
Xander menghela nafasnya dengan kasar untuk yang kesekian kalinya. Sudah hampir lima belas menit ia berada di kafe ini, menunggu kedatangan Charlotte, tapi gadis itu belum juga muncul.
Sebelumnya, ia dan Charlotte membuat janji untuk bertemu di kafe ini baru kemudian bersama-sama pergi ke kampus.
Dan akhirnya, karena terlalu lama menunggu, Xander berniat pergi lebih dulu saja. Ia sudah hampir beranjak pergi dari tempat itu tepat saat ia melihat Charlotte muncul dari kejauhan.
"Gue pikir lo nggak bakal datang." ujar Xander saat Charlotte tiba di hadapannya. "Gue hampir ninggalin lo dan berangkat ke kampus lebih dulu tadi." lanjutnya.
Sementara itu Charlotte hanya diam, tidak menjawab perkataan Xander itu. Gadis itu melangkah lurus menuju kursi di sebelah Xander, lalu duduk dengan santai setelah sebelumnya meletakkan tas nya ke atas meja.
Ia lalu melirik sekilas pada Xander yang tengah menikmati kopi Americano miliknya.
"Urus mobil gue!" ujar Charlotte sambil melempar kunci mobilnya pada Xander.
Xander hanya menatap sekilas kunci mobil Charlotte yang tergeletak di atas meja kemudian menatap Charlotte dengan tatapan bingung. "Kenapa mobil lo?" tanya Xander.
"Penyok!"
"Lagi?" ujar Xander sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, menyilangkan kedua tangannya di dada. "Lo bahkan baru ganti mobil beberapa hari lalu dan sekarang terjadi kecelakaan lagi?"
"Musibah mana gue bisa tau kapan dan di mananya. Ya udah sih." ujar Charlotte acuh sambil mengeluarkan ponselnya lalu mulai memainkannya.
"Bagaimana bisa?" Xander bertanya heran pada Charlotte yang tengah duduk dengan santai di kursinya.
Bayangkan saja, ini bahkan baru seminggu sejak kecelakaan terakhirnya dan kali ini dia kembali membuat ulah lagi. Tentu saja Xander jadi penasaran dengan apa yang terjadi pada gadis itu.
"Di tabrak bocah!" jawab Charlotte asal.
Xander menaikkan sebelah alisnya. "Bocah?"
"Ya bocah! Yang menabrak mobil gue adalah bocah yang berumur sekitar delapan belas tahun. Tapi hal yang lebih menarik adalah..." Charlotte sengaja menggantung kalimatnya agar lebih menarik perhatian Xander.
"Apa?"
Charlotte meletakkan ponselnya ke atas meja dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Ia lalu mendorong benda itu agar lebih dekat dengan Xander.
"Ini... Kartu Identitas?" ujar Xander sambil meraih benda itu dan membacanya. Ia semakin menatap Charlotte dengan raut bingung. Apa sebenarnya maksud gadis ini?
"Ya, itu kartu identitas, atas nama Justin Kim! Dan dia adalah bocah yang menabrak mobil gue tadi." jelas Charlotte.
Xander mengangguk paham lalu meletakkan kembali kartu identitas itu ke atas meja. "Jadi begitu rupanya." ujar Xander.
Charlotte berdehem sebentar lalu memajukan kursinya agar lebih dekat pada meja. "Dan satu lagi Xander, ada hal yang paling penting disini. Jadi... pemuda ini, dia adalah pemuda yang beberapa waktu lalu sempat gue ceritakan ke elo. Pemuda yang menabrak gue di kafe dan pemuda yang tidak mengenali siapa gue." ucap Charlotte sambil menunjuk kartu identitas Justin dengan jari telunjuknya yang menempel pada benda itu.
"Pemuda kafe yang sempat membuat lo ngamuk waktu itu? Tunggu dulu, mereka orang yang sama?" tanya Xander tak percaya tapi langsung di angguki Charlotte.
__ADS_1
"Ya, mereka orang yang sama, Xander." ujar Charlotte mantap. Ia tersenyum sinis. "Lihat! Belum puas dengan membuat harga diri gue terhina waktu itu, sekarang dia juga menabrak mobil gue."
Xander menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum. "Lo masih marah sama dia?" tanyanya.
Sudah beberapa hari sejak kejadian di kafe dekat kampus dimana seorang pemuda berhasil menjatuhkan harga diri Charlotte. Namun ternyata Charlotte masih mengingat kejadian itu bahkan mengingat wajah pemuda itu.
"Tentu saja! Justru dia satu-satunya orang yang bakal gue ingat seumur hidup gue. Perlakuan dia ke gue, itu jelas nggak bisa di lupakan begitu saja dan gue akan buat impas semua perlakuan dia ke gue."
"Apa maksud lo?"
"Astaga Xander, umur lo memang lebih tua tapi pengetahuan lo itu benar-benar kosong." ujar Charlotte memutar bola matanya. "Ini semua tentang dendam, Xander! Elo paham?"
"Hah?"
"Ya ampun! Sini mendekatlah." Charlotte menarik lengan Xander agar lebih mendekat padanya.
"Apa?" tanya Xander dengan sedikit penasaran.
"Gue kasih tau elo tentang ini, bukan tanpa alasan. Asal lo tau Xander, tujuan gue kasih tau elo adalah supaya elo bisa jadi saksi atas rencana yang bakal gue lakukan nanti." ujar Charlotte.
"Saksi? Saksi apaan?"
"Begini! Pemuda itu… sejak awal dia sudah berhasil menjatuhkan harga diri gue dengan tidak mengenali siapa gue. Charlotte Clinton sang model paling terkenal di negara ini." ujar Charlotte tajam.
"Dan bukan hanya itu, waktu itu dia bahkan tidak menampakkan sedikitpun rasa ketertarikan apapun ke gue." ujar Charlotte. "Dan itu jelas membuat gue penasaran dengan sikap acuhnya itu. Jadi gue mau lihat seberapa kuat hatinya dalam menolak pesona gue." sambung Charlotte.
"Gini… gue bakal coba untuk menggoda dia, bagaimana pun caranya. Setelah itu gue juga bakal jadiin dia sebagai pacar gue. Terus gue buat dia tidur sama gue. Bikin dia tergila-gila sama gue. Dan terakhir, sebagai pembalasannya gue bakal mencampakan dia sama seperti laki-laki lain yang pernah gue campakan. Em, bagaimana bahasa simpelnya ya..." Charlotte tampak berpikir sejenak.
"Lo mau mempermainkan pemuda ini, begitu?" tanya Xander tanpa basa-basi.
Charlotte tersenyum sambil menjentikkan jarinya saat Xander menemukan kalimat yang pas. "Bener! Itu dia, Xander. Gue bakal balas dia dengan cara itu."
"Nggak! Gue nggak setuju sama rencana lo!" ujar Xander langsung menggeleng tanda tak setuju, membuat Charlotte menaikkan sebelah alisnya heran.
"Kenapa?" tanya Charlotte heran.
"Charlotte, lihatlah umurnya." ujar Xander sambil menunjuk kartu identitas pemuda itu. "Delapan belas tahun. Dia bahkan baru lulus SMA dan elo mau mempermainkan anak kecil kayak gini? Jangan gila, Lottie!"
Charlotte mendengus kesal. "Ayolah Xander, sejak kapan lo peduli dengan hal begini. Sebelumnya lo bahkan nggak pernah peduli dengan siapa gue berkencan."
"Denger Lottie! Selama ini gue diam, karena lo memang selalu mengencani lelaki yang lebih dewasa dan mungkin sering melakukan 'hal itu' dengan pasangannya, tapi dia? Dia bahkan baru mendapat KTP-nya setahun lalu. Bagaimana bisa elo berpikir buat meniduri dia? Bagaimana elo bisa melakukan itu pada anak-anak?" ujar Xander terlihat sedikit kesal.
Ah, bukan sedikit. Tapi dia sangat kesal.
Ini jelas keterlaluan.
__ADS_1
Bagaimana bisa Charlotte ingin meniduri bocah?
"Ck, jangan berlebihan Xander! Kita bahkan tidak mengenalnya. Bisa jadi dia juga sudah sering melakukan hal seperti 'itu', kan?"
"Itu dia, Lottie! Kita bahkan tidak mengenalnya. Dan seperti yang elo bilang barusan, kita bahkan tidak tahu dia sudah pernah melakukannya dengan gadis lain atau belum. Bagaimana jika belum pernah? Apakah dia paham hal-hal seperti itu. Bagaimana kalau elo mengotori otaknya nanti?"
"Omong kosong! Umurnya delapan belas tahun, Xander. Dan gue rasa dia cukup dewasa untuk mengetahui hal-hal seperti itu. Mengotori apanya!" Charlotte tersenyum sinis.
"Dengar Charlotte! Gue rasa, satu-satunya masalah pemuda itu adalah dia hanya dia tidak mengenali elo. Cuma itu. Tapi kenapa elo harus menanggapi dengan cara yang berlebihan seperti ini?" Xander berusaha menyadarkan Charlotte.
"Masalahnya bukan hanya itu, Xander. Masalah utamanya adalah dia tidak menyukai gue. Dan selama ini tidak ada laki-laki yang tidak terpesona sama gue. Dan gue jelas tidak terima! Dia sudah menyentuh titik tertinggi dari harga diri gue!" Charlotte bersikeras.
Charlotte menghela. 'Bukan hanya itu Xander. Pemuda ini. Dia satu-satunya pemuda yang membuat hidup gue tidak tenang karena bayangannya selalu muncul di kepala gue. Dia sudah membuat gue penasaran. Gue tertarik sama pemuda ini. Gue tertarik dengan Justin Kim.' batin Charlotte.
"Oke, terserah!" ujar Xander mengangkat tangannya. Ia menyerah menasehati adiknya ini. Ia sudah tak peduli lagi dengan masalah ini. Intinya dia sudah mengutarakan semua pendapatnya.
"Baiklah! Kita pergi ke kampus sekarang!" Charlotte mengalihkan topik pembicaraan sambil menatap jam di pergelangan tangannya lalu bangkit dari duduknya. Dari pada sebuah ajakan, ucapan Charlotte barusan jelas terdengar seperti sebuah perintah.
"Gue ikut sama lo hari ini!" ujar Charlote lagi sambil mengambil tasnya dari atas meja.
Xander tidak menjawab lalu melirik kunci mobil Charlotte yang tadi sempat di lemparkan gadis itu padanya.
"Mobil lo gimana?" tanya Xander. "Lo mau gue jual mobil lo itu terus beli yang baru lagi seperti sebelumnya?"
Charlotte menggeleng. "Jangan di jual! Cuma penyok sedikit. Lo minta aja ke orang bengkel untuk perbaiki bagian yang penyok."
"Wow! Lo yakin nggak mau ganti mobil? Tumben banget." Xander berujar heran.
Charlotte yang hendak melangkah pergi langsung menghentikkan langkahnya. "Nggak masalah! Bawa aja ke bengkel."
"Seingat gue, di kecelakaan terakhir lo bahkan lebih memilih beli mobil baru. Lo nggak pernah bawa mobil lo ke bengkel kayak gini."
"Memang!"
"Lalu kenapa yang ini lo bawa ke bengkel?" tanya Xander penasaran dengan perilaku tak biasa adiknya ini.
Charlotte menggedikkan bahu.
"Hanya tidak ingin." Charlotte lalu kembali menatap Xander. "Lagipula, gue mau kasih kwitansinya hasil perbaikannya ke cowok itu! Dia kan harus ganti rugi atas kerusakan mobil gue." ujar Charlotte kembali melangkah meninggalkan Xander.
Xander hanya berdecak sambil menggelengkan kepalanya, meruntuki kelakuan adiknya itu. "Dia benar-benar berniat mengusik hidup pemuda itu rupanya." gumamnya.
Ia lalu mengambil kunci mobil Charlotte dan memasukkannya kedalam kantong baru kemudian beranjak pergi mengikuti Charlotte untuk pergi ke kampus bersama.
***
__ADS_1
✔ Note :
▪Author peduli dengan kesehatan mata kalian. Jadi, kalau kalian kurang suka sama ceritanya, Author sarankan kalian untuk mencari cerita yang lain saja, karena cerita ini bisa menyebabkan sakit mata akut.