
Di tengah perjalanan, Xander kembali menoleh pada sang adik. Sejak tadi gadis itu hanya melamun, menatap kosong ke luar jendela.
"Kau tidak lapar? Kan cuma minum jus aja tadi!" tanya Xander lagi, mencoba memecah keheningan di antara mereka.
Charlotte menghela lalu menggeleng. "Nggak!"
"Kau yakin?" Xander memastikan sekali lagi.
"Yakin!" Charlotte mengangguk singkat. "Beberapa hari lagi akan ada pemotretan untuk majalah terkenal. Dan aku nggak mau kelihatan gemuk karena berat badan yang bertambah."
Xander hanya mengangguk paham. Ya, memang biasanya, saat mendekati jadwal syuting iklan, pemotretan dan fashion show, Charlotte akan memilih untuk tidak makan terlalu banyak dan lebih mengutamakan olahraga. Entah apa sebenarnya tujuan Charlotte melakukan hal yang menurut Xander sangat konyol itu.
Tapi tidak apa, setidaknya gadis itu masih mau bicara dengannya. Hal ini saja sudah cukup membuatnya lega di bandingkan saat gadis itu hanya diam dan membuatnya terlihat seperti sedang bicara dengan patung.
Charlotte dan Xander kembali terdiam selama beberapa saat. Mereka tenggelam dalam pemikiran masing-masing sampai akhirnya Xander kembali bicara.
"Gimana perasaanmu sekarang?" ujar Xander bertanya dengan sedikit hati-hati mengingat betapa sensitive-nya Charlotte saat ini.
"Aku nggak apa-apa!" jawab gadis itu singkat.
"Lottie!" Xander berdehem sebentar kemudian kembali melanjutkan kata-katanya. "Ku rasa kau harus minta maaf!"
Charlotte menoleh cepat ke arah Xander, menatap tajam pemuda tampan yang sibuk menyetir di sebelahnya itu.
"Apa?" Charlotte menatap Xander dengan sebelah alis yang terangkat. "Apa kau bilang? Ayo, coba ulangi lagi kata-katamu!"
"Kubilang kau harus minta maaf sama kak~ aw... sakit bodoh!" pekik Xander saat sebuah pukulan kuat mendarat tepat di kepalanya. Charlotte tanpa rasa belas kasihan sudah memukul kencang kepala Xander dengan tangannya.
Charlotte tersenyum sinis. "Rasa sakit itu adalah peringatan keras untukmu, Xander. Itu akan menyadarkanmu agar selalu ingat kalau kita ini adalah saudara! Dan aku ini nggak salah! Jadi jangan minta aku untuk minta maaf."
"Oke! Oke!" balas Xander.
"Kita memang saudara Lottie. Tapi tuan Romanov itu kan juga kakek kita? Jadi harusnya kau jangan berbuat sekasar itu sama kakek seperti yang kau lakukan tadi!" ujar Xander masih terus fokus pada jalanan di depannya.
Charlotte lalu menggedikkan bahunya acuh.
"Menurutku itu adalah cara terbaik untuk mempertegas penolakan atas semua perintahnya. Kenapa kau kelihatan nggak terima begitu? Kau memang suka ya bekerja di kantor?"
"Bukan gitu, aku cu-"
"Sudah ya, Xander! Aku tau pasti kalau kau memang sepatuh itu pada kakek!" Charlotte melirik Xander sekilas. "Tapi di balik itu, ada hal yang harus kau ingat. Aku ini saudaramu. Aku juga butuh di bela, bukan cuma kakek."
Xander menghela napasnya perlahan. Ia benar-benar tak habis pikir kenapa Charlotte benar-benar tidak bisa memahami apa maksud ucapannya. "Aku bukan nggak mau membelamu, Charlotte! Tapi kau memang nggak dalam posisi yang pas untukku bela. Kau tadi-"
"Oke, nggak masalah! Lagipula aku juga nggak butuh pembelaan darimu kok." Charlotte mengibaskan tangannya acuh. "Seharusnya aku ingat kalau kau memang setia pada kakek."
"Hei, bukan begitu, tapi aku-"
Charlotte mengangkat tangannya, memberi tanda pada Xander untuk menghentikan ucapannya.
"Xander! Entah kenapa, aku merasa sikap patuhmu ke kakek itu..." Charlotte menjeda kalimatnya sebentar sebelum kembali melanjutkan. "...aku yakin pada akhirnya nanti hal itu pasti yang akan membuat hubungan kita menjauh!"
"Aku yakin, suatu saat nanti kau pasti akan lebih mengutamakan kepentingan kakek, di banding aku!" lanjut Charlotte.
__ADS_1
Setelah mendengar ucapan Charlotte barusan, Xander hanya bisa terdiam. Ia tidak ingin menjawab kalimat apapun dari yang keluar dari mulut Charlotte padanya.
Ia tidak bisa memungkiri itu, karena sebesar apa rasa sayangnya pada Charlotte, suatu hari nanti ia pasti akan tetap mematuhi perintah tuan Romanov, apapun itu.
Charlotte melirik ke arah Xander yang hanya diam, dan hal itu langsung membuatnya kembali membuka mulutnya. "Kau bahkan nggak membantah! Itu artinya semua yang kukatakan barusan itu benar, kakek adalah orang nomor satu buatmu, ya kan?"
Xander menghela kemudian melirik Xander. "Denger, Lottie! Apapun alasannya, aku bisa pastikan kalau kita nggak bakal saling menjauh! Kita ini saudara, ingat?"
"Omong kosong!" sergah Charlotte tajam. "Ucapanmu itu hanya omong kosong belaka. Buktinya saat akuĀ sama kakek sedang berdebat di meja makan tadi, kau tidak membelaku. Di situ aku bisa melihat dengan jelas penghianatanmu padaku dan betapa besar kesetiaanmu ke kakek." ujarnya sambil melirik Xander.
"Kau tidak bisa buat kesimpulan sembarangan gitu dong. Itu namanya menuduh!" protes Xander tak terima.
"Cih! Buktinya kau tadi cuma bisa diam waktu kakek mencoba mengajakmu pergi!" Charlotte kemudian kembali memposisikan dirinya menghadap ke arah Xander. "Kau bahkan bahkan mengomeliku saat aku ngajak kakek berdebat tadi!"
Xander mengusap kesar wajahnya dengan sebelah tangannya. "Sudah kukatakan, kalau kau tidak dalam posisi yang pas untuk dibela. Lebih parahnya lagi, kau bahkan sudah ngebentak kakek tadi!" balas Xander.
"Aku justru berada di posisi yang pas untuk kau bela, Xander! Dengar, sudah jelas perjanjian kita dari awal, kau bisa masuk kantor itu paling cepat adalah setelah kelulusan. Tapi kakek mencoba melanggar perjanjian dengan membawamu ke kantor lebih awal bahkan dia membawamu dengan sembunyi-sembunyi." terang Charlotte lugas membuat Xander tidak dapat menjawab apapun.
"Lihat! Padahal aku ada di posisi yang bener. Tapi apa? Kau tetap saja membela kakek bahkan kau marah padaku gara-gara perdebatan kami tadi." lanjut gadis itu.
Xander menghela pelan.
Ia merasa cukup frustasi dengan keadaan saat ini. Ini rumit! Setidaknya itu yang Xander pahami sekarang. Ia dan Charlotte memang saudara, ia akui itu. Namun tuan Romanov adalah orang paling utama yang harus Xander hormati selama hidupnya.
Tuan Romanov, dia adalah seorang penyelamat bagi Xander.
"Kau mau aku bagaimana lagi? Kalau kakek sudah minta sesuatu, aku jelas tidak mungkin bisa membantah apa-apa!" ujar Xander dengan nada pasrah.
Charlotte melengos. "Masa bodoh dengan sopan santun." ujarnya dengan nada sinis. "Lagipula, dia juga tidak menggunakan sopan santun saat dengan seenaknya membawamu pergi kemarin pagi kan? Dia bahkan tidak mengatakan apapun padaku!" Charlotte kembali mengingatkan.
"Kami buru-buru, Lottie!"
"Oh, benarkah? Jadi kalian sedang buru-buru?" Charlotte berujar dengan nada mengejek. Ia kemudian tersenyum sinis. "Kau pasti mikir kalau aku ini bodoh dan bisa percaya alasan begitu kan?"
Xander menghela kesal. "Sudahlah, lebih baik kita jangan membahas masalah ini lagi."
"Kenapa?" Charlotte menaikkan sebelah alisnya, "kau tidak terima aku bicara begitu? Kau tidak terima aku jelek-jelekkin si penipu tua itu."
"Charlotte!" bentak Xander.
"Apa?" balas Charlotte yang juga menaikkan nada bicaranya. "Kenapa? Aku kenapa?"
Xander mengusak rambutnya kesal. Ia meruntuki dirinya yang baru saja membentak adik kesayangannya itu.
Seumur hidupnya, dia sama sekali tidak pernah menggunakan nada tinggi pada Charlotte entah dalam keadaan apapun, tidak peduli seberapa marah ia pada gadis itu.
Xander menghela nafasnya pelan, mencoba meredakkan emosinya yang sempat naik. "Ayo kita hentikan perdebatan ini, aku nggak mau berantem denganmu!"
"Ya udah, terserah!" jawab Charlotte acuh. "Lagipula kan kau sendiri yang memulai perdebatannya tadi! Kau yang minta aku minta maaf sama kakek, padahal aku nggak salah apa-apa."
"Ya, aku minta maaf, oke!" balas Xander pelan. "Aku minta maaf karena sudah memintamu melakukan hal yang tidak kau suka."
"Hm!" jawab Charlotte dengan nada malas.
__ADS_1
Beberapa saat setelah itu keadaan di dalam mobil menjadi hening. Keduanya hanya diam dan disibukkan dengan pikiran mereka masing-masing. Charlotte pun saat ini lebih memilih memainkan ponselnya membalas beberapa pesan dari teman-temannya.
Charlotte sebenarnya merasa tidak nyaman dengan keterdiaman yang terjadi di antara mereka. Kalaupun dia boleh jujur, dia merasa tidak enak dan sedih karena harus bertengkar lagi dengan Xander tentang masalah ini.
Namun ia kesal karena pemuda itu selalu saja membela sang kakek sekalipun kakeknya itu berada di posisi yang salah.
Charlotte tau pasti jika Xander memiliki rasa hutang budi yang besar pada kakeknya karena sudah membawa dan juga merawat bahkan membiayai semua pendidikan Xander.
Tapi sang kakek sendiri-lah yang sudah mengatakan pada Charlotte jika Xander adalah anak yang di bawa untuk menjadi kakak, teman dan sahabat bagi Charlotte.
Itulah sebabnya, sejak hari pertama Xander di bawa ke mansion, di hari itu juga senyumnya tidak pernah hilang karena merasa mempunyai seseorang di sampingnya.
Tapi ia merasa setelah bertahun-tahun kemudian sang kakek mulai berbeda. Kini kebahagiaannya akan di renggut lagi oleh sang kakek. Pak tua itu bahkan mencoba menjauhkannya dengan Xander karena dia ingin menjadikan Xander pemimpin perusahaan konyolnya, itulah sebabnya Charlotte tidak terima.
Charlotte menoleh ke arah Xander, pemuda itu masih fokus menyetir.
Charlotte menghela. 'Entah kenapa aku benar-benar tidak bisa mendiamkannya. Mulutku ini selalu merasa gatal jika tidak mengajaknya bicara atau berdebat.' Charlotte meruntuk dalam hati.
Tidak ingin merasakan canggung yang terlalu lama, akhirnya Charlotte mulai kembali bersuara. "Nanti kita berhenti di kafe dekat kampus. Aku mau beli kopi disana."
Xander kemudian menaikkan sebelah alisnya, "Sejak kapan kau minum kopi di pagi hari seperti ini?"
"Sudah beberapa hari ini. Kebetulan rasa kopi di sana lebih enak daripada yang lain. Aku suka."
Xander lalu menoleh pada Charlotte sekilas. "Terus darimana kau bisa tau ada kafe enak di dekat kampus?"
Charlotte lalu menyeringai tipis. "Darimana aku tau? Ehm, aku tau dari Laurent. Dia mengajakku kesana beberapa waktu lalu."
Xander mengerutkan dahinya tampak memikirkan sesuatu sambil terus memfokuskan pandangannya pada jalan raya.
"Laurent mengajakmu ngopi disana?" tanya Xander yang langsung di angguki oleh Charlotte.
"Iya."
"Kenapa Laurent mengajakmu ngopi?" tanya Xander lagi.
"Hah?" Charlotte menyipitkan kedua matanya. "Oke Xander, pertanyaanmu barusan agak aneh! Memang kenapa kalau Laurent mengajak aku ngopi? Masa iya cuma kau saja yang boleh minum kopi bareng dia?"
"Nggak gitu! Aku hanya-"
"Itu... itu kafenya! Yang warna cat-nya coklat sama hitam!" potong Charlotte sembari menunjuk gedung kafe yang beberapa waktu lalu ia kunjungi.
Xander pun segera menepikkan mobilnya kemudian menghentikkan mobil itu tepat di depan bangunan kafe yang di tunjuk Charlotte.
Xander menatap bangunan kafe itu. Ia mendecih kesal. Kafe ini kan tempat yang sering ia datangi saat pulang dari kampus dan sudah menjadi langganan tetapnya. Dan seingatnya, dia sendiri yang sudah memberitahukan lokasi kafe ini pada Laurent. Tapi dia benar-benar tidak menyangka kalau Laurent juga akan memberitahukannya pada Charlotte.
'Laurent, kau berhutang penjelasan padaku!' gerutu Xander dalam hati.
"Kau tunggu di sini, sebentar!" ujar Charlotte pada Xander.
"Hmm!!" jawab Xander dengan nada malas sambil menatap Charlotte yang bergegas keluar dari mobil, lalu masuk ke dalam bangunan kafe itu.
***
__ADS_1