Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
27.


__ADS_3

Tuan Romanov mengendarai mobilnya sendiri menuju pabrik miliknya dengan kecepatan rendah dan terkesan santai. Sengaja memang, karena saat ini dia hanya ingin menyetir sambil menikmati pemandangan kota yang menurutnya luar biasa itu.


Sepanjang jalan tuan Romanov terus mengedarkan pandangan, menatap indahnya perkotaan yang sudah lima tahun ini ia tinggalkan.


Dan tiba-tiba saja ia teringat, sepuluh tahun lalu, saat dia, putrinya beserta menantu dan cucu nya selalu menghabiskan akhir pekan bersama dengan mengelilingi kota pada sore hari. Hidup mereka benar-benar sangat bahagia saat itu.


Namun kebahagiaan itu berubah saat ia harus kehilangan anak dan menantunya karena sebuah insiden kecelakaan tunggal yang menimpa mereka selepas mereka pulang dari makan malam romantis.


Dan setelah itu semua benar-benar berubah.


Kematian anak dan menantunya itu membuat tuan Romanov hancur, keluarga nya berantakan. Bahkan kejadian mengerikan itu juga mulai merubah perilaku cucu-nya. Charlotte Clinton, dari seorang gadis yang ceria menjadi gadis yang sangat pendiam, dia juga sangat pemarah.


Segala macam cara sudah tuan Romanov lakukan agar sang cucu bisa kembali ceria, tapi ia selalu gagal. Hingga suatu hari, keadaan menjadi lebih baik saat dia membawa Alexander datang ke mansion dan membuat cucu-nya itu mempunyai seorang teman hingga akhirnya Charlotte terlihat hidup lebih baik.


Dan akhirnya sebagai rasa terima kasihnya, Tuan Romanov membiarkan Charlotte dan Xander selalu bersama, bersekolah di tempat yang sama hingga kini, mereka juga berkuliah di tempat yang sama.


Namun semakin dewasa, tuan Romanov semakin menyadari jika sang cucu berubah menjadi pribadi yang susah di atur. Charlotte, dia menjadi gadis pembuat onar yang selalu berbuat seenaknya, sombong, dan tidak ada yang bisa melawan atau menahan apapun yang menjadi keinginannya.


Tuan Romanov tahu kalau itu semua terjadi karena ia selalu memanjakan gadis itu sejak kecil. Ya, ia memang melakukan itu karena merasa bahwa gadis itu tidak pernah mendapat kasih sayang dari orang tuanya dan membuat tuan Romanov selalu memanjakannya.


Hal itu karena tuan Romanov merasa tidak bisa memberikan kasih sayang yang di butuhkan Charlotte karena dia terlalu sibuk mengurus usahanya. Jadi dia memilih untuk menggantinya dengan memberikan semua yang dia miliki pada Charlotte agar gadis itu selalu bahagia. Itulah yang membuat Charlotte menjadi pribadi yang berbuat seenaknya dan harus selalu mendapat apa yang dia mau.


Tapi tuan Romanov tidak ambil pusing dengan hal itu, dia tidak masalah jika harus memberikan segalanya untuk Charlotte, selama ia bisa membuat cucu kesayangannya itu selalu hidup bahagia.


Tuan Romanov tiba-tiba tersenyum senang saat memikirkan kedua cucu-nya yang menurutnya saat ini berhasil hidup dengan menjadi lebih baik. Mereka bahkan sudah berhasil mencapai banyak prestasi di bidangnya masing-masing bahkan di usia mereka yang masih sangat muda.


Alexander, cucu sulungnya itu mendapat banyak prestasi di bidang pendidikan dan Charlotte berhasil mendapat prestasi di bidang hobi-nya. Charlotte bahkan tidak hampir tidak pernah menggunakan uang yang di berikan tuan Romanov karena ia punya uangnya sendiri dan ia merasa sangat bangga dengan itu.


Beberapa saat setelah melamunkan kedua cucu-nya itu, tuan Romanov melihat ke pergelangan tangannya untuk mengecek jam. Tuan Romanov mendesah pelan saat menyadari jika saat ini dia sudah terlambat untuk pertemuannya.


"Aku sudah terlambat lima menit." gumamnya pelan lalu mulai menambah kecepatan mobilnya. "Semoga Mr. Sam belum tiba di pabrik." ucapnya dengan penuh harap.


Tuan Romanov kemudian meraih ponselnya dari kantong dalam jas-nya, memencet beberapa tombol pada ponselnya, berniat menelepon rekannya untuk memastikan kedatangan sekalian meminta untuk menunggu kehadirannya.


"Halo!" seru rekannya yang ada di seberang telepon tepat setelah dia mengangkat panggilan telepon dari tuan Romanov.


"Halo Mr. Sam!" tuan Romanov membalas sapaan rekannya itu dengan nada ramahnya. Ia berdehem sebentar sebelum kembali melanjutkan kembali percakapan. "Apa anda sudah tiba di pabrik?" tanyanya.


"Ya tuan, saya sudah tiba." jawab Mr. Sam


"Saya minta maaf, tapi sepertinya saya agak terlambat untuk sampai disana."


Mr. Sam tertawa renyah. "Itu tidak masalah tuan, saya juga baru saja sampai di sini."


"Baiklah, tolong tunggu saya sebentar. Saya rasa saya akan tiba di sana sekitar sepuluh menit lagi." jelas tuan Romanov.


"Ya, tuan Romanov. Anda jangan khawatir, saya benar-benar tidak masalah menunggu di sini. Anda santai saja." ujar Mr. Sam lagi.


"Ya! Baiklah. Kalau begitu saya akan tutup teleponnya sekarang." ujar tuan Romanov.


Tuan Romanov menatap layar ponselnya baru kemudian memutus sambungan teleponnya. Dan karena terlalu sibuk dengan kegiatannya, saat itu juga Tuan Romanov kehilangan fokus. Ia bahkan tak menyadari kalau tiba-tiba di sebuah perempatan jalan yang sepi tanpa rambu lalu lintas, seorang pemuda dengan sepedanya tiba-tiba saja melintas tepat di hadapan mobilnya.

__ADS_1


Tuan Romanov tersadar lalu segera membanting stirnya ke arah kiri, mencoba untuk menghindari tabrakan. Namun sayang, ia gagal dan bisa di pastikan kalau mobil yang ia kendarai sempat menyerempet ban depan dari sepeda milik pemuda itu.


Dan dalam hitungan detik, tuan Romanov langsung mengerem mobilnya hingga berhenti beberapa meter dari lokasi dimana ia menabrak pemuda itu.


"Astaga, apa yang telah aku lakukan?" tuan Romanov benar-benar terkejut. Ia duduk terpaku sambil meremas stir mobilnya. "Aku menabraknya! Aku baru saja menabrak pemuda itu."


Tuan Romanov langsung menoleh kearah tempat ia menyerempet pemuda tadi. Matanya membulat lebar saat mendapati pemuda itu kini tengah terbaring di jalan raya. Namun detik itu juga tuan Romanov dapat bernafas lega saat ia melihat pemuda itu bangun dengan perlahan dan mencoba untuk berdiri. 


Tuan Romanov menghela napasnya pelan. Dalam hati ia amat bersyukur karena ternyata pemuda itu masih bisa berdiri, artinya dia tidak melakukan sesuatu yang fatal.


"Aku bisa saja membunuh pemuda itu," gumam tuan Romanov menyalahkan dirinya. 


Tok! Tok! Tok!


Di tengah situasi menegangkan itu, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan di kaca jendela dari mobil tuan Romanov.


Mendengar itu, tuan Romanov menoleh dan mendapati pemuda yang baru saja dia tabrak kini sudah berdiri tepat di luar mobilnya sambil terus mengetuk kaca jendela mobilnya. Kemudian, dengan hati-hati tuan Romanov membuka pintu dan langsung turun dari mobilnya.


Pemuda itu kini tengah menatap tuan Romanov sambil memegangi lengan kanannya. Sesekali ia terlihat meringis kecil seperti tengah mencoba menahan sakit, sepertinya lengannya terluka.


"Kau tidak-"


"Apa tuan tidak apa-apa?" tanya pemuda itu dengan cepat memotong perkataan tuan Romanov. "Apa tuan baik-baik saja?"


Tuan Romanov terperanjat saat mendengar pertanyaan yang di tujukan padanya itu. Apa dia tidak salah dengar, pemuda ini baru saja menanyakan tentang keadaannya. Bukankah tadi tuan Romanov-lah yang sudah menabrak pemuda itu. Tapi kenapa pemuda itu malah menanyakan keadaannya sekarang?


"Tuan?" seru pemuda itu.


"Ya?" tuan Romanov tersadar dari lamunannya dan langsung menjawab di sela keterkejutannya.


"Sa-saya baik-baik saja!" ujar Romanov menjawab dengan canggung. "Ada apa dengan lenganmu, kenapa kau memeganginya begitu? Sepertinya kau lah yang terluka."


Pemuda itu menggeleng lalu tersenyum, ah bukan. Ia sedang meringis sakit lebih tepatnya, "Tidak masalah, tuan. Sepertinya ini hanya terkilir biasa saja."


Tuan Romanov menatap pemuda itu ragu. "Apa kau yakin, kau baik-baik saja?"


"Ya tuan!" jawab pemuda itu sambil mengangguk. "Anda tidak apa-apa kan, kalau begitu saya pergi dulu, tuan."


"Tunggu dulu," tuan Romanov menahan lengan pemuda itu pelan. "Bagaimana kalau saya antar kamu ke rumah sakit? Saya yakin kamu pasti terluka."


Pemuda itu kembali menggeleng. "Tidak usah tuan. Saya tidak apa-apa."


"Saya memaksa, ayo!" ajak tuan Romanov lagi.


"Tidak tuan." jawab pemuda itu menggelengkan kepalanya sopan. "Saya tidak bisa."


"Tapi kenapa?" tuan Romanov menatap heran. Entah kenapa ia menjadi kesal sendiri pada pemuda itu karena selalu menolak untuk di bawa ke rumah sakit, walaupun tubuhnya terlihat jelas tengah terluka. 


Pemuda itu lalu menunjuk ke arah tempat ia di tabrak tadi, tempat dimana sepedanya masih tergeletak. "Itu tuan... sekarang saya harus mengantar paket makanan." ujarnya.


Tuan Romanov menoleh ke arah jari telunjuk pemuda itu, menatap ke arah paket makanan yang sudah berhamburan di atas aspal.

__ADS_1


"Tuan lihat sendiri, pesanan makanan saya sudah tumpah berceceran."


Mendengar penjelasan itu tuan Romanov kembali terkejut, "Ya, saya-"


"Jadi, karena makanannya tumpah saya harus kembali ke restoran tempat saya bekerja, agar saya bisa menukarnyadengan paket yang masih bagus terlebih dahulu. Kalau saya ke rumah sakit sekarang, saya bisa terlambat untuk mengantar pesanan itu. Pelanggan saya nanti pasti akan lama menunggu nanti." jelas pemuda itu.


"Saya bisa antar kamu!"


"Akan repot, tuan." pemuda itu menggeleng. "Saya bisa sendiri."


"Oh.. begitukah?" tuan Romanov mengangguk paham meskipun ia tetap merasa bersalah. "Baiklah kalau begitu!"


Tuan Romanov lalu kembali bicara. "Bagaimana dengan uang ganti rugi? Saya mengakui kalau kecelakaan ini terjadi adalah karena kelalaian yang saya lakukan. Dan saya akan membayarmu sebagai ganti rugi atas keteledoran saya ini." ujar tuan Romanov sambil mengeluarkan dompetnya dari kantong namun gerakannya langsung terhenti karena kata-kata pemuda itu.


"Tidak! Tidak tuan, terima kasih." ujar pemuda itu menggeleng dengan senyum canggung. "Lagipula, ini juga salah saya karena tidak melihat kiri dan kanan lebih dahulu saat di perempatan."


"Tapi saya merasa tidak enak dengan lukamu."


"Saya yakin kalau saya baik-baik saja. Saya tidak perlu uang ganti rugi atau apapun, tuan." ujar pemuda itu sopan.


Tuan Romanov tidak menjawab. Ia hanya menatap pemuda itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kalau begitu saya permisi, tuan!" ujar pemuda itu dengan sopan kemudian berbalik untuk menuju ke sepedanya.


"Tunggu sebentar!" tuan Romanov kembali menahan kepergian pemuda itu.


Pemuda itu menghentikan langkahnya dan langsung menoleh. "Ya tuan?"


"Bisa saya tahu nama kamu?" tanya tuan Romanov penasaran.


Pemuda itu mengangguk. "Saya Justin, tuan. Justin Kim."


"Justin Kim?" ulang tuan Romanov memastikan kemudian tersenyum.


Pemuda bernama Justin itu mengangguk.


"Baiklah, sekali lagi saya minta maaf Justin." ujar tuan Romanov yang langsung di balas anggukan oleh Justin.


"Kalau begitu saya permisi tuan." ucap pemuda itu untuk yang kesekian kalinya, masih dengan nada sopan kemudian berbalik menuju ke tempat sepedanya berada.


Tuan Romanov diam-diam memperhatikan pemuda yang saat ini sedang berjalan menuju sepedanya, menjauhi mobilnya itu. Ia benar-benar heran kenapa pemuda itu tidak meminta sepeser pun uang ganti rugi padanya, padahal sudah jelas bahwa dia yang sudah menabrak sepedanya tadi.


Ah, bukan heran.


Tapi, dia takjub.


Tanpa sadar tuan Romanov tersenyum kecil sambil terus menatap pemuda itu dari tempat ia berdiri saat ini.


Terlihat pemuda itu tengah mengangkat sepeda miliknya yang terbaring di jalan lalu mengumpulkan beberapa paket makanannya yang berhamburan di jalan, baru kemudian kembali melanjutkan perjalanannya.


Tuan Romanov masih terdiam di tempatnya. Ia terus memperhatikan pemuda itu hingga menghilang di ujung jalan.

__ADS_1


"Pemuda itu... Dia luar biasa" gumamnya.


***


__ADS_2