Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
52.


__ADS_3

Justin bangun dalam keadaan perut lapar dan juga kepala yang terasa begitu sakit. Sejak kemarin ia memang tidak berselera makan. Jangankan untuk makan, menyentuh lantai dapur rumahnya saja ia terlalu malas.


Dan perutnya pun hanya terisi oleh roti isi coklat yang sempat ia beli di sebuah minimarket beberapa waktu lalu.


Selama dua hari ini Justin hanya uring-uringan saja di dalam kamarnya. Pasalnya, di hari yang sama setelah kejadian dimana ia menumpahkan gelas minuman ke pakaian atasannya di kafe tempat ia baru bekerja, ia langsung memutuskan untuk berhenti malam itu juga.


Jika ada yang bertanya alasannya, karena jangankan untuk terus bekerja di kafe itu, untuk berdiri di tempat itu saja ia sudah merasa malu bukan main.


Waktu itu ia bahkan pulang tanpa memberitahu atau mengatakan apapun pada Harry. Sedikit tidak sopan memang, tapi dia benar-benar merasa kacau saat itu. Selain itu, ia juga merasa sangat malu pada Harry yang sudah bersusah payah membantunya agar mendapat pekerjaan tapi justru ia rusak begitu saja.


Selama dua hari ini Justin pun hanya bisa meruntuki dirinya sendiri, karena kecerobohannya itu ia harus kehilangan pekerjaan. Padahal gaji di kafe itu terbilang sangat besar untuk seorang pekerja paruh waktu sepertinya.


Dan sekarang, mau tidak mau dia harus kembali mencari pekerjaan paruh waktu lainnya untuk memenuhi biaya kehidupannya. Karena tidak mungkin dia hanya menggantungkan biaya hidupnya dengan pekerjaan mengantar koran di pagi hari.


"Ah, dimana lagi aku harus mencari pekerjaan." ujar Justin sambil menjejak-jejakkan kakinya kesal di atas tempat tidur.


Justin menghela napasnya kasar lalu menutup wajahnya dengan bantal. Ia memutuskan untuk kembali tidur saja karena ini memang masih terlalu awal untuknya bersiap ke kampus.


Ddddrrrt…


Ddddrrrt…

__ADS_1


Suara dering ponsel seketika menyadarkan Justin yang saat ini tengah sibuk tenggelam dalam pikirannya. Justin menyingkirkan bantal yang menutupi wajahnya baru kemudian membuka matanya.


Justin lalu meraih ponsel yang ada di atas nakas di dekat tempat tidurnya. Ia menatap layar ponselnya dan mendapati nama Charlie, di tampilkan pada layar ponselnya.


Justin bergeming.


'Bukan saat yang tepat, Charlie' pikirnya sebal.


Dia benar-benar tidak dalam mood yang baik untuk menerima panggilan telpon dari siapapun saat ini dan memilih untuk mengabaikannya saja. Justin lalu meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas dan memutuskan untuk kembali tidur saja.


Namun untuk kedua kalinya ponsel itu kembali berdering dan mengusiknya. Hingga akhirnya dengan sedikit sebal Justin mengambil lagi ponselnya dan langsung menggeser tombol hijau pada layar ponselnya itu.


"Kabar buruk!" ujar Charlie dengan cepat tanpa basa basi. "Aku punya kabar buruk untukmu."


Justin mengerutkan dahinya. "Kabar buruk?"


"Jam mata kuliah pertama di percepat." ujar Charlie.


"Apa?" Justin berseru kaget. Ia bahkan langsung bangkit dari posisi tidurnya. "Apa kau bilang? Apa yang di percepat?"


"Aku baru mendapat info dari teman sekelas kita yang lain, kalau jam mata kuliah pertama di percepat." jelas Charlie sekali lagi. "Aku akan mengirimkan detailnya lewat chat saja setelah ini karena sekarang kau harus siap-siap!"

__ADS_1


"Baiklah!" ujar Justin menutup telpon itu kemudian dengan buru-buru turun dari tempat tidur untuk bersiap-siap.


***


Justin mengayuh sepedanya dengan terburu-buru menuju kampusnya. Sebagai mahasiswa baru, Justin mengawali bulan pertama kuliahnya dengan penuh kesialan.


Pagi ini sahabatnya Charlie, mengatakan bahwa jam mata kuliah pertama mereka di percepat dan di mulai pukul setengah delapan pagi. Nyatanya beberapa menit lalu sahabatnya itu kembali menelponnya dan mengatakan bahwa dosennya tiba-tiba kembali memajukan jam perkuliahan menjadi jam tujuh pagi ini.


Ya, sepertinya dia benar-benar butuh penyesuaian terhadap aktifitas kampus yang menurutnya sangat sering berubah-ubah itu.


Contoh lainnya adalah seperti beberapa minggu lalu, saat seorang dosen dari mata kuliah lain di kampusnya juga mengubah jadwal kuliah dengan seenaknya yang berimbas pada pemecatan dirinya dari salah satu pekerjaan paruh waktunya karena tidak mendapat izin libur.


"Para dosen itu sangat suka mengubah jam kuliah seenaknya. Memangnya para dosen itu pikir mencari kerja paruh waktu itu mudah?" gerutu Justin sambil mengayuh sepedanya. "Pekerjaan paruh waktu yang bisa menyesuaikan jam kerja itu kan sangat sulit untuk di cari tapi mereka malah seenaknya saja, dasar!"


Justin lalu mengayuh sepedanya lebih cepat lagi, ia benar-benar mengebut kali ini. Namun tiba-tiba di sebuah tikungan jalan, ia terkejut ketika melihat anak kecil yang tiba-tiba menyebrang sembarangan. Alhasil Justin oleng dan langsung membelokkan sepedanya ke sembarang arah. Hingga…


Ckiiiitttt!!


Brakkk!!


***

__ADS_1


__ADS_2