Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
8.


__ADS_3

Charlotte memasuki kamar yang telah di sediakan untuknya oleh pegawai hotel. Ia melemparkan jaket kulitnya ke sandaran sofa dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.


Tampak segelas kopi tersedia di atas meja. Seorang pegawai hotel datang beberapa saat yang lalu untuk mengantarkannya. Dimitri pasti yang sudah memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan kopi.


"Mungkin aku tak harus buru-buru datang untuk menemuinya ke sana..." gumam Charlotte sembari menyamankan posisi ke sandaran sofa.


Charlotte melirik jam di pergelangan tangannya. Masih tersisa sekitar sepuluh menit lagi dari waktu pertemuan yang ditentukan. Ia bukanlah orang yang akan datang di awal saat ada janji pertemuan. Jadi Charlotte belum akan pergi kemana pun dan akan bersantai dulu di ruangan ini.


Beberapa saat kemudian, Charlotte akhirnya tiba di area restoran hotel. Ia terus melangkahkan kakinya dengan tenang dan masuk ke dalam area restoran hotel mewah tempat dimana tamunya tengah menunggu dirinya.


Charlotte mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru restoran, mencoba mencari sosok pemuda yang akan ia temui.


"Dimana sih lelaki itu?" ujar Charlotte menoleh ke kanan dan kiri restoran.


Sejujurnya, Charlotte sendiri tidak pernah sama sekali bertemu dengan pemuda yang akan ia temui itu dan hanya melihatnya lewat foto yang di kirimkan oleh salah satu temannya. Teman Charlotte mengatakan kalau Victor pernah melihat Charlotte di suatu tempat dan ingin berkenalan.


Charlotte hanya bicara dengan Victor melalui telepon. Jadi hal itu membuat Charlotte agak sedikit kesulitan untuk menemukannya.


"Ah itu dia!" seru Charlotte setelah melihat seorang pria yang cocok dengan foto yang ada di ponselnya. "Susah sekali sih mencarinya di dalam keramaian begini!" gerutunya.


Charlotte melanjutkan langkah kakinya, berjalan ke arah meja yang berada pada paling ujung ruangan itu dimana orang yang ingin ia temui tengah duduk menikmati minumannya.


"Victor Alexander?" sapa Charlotte mengulurkan tangan kanannya.


Pemuda itu menatap uluran tangan Charlotte selama beberapa saat sebelum tersadar.


"Ah, Charlotte Clinton!" lelaki itu menyapa Charlotte balik dan bangkit dari duduknya. Ia turut mengangkat tangan untuk menerima uluran tangan dari gadis itu.


Charlotte menatap penampilan Victor dari atas hingga bawah. 'Ya, dia tidak begitu buruk.' batin Charlotte.


"Duduklah dulu." ujar Victor. "Terima kasih sudah bersedia datang kemari."


"Ya, tidak masalah."


Charlotte kemudian menarik kursi di depan Victor dan segera mendudukkan dirinya tepat di hadapan pemuda tampan itu.


"Apa sudah lama menunggu disini, Victor?" tanya Charlotte menatap pemuda itu dengan senyum kecilnya.


"Tidak juga! Aku baru saja sampai beberapa saat yang lalu." jawab Victor berterus terang. "Tapi kalau pun harus menunggu gadis secantik dirimu, aku juga tak masalah." goda Victor.


"Ah, begitukah?" jawab Charlotte


Nada bicara Charlotte terdengar tenang, tapi kata-katanya mengandung nada jijik tersembunyi yang tidak di sadari oleh pemuda di hadapannya itu.


Lima detik setelah bertemu dengan pria ini, Charlotte mulai merasa jengah. Ia tidak menyangka, ternyata masih ada saja laki-laki yang menggunakan cara usang untuk membuatnya hatinya luluh. Ya, cara usang yang dimaksud adalah seperti mencoba merayunya dengan kata-kata klasik begini contohnya.


'Dia terlihat membosankan' batin Charlotte.


Victor tersenyum.


"Rupanya kau ini cantik sekali kalau dilihat secara langsung seperti ini." goda Victor lagi yang hanya di balas senyuman miring oleh Charlotte.

__ADS_1


"Kau salah besar."


"Ya? Salah besar."


"Tentu saja. Aku ini selalu cantik setiap saat! Entah itu di majalah, televisi atau di manapun. Entah itu secara langsung atau tidak langsung." ujar Charlotte.


"Ah, benar." Victor sedikit kaget saat mendengar Charlotte memuji dirinya sendiri. "Pakaianmu juga indah, cocok sekali untukmu!" puji Victor.


Charlotte tersenyum singkat. "Mungkin karena wajah cantikku. Karena pakaian apapun akan terlihat bagus saat orang cantik yang mengenakannya."


"Ah itu, aku juga setuju." jawab Victor canggung.


Melihat ekspresi kaku di wajah Victor, Charlotte sontak tertawa dalam hati. Jujur saja, di bandingkan harus mendengar pujian orang untuknya dia lebih suka memuji dirinya sendiri. Menurut Charlotte, pujian dari orang untuknya hanya sebuah omong kosong belaka meskipun cukup menyenangkan hati.


"Oh ya, apa kau mau minum sesuatu, Charlotte?" tanya Victor kemudian.


"Panggil aku Lottie saja!" pinta Charlotte santai.


"Ah, baiklah." Victor menganggukkan kepalanya paham. "Apa kau mau minum sesuatu, Lottie?"


"Boleh."


"Bagaimana dengan wine?" tawar Victor.


Charlotte menggeleng cepat. "Oh tidak! Sepertinya aku mau minum kopi saja."


"Oke! Lalu bagaimana dengan makanannya? Kau mau makan apa?" tanya Victor lagi.


"Bagaimana dengan steak?" tawar Victor lagi.


Charlotte mengangguk setuju. "Steak aku pikir enak dan aku juga lumayan suka. Air mineral juga boleh."


"Baiklah."


Victor lalu memanggil pelayan untuk memesan makanan. Dan setelah itu barulah ia kembali menatap Charlotte dengan senyum.


"Sekarang kita akan makan siang bersama terlebih dahulu." ujar Victor santai.


"Kita bisa bicara lebih santai sembari makan."


"Ya benar. Barulah setelah makan siang, kita akan memulai hari kita. Bersenang-senang bersama." ujar Victor dan hanya di tanggapi dengan senyum sinis oleh Charlotte.


Charlotte menatap Victor datar dan merasa jika tidak ada satupun hal dari pemuda di hadapannya ini yang cukup untuk menarik perhatiannya, selain wajahnya. Dan hal itu jelas membuat Charlotte cukup heran, entah kenapa pemuda ini terlihat sangat percaya diri.


"Kau tampak percaya diri sekali."


"Ya, aku memang percaya diri."


"Hati-hatilah sedikit saat bicara, Victor. Memulai hari kau bilang?" tanya Charlotte dengan nada sinis. Ia lalu berdecak. "Ck, aku sarankan jangan terlalu percaya diri. Bahkan ini mungkin bisa jadi hari terakhirmu untuk memiliki harga diri sebagai laki-laki."


Victor tersenyum miring. "Aku meragukan itu, cantik. Aku jelas jauh lebih baik dari pasangan lamamu dan para mantanmu itu."

__ADS_1


"Ah, benarkah?" Charlotte menatap Victor dengan sebelah alis yang terangkat. "Jadi kau merasa lebih baik dari mereka?"


"Aku pikir begitu." balas Victor menganggukkan kepalanya. "Aku sempat mendengar banyak hal buruk yang terjadi pada para mantan kekasihmu itu."


Charlotte menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, melipat kedua tangannya di dada. "Mereka yang bilang begitu padamu?"


"Oh, bukan." ujar Victor mencoba tenang. "Tentu saja bukan. Aku ini hanya mendengar cerita dari rumor yang beredar, bahwa kau suka mencampakkan para pria karena tidak puas dan membuat mereka frustasi."


Pernyataan Victor itu sontak membuat Charlotte terkekeh geli. "Itu sedikit berlebihan karena bagiku itu tidak lebih dari sebuah perpisahan. Aku bahkan tidak melakukan apapun pada mereka."


"Hahaha kau benar. Bagaimana mungkin gadis cantik sepertimu bisa menyakiti orang lain." ujar Victor dengan senyum yang menggoda.


"Ya, bagaimana aku bisa menyakiti para lelaki seperti itu." tolak Charlotte dengan lugas yang langsung di angguki oleh Victor.


"Ya! Aku setuju." ujar Victor.


"Dan kita lihat saja nanti, betapa baiknya diriku ini kepada para lelaki." ujar Charlotte lembut namun penuh dengan penekanan.


"Hahaha." Victor tertawa lebar mendengar pernyataan dari Charlotte itu. "Ya, aku juga tidak sabar, Nona Clinton!" ucapnya.


Namun tanpa Victor sadari, Charlotte kemudian menatapnya dengan tersenyum sinis.


***


Dan- setelah menghabiskan waktu beberapa menit untuk makan siang bersama Victor di restoran hotel itu. Di sinilah Charlotte sekarang, di dalam kamar hotel berduaan dengan pemuda itu.


Charlotte saat ini tengah berdiri santai di dekat jendela kamar hotel itu. Sesekali ia menyesap minuman yang ada di tangannya sambil menatap pemandangan yang ada di luar hotel.


Sementara itu, Victor yang baru saja keluar dari kamar mandi mulai melangkah mendekat pada Charlotte yang saat ini berdiri di dekat jendela, masih menatap pemandangan gedung-gedung di sekitarnya yang menjulang tinggi.


"Apakah kau sudah siap sayang?" bisik Victor di telinga Charlotte sambil memeluk gadis itu dari belakang. Tangan Victor kini mulai bergerak pada pinggang Charlotte, merem*snya pelan dan dengan perlahan mulai mengendus ceruk leher gadis itu. "Kau sudah sudah siap kan bermain denganku?"


Mendengar pertanyaan konyol dari pemuda itu, Charlotte hanya tersenyum kecil.


"Siap kau bilang?" Charlotte balik bertanya. Ia menaikkan sebelah alisnya, lalu menggerakkan tangannya untuk mencoba menahan tangan Victor yang saat ini sudah mulai liar menyentuh tubuhnya. "Bukannya di sini aku lah yang harus bertanya hal itu padamu? Apa kau udah siap bermain-main dengan ku sekarang?"


"Ya, karena dari apa yang aku lihat sejak pertemuan kita di restoran hotel tadi, kau terlihat sangat percaya diri, Victor." lanjut Charlotte sinis.


"Tentu saja aku sangat percaya diri!" Victor tersenyum simpul. "Itu karena aku sangat yakin kalau kau pasti akan ketagihan dengan milikku."


Charlotte mendecih sinis dan menggelengkan kepalanya merasa geli dengan kalimat yang di ucapkan oleh lelaki itu.


"Entah kenapa sekarang aku jadi merasa sangat penasaran padamu. Ya, aku jadi ingin tahu, seberapa hebat kah dirimu di atas ranjang nanti jika di bandingkan dengan pria lain yang pernah aku temui selama ini."


Charlotte kemudian memutar tubuhnya untuk menghadap kearah Victor. Ia menyondongkan tubuhnya agar lebih dekat pada pemuda itu. Dengan perlahan, Charlotte lalu mendekatkan wajahnya pada wajah pemuda tampan itu, mencoba untuk mempertipis jarak di antara mereka.


Charlotte menatap lekat wajah Victor lalu menyeret pemuda itu menuju ke tempat tidur. Ia kemudian mendorong tubuh pemuda itu hingga jatuh terbaring ke atas ranjang empuk.


"Jadi... mari kita lihat, Victor Alexander. Kita lihat akan sehebat apa kau nanti!" Charlotte mulai merangkak naik ke atas ranjang.


"Aku juga penasaran denganmu." ujar Victor kemudian mulai melepas satu persatu pakaiannya.

__ADS_1


***


__ADS_2