Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
112


__ADS_3

"Nama lengkapku Alexander Clinton. Ah, panggil aku Xander saja." ujarnya lagi tampak tersenyum lebar.


"Dan ya, kebetulan sekali gadis yang sedang kau ganggu itu adalah Charlotte Clinton, adikku." ujar Xander menunjuk ke arah Charlotte dengan dagunya.


Mendengar kalimat itu mata Brandon membulat.


"Siapa kau bilang?" Brandon bertanya seolah tak mempercayai telinganya. Ia mulai merasa gugup sekarang.


"Oh ayolah. Aku yakin kau bisa mendengar kalimatku dengan jelas." ujar Xander tegas.


Xander lalu menatap tajam pada Brandon tanpa sedikitpun berniat untuk melepaskan cengkramannya pada pemuda itu.


"Kau? Xa-Xander?" ucap Brandon dengan nada gagap.


"Itu dia! Benar sekali. Bukankah sudah aku katakan sebelumnya kalau kau bisa mendengarku dengan jelas. Benar, kan?" ujar Xander tenang tapi terdengar begitu dingin, membuat Brandon tiba-tiba saja merinding ketakutan.


'Mati aku' gumam Brandon.


Dia tentu tahu siapa Xander.


Selama ini orang-orang membicarakan pemuda itu sebagai 'monster' yang selalu berdiri di belakang Charlotte.


Dia adalah orang pertama yang akan membalas jika ada yang berani menyentuh adiknya tanpa izin.


Jangan tanyakan korban yang sudah tumbang karena berani kurang ajar pada Charlotte. Itu bahkan tak bisa dihitung dengan jari. Ah, Brandon pasti sangat sial bisa bertemu dengan 'monster' ini sekarang.


"Apa kau bila-aarrgghhh…"


Brandon berteriak kesakitan saat tiba-tiba saja Xander mencengkram kuat pergelangan tangannya hingga balok yang dipegangnya jatuh ke atas tanah.


Brandon memegang pergelangan tangannya yang tampak sedikit berdarah.


Bagaimana tidak? Selain mencengkram, ternyata Xander juga menancapkan kuku jarinya pada tangan Brandon dan menusuk dagingnya dalam-dalam.


Lihat, hanya dengan satu tangan Xander sudah membuat luka seperti ini di tangan Brandon.


Merintih kesakitan, Brandon bergerak mundur sembari memegangi pergelangan tangannya yang berdarah.

__ADS_1


Xander menundukkan kepalanya, lalu berjongkok untuk mengambil balok tadi kemudian menatap Brandon dengan senyum sinisnya.


"Apa yang mau kau lakukan dengan benda kecil ini, hm?" ejeknya.


Brandon menelan ludahnya kasar. "Apa yang kau-argghhh"


Brandon kembali menjerit saat Xander tanpa aba-aba langsung memukulkan balok itu pada tubuhnya tepat saat ia hendak kembali bicara.


"Sakit, heh?" ejek Xander.


Hal itu membuat Brandon mengaduh kesakitan. Xander baru saja memukul lengannya dengan kuat.


"Bukankah dengan benda ini kau baru saja memukul orang lain seperti yang barusan aku lakukan?" ujar Xander tenang.


"Menjauh dariku! Kau- argghhh!" Sekali lagi Brandon berteriak kesakitan saat Xander memukul kakinya dengan balok itu.


Tanpa menunggu lebih lama, Xander kemudian mengepalkan tangannya lalu menonjok wajah Brandon kuat-kuat hanya dengan tangan kirinya.


Ia lalu menendang dada Brandon hingga pemuda itu jatuh tersungkur dan mendarat dengan posisi wajah yang mencium tanah yang berdebu.


"Kau tau, kau ini benar-benar banyak bicara." ujar Xander dengan nada dingin lalu melemparkan balok itu ke sembarang arah.


Dengan gerakan santai, Xander kini tampak tengah merenggangkan otot-otot lehernya. Barulah setelah itu Xander melangkah dan menendang perut Brandon, membuat pemuda itu meringkuk memegangi perutnya yang terasa sakit.


Menggunakan kakinya, Xander lalu membalik tubuh Brandon agar berakhir dalam posisi tengkurap.


"Dasar bodoh!" ucap Xander disertai satu injakan kuat pada punggung Brandon.


Xander lalu mengambil posisi duduk mengangkang di atas punggung Brandon yang saat ini masih mengaduh kesakitan karena pukulannya tadi.


Brandon mencoba memberontak dan bangkit karena tidak terima tubuhnya di tindih oleh Xander.


"Menjauh dariku, sial*n!" ujar Brandon masih terus saja mencoba memberontak.


"Berhentilah mencoba, itu jelas pergerakan sia-sia!" Xander mendecih sinis tanpa menjauhkan dirinya dari tubuh pemuda itu.


Kemudian dengan sekali gerakan Xander langsung memelintir tangan Brandon ke belakang tubuhnya hingga laki-laki itu kembali memekik kesakitan.

__ADS_1


"Sialan, lepaskan tanganmu dariku!" pekik Brandon saat ia merasakan Xander yang semakin menekan tangannya.


"Apa hanya segini kemampuanmu itu, hah?" Xander kembali menyeringai licik sembari menatap Brandon. "Bukannya tadi kau sangat jago?"


"Lepaskan, kubilang!" teriak Brandon sekali lagi.


Xander menarik paksa Brandon agar bangkit dan berdiri tanpa melepas kungkungannya pada tangan pemuda itu.


Kemudian dengan kasar ia mendorong tubuh Brandon hingga menabrak dinding yang tak jauh dari mereka.


Brandon meringis kesakitan saat merasakan wajahnya menghantam dinding tembok.


"Kau benar-benat sangat lemah!" bisik Xander pada telinga Brandon. "Kau tau, jika aku mau, aku bahkan bisa dengan mudah melenyapkanmu disini, sekarang juga. Tapi, itu jelas akan menambah pekerjaanku nanti karena harus membuang mayatmu."


Mata Brandon membulat seketika. Apa ini? Kenapa tiba-tiba pemuda ini bicara tentang membuang mayatnya.


Dan kenapa dia mengatakan ingin membunuhnya dengan nada yang sangat santai seperti itu? Nadanya benar-benar terdengar tanpa emosi sama sekali. Apa laki-laki ini seorang psikopat?


"K-kau tidak akan b-berani membunuhku ditempat ramai begini!" ujar Brandon dengan nada sedikit gugup.


Xander mendengus sinis.


"Ayolah, jangan mengujiku, bodoh! Ini bukan uji coba, kan? Yah, tapi jika kau mau aku membuktikan perkataanku barusan. Tak masalah sama sekali."


"Dan aku tidak suka diremehkan. Jadi aku akan dengan senang hati membuktikannya padamu. Tapi konsekuensinya adalah... kau tidak akan bisa melihat matahari lagi besok pagi."


Brandon merinding saat mendengar ancaman itu. Ia tak mengatakan apa-apa lagi.


"Tapi kau mau bukti, kan?" lanjut Xander menoleh ke sekitarnya. "Kebetulan sekali tempat ini sedang sepi."


Mata Brandon semakin membulat saat tiba-tiba saja ia merasakan sebuah benda dingin menyentuh leher bagian belakangnya.


Pisau.


Itu pisau.


***

__ADS_1


__ADS_2