
Charlotte merasa jika dirinya sedang sial hari ini. Ia seakan bisa mendengar segala umpatan yang ada di kepalanya. Sementara hatinya sejak tadi terus menerus menggerutu dengan kesal.
Tentu saja ia kesal.
Bayangkan saja, ia tak mengerti bagaimana dunia bisa sekebetulan ini? Ah, apa benar kalau takdirnya sedang di permainkan?
Ia kini tengah melipat kedua tangannya di depan dada, menatap datar pada orang-orang yang ada di hadapannya. Ia lalu menatap Justin yang kelihatannya duduk dengan canggung di kursinya, mendengarkan tuan Romanov yang saat ini sedang menceritakan tentang pertemuannya dengan Justin.
Saat ini mereka sudah selesai menikmati makanan utama dan sedang menunggu makanan penutup yang akan di sediakan oleh para pelayan.
Jujur saja, Charlotte sama sekali tak menikmati menu makan malam mereka kali ini. Entah kenapa makan malam itu terasa begitu hambar di mulut Charlotte. Bahkan saat makan malam berlangsung ia malah menghabiskan waktunya untuk mengaduk-aduk makanannya saja tadi.
Charlotte melirik singkat pada sang kakek yang tampaknya telah menyelesaikan ceritanya.
"Jadi itulah alasannya kenapa kakek mengundang Justin untuk datang kemari malam ini. Semua ini kakek lakukan sebagai bentuk permintaan maaf kakek." ujar tuan Romanov sesaat setelah ia selesai bicara penuh panjang lebar tentang Justin pada kedua cucunya itu.
'Jadi begitu...' gumam Charlotte dalam hati
Setelah mendengar cerita dari sang kakek Charlotte kemudian menatap kembali Justin dengan alis yang sedikit berkerut. Apa semua cerita itu benar? Entah ia harus takjub atau justru merasa curiga sekarang.
Sedikit kisah yang Charlotte ketahui, kakeknya sudah tanpa sengaja menabrak pemuda ini. Dan kehadiran Justin di mansion mereka malam ini adalah sebagai cara sang kakek berterima kasih dan ingin menebus kesalahannya.
Charlotte menatap Justin dengan wajah yang di tekuk.
"Apa-apaan ini? Kakek seperti memiliki hutang budi yang besar padanya." gumam Charlotte dengan suara pelan yang ternyata terdengar di telinga Xander.
"Bukan hutang budi."
"Lalu apa?"
"Kau tidak akan mengerti."
"Apa yang tidak bisa aku mengerti? Lihat, kakek hanya menabraknya. Uang ganti rugi juga sudah di berikan. Lalu kenapa kakek harus sampai sejauh ini. Nggak masuk akal!"
Xander menggeleng, "Ini akan masuk akal kalau kau tau segalanya."
Charlotte hanya memutar bola matanya malas sambil meneguk air minumnya.
"Apapun itu... tetap tidak masuk akal bagiku. Kakek bahkan bersikap seolah-olah Justin sudah menyelamatkan hidupnya." Charlotte berujar sinis.
__ADS_1
Xander hanya menghela pasrah melihat Charlotte yang terus berpikiran negatif seperti itu. Ia lalu memalingkan pandangannya, melihat pada sang kakek. Ah, untung saja suara mereka kecil jadi tidak mungkin terdengar oleh kakeknya itu.
Kedua mata Charlotte menyipit saat kembali menatap Justin.
'Dan tadi kakek sempat bilang kalau dia menolak uang pemberian kakek. Apa benar dia menolak uang dari kakek?' batin Charlotte. "Ck, kenapa aku tidak percaya dengan itu?"
Charlotte tersenyum sinis sambil menatap Justin. Ini bahkan bukan jaman dimana orang akan hidup dengan pribadi yang luar biasa seperti itu. Jangan salah paham. Maksud Charlotte adalah bukankah semua orang di dunia ini butuh uang?
Lalu bagaimana bisa ada orang yang terluka karena tertabrak kemudian menolak uang ganti rugi. Itu adalah hal yang tak masuk akal bagi Charlotte.
Bahkan beberapa teman Charlotte pernah membayar laki-laki penghibur yang rela menjual diri karena terdesak ekonomi. Lihat? Demi uang harga diri saja tidak di hiraukan. Lantas bagaimana ada orang yang dengan mudahnya menolak uang.
Charlotte melipat tangannya ke atas meja dan menatap Justin.
"Lalu kenapa kau tidak mau menerima uang ganti rugi dari kakekku?" tanya Charlotte tanpa basa basi.
Hening... semua orang terdiam.
Justin mendongak, ia tampak agak terkejut dengan pertanyaan itu. Ah bukan, sejujurnya dia tengah terkejut karena alasan yang lain. Charlotte-lah yang saat ini penyebab utama Justin merasa kaget. Justin begitu terkejut karena Charlotte bicara padanya.
Ya, itu karena setelah beberapa lama mereka duduk berhadapan di meja makan ini, pada akhirnya Charlotte mau mengajak dirinya untuk bicara.
Charlotte menaikkan sebelah alisnya. 'Kenapa dia malah menatapku begitu? Itu bahkan bukan pertanyaan sulit.' batinnya.
Xander yang berada di sebelah Charlotte langsung menyenggol lengan gadis itu, membuat gadis itu menoleh padanya.
"Kenapa kau bertanya begitu padanya?" ujar Xander.
"Aku hanya penasaran." balas Charlotte sambil menggedikkan bahunya acuh kemudian menatap kembali pada Justin. "Kenapa kau malah menolak uang pemberian kakekku?"
"Hahaha."
Tuan Romanov tiba-tiba saja tergelak, membuat ketiga anak muda itu menoleh padanya. Tuan Romanov lalu memegang bahu Justin dan menepuk bahunya itu pelan dengan ekspresi bangga.
"Dia memang menolaknya Lottie, tapi setelah itu dia menerimanya." jelas tuan Romanov.
"Ah, di terima?"
"Ya, sebenarnya Justin sudah menerimanya. Hanya saja dia memang sempat menolaknya di awal. Kakek-lah yang sudah memaksa agar dia mau menerima uang ganti rugi waktu itu." ungkap tuan Romanov.
__ADS_1
Charlotte mendecih pada dirinya sendiri.
'Sudah ku duga dia pasti menerimanya. Ya, jaman sekarang mana ada orang yang menolak uang pemberian orang lain.' batinnya.
"Ngomong-ngomong, kalian ini satu kampus kan?" tanya tuan Romanov sambil menikmati makanan penutup yang baru di sajikan para pelayan.
"Aku dengar begitu, kek" Xander melirik Charlotte yang ada di sebelahnya. "Charlotte sempat memberitahuku, karena dia mengenal Justin."
Tuan Romanov bereaksi terkejut. "Benarkah? Tapi bukankah tadi Charlotte mengatakan kalau dia tidak mengenalnya?"
Charlotte mengangkat kepalanya melirik pada sang kakek yang tengah menatapnya.
"Aku tidak mengenalnya, hanya pernah bertemu saja di kampus." Charlotte berujar malas.
"Begitu... tapi sekarang kalian sudah saling mengenal, kan? Kalau begitu kalian bisa saling tegur sapa di kampus." ujar tuan Romanov.
"Tentu saja, kek." Xander mengangguk dengan senyuman.
"Kalian juga bisa saling menjaga satu sama lain." lanjut tuan Romanov.
Xander tersenyum kemudian menepuk pelan bahu dari Charlotte, "Aku dan adikku Charlotte ini akan berusaha agar bisa menjaga Justin. Ya kan, Lottie?"
Charlotte melirik tajam Xander, sementara yang di lirik langsung menghindar.
"Sorry, aku hanya bertanya, oke!" Ujar pria itu sambil menggedikkan bahunya, diam-diam tersenyum jahil.
Charlotte memutar bola matanya lalu melirik Justin yang sejak tadi duduk diam di kursinya sambil menikmati makanan penutupnya.
'Menjaganya?' Charlotte langsung saja mencemooh permintaan itu dalam hati. Entah kenapa permintaan kakeknya itu terasa lucu bagi dirinya.
'Seandainya saja kakek tau beberapa waktu lalu pemuda ini adalah calon teman tidurku.' pikir Charlotte.
***
✔ Note :
▪Author tidak akan mengubah kesalahan ejaan, typo dan hal lainnya karena faktor KEMALASAN TINGKAT AKUT. Dan sesungguhnya kemalasan adalah kerajinan yang tertunda.
▪Author peduli dengan kesehatan mata kalian, jadi, kalau kalian kurang suka sama ceritanya, Author sarankan kalian untuk mencari cerita yang lain saja, karena cerita ini bisa menyebabkan sakit mata akut.
__ADS_1