
"Maksud kakek aku mengantarkan Justin pulang?"
Tuan Romanov menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Ya!"
"Aku?"
"Ya. Dan kau harus mengantarkan Justin pulang ke rumahnya dengan hati-hati dan selamat sampai tujuan!"
Charlotte tak tahu harus bersikap seperti apalagi setelah mendengar perintah langsung yang keluar dari mulut sang kakek yang mengatakan kalau dia-lah orang yang harus mengantarkan Justin pulang.
Sebelumnya Charlotte dan Xander sedang asyik duduk di ruang tamu, bermain game bersama di ponsel mereka. Sampai tiba-tiba saja kakek mereka turun dari lantai atas dan memintanya untuk mengantarkan pemuda yang ada di hadapannya itu pulang ke rumahnya. Yang benar saja?
"Apa kakek bercanda?" Charlotte masih tak percaya akan perintah sang kakek.
"Tentu saja kakek serius. Dan cepatlah, kau harus bersiap, kalau tidak dia bisa pulang terlalu larut nanti!"
Charlotte hanya bisa membeku di posisinya dengan mulut menganga. Ingin rasanya Charlotte mengeluarkan segala sumpah serapahnya saat ini. Ia sedang sial atau apa sih sebenarnya?
"Tapi bagaimana bisa aku yang harus mengantarkannya pulang?" omel Charlotte tak terima dengan kedua tangan yang bersidekap ke depan dada.
"Ini sudah malam, Lottie. Akan berbahaya bagi Justin untuk pergi sendirian. Apalagi dengan menggunakan sepeda."
"Tapi aku ini perempuan. Bukankah akan lebih berbahaya jika aku keluar malam-malam. Kakek pikirkan saja, bagaimana kalau nanti aku bertemu preman di jalanan?"
Xander yang kini tengah menyeruput kopi di tangannya hampir tersedak begitu mendengar ucapan dari Charlotte barusan. Apa yang baru saja dia katakan? Gadis ini adalah preman yang sesungguhnya. Lantas bagaimana dia bisa mengatakan kalau takut oleh preman?
Sementara itu tuan Romanov menatap dengan santai seolah itu bukan masalah besar baginya jika Charlotte bertemu dengan preman nanti.
"Kau kan mengendai mobil, Justin mengendai sepeda. Itu akan berbahaya." ujar sang kakek kemudian.
"Lagipula selama ini kau kan sudah terbiasa pulang tengah malam bahkan jam tiga pagi. Ini jelas bukan hal sulit untuk mengantarkan Justin." lanjut tuan Romanov.
"Dia bisa melakukannya, kek!" Xander menimpali.
Charlotte melirik Xander tajam.
"Kenapa tidak Xander saja yang mengantarnya pulang. Kenapa harus aku?"
"Kakek ada urusan dengan Xander setelah ini. Ada yang harus kami bicarakan."
Jawaban tuan Romanov itu membuat Charlotte langsung memutar bola matanya malas.
"Kakek bisa meminta yang lain. Kita bahkan punya tiga supir kan!" Charlotte belum mau menyerah.
"Mereka sedang beristirahat, Lottie!"
"Tapi aku juga sedang beristirahat, kek!"
"Kau sedang bermain game." balas tuan Romanov membuat gadis itu langsung mengerucutkan bibirnya sinis.
Justin yang sejak tadi berada di tengah-tengah pertengkaran kakek dan cucu itu hanya bisa tersenyum canggung. Bisakah ia mengatakan kalau perdebatan yang terjadi adalah karena dirinya?
"Kakek, saya benar tidak apa-apa. Saya bisa pulang sendiri." Justin jadi tidak enak melihat raut kesal di wajah Charlotte.
"Tidak. Kakek sudah mengatakan padamu tadi kalau kau akan di antarkan." Ujar tuan Romanov menolak dengan tajam.
"Kakek, saya bawa sepeda tadi. Saya pikir saya bisa mengendarai sepeda untuk pulang." ujar Justin dengan senyum kaku, matanya sesekali melirik Charlotte.
"Kakek lihat sendiri? Dia bahkan menolaknya juga, kan?" gerutu Charlotte.
Charlotte melipat kedua tangannya di dada dengan raut wajah yang menakutkan.
"Dia pasti takut dengan eskpresi wajahmu itu." ujar Xander yang langsung di hadiahi tatapan tajam oleh Charlotte.
"Tidak apa-apa, Justin." tuan Romanov mengelus bahu pemuda itu. "Charlotte akan mengantarmu. Dan masalah sepedamu, itu akan di bawakan besok pagi oleh anak buah kakek."
__ADS_1
Tuan Romanov kemudian beralih pada cucu perempuannya itu. "Ayo, cepat kau antarkan Justin!"
"Kakek-"
"Jangan membantah, Lottie."
Charlotte yang sudah hendak protes namun segera di tahan oleh sang kakek.
Charlotte melihat ke arah Xander, mengharap pertolongan dari sang kakak, tetapi pemuda itu tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa mengangkat bahunya.
"Ayo cepat! Kau sudah membuang waktu dengan perdebatan konyol ini! Hari akan semakin malam." ujar tuan Romanov.
Charlotte sempat diam dan menatap Justin dengan kesal sebelum akhirnya menghela napasnya pasrah. Ia akhirnya menyerah untuk menolak permintaan sang kakek.
'Dasar keras kepala' omelnya dalam hati.
"Ya sudah." jawab Charlotte pada akhirnya.
"Aku tunggu di depan!"
Charlotte dengan gerakan kasar mengambil tas dan juga ponselnya yang ada di atas meja lalu berjalan meninggalkan mereka dengan wajah cemberut.
Dalam hati Charlotte hanya meruntuki bagaimana kakeknya bisa memintanya untuk mengantar bocah ini? Ini bahkan sudah malam dan sudah waktunya untuk beristirahat tapi kakeknya malah memaksanya untuk keluar.
Menyebalkan sekali.
***
"Sepertinya Charlotte sudah menunggumu," kata tuan Romanov saat mereka sampai di luar mansion, berdiri di dekat tangga.
Kini mata Justin mengarah pada seorang gadis yang tengah asik memainkan ponselnya sambil menyenderkan punggungnya ke mobil yang ada di belakangnya.
Justin segera turun setelah sebelumnya ia lebih dahulu mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal pada tuan Romanov.
"Maaf nona..." seru Justin setelah ia sampai di dekat mobil Charlotte
Charlotte memutar tubuhnya untuk menatap pada Justin. Bahkan hanya dari tatapannya itu, Justin sudah merasa begitu gugup.
"Seberapa jauh rumah lo?" tanya Charlotte datar tanpa ekspresi.
"Itu-"
"Kasih tau alamat lo di dalam mobil." potong Charlotte cepat.
Belum sempat Justin menjawab kembali, Charlotte sudah terlebih dahulu melangkah memasuki mobilnya.
Justin masih berdiri di posisinya. Ia melongo, memperhatikan saat gadis itu menutup pintu di samping kemudi dengan bantingan kasar.
Beberapa detik kemudian, kaca mobil yang semula tertutup itu kini turun hingga Justin bisa melihat Charlotte yang tengah duduk di balik kemudi-nya.
"Naik."
"Ya?" Justin mengernyit. Ia tak begitu mendengar apa yang dikatakan gadis itu karena ia bicara terlalu cepat.
"Cepat masuk!"
"Ah, iya." Justin mengangguk.
Justin buru-buru membuka pintu penumpang di belakanh setelah sebelumnya agak kebingungan membuka pintunya. Bukan tanpa alasan, sejujurnya ia belum pernah naik mobil sebelumnya.
Charlotte yang saat ini hendak memasang sabuk pengaman ke tubuhnya tiba-tiba saja menghentikan gerakannya. Ia menatap Justin dengan raut wajah yang terlihat tersinggung saat melihat pemuda itu malah membuka pintu dan duduk bagian belakang mobilnya.
"Kenapa kau malah masuk di belakang sana?" omel Charlotte.
Justin menoleh padanya, menatapnya bingung.
__ADS_1
"Saya..."
"Kau pikir aku ini supirmu?" ujar Charlotte dengan nada tajam. "Duduk di depan!"
"Ba-baik." Justin mengangguk dan dengan cepat keluar lagi dari mobil dan pindah ke kursi penumpang yang ada di depan.
Charlotte hanya mencebik kesal.
"Pasang sabuk pengamanmu dulu!" perintahnya.
Justin pun segera melakukan apa yang diminta Charlotte. Namun sekali lagi dia tidak begitu mengerti cara memasangnya. Ia hanya menarik talinya tapi tak mengerti kemana harus mengarahkannya.
Charlotte hanya memutar bola matanya malas saat melihat Justin yang tengah kebingungan.
"Bukan begitu caranya."
"Ya?"
Justin menatap Charlotte namun gadis itu tak menjawab dan malah menggelengkan kepalanya remeh.
"Bisa atau tidak?" tanya tak sabar.
Justin tak menjawab, masih berjuang dengan benda itu, memutar-mutar talinya.
"Bukan begitu." omel Charlotte.
Justin menoleh ke kanan dan kiri, mencari tempat memasangnya.
"Apa seperti ini memasangnya, nona?" tanya Justin pelan.
Dan pada akhirnya Charlotte sudah merasa tak sabar sendiri untuk menunggu segala kekonyolan ini. Ia berdecak sebal dan dengan cepat bergerak untuk membantu pemuda itu.
"Harusnya bilang kalau tidak bisa!" omel Charlotte sambil merebut sabuk pengaman itu dari tangan Justin.
Justin hanya bisa terdiam di posisinya saat gadis itu tiba-tiba saja mendekatkan diri padanya untuk menarik sabuk pengaman.
"Kau ini benar-benar menyusahkan diriku." sambung Charlotte terus memasangkannya pada tubuh pemuda itu. Ia membantu Justin mengatur dan memasang sabuk pengaman.
Satu hal yang Justin sadari saat ini adalah posisi Charlotte yang terlalu dekat dengan dirinya. Wajah gadis itu bahkan benar-benar dekat dengan dirinya dan itu membuat Justin merasa agak gugup.
Dari posisi mereka, Justin bahkan bisa merasakan hembusan napas hangat dari gadis itu yang mengenai wajahnya, membuat napasnya tercekat dan ia tak bisa bernapas dengan benar.
Justin mengerjapkan kedua matanya, mencoba menyadarkan dirinya sendiri dari pikiran apapun yang hinggap di kepalanya. Justin mencoba bergerak mundur meskipun punggung belakangnya terhalang sandaran sofa.
Detik itu juga Justin memberanikan diri untuk menatap wajah Charlotte yang ternyata juga tengah menatap dirinya. Ia terkejut, tubuhnya mendadak kembali kaku saat kedua iris mata mereka bertemu pandang.
Justin buru-buru memalingkan pandangannya dari Charlotte. Sedangkan Charlotte, dia seakan bisa melihat ekspresi gugup di wajah pemuda itu. Ia hanya tersenyum miring sebagai tanggapan.
'Ya ampun, hanya dengan jarak segini dia sudah gugup begitu?' batinnya sambil tersenyum sinis setelah itu Charlotte menggelengkan kepalanya.
'Pemuda ini terlalu polos,' batin Charlotte lagi. Tapi entah kenapa ia malah menyukai semua ini. Ia tak pernah bertemu dengan pemuda seperti ini.
Charlotte kembali ke posisinya yang sebelumnya. Ia lalu mengatur sabuk pengamannya sendiri barulah kemudian mulai menyalakan mesin mobil.
Justin duduk membatu di kursinya. Ia menelan ludahnya kasar.
Bukankah posisi itu memang terlalu dekat untuk mereka berdua? Justin bahkan bisa merasakan detak jantungnya yang berdegup tak karuan karena berada sedekat itu dengan Charlotte.
Diam-diam Justin berusaha untuk menahan senyum yang muncul di bibirnya.
Posisi mereka barusan entah kenapa berhasil membuat hatinya menghangat. Ia tak pernah merasa begitu bahagia bisa seperti ini sebelumnya. Ck, ia merasa bahagia hanya karena berada sedekat ini dengan Charlotte? Ya, tentu saja Justin merasa bahagia. Bayangkan saja! Dia adalah gadis yang selama ini selalu mengisi hati dan pikiran Justin. Itulah sebabnya.
Namun Justin buru-buru menggelengkan kepalanya berusaha untuk membuyarkan kembali pikiran ngawur yang hinggap di kepalanya.
'Jangan memikirkannya... Justin! Berhenti memikirkannya!' batin Justin menunduk sambil terus menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
Sekali lagi justin mencoba meyakinkan hatinya untuk berhenti memikirkan Charlotte. Ia kemudian mengalihkan matanya ke arah luar mobil, semua terasa canggung sekarang.
***