
Charlotte memasuki mobil dengan raut kesal. Ia membanting pintu dengan kasar kemudian mulai melepas sepatu hak tinggi yang ia kenakan dan melemparkannya dengan asal ke lantai mobil.
"Benda jelek." gerutunya pada sepatu hak setinggi lima belas senti itu.
Charlotte bersandar sembari melipat kedua tangannya di depan dada dengan raut wajah kesal. Hal itu membuat Xander yang baru saja masuk menatapnya dengan tatapan heran.
"Kenapa wajahmu kesal seperti itu?" tanya Xander.
"Jangan banyak tanya." jawab Charlotte ketus.
Mendengar jawaban gadis itu, Xander tampak kebingungan. Apalagi yang salah sekarang? Tapi Xander tak mau ambil pusing dengan hal ini. Ia lebih memilih merespons sikap adiknya itu dengan menggedikan bahunya santai. "Ya sudah..." ucapnya.
Suasana berubah menjadi hening. Tak ada yang memulai percakapan. Sampai beberapa detik setelah itu terdengar suara decakan dari mulut Charlotte, membuat Xander yang sedang memasang sabuk pengamannya langsung melirik pada gadis yang duduk di sebelahnya itu.
"Ada apa lagi sekarang? Semalaman di dalam hotel, bukankah harusnya kau bersenang-senang, tapi apa ini." ujar Xander dengan sebelah alis terangkat.
Charlotte melirik Xander kemudian melemparkan pandangan keluar jendela mobil. "Cih, bersenang-senang apanya. Aku justru menyesal karena sudah bersedia bertemu dengan pemuda itu. Ah, tidak. Aku bahkan menyesal karena sudah datang kesini."
"Memangnya apa yang salah dengan kedatanganmu kemari?"
"Sebenarnya, bukan kedatanganku yang salah. Tapi siapa yang aku temui di sana. Pria sialán itu. Dia-lah masalahnya."
"Memang ada apa dengan pria itu? Apa dia begitu mengecewakanmu?"
Charlotte terdiam. Entah kenapa ia merasa tak suka hanya sekedar untuk membahasnya. Charlotte merasa sangat kesal ketika harus mengingat tentang pria yang baru saja ia kencani di dalam hotel itu.
Xander menatap Charlotte lekat kemudian tersenyum kecil. "Ya sudah. Tak masalah kalau tak ingin membahasnya. Aku tak memaksa."
"Bukan tak ingin membahasnya. Dia hanya... sangat parah, Xander."
"Parah bagaimana, maksudmu?"
"Pokoknya parah. Intinya, menurutku dia itu adalah pria terburuk yang pernah aku temui selama aku hidup. Dia... ah, entahlah."
"Pria terburuk?" tanya Xander dengan nada heran.
Charlotte mengangguk sementara tangannya mulai memasang sabuk pengaman ke tubuhnya saat mobil yang dikemudikan Xander itu bergerak keluar dari gerbang hotel Clinton.
Charlotte memutar tubuhnya menghadap ke arah Xander yang ada di sebelahnya.
"Benar, asal kau tau saja, ciuman pria itu sangat buruk, buruk sekali." ujarnya.
Charlotte kemudian membenarkan kembali posisi duduknya. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil, tangannya bergerak memijit pelipisnya yang berdenyut.
"Dan dia bahkan hampir memaksaku berhubungan tadi." ujar Charlotte memejamkan matanya.
"APA?" seru Xander sembari membanting stir dengan penuh tenaga, menepikan mobilnya ke pinggir jalan.
"Ulangi! Apa yang coba dia lakukan?" ujar Xander setelah mematikan mesin mobil.
"Dia memaksaku berhūbungan."
Xander terdiam, menghela napas perlahan dan memejamkan kedua matanya. Sudah Xander duga, suatu saat hal seperti ini pasti akan terjadi.
"Kau baik-baik saja, kan?" Xander bertanya ragu.
"Sekarang tak masalah."
__ADS_1
"Kau yakin?"
"Sangat yakin."
Xander mengangguk. Ya, ia tahu Charlotte baik-baik saja. Gadis itu bahkan masih sempat mengomelinya tadi. Selama masih mengomel artinya Charlotte masih dalam kondisi baik.
Xander menatap wajah adiknya. "Apa kau mau aku membalasnya?"
Charlotte menggedikkan bahunya acuh. "Tidak perlu. Aku sudah melakukannya sendiri. Berterima kasih atas ilmu beladiri yang kau ajarkan."
Xander mengangguk paham. Ia tahu kalau Charlotte bukan gadis lemah. Ia yakin kalau adiknya itu masih mampu mengatasi masalah seperti ini.
Selain itu, dirinya memang sempat mengajarkan dasar ilmu bela diri pada adiknya itu. Hal itu memang Xander lakukan mengingat adiknya itu terlalu sering pergi keluar pada malam hari sehingga membutuhkan perlindungan untuk dirinya sendiri.
Charlotte melirik sedikit. Ia bisa melihat raut wajah Xander tampak mengeras. Kakaknya itu jelas tak menyukai informasi ini.
"Jangan khawatir. Aku tak apa-apa."
"Tetap saja. Sudah menjadi tanggungjawabku untuk menjagamu. "
"Ini duniaku, Xander. Apapun yang terjadi, itu adalah salahku sendiri. Kau tak perlu menyalahkan dirimu begitu. Intinya aku mau ini tetap menjadi rahasia kita. Jangan biarkan kakek tau."
Xander tak menanggapi. Tapi Charlotte tau kalau pemuda itu masih menyalahkan dirinya."
Yah, Charlotte akui seharusnya ia bisa lebih berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu. Xander bukanlah orang yang mudah. Kakaknya itu akan marah pada orang yang mencoba menyakiti dirinya.
Charlotte kembali menoleh pada Xander.
"Bisa aku akui kalau dia itu memang sedikit lebih hebat di atas ranjang jika dibandingkan dengan mantanku yang lain. Tapi entah kenapa tidak ada satupun dari dia yang berhasil membuatku tertarik. Maksudku, aku bahkan merasa seperti baru mendapat zonk! Cih, bagaimana bisa temanku memperkenalkan lelaki yang buruk seperti itu." omel Charlotte kesal.
Xander hanya mengangguk mendengar penjelasan dari Charlotte itu. Ia juga sejak tadi hanya diam mendengarkan omelan itu karena tak tahu harus menanggapi apa. Ia kembali melajukan mobilnya menyusuri jalanan.
"Hm." Charlotte menjawab, namun tak menoleh.
"Ini tentang pria bernama Victor itu."
"Ada apa?"
"Entah kenapa, aku merasa kalau dia adalah pria yang sama dengan pria yang sudah kau tolak di klub malam beberapa waktu lalu."
"Hah?"
"Apa kau lupa? Itu seminggu yang lalu."
Charlotte menaikkan sebelah alisnya. "Lelaki di klub malam? Seminggu yang lalu?"
"Benar. Aku merasa dia dan lelaki itu adalah orang yang sama."
"Kenapa aku tak ingat, ya?" Charlotte memejamkan matanya sambil mengetuk-ngetuk dahi tengahnya dengan jari telunjuk, mencoba mengingat kembali ucapan Xander itu.
"Ya tentu saja kau tak mengingatnya. Saat itu kau jelas-jelas sedang mabuk. Saat itu kau mengatakan padaku kalau kau sempat berkenalan dengan laki-laki bernama Victor. Dia mengajakmu kencan tapi kau menolaknya!"
"Katakan sebenarnya apa maksudmu, Xander?"
"Ya, kan kau mengatakan ada janji kencan dengan seorang pria bernama Victor. Dan aku yakin kalau dia adalah lelaki yang sama dengan lelaki yang sudah kau tolak di klub malam, seminggu lalu."
Charlotte mengernyit heran, lalu menjentikkan jarinya. "Kalau benar begitu, itu artinya dia pasti sengaja mendekati teman-temanku agar bisa kencan denganku, begitu?"
__ADS_1
"Aku berpikiran hal yang sama aku rasa sepertinya memang begitu."
"Itu berarti memang sudah pantas aku menolaknya saat di klub malam waktu itu. Kau lihat? Dalam keadaan mabuk saja aku masih bisa memilih pasangan yang benar." ujar Charlotte bangga, sementara Xander hanya menggelengkan kepala, tersenyum sinis.
'Lalu kenapa malah kau rusak dengan berakhir di kamar hotel yang sama dengannya. Dasar bodoh!"
Setelah pembicaraan itu, Charlotte mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil, fokus menatap jalanan yang ramai oleh kendaraan.
Xander menoleh pada Charlotte, melihat adiknya yang kini sedang duduk santai, sambil menikmati pemandangan di luar mobil mereka.
"Ngomong-ngomong kakek menghubungiku tadi, saat kau masih di dalam hotel."
Charlotte masih diam, tidak menanggapi ucapan Xander itu. Ia terlihat tidak begitu tertarik dengan topik pembicaraan kali ini. Melihat itu, Xander tetap memilih untuk terus melanjutkan kalimatnya.
"Kakek juga menitipkan beberapa pesan padaku, pesan untukmu."
"Pesan apa?" tanya Charlotte tanpa menoleh.
"Kakek bilang dia baru mendapat laporan tentang kegiatanmu beberapa waktu kemarin. Kakek tahu segala hal yang terjadi padamu. Termasuk insiden saat kau menabrak pohon karena menyetir dalam keadaan mabuk. Kakek juga mengatakan, sebaiknya kau berhenti mabuk-mabukan atau setidaknya kau jangan menyetir dalam keadaan mabuk berat.
Charlotte tertawa sumbang, "Bagaimana dia bisa mengetahui insidenku baru-baru ini. Ah, aku yakin pasti Paul yang sudah melaporkan kejadian itu pada kakek. Dia kan asisten sekaligus mata-mata paling setia yang kakek miliki."
"Aku juga berpikir hal yang sama denganmu." ungkap Xander menganggukkan kepalanya setuju, "Pasti dia-lah yang sudah melakukannya! Dia satu-satunya orang yang selalu melaporkan semua informasi tentang apa yang terjadi di sini pada kakek."
Charlotte berdecak lalu menggerutu sebal, "Aku sudah memintanya merahasiakan masalah ini. Tapi dia memang tidak bisa di percaya sama sekali. Harusnya mobil rusak itu langsung aku buang saja daripada aku titipkan ke mansion."
"Mobil itu tidak rusak, Lottie! Itu hanya lecet di beberapa bagian saja. Dan-"
"Ck, itu sama saja!" balas Charlotte.
"Oh ya, satu lagi, Lottie! Kakek juga bilang, kalau sekali lagi kau berbuat hal seperti itu, dia akan me-"
"Oke, oke, ini terakhir kalinya aku menyetir dalam keadaan mabuk." Charlotte mengibaskan tangannya acuh. "Dan mulai besok biar kau saja yang akan menyetir mobilku kalau aku pergi pesta, puas?"
Xander berdehem pelan. "Ada bayarannya kan kalau aku mengantar jemput dirimu?"
"Ada." jawab Charlotte kemudian membuka dompetnya dan menyerahkan sebuah kartu kecil pada Xander. "Kau bisa pakai ini semau dan sesukamu nanti!"
Dengan cepat Xander langsung meraih kartu itu dengan wajah sumringah. "Oke! Kalau begini kan sama-sama enak. Tenang saja. Aku akan terus mengantar jemput bahkan sampai kau bosan melihatku."
"Ck, dasar mata duitan." ejek Charlotte yang hanya di balas cengiran oleh Xander.
"Ini gara-gara kakek. Aku sampai harus kehilangan salah satu kartu kreditku." gerutu Charlotte kesal. "Pak tua itu memang sangat suka mengancam dan mengatur hidup orang."
"Oh ya, ada satu hal lagi, Lottie!" ujar Xander sambil meletakkan kartu kredit pemberian Charlotte tadi ke dashboard mobil.
Charlotte mendecih sinis. "Apalagi sekarang?"
"Itu, em... ini tentang..." Xander berdehem sebentar sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Kakek bilang dia akan pulang ke Indonesia."
Ucapan Xander itu, sontak saja membuat mata Charlotte membulat sempurna.
"Apa?" pekik Charlotte kaget. "Apa kau bilang?"
***
✔ Note :
__ADS_1
▪Typo, alur ngaco, kesalahan Eyd tidak akan di perbaiki. Saya author pemalas. Titik!
▪Author peduli dengan kesehatan mata kalian, jadi, kalau kalian kurang suka sama ceritanya, Author sarankan kalian untuk mencari cerita yang lain saja, karena cerita ini bisa menyebabkan sakit mata akut.