadapan tuan Romanov. Baru setelahnya pelayan itu beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Tuan Romanov menoleh singkat pada Xander yang saat ini tengah fokus memainkan ponsel di tangannya. Ia meraih gelas dan menyeruput tes panas miliknya.
"Besok kau akan ke kampus?" tanya tuan Romanov memecah keheningan.
Xander langsung mengangkat kepalanya, menatap tuan Romanov lalu mengangguk. "Ya, benar kek. Sepertinya ada beberapa mata kuliah yang harus aku hadiri besok."
Keadaan hening untuk beberapa saat. Xander kini kembali fokus pada ponselnya sementara tuan Romanov masih menikmati teh panas miliknya.
"Kau tidak ingin kuliah di luar negeri saja, Xander?" ujar tuan Romanov tanpa basa basi.
"Apa kek?" tanya Xander dengan raut bingung, keningnya mengerut.
"Kuliah di luar negeri. Di Jepang. Kau tinggal-lah bersama kakek disana. Jangan khawatirkan tentang apapun, kakek akan memenuhi kebutuhan hidupmu disana." terang tuan Romanov sambil mengaduk gelas teh-nya.
Xander terdiam sejenak. Ia meletakkan ponselnya ke atas meja makan. Kedua matanya menatap sang kakek lekat. Dia benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa pada sang kakek saat ini.
Tuan Romanov bisa melihat keraguan yang ada di mata Xander saat ini. Cucu laki-lakinya itu jelas sangat terkejut dengan ajakannya yang mendadak barusan.
Xander menggaruk telinganya canggung, "Aku tidak bisa menentukan hal-hal seperti itu, kek! Kalau pun aku setuju, aku harus menunggu keputusan Charlotte dahulu. Karena seperti yang kakek ketahui, selama ini aku hanya mengikuti keputusan Charlotte. Kemanapun dia pergi baru aku akan mengikutinya."
Tuan Romanov mengangguk paham. "Kau mengikutinya karena mengikuti perintah kakek. Sejak kecil kakek menanamkan padamu untuk menjaga Charlotte seperti adikmu sendiri."
"Ya, kek!"
"Itu sebabnya kakek juga akan membawanya. Jadi, kalian berdua... maksudku, kau dan Charlotte, pergilah bersamaku!"
"Apa?" seru Xander terkejut. Tubuhnya refleks mundur ke belakang hingga menyentuh sandaran kursi. "Maksud kakek kita semua akan pergi ke jepang?"
"Ya, kau bisa melanjutkan kuliahmu di sana. Dan begitu lulus nanti, kau akan langsung masuk ke perusahaan agar bisa belajar untuk menggantikanku."
Xander terhenyak, ia merasa semakin bingung saja saat ini. "Apa? Menggantikkan? Kakek bilang aku yang akan menggantikkan kakek?"
"Kenapa kau terkejut begitu?" tuan Romanov terkekeh melihat ekspresi cucunya itu. "Apa kau lupa kalau kakek akan memberimu setengah dari harta kakek?"
"Setengah?" mata Xander kini sudah membulat dengan sempurna. "Ta-tapi bukannya kakek pernah mengatakan aku akan mendapatkan dua puluh pe-"
"Ya!" potong tuan Romanov cepat. "Kakek memang pernah mengatakan hanya akan memberikan dua puluh persen padamu. Tapi kakek berubah pikiran dan akan memberimu lima puluh persen dengan syarat kau yang harus menggantikan posisi kakek untuk menjadi pemimpin dari perusahaan kakek kelak nanti."
__ADS_1
"Tapi bukankah kakek pernah mengatakan siapapun suami Charlotte kelak, dia-lah yang akan menggantikkan posisi kakek nanti?"
Tuan Romanov sontak tergelak nyaring saat melihat wajah kebingungan dari pemuda di hadapannya ini. "Apa kau benar-benar berpikir kakek akan melakukan itu?"
Xander mengangguk polos. "Memangnya tidak?"
"Tentu saja tidak, Xander!" tuan Romanov berujar tegas. "Dalam hidup, kakek sudah mempercayaimu lebih dari siapapun. Kau juga cucu kakek. Walaupun bukan darah daging kakek, tapi kau tetap cucu kakek. Dan kakek yakin kalau Charlotte juga akan setuju dengan pilihan kakek dengan memilihmu menjadi pengganti kakek."
"Lalu Charlotte?"
Tuan Romanov menghela, menatap Xander dengan senyum pasrahnya. "Kau mengenalnya, Xander. Dia tidak akan peduli dengan hal seperti ini. Dia juga tidak akan peduli tentang pembagian warisan. Dia hanya peduli tentang karir modelnya dan bersenang-senang."
Xander terdiam di posisinya. Ia tercekat. Lidahnya terasa kelu setelah mendengar seluruh kalimat dan perkataan tuan Romanov padanya.
Melihat keterdiaman Xander, tuan Romanov kembali bicara. "Ada apa Xander? Kenapa kau hanya diam?"
"Apa kakek serius?" tanya Xander menatap sang kakek lekat. "Tentang semua ini?"
"Tentu saja!" jawab tuan Romanov mantap. "Kakek benar-benar serius dengan ucapan kakek padamu."
Xander menelan ludahnya dengan susah payah, entah kenapa kini kerongkongannya terasa sangat kering. Ia lalu menghembuskan nafasnya perlahan, berusaha untuk tetap bersikap tenang. Ia lalu menatap sang kakek yang kini tengah menikmati teh-nya dengan santai di hadapannya.
"Kakek, aku rasa aku tidak bisa melakukan itu." ujar Xander kemudian sambil menunduk.
"Itu terlalu berat untukku, kek!" jelas Xander dan ia memang tengah berkata jujur. Bayangkan saja, bagaimana bisa seseorang sepertinya menjadi pemimpin perusahaan besar seperti milik tuan Romanov Clinton itu.
Lagipula dia bukanlah cucu kandung tuan Romanov. Pikirkan apa yang akan di katakan orang-orang tentang ini nanti. Bagaimana seseorang yang bahkan tak punya hubungan keluarga bisa menjadi pewaris.
"Apa maksudmu Xander?" tuan Romanov bertanya , ia menatap Xander bingung.
Xander masih menundukkan kepalanya. "Kakek sudah sangat berjasa saat membawaku dari panti asuhan ke mansion ini dulu. Kakek merawatku bahkan membiayai semua pendidikanku dari aku kecil hingga saat iini."
"Aku bahkan belum membalas semua kebaikan kakek itu tapi kakek sudah kembali melakukan hal mengejutkan seperti ini padaku. Bayangkan saja, kakek menyerahkan setengah dari harta kakek? Aku rasa ini benar-benar terlalu banyak untukku. Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya membalas jasa kakek yang sebelumnya." lanjut Xander bicara panjang lebar.
"Kalau begitu jaga perusahaanku dengan baik! Itu satu-satunya cara untukmu membalas semuanya." jawab tuan Romanov tegas. "Kau juga cucuku, Xander. Cucu sulungku yang berharga. Jadi kau juga sangat berhak untuk menerima semua itu."
Jawaban tuan Romanov itu kembali membuat Xander terdiam. Ia lalu menghela sambil menggelengkan kepalanya. "Aku tidak percaya diri kakek. Aku bukan orang pintar dan penuh wibawa seperti kakek, jadi mana mungkin aku-"
"Semua itu berawal dari usaha dan kerja kerasmu, Xander!" balas tuan Romanov cepat. "Kakek juga bukan orang cerdas tapi kakek memiliki semangat dan selalu bekerja keras. Itulah yang pelan-pelan membantu kakek maju."
"Kakek, aku-"
__ADS_1
"Kau adalah pewaris utama!" Tuan Romanov kembali melanjutkan. "Jadi kakek harap kau bisa mulai masuk ke perusahaan setelah selesai kuliah. Itu sebabnya kakek ingin kau pindah ke Jepang, agar bisa belajar pelan-pelan bersama kakek sambil menunggu untuk menyelesaikan masa kuliahmu. Semakin cepat kau memulai, kemampuanmu pasti akan semakin terasah! Kau tenang saja karena kakek akan terus membimbingmu dari belakang."
"Tapi untuk sekarang aku tidak bisa membiarkan Charlotte lepas begitu saja. Bagiku, dia masih terlalu liar dan belum bisa menjaga dirinya sendiri." Xander terus bersikeras.
"Lagi pula aku juga tidak yakin dia akan mengizinkan aku untuk memasuki perusahaan dalam waktu dekat ini. Dia pasti akan marah dan dengan tegas menolak jika aku tidak lagi pergi bersamanya." lanjut Xander terus terang.
Tuan Romanov menggeleng.
"Charlotte harus mengerti. Ini adalah waktu yang tepat untukmu memulai. Karena apapun alasannya, pada akhirnya kau juga harus meninggalkannya suatu saat nanti." Tuan Romanov lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Ingat Xander, aku memberimu pendidikan yang tinggi bukan untuk menjadi penjaga, tapi untuk membantuku memimpin semua ini kelak."
"Kakek, aku akan bersedia pergi jika Charlotte sudah menemukan seseorang yang bisa menggantikanku untuk menjaganya. Seseorang yang membuat dia tidak merasa sendirian. Dan seseorang yang akan membuatnya tidak lagi bergantung padaku. Aku... aku hanya tidak mau melihatnya sedih."
Setelah mendengar kalimat panjang Xander itu, tuan Romanov langsung mengangguk setuju.
"Kau benar Xander. Bagaimana bisa aku melupakan fakta itu. Kau selalu di dekatnya selama hampir dua puluh empat jam sejak kalian kecil. Kau sudah seperti kakak laki-laki baginya. Dan kalian bahkan seperti saudara kembar. Dia pasti akan merasa sangat kehilanganmu nanti. Aku bahkan tidak yakin apa dia bisa berpisah denganmu suatu saat nanti. Aku benar-benar tidak ingin jika pada akhirnya, Charlotte tidak bisa melakukan apapun tanpamu." tuan Romanov berujar lirih, terselip nada khawatir dalam perkataannya.
Xander tersenyum kecil. "Kakek tenang saja, suatu saat nanti dia pasti akan menemukan seseorang. Tapi aku rasa tidak sekarang. Dia masih dua puluh satu tahun. Dan aku rasa juga terlalu cepat baginya untuk memikirkan siapa pasangan hidupnya nanti."
"Tapi bukankah beberapa waktu lalu aku melihat berita dia berkencan dengan seorang pengusaha terkenal?" tuan Romanov berujar heran.
Xander langsung tertawa. "Kakek perlu tau dia dan pria itu hanya berkencan selama lima hari saja."
"Apa? Lima hari?" tuan Romanov membulat.
"Charlotte, cucu kakek itu kan memang tidak pernah berkencan dengan lelaki lebih dari seminggu." Xander masih tertawa.
"Begitukah?"
"Ya." Xander mengangguk dan kali ini sambil tersenyum ia melanjutkan kalimatnya. "Dan seingatku, Charlotte memang tidak pernah menjalani hubungan serius dengan satupun pria selama dia hidup."
"Kalau begitu, ini benar-benar masalah! Dia tidak akan bisa menjauh darimu!"
Xander kembali tertawa. "Ya, itu juga berarti dia akan terus membuatku dalam masalah. Dia kan sangat suka membuat masalah. Biang masalah!"
Tuan Romanov ikut tertawa. "Aku setuju denganmu. Dia memang cucu ku, tapi aku setuju jika seseorang mengatakan bahwa dia adalah biang masalah."
"Iya kek..." Xander tersenyum sementara tuan Romanov menggelengkan kepalanya setelah kembali mengingat kelakuan onar Charlotte.
"Baiklah, kita akan kembali membicarakan ini lain kali. Sekarang kakek akan kembali ke kamar sekarang untuk istirahat." ujar tuan Romanov pada akhirnya. "Kau juga harus istirahat!"
"Baik kakek!"
__ADS_1
***