
Charlotte sepertinya sama sekali tak peduli melihat ekspresi kebingungan yang Xander tunjukkan untuknya saat ini. Terbukti ia terus saja melangkahkan kakinya keluar dari mansion menuju ke halaman samping dari mansion itu.
"Mau membawaku kemana?" tanya Xander pada Charlotte untuk yang kesekian kali namun tak ada satupun jawaban yang keluar dari mulut gadis itu.
Xander menghela napasnya berat, sebenarnya ia sudah terlalu malas untuk melangkah kembali ke luar karena tubuhnya sudah lelah, dia juga lapar, tapi ia tetap pasrah saja.
Tangan Xander terus di seret dengan paksa agar mengikuti Charlotte yang berjalan di depan. Xander bahkan agak terseret-seret karena tarikan Charlotte yang begitu kencang itu.
Xander yang masih agak kebingungan hanya memandang punggung belakang Charlotte saat gadis itu terus menariknya menuju ke halaman samping mansion.
"Ada apa sih?" tanya Xander tak sabaran.
Saat mereka sudah sampai di luar mansion, Charlotte langsung menarik Xander ke tempat yang agak gelap dan juga sepi, jauh dari lalu lalang para pelayan.
Bruk!!
Charlotte dengan tiba-tiba saja mendorong Xander ke dinding hingga tubuh pemuda itu langsung terhempas dengan keras ke dinding beton yang ada di belakangnya. Gadis itu kemudian bergerak maju, semakin mendekatkan dirinya pada Xander, menghimpit tubuh pemuda itu hingga lebih merapat ke dinding.
"Kenapa lo me-"
Charlotte bergerak dengan cepat menutup mulut Xander dengan telapak tangannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya pada pemuda itu.
"Lo diam dulu, bisa nggak?" bisiknya.
Xander memegang tangan Charlotte kemudian menurunkannya dari wajahnya.
"Ada apa?" ujar Xander kini ikut berbisik.
Xander menatap bingung pada Charlotte yang saat ini tampak menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, menatap daerah sekitar mereka. Entah kenapa gadis ini tampaknya sedang mengajak dirinya untuk bersembunyi dari sesuatu. Ah... atau mungkin dia sedang bersembunyi dari seseorang?
"Dia ada di sini!" ujar Charlotte kemudian, memberitahu Xander.
Gadis itu berujar dengan nada pelan, sangat pelan hingga hampir seperti berbisik barulah kemudian dia kembali menatap daerah sekitar mereka.
"Dia?" tanya Xander bingung. "Siapa maksudnya?"
Xander ikut menolehkan kepalanya ke daerah sekitar mereka yang tampak sepi. Saat itu hanya ada dua atau tiga pelayan saja yang tampak melintas di halaman parkir.
"Siapa yang ada di sini?" ujar Xander lagi lalu melirik ke arah pintu masuk. "Kakek maksudmu?"
"Bukan! Lelaki incaranku itu,"
Xander menaikkan sebelah alisnya. "Memangnya siapa yang kau incar? Apa lelaki selingkuhanmu?" bisiknya.
Charlotte memutar bola matanya seraya menggeleng pelan. Ia memundurkan langkahnya ke belakang karena hampir kehilangan minat untuk melanjutkan kalimatnya. Yah, salahkan saja dirinya sendiri yang memilih untuk mengajak bicara lelaki lemot seperti Xander.
"Bukan bodoh, tapi Justin!" lanjut Charlotte lagi sambil kembali berbisik.
Xander sontak menatap Charlotte dengan alis yang berkerut. Kenapa jawaban dari gadis ini malah semakin membuatnya tak mengerti. Dan sedetik kemudian Xander lalu terkekeh bingung.
"Justin?" tanyanya masih terus terkekeh. "Siapa lagi itu?"
"Ya ampun, Xander. Apakah kau tidak ingat? Justin, Justin Kim!" Charlotte berujar gemas. Ia begitu frustasi bahkan hampir merasa kesal sekarang. Ingin sekali rasanya ia memukul kepala pemuda ini agar dia bisa mengingat siapa yang tengah di ceritakan Charlotte padanya saat ini.
Dan bukannya mengerti dengan perkataan gadis itu, Xander malah menaikkan bahunya acuh.
"Aku tidak tau apa dan siapa yang sedang kau bicarakan saat ini!" ujar Xander padanya kemudian.
__ADS_1
Charlotte menatap pemuda itu dengan tatapan tak percaya.
"Apa kau benar-benar tidak ingat? Dia pemuda yang aku temui di kafe waktu itu! Si pengantar ayam itu! Lelaki incaranku, Xander. Ayolah, dia pemuda yang sangat ingin aku tiduri sejak beberapa waktu ini!" tuntut Charlotte pada Xander agar kakaknya itu bisa mengingat segalanya.
"Ah, Justin yang itu rupanya." Xander menjentikkan jarinya lalu menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Ya, itu dia! Dan apa kau tau kalau sekarang dia ada di sini! Di mansion ini! Di dalam bersama dengan kakek."
Xander sontak merapatkan bibirnya begitu mendengar kalimat itu. Raut wajahnya berubah menjadi serius sekarang. Xander lalu terdiam untuk beberapa saat barulah kemudian ia menatap Charlotte dengan ekspresi kagetnya.
Entah kenapa ia tak bisa menanggapi apa-apa atas perkataan Charlotte itu. Dia juga merasa kaget, oke!
"Hah?" Xander pada akhirnya menanggapi, meski otaknya masih terasa agak lamban untuk mencerna segalanya.
"Lihat ini?" Charlotte mendengus. "Kau bahkan tampak kaget bukan."
"Tapi sedang apa dia di sini?"
"Itu juga yang jadi pertanyaanku, Xander. Apa yang sedang dia lakukan di sini. Ya, ini memang sangat mengejutkan bagi kita, terutama bagi diriku!"
Charlotte mengusap wajahnya frustasi.
Xander mengerutkan dahinya. Ia sendiri diam-diam tampak berpikir. Bukankah sebelumnya sang kakek mengatakan padanya kalau dia akan mengundang seseorang datang untuk makan malam bersama. Dan itu adalah seorang pemuda yang dia tabrak. Tapi apa ini? Kenapa yang datang kemari justru adalah Justin.
Namun, detik itu juga Xander membulat. Ia bisa langsung menyadari sesuatu yang mengejutkan. Dan setelah itu barulah kemudian semua hal jadi terasa masuk akal bagi Xander.
'Kalau begitu, seseorang yang di tabrak oleh kakek... dia adalah pemuda itu? Dia adalah Justin Kim' batin Xander.
"Tidak mungkin!" Xander berujar pelan pada dirinya sendiri. Charlotte mengernyit dan menatap Xander dengan tatapan bingung.
"Apa yang tidak mungkin?" tanya Charlotte
"Apa yang tidak mungkin? Aku tidak mengerti!" ujar Charlotte.
"Aku tidak mungkin... maksudku... tidak bisa menjelaskan padamu saat ini."
"Kenapa tidak bisa?" Charlotte menaikkan alisnya, semakin bingung saja. "Apakah ada hal yang kau ketahui tapi tidak aku ketahui?"
Xander mengangguk, "Ya."
Charlotte terdiam untuk beberapa saat dan kemudian ia menatap Xander yang tengah menampilkan ekspresi serius.
"Apa itu? Hal apa yang tak aku ketahui sebenarnya?"
"Saat ini aku tidak bisa mengatakan apapun padamu, Lottie."
"Apa? Apakah ini tentang kehadiran Justin di sini." tanya Charlotte.
"Benar! Dan satu hal yang pasti, kita berdua tidak bisa menghindari hal ini."
Charlotte menyipitkan matanya, kemudian menjentikka jarinya.
"Ah aku ingat, kau mengatakan padaku kalau kakek punya tamu malam ini. Apakah itu Justin?"
"Aku rasa iya" jawab Xander.
"Kau rasa? Kau juga tidak tau siapa tamunya?"
__ADS_1
"Bagaimana bisa aku tau? Kakek tak mengatakan nama tamunya." Charlotte mengangkat bahu.
Charlotte menghirup udara dalam-dalam melalui hidungnya. Ia menarik rambutnya, menjambaknya. "Ini gila, benar-benar gila. Ini semua tampak seperti sebuah-"
"Kebetulan!"
Charlotte melirik Xander datar.
"Ya! Semua ini kebetulan."
"Aku rasa tidak." Xander menggelengkan kepalanya meletakkan jarinya di dagu. "Aku rasa tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini Charlotte."
"Apa?"
"Kebetulan itu tidak ada, Lottie!"
"Apa maksudmu?"
Xander terkekeh. "Di bandingkan dengan kebetulan, pertemuanmu dengan pemuda itu... aku lebih suka menyebutnya sebagai... takdir."
"Hah?"
"Aku tidak bisa mengatakannya lebih rinci, tapi aku rasa ini adalah cara Tuhan melindungi pemuda itu dari rencana kotormu waktu itu. Itu sebabnya dia bertemu dengan kakek."
Charlotte tersenyum sinis. "Berhentilah mengajakku bermain tebak-tebakan dan katakan apa sebenarnya maksud ucapanmu."
"Kalau kau ingin tahu apa yang terjadi, kita harus masuk."
"Apa? Tidak!" Charlotte menggeleng. "Aku tidak akan masuk dan bertemu dengan pemuda itu."
"Kenapa?"
"Aku... malu."
Ucapan Charlotte nyaris membuat Xander tersedak ludahnya sendiri. Ia mendecih sinis.
"Jangan mengada-ada. Sejak kapan kau tau apa artinya 'malu', hah? Ayo cepat!"
Xander menarik lengan Charlotte yang langsung di hempaskan oleh gadis itu.
"Aku bilang aku tidak akan masuk!" kesal Charalotte lalu menyilangkan tangannya ke dada.
Xander memutar bola matanya malas.
"Kalau kau ingin tau kenapa pemuda itu bisa berada di sini, kau harus masuk." ujar Xander datar.
Charlotte mulai merasa tertarik, ia melirik Xander, "Tapi-"
Xander langsung kembali meraih lengan kanan dari gadis itu dan menariknya agar mengikutinya.
"Kau akan masuk lebih dahulu." ujar Xander.
***
✔ Note :
▪Author tidak akan mengubah kesalahan ejaan, typo dan hal lainnya karena faktor KEMALASAN TINGKAT AKUT. Dan sesungguhnya kemalasan adalah kerajinan yang tertunda.
__ADS_1
▪Author peduli dengan kesehatan mata kalian, jadi, kalau kalian kurang suka sama ceritanya, Author sarankan kalian untuk mencari cerita yang lain saja, karena cerita ini bisa menyebabkan sakit mata akut.