Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
89.


__ADS_3

Percayalah, kalau selama ini tak pernah ada satupun pria yang bisa membuat Charlotte sampai kesulitan untuk tidur semalaman. Selama ini tak pernah ada pria yang bisa membuat lingkaran hitam di bawah matanya muncul. Dan tak pernah ada pria yang membuat Charlotte senyum-senyum sendiri sambil menatap langit-langit kamarnya.


Selain Justin Kim.


Ya, pemuda itu yang sudah membuat Charlotte merasakan semua hal itu. Sejak pulang dari mengantarkan pemuda itu semalam, Charlotte sama sekali tak bisa menutup matanya, walau hanya sedetik. Ia sudah seperti orang yang kasmaran saja. Entah kenapa, di otak Charlotte hanya muncul wajah Justin saja, ia terus menerus memikirkan wajah pemuda itu.


Wajahnya.


Wajahnya.


Dan wajah tampannya.


Hanya itu.


Guling yang ada di pelukan Charlotte dengan terpaksa harus menjadi korban dari gadis cantik itu. Ia benar-benar sudah seperti gadis yang baru pertama kali menjalani hubungan dengan seseorang. Charlotte memeluk kencang guling itu sambil berguling-guling di atas tempat tidur.


Charlotte mengangkat tinggi-tinggi benda persegi yang sejak tadi ada di genggaman tangannya.


"Lihat ini. Bahkan foto KTP-nya saja sempurna." ujar Charlotte pelan. Charlotte tersenyum simpul sambil menatap KTP milik Justin yang ada di tangannya. Ya, benda yang ada ditangannya itu adalah kartu identitas milik Justin yang sempat ia ambil paksa beberapa waktu lalu.


Meskipun hanya foto KTP tapi Charlotte benar-benar terpesona dengan wajah tampan dari pemuda itu. Yah, wajah tampan Justin sudah berhasil menjerat pikirannya agar terus selalu mengingat wajahnya saja.


Charlotte terus memandang foto KTP milik pemuda itu. Ia tersenyum malu.


"Bahkan foto KTP-nya saja luar biasa, tanpa cacat sedikitpun."


"Bagaimana bisa Tuhan menciptakan wajah yang begitu sempurna seperti ini." gumam Charlotte lagi, kali ini ia tersenyum geli pada dirinya sendiri.


"Nona, air panasnya sudah siap." ujar pelayan yang sejak tadi memang berada di dalam kamar mandi yang ada dikamarnya.


Pelayan itu tampak kebingungan saat melihat sikap aneh nona mudanya yang berguling-guling di atas ranjang sejak tadi.


"Baiklah, kau bisa pergi." ujar Charlotte lalu kembali menatap foto yang ada di tangannya.


"Baik nona."


Setelah kepergian pelayan itu, Charlotte langsung saja mendudukkan diri di sudut tempat tidur.


"Sayang sekali kalau aku tidak berhasil mendapatkan pemuda setampan ini." gumamnya.


"Aku harus mencari cara mendekati Justin tanpa membuat kakek marah." gumamnya sambil tersenyum miring.


Ia lalu turun dari ranjang dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Hari ini Charlotte memutuskan untuk bersiap dengan buru-buru agar bisa pergi lebih cepat ke kampus. Ia tak sabar ingin bertemu lagi dengan Justin di kampus nanti.


Dan pagi ini, setelah selesai bersiap, Charlotte buru-buru turun dari kamar dan menuju parkiran. Ia tampaknya sudah sangat siap untuk pergi ke kampus.


Sambil menunggu kemunculan Xander, Charlotte memilih menyandarkan tubuhnya ke mobil merah miliknya sendiri. Sementara tangannya tampak memutar-mutar kunci mobil yang ada di jarinya.


Sedari tadi Charlotte hanya berdiri melamun dengan mata yang menatap pada air mancur yang ada di dekat area parkir mansion.


Tak lama kemudian, Xander akhirnya muncul sambil menyampirkan sebelah tali tasnya ke pundak.


"Kenapa kau lama sekali," oceh Charlotte.


Xander malah menaikkan sebelah alisnya, menatap heran pada adiknya itu. Ia heran, tentu saja. Tidak biasanya Charlotte tiba lebih dahulu dan menunggu dirinya seperti ini, biasanya kan dia yang selalu menunggu Charlotte


Xander melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Charlotte dengan mata menyipit. "Ada apa ini?"


"Apa apa?"


"Apalagi maumu, sekarang?" selidik Xander.


Charlotte menunjuk dirinya sendiri. "Mauku?"

__ADS_1


"Ya, apa maumu?"


"Tidak ada."


"Jangan berpura-pura." sinis Xander masih dengan mata yang menyipit. "Tidak biasanya kau datang tepat waktu seperti ini. Ya, aku merasa ada sesuatu yang janggal di sini."


"Aku hanya… menunggumu."


"Ck, menunggu apanya. Cepat katakan! Apa maumu?"


"Ayolah, berhenti berpikiran negatif padaku. Sekali-kali berpikir hal yang baik. Kenapa kau selalu curiga padaku?"


"Karena itu adalah kebiasaanmu... melakukan hal negatif."


Sindiran Xander membuat Charlotte berdecak sinis. "Dan kau sendiri... kebiasaanmu adalah menghina diriku." gerutunya. 


Xander hanya terkekeh. "Cepat katakan?"


"Sudah ku bilang tidak ada. Aku hanya sedang ingin pergi lebih cepat dari biasanya."


"Baiklah." Xander menyerah dan memilih untuk mempercayai gadis ini saja. "Apapun alasanmu untuk pergi pagi-pagi begini. Itu alasan yang bagus karena aku tak perlu menunggumu lagi."


Charlotte mencebik. Ia memilih berdiri tegak dan memasukkan kunci mobilnya ke dalam tas.


"Kau ikut denganku atau naik mobilmu sendiri?" tanya Xander.


"Aku menunggumu di sini, artinya aku ingin kita berangkat bersama. Dengan mobilmu. Kenapa masih bertanya?" omel Charlotte.


Sebuah jitakan halus kemudian mendarat di dahi Charlotte.


"Ya sudah, jangan banyak bicara. Lagipula aku kan hanya bertanya." ujar Xander sambil berjalan menuju pintu mobil. "Ayo cepat masuk."


Charlotte dan Xander akhirnya masuk kedalam mobil milik Xander, dengan Xander yang bertindak sebagai supir.


Charlotte mengangguk, tapi tidak menoleh. Gadis itu memang tak banyak bicara bahkan sejak mereka berangkat ia memang terlihat lebih diam, tampak memikirkan sesuatu lebih tepatnya.


Melihat Charlotte yang diam Xander hanya menatap bingung. Ia mencoba untuk bersikap biasa saja.


"Apa kau sudah sarapan?" tanya Xander lagi.


Charlotte masih tampak diam. Ia tak mendengar tampaknya. Ah, atau memang tidak berniat untuk menjawab pertanyaan itu.


'Ada apa dengan gadis cerewet ini?' batin Xander.


Namun tiba-tiba saja Charlotte memutar tubuhnya dan menatap lurus pada Xander.


"Xander!" seru Charlotte.


"Hm.."


"Apa menurutmu kakek memang akan menghabisiku jika aku melakukan sesuatu pada pemuda itu?"


Xander menaikkan sebelah alisnya. "Pemuda itu? Siapa maksudmu? Apa Justin?"


Charlotte mengangguk.


"Kenapa membahas ini lagi?"


"Ya ampun, jawab saja!"


Xander tampak berpikir sebentar sebelum kemudian mengangguk. "Em, aku rasa iya."


"Sudah ku duga." Charlotte berdecak kemudian mengangguk. "Aku juga berpikiran begitu sejak semalam. Kakek terlihat sangat menyayanginya."

__ADS_1


"Kalau begitu kenapa kau bertanya lagi?"


"Aku hanya penasaran. Aku ingin tahu bagaimana pendapatmu tentang reaksi yang akan kakek tunjukan. Dan benar dugaanku. Kau juga berpendapat sama… kalau kakek pasti akan sangat marah."


"Ya, aku juga bisa melihatnya dengan jelas. Kakek memang mengayomi Justin bahkan seperti cucunya sendiri." ujar Xander santai.


Charlotte mendengus, "Ya, aku agak kesal saat melihatnya. Kakek bahkan tak pernah sebaik itu pada diriku selama ini."


"Aku setuju." Xander terkekeh. Selama ini Xander memang tak pernah melihat tuan Romanov berbuat sebaik itu pada Charlotte. Salahkan saja Charlotte yang selalu melawan.


'Ya, Charlotte memang nakal sekali dan selalu saja membuat kakek kesal setengah mati.' batin Xander lalu terkekeh.


"Kalau begini bagaimana caraku mendekati Justin?" ujar Charlotte.


"Kapan kau berhenti merencanakan hal konyol itu?"


"Aku tidak akan berhenti!" tegas Charlotte kemudian memejamkan kedua matanya, "Aku harus mencari cara agar kakek tak mengetahui apapun kalau aku sedang mengincar Justin."


Xander hanya melirik singkat. Sejujurnya, selalu ada perasaan tak suka yang muncul di hati Xander setiap kali Charlotte mengutarakan rencananya tentang 'meniduri' Justin.


Ia heran, bahkan setelah mengetahui kalau sang kakek mengenal Justin, bahkan terlihat begitu menyayangi pemuda itu, gadis ini terlihat tak begitu terpengaruh dan terus melanjutkan rencananya.


"Aku rasa lebih baik kau lupakan saja."ujar Xander kemudian.


Charlotte menoleh dan menatap Xander dengan bertanya-tanya. "Melupakan apa?"


"Rencana konyol mu itu. Menidurinya..."


Seringaian muncul untuk menanggapi perkataan Xander itu. "Jangan harap aku akan melakukan hal itu."


"Yah, sebenarnya aku hanya menyarankan." ujar Xander acuh tak acuh dengan menggedikkan bahunya santai.


"Saran seperti itu tak berguna apapun untuk diriku karena aku benar-benar menginginkan agar rencanaku ini terjadi. Dia sempurna. Itu sebabnya aku semakin ingin melakukan dengannya."


"Terserah kau saja," Xander menggeleng pasrah.


"Hm…"


"Jika terjadi sesuatu, ingatlah kalau aku pernah mengingatkanmu tentang ini."


Xander menghela. Kenapa Xander jadi serba salah begini. Sejujurnya dalam hati Xander tetap tak ingin Charlotte melanjutkan hal ini. Tapi dia juga tak bisa melarang Charlotte melakukan urusannya.


Bukankah ini tak baik?


Bagi Xander, apa yang Charlotte lakukan ini sangat keterlaluan. Sebuah ambisi sudah berhasil mengambil segala kewarasan gadis itu. Membutakannya. Charlotte bahkan tak berpikir kalau apa yang dia lakukan bisa menyakiti hati pemuda polos seperti Justin.


Xander melihatnya sendiri semalam betapa polosnya pemuda itu. Sudah jelas pemuda itu berbeda dari kebanyakan orang. Xander bahkan sempat mendengar cerita dari sang kakek tentang Justin dan segala kehidupannya. Dan entah kenapa itu semakin menguatkan niat Xander untuk secara diam-diam melindungi Justin dari rencana mengerikan Charlotte.


'Semoga Justin tak terjebak dengan rayuan cinta Charlotte'


Ya, semoga saja.


Xander tak ingin melihat tuan Romanov jadi jantungan karena melihat Justin hancur nanti. Bagaimana perasaan kakek mereka yang begitu ingin melindungi Justin tapi malah di hancurkan sendiri oleh sang cucu.


"Xander!" ujar Charlotte sambil kembali menatap pada sang kakak. Seruan itu membuat Xander segera tersadar dari lamunan kecilnya.


"Hm."


"Menurutmu, hotel mana yang harusnya aku pakai untuk bersenang-senang dengannya nanti, ya?"


Xander sontak mendengus sebal pada gadis itu.


"Kau mau berhenti membahas rencana konyolmu itu atau aku turunkan kau sekarang juga di tepi jalan?"

__ADS_1


***


__ADS_2