Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
75.


__ADS_3

"Ke arah mana aku harus pergi?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir mungil Justin, entah pada siapa.


Ia benar-benar kebingungan saat ini. Bayangkan saja, sudah dua kali ia mengitari kompleks perumahan mewah ini, namun belum juga menemukan rumah milik Tuan Romanov.


Dengan pelan ia mengayuh sepedanya kemudian memilih untuk turun saja dan mendorong sepeda itu menyusuri jalanan kompleks yang sepi.


Justin menghela nafasnya perlahan, ia merasa agak lelah sekarang. Saat ini ia benar-benar bingung harus mencari ke arah mana lagi berjalan. Kakinya terasa sangat pegal dan juga sakit karena harus terus-terusan mengayuh sepedanya sejak dari rumah tadi.


"Nomor 60B, dimana? Kenapa tidak ada satupun nomor rumah bertuliskan 60?" gumam Justin lagi sambil mengedarkan pandangannya dan menatap satu persatu nomor rumah yang terpampang pada pagar di deretan rumah mewah itu.


Wajah putih Justin saat ini bahkan sudah mulai terlihat memerah akibat terserang oleh teriknya sinar matahari. Selain panas, Justin juga merasa sangat haus, ia ingin minum tapi ia tak melihat toko sembako di tempat ini.


'Mana ada warung kecil yang diperbolehkan untuk berjualan di area perumahan mewah seperti ini.' batin Justin.


Dan karena merasa sudah terlalu lama mengitari area itu dan berakhir dengan tidak menemukan nomor rumah yang dia cari, Justin akhirnya memilih untuk menghentikan langkahnya. Ia kemudian meraih tas ransel hitam yang ada pada punggungnya dan mengeluarkan dompetnya, mencoba mencari kartu nama yang di berikan tuan Romanov padanya kemarin untuk memastikan alamat yang tengah ia cari.


Justin mengernyit saat tak menemukan apa yang dia cari. 'Kenapa kartu namanya tak ada?' batinnya.


Justin kemudian menepuk kencang dahinya sesaat setelah ia mengingat dimana terakhir kali ia meletakkan kartu nama itu.


"Kartu nama itu pasti ada di atas meja di ruang tamu rumahku." gumam Justin kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya, "Ya, aku ingat, terakhir kali aku memegangnya ketika aku berada di ruang tamu, pasti tertinggal di sana."


Justin menghela lelah,


"Dasar ceroboh!" omelnya pada dirinya sendiri.


Sambil mendorong sepedanya Justin memilih untuk mencari pohon yang rindang. Ia bermaksud untuk berteduh dan mengistirahatkan kakinya di sana sebantar


Setelah menstandarkan sepedanya, Justin lalu menyandarkan punggungnya ke batang pohon yang besar. Justin mengeluarkan ponselnya, mencoba mengirimi pesan teks pada Harry untuk meminta sebuah bantuan. Ia butuh alamat lengkap tuan Romanov dari Harry sekarang.


Beberapa menit kemudian ponsel Justin bergetar, itu pasti balasan pesan dari Harry.


1 pesan baru.


From : Harry


Kau perlu alamat pak bos untuk apa?


Justin menghela membaca balasan pesan itu. Ia harus menjawab pertanyaan ini dulu rupanya. Justin lalu kembali membalas pesan dari Harry itu.


Aku ada janji, tapi aku meninggalkan alamatnya di rumahku.


Ponsel Justin kembali bergetar.


From : Harry


Baiklah, alamat tuan Romanov ada di jalan Antasari no.06B...


Heuk...


Justin membulat saat membaca isi pesan Harry tentang alamat tuan Romanov itu.

__ADS_1


"Ini 06B, bukan 60B!" gumam Justin.


Hei, bagaimana dia bisa salah saat mengingat alamat itu.  Justin tertawa pada dirinya sendiri. Ia benar-benar tampak bodoh sekarang.


"Aku sudah mengelilingi tempat ini beberapa kali, tentu saja aku tidak akan menemukan apa yang aku cari, karena toh sejak awal aku sudah salah nomor rumah." gumam Justin sambil geleng-geleng kepala.


Justin melirik jam yang ada di layar ponselnya. Ini bahkan masih pukul lima sore, namun entah kenapa Justin merasakan terik matahari yang menyengatnya serasa masih seperti pukul tiga.


Dan pada akhirnya karena merasa sudah terlalu lama berada di tempat itu,  Justin memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya. Ia langsung buru-buru menaiki sepeda dan mulai mengayuh kembali sepedanya menuju alamat rumah tuan Romanov yang baru saja ia dapat dari Harry.


Sepeda milik kini Justin sudah terparkir tepat di depan sebuah pintu gerbang yang tampak menjulang tinggi. Justin meletakkannya di sana begitu ia sampai di mansion mewah itu. Ia menghela napasnya lega karena akhirnya berhasil tiba di tempat ini setelah harus berkali-kali mencoba mengitari kompleks perumahan mewah itu.


Justin sendiri saat ini tengah berdiri tertegun menatap gerbang dari mansion yang menurutnya bukan hanya mewah, tapi amat sangat mewah itu. Bahkan karena terlalu terpesona dengan pagar mewah di hadapannya saat ini, kedua mata Justin sampai lupa untuk berkedip.


"Gerbangnya saja sudah mewah sekali," gumam Justin pelan.


Justin menatap bangunan tembok yang ada di sekitar gerbang mansion itu. Ia kini tampak kebingungan mencari tombol bel dari mansion mewah itu, tapi ia tidak menemukan satu pun tombol disitu.


"Maaf, cari siapa?"


Belum juga Justin sempat mengucapkan permisi, seseorang sudah berseru nyaring dari arah pos satpam. Dengan cepat Justin menoleh dan saat itu juga ia mendapati seorang pria paruh baya yang mengenakan seragam satpam, datang mendekatinya dan menatapnya dengan tatapan penuh curiga.


Justin tersenyum canggung saat melihat ekspresi dari pria itu. Ia lalu membungkukkan setengah badannya, memberi hormat pada pria paruh baya itu saat dia tiba di hadapan Justin.


"Selamat sore pak, apa benar ini rumah tuan Romanov?" tanya Justin pada satpam yang berdiri di hadapannya itu sambil menunjuk ke dalam gerbang.


Pria paruh baya itu tak menyahut. Ia kini malah fokus menatap tubuh Justin dari atas hingga bawah. "Anda ini?"


"Tuan Romanov?"


Justin mengangguk. "Ya! Saya mencari tuan Romanov."


Satpam itu kembali menatap Justin dari bawah ke atas lalu menatap sepeda milik Justin yang tengah terparkir di belakang pemuda itu. 'Siapa pemuda ini? Apa dia tamu tuan Romanov? Tapi bukankah selama ini tuan Romanov tidak pernah membuat janji temu di rumah.' batin satpam itu.


"Maaf sebelumnya? Bisa saya tau atas nama siapa? Lalu apakah anda sudah membuat janji bertemu dengan tuan Romanov sebelumnya." tanya satpam itu lagi.


Justin kembali mengangguk. "Ya! Kami sudah ada janji, pak. Kemarin beliau meminta saya untuk datang kemari."


Pria tua itu mengerjap lalu menoleh ke arah pos satpam, dimana teman-temannya yang lain juga tengah ikut menatap Justin.


Mereka tampak heran karena biasanya majikan mereka tidak pernah menerima tamu di rumah. Tuan Romanov biasanya akan menerima tamu atau klien di kantor utama. Selain itu, tampilan pemuda itu juga kurang meyakinkan untuk menjadi tamu dari tuan Romanov yang notabennya adalah orang penting di kota itu.


Satpam itu menatap ragu pada Justin. "Saat ini, tuan Romanov sedang me-"


TIN!


TIN!


Ucapan satpam itu sontak terhenti saat sebuah mobil tiba-tiba saja datang dan mengklakson. Satpam itu memberi tanda pada teman-temannya untuk membuka gerbang lebih lebar.


Mobil itu kemudian terlihat berhenti di dekat gerbang tepat di dekat Justin dan satpam itu berdiri saat ini.

__ADS_1


Detik selanjutnya, jendela mobil itu di turunkan dan menampakan Mario di dalamnya. Dia bodyguard kepercayaan tuan Romanov. Mario dengan cepat turun dari mobilnya dan berlari kecil mendekat ke Justin.


Justin membulat saat menatap pria muda yang saat ini tengah berlari kecil ke arahnya itu. Dia masih ingat jelas siapa pria muda itu. Mereka bahkan bertemu di insiden saat Justin menumpahkan minuman pada tuan Romanov waktu itu.


"Kau Justin Kim kan?" tanya Mario pada Justin. Ya, sebenarnya itu hanya basa basi saja. Mario sudah tau Justin lebih yang orang lain bayangkan. Sebelumnya, Mario adalah salah satu orang yang ikut menyelidiki latar belakang Justin.


Justin mengangguk dan tersenyum kaku saat melihat pria muda itu kini sudah berdiri di dekatnya.


"Ya, sa-saya Justin." jawab Justin gugup.


"Bagus." ujar Mario mengangguk. "Kalau begitu mari ikut dengan ku!"


"Tapi kemana?"


"Ke dalam mansion tentu saja." ujar Mario sambil menunjuk ke arah bangunan mansion yang bahkan sudah bisa terlihat di kejauhan. "Tuan Romanov ada di dalam, dia pasti menunggumu."


Justin mengangguk. "Baik!"


"Mari!" ajak Mario.


Justin mengangguk dan melangkahkan kakinya.


"Anda mau kemana?" tanya Mario heran saat melihat Justin yang saat ini tengah melangkah ke dalam gerbang.


"Ke mansion kan?" tanya Justin bingung, namun di balas dengan gelengan kepala oleh Mario.


"Ya, tapi kita akan naik mobil ini, Justin." ujar Mario dengan tersenyum sopan.


"Hah?"


"Maaf sebelumnya, tapi akan sedikit lama jika kau pergi kesana dengan berjalan kaki. Lihatlah! Jarak dari pintu gerbang dan mansion itu agak jauh." jelas Mario.


"Ah, benar!" Justin menggaruk belakang kepalanya dengan canggung.


"Mari ikut denganku..."


Mario bergegas membuka pintu mobilnya dan menuntun Justin agar masuk ke dalam. Mario lalu menutupnya kembali setelah Justin masuk. Pria itu tampak berjalan mengitari mobil, bergegas masuk ke dalam mobil.


"Aku sudah meminta satpam untuk membawa sepedamu ke parkiran dalam. Kau bisa mengambilnya di sana nanti." ujar Mario sambil memasang kembali sabuk pengamannya.


Justin mengangguk, "terima kasih."


"Jangan sungkan." balas Mario sambil menyalakan mesin mobil dan mulai menancap gas mobilnya. "Kita akan segera sampai."


Justin hanya mengangguk dengan senyum kecil.


***


✔ Note :


▪Author tidak akan mengubah kesalahan ejaan, typo dan hal lainnya karena faktor KEMALASAN TINGKAT AKUT. Dan sesungguhnya kemalasan adalah kerajinan yang tertunda.

__ADS_1


▪Author peduli dengan kesehatan mata kalian, jadi, kalau kalian kurang suka sama ceritanya, Author sarankan kalian untuk mencari cerita yang lain saja, karena cerita ini bisa menyebabkan sakit mata akut.


__ADS_2