
"Apa kau bilang, Harry? Pemuda itu berhenti bekerja di sini?" tuan Romanov berujar nyaring.
Harry menganggukkan kepalanya. "Maafkan saya tuan, tapi dia-"
"Bukankah aku sudah mengatakan padamu sejak awal agar tidak memecatnya?" tuan Romanov menatap tajam pada pegawai kepercayaannya itu.
"Bu-bukan, tuan. Saya tidak memecatnya. Tidak pernah." ujar Harry gagap.
"Lalu bagaimana dia bisa berhenti bekerja, padahal tak ada yang memintanya berhenti. Dia bahkan baru bekerja di sini selama sehari, lalu kenapa?" tuan Romanov berujar kesal.
"Saya tidak bohong, tuan Clinton. Saya benar-benar tidak memecatnya. Tapi dia sendiri yang memutuskan untuk berhenti. Mana mungkin saya memecatnya padahal yang membawanya kemari adalah saya."
"Benarkah kau tidak memecatnya?" tanya tuan Romanov memastikan.
"Ya, tuan. Dia bahkan tidak memberitahu saya atau mengabari saya tentang kemana dia pergi sampai sekarang." jawab Harry dengan nada ketakutan.
Tuan Romanov menghela napasnya, mencoba untuk mengontrol emosinya yang sempat memuncak beberapa saat yang lalu. Ia kembali menatap Harry tajam, ia jelas kesal. Bagaimana bisa pemuda itu berhenti di saat dia membutuhkan pekerjaan? Bukankah dia baru saja berhenti dari segala pekerjaan yang ia miliki.
Harry sendiri hanya terus menatap sang atasan dengan ekspresi takut. Ia masih tampak terkejut. Beberapa saat yang lalu ia sempat di kagetkan saat melihat kedatangan mendadak tuan Romanov ke kafe. Kalau di hitung ini adalah kali kedua atasannya itu datang ke kafe secara mendadak begini. Padahal biasanya tuan Romanov sangat jarang bahkan hampir tidak pernah datang mengunjungi kafe. Harry lah yang biasanya datang menemuinya ke kantor utama.
__ADS_1
Dan ia lebih terkejut lagi saat atasannya itu mengatakan padanya agar segera menemuinya di kantor karena ada hal penting yang ingin di bicarakan padanya.
Ternyata ini semua tentang Justin. Tuan Romanov mencari Justin. Namun pemuda itu memang sudah menghilang sejak hari dimana ia menumpahkan kopi di pakaian tuan Romanov. Harry tidak tahu bagaimana kabar Justin setelah itu. Di kampus, Justin pun mencoba menghindarinya. Terbukti dari Harry yang tak melihatnya dimanapun. Pemuda itu benar-benar menghilang bak di telan bumi.
"Harry aku sedang bicara padamu!" sentak tuan Romanov.
Harry langsung tersadar dari lamunan kecilnya. Ia kemudian mendongak, menatap canggung atasannya yang saat ini tengah menatapnya tajam.
"Maaf tuan, sa-saya tidak mendengar." ujarnya gugup.
"Aku bertanya, bagaimana bisa dia tidak memberitahu padamu? Kau bilang waktu itu kalau kau dan dia dekat bukan?" tuan Romanov mengulang pertanyaannya yang sempat di abaikan Harry barusan.
Tuan Romanov terdiam.
Apa yang salah dari pemuda itu? Kenapa dia malah pergi dan menghilang seperti ini? Apakah ini karena kejadian waktu itu?
Tuan Romanov kembali menatap datar ke arah Harry. "Aku ingin kau bawa dia untuk datang menemuiku!"
"Ya?" Harry berujar kaget setelah mendengar perintah mengejutkan dari atasannya itu.
__ADS_1
"Justin Kim! Aku ingin kau bawa dia untuk datang menemuiku. Kau bawa dia ke kantor utama, tepat kehadapanku!" ujar tuan Romanov tegas.
"Baik, tuan."
"Dan kalau kau gagal membawanya, kau yang akan ku pecat nanti." ancam tuan Romanov. "Ini kesalahanmu yang tidak bisa mencegahnya pergi."
Harry menelan ludahnya kasar. Pemuda itu tidak punya cara untuk menolak. Tapi ia juga tidak ingin di pecat. Hingga pada akhirnya Harry memilih menganggukkan kepalanya baru kemudian bangkit dari kursinya.
"Saya permisi, tuan." ujarnya.
Harry berjalan menuruni anak tangga sambil mengecek ponselnya.
"Dia belum juga membalas pesanku," gumamnya sambil menelepon Justin, "dia bahkan tidak mengangkat teleponku. Lalu bagaimana caranya aku membawanya menemui tuan Romanov."
Harry mengusak kepalanya frustasi, "ada apa sebenarnya dengan Justin."
Tepat setelah itu, muncul ide di kepala Harry, ia tersenyum sambil menjentikkan jarinya.
"Aku akan pergi ke rumahnya saja malam ini sepulang bekerja." gumam Harry.
__ADS_1
***