Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
22.


__ADS_3

"Kakek akan mengunjungi kantor besok, sekalian mengecek keadaan hotel kita." ujar tuan Romanov sembari menyuap makanan ke dalam mulutnya.


"Jadi kakek akan langsung bekerja di kantor besok?" tanya Xander sedikit terkejut.


"Tidak! Kakek ke sana bukan untuk bekerja." ujar tuan Romanov sambil menggeleng pelan.


"Jadi?"


"Kakek hanya akan mengecek beberapa dokumen di kantor dan bertemu dengan rekan bisnis kakek. Itu saja."


"Kakek harusnya istirahat saja dulu di mansion, tidak perlu ke kantor besok. Kakek pasti lelah karena baru sampai dari perjalanan jauh." Charlotte berkata, mencoba memberi saran pada sang kakek.


Tuan Romanov tertawa renyah. "Kakek sudah cukup istirahat tadi, Lottie."


"Ya, tapi itu hanya dalam hitungan jam." Charlotte bersikeras. "Dan istirahat beberapa jam saja tidak akan membuat tubuh kakek kembali segar."


"Tidak apa, kakek sudah merasa cukup!" jelas tuan Romanov tenang.


Charlotte lalu menggedikan bahunya acuh.


"Baiklah, terserah kakek saja kalau tidak mau." ujar Charlotte sambil menyuap makan ke dalam mulutnya.


Tepat setelah itu keadaan menjadi lebih hening. Saat ini, mereka sibuk menikmati makanan mereka masing-masing.


"Tidak biasanya kau mau datang ke mansion utama ini, Lottie!" ujar tuan Romanov kembali memecah keheningan. "Kakek pikir kau sudah tidak ingin datang ke sini lagi."


Mendengar pertanyaan itu Charlotte langsung menghentikan aktivitas makannya. Sementara Xander yang sedari tadi sibuk makan di dekat mereka hanya melirik singkat.


Charlotte menghela pelan kemudian meletakkan sendok dan garpu yang ia pegang ke atas piring makanannya. "Tentu saja aku setuju untuk datang ke sini. Itu semua kan karena kakek? Bukankah kakek yang sudah memintaku untuk datang kemari!"


Tuan Romanov mengangguk paham. "Ya, memang kakek yang minta!"


Charlotte menatap sang kakek lekat. "Aku dengar dari beberapa orang kalau kakek sangat merindukan ku, jadi aku datang!"


"Ya. Benar!" tuan Romanov mengangguk. "Kakek memang sempat menghubungi Xander untuk menyampaikan semua padamu karena sangat sulit bagi kakek untuk menghubungimu secara langsung."


Xander mendecih. "Tentu saja sangat sulit untuk menghubunginya kek, karena dia memang tidak akan pernah mau mengangkat saat kakek mencoba menelfonnya."


Charlotte menatap tajam pada Xander yang saat ini terlihat sedang berusaha untuk memojokannya. Sementara sang pemuda yang tengah ditatap itu hanya menyengir kuda, seperti tengah mentertawakannya.


Ia lalu kembali beralih pada sang kakek, "Aku sedang sibuk kakek! Itulah sebabnya kenapa aku tidak sempat mengangkat telfon dari kakek."


Mendengar alasan dari Charlotte itu sontak membuat Xander yang sejak tadi ikut mendengarkan langsung tertawa. "Dia tidak sibuk kek. Tapi dia hanya tidak ingin mengangkat telepon dari kakek."


Charlotte menatap ke arah Xander lalu memutar bola matanya malas. "Baiklah, kalau begitu aku akan jujur saja. Aku hanya tidak ingin kakek melacak ponselku, itulah alasan kenapa aku tidak mengangkat telfon dari kakek."


"Itu menyebalkan jika kakek melacaknya, karena tidak lama setelah kita bicara di telfon, biasanya akan ada banyak laki-laki datang dengan mengenakan jas hitam yang selalu mengikutiku, kemanapun!" lanjut Charlotte.


Tuan Romanov tersenyum. "Lottie, kakek tidak perlu meneleponmu jika ingin melacakmu! Cukup dengan ponselmu yang aktif saja, kakek sudah bisa melacakmu." jelas tuan Romanov. "Dan kakek juga sudah tau kalau itulah yang menjadi alasan kenapa kau tidak mengangkat telfon dari kakek!"


Charlotte membulat. "Kakek sudah tahu?"


Tuan Romanov tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Ya! Xander yang mengatakan pada kakek kalau kau memang sengaja tidak mau mengangkat telepon dari kakek."

__ADS_1


Mata Charlotte langsung melotot, kaget dengan perkataan sang kakek. Ia mengalihkan pandangannya pada Xander yang saat ini juga tengah menatapnya kaku. Pemuda itu terlihat seperti sudah menyadari bahwa saat ini dia sedang dalam keadaan bahaya.


"Xander, jadi kau yang sudah memberitahu tahu kakek?" tanya Charlotte dengan nada dingin.


Xander tersenyum canggung. "Ya, tapi itu-"


"Jadi benar kau yang-"


"Hei, hei, dengar dulu!" Xander segera memotong perkataan Charlotte. "Kau kan tau kalau aku ini sangat pandai dalam menjaga rahasia."


"Lalu kenapa kau mengatakan rahasia ini pada kakek!" Charlotte berujar kesal. Ia sangat tau jika Xander menyebalkan, tapi ia tidak menyangka jika pemuda itu ternyata bisa menjadi jauh lebih menyebalkan dari ini.


"Ya itu kan karena...emm.. karena kau nggak pernah bilang padaku untuk merahasiakan hal ini dari kakek, jadi gue-- awww sakit!"


Ucapan Xander langsung terpotong saat Charlotte melempar tulang ayam pada Xander dan tulang itu  tepat mengenai mata Xander.


"Awww, ini perih bodoh. Apa yang kau lakukan?" ujar Xander sambil menggosok matanya.


Xander lalu mengangkat tangannya, hendak melempar garpu yang ia pegang pada Charlotte namun Xander langsung teringat akan kehadiran tuan Romanov yang duduk di sebelahnya.


"Kakek, lihatlah kelakuan cucu kesayangan kakek ini kepadaku!" Xander mengadu pada tuan Romanov dengan wajah memelas. "Dia benar-benar mengerikan!"


Charlotte berdecak. "Dasar, kau ini laki-laki tapi suka mengadu,"


"Biarkan saja!" Xander menatap Charlotte kesal.


Tuan Romanov kembali menatap Charlotte.


"Lottie, kakek selalu mendapat laporan buruk tentangmu." ujar tuan Romanov. Charlotte tidak menjawab, ia hanya melirik sekilas pada sang kakek.


Charlotte langsung melirik tajam pada Xander. "Pasti kau lagi kan yang bilang?"


Xander menggeleng cepat. "Bukan, bukan aku yang bilang, sumpah!" ujar Xander meyakinkan.


"Tidak! Bukan Xander yang mengatakan pada kakek, tapi Paul-lah yang sudah mengatakan!" ujar tuan Romanov memperjelas situasi.


"Ah benar!" Charlotte mendecih. "Memangnya siapa lagi yang berani melapor selain Paul! Dia itu kan mata-mata paling setia yang kakek miliki."


"Paul juga mengatakan kalau kau membeli mobil baru?" lanjut tuan Romanov.


"Ya, aku tidak sengaja menabrakkan mobilku beberapa waktu lalu!" jelas Charlotte enteng, tanpa merasa berdosa.


Tuan Romanov menghela. "Rusaknya sangat ringan, dan kau bisa memperbaikinya, tapi kau lebih memilih membeli mobil yang baru, Lottie?"


Charlotte hanya mengangguk acuh. "Aku hanya tidak suka ada noda pada mobilku!"


"Bukannya kau juga noda!" sela Xander sambil tertawa renyah.


"Sial*n Xander. Lebih baik kau diam saja!" sentak Charlotte.


Tuan Romanov menatap Charlotte. "Dengar Lottie, terserah jika kau mau membeli mobil baru atau apapun itu. Tapi kakek berharap sebaiknya kau tidak menyetir dalam keadaan mabuk lagi! Jika sekali lagi kau berbuat seperti itu, maka kakek akan--"


"Baiklah!" sela Charlotte. "Mulai besok Xander saja yang akan menyetir jika aku sedang mabuk!"

__ADS_1


Tuan Romanov menggelengkan kepalanya sambil menghela pelan. "Itu sebabnya kakek mengirimkan bodyguard lain untukmu, untuk menjagamu. Dan kau hanya perlu menerima mereka untuk terus mengikutimu. Lagipula mereka juga hanya akan memantaumu dari jauh."


"Aku tidak butuh mereka, kan ada Xander?" ujar Charlotte sambil kembali melirik ke saudara angkatnya itu.


"Dengar Lottie! Xander bukanlah bodyguardmu! Dia adalah kakak yang saat ini sedang kakek tugaskan untuk menjagamu dan tidak selamanya dia bisa menjagamu." tuan Romanov menerangkan.


"Kenapa tidak?" protes Charlotte. "Xander pasti mau kan untuk menjagaku?"


"Hah?" Xander berujar bingung, sambil menatap Charlotte yang tengah menatap tajam padanya. "Masalah itu, a-aku terserah saja..."


Charlotte menghela bosan. "Para bodyguard itu, mereka tidak akan berguna untukku kakek, percayalah padaku. Apalagi mereka hanya menjagaku dari jauh. Selain itu mereka juga pasti sangat membosankan."


Tuan Romanov tersenyum. "Tenang saja, kakek kan hanya memberi tugas pada mereka untuk memantaumu dari jauh. Jadi kau tidak perlu berurusan dengan mereka. Kau tidak mungkin bosan dengan mereka."


"Tapi tetap saja kan--"


"Lottie, kakek melakukan semua ini hanya demi kebaikanmu. Agar nama baikmu tidak menjadi semakin memburuk. Jika sesuatu terjadi, mereka kan bisa langsung memberitahu kakek dan langsung membereskan masalah saat itu juga."


"Tapi kan Xander ada di sa-"


"Kakek juga tidak bisa berharap lebih pada Xander karena kakek tau dia pasti akan selalu mendukungmu." tuan Romanov menatap Charlotte dan Xander bergantian. "Dan jika sesuatu terjadi padamu, kakek yakin Xander pasti akan berusaha merahasiakannya dan membereskan semuanya sendiri."


Xander tersenyum tidak enak. "Tidak, tidak begitu kek, aku-"


"Tidak masalah Xander. Kakek setuju dengan semua prinsip yang kau punya. Mengerjakan semua sendiri agar tidak ketahuan olehku agar Charlotte aman dari kemarahanku, yang kau lakukan itu adalah usahamu untuk melindungi Charlotte dan itu artinya kasih sayangmu pada Charlotte tidak bisa di ragukan lagi." tuan Romanov tersenyum bangga. "Ya, meskipun caranya masih terbilang salah."


Xander hanya bisa menunduk, dia jadi tidak enak hati sekarang, karena apa yang dia lakukan diketahui oleh sang kakek.


"Maaf kakek!" ucapnya kemudian.


"Tidak, jangan minta maaf!" tolak tuan Romanov. "Kakek tidak masalah saat kau melindunginya dari apapun, tapi ingat, bukan berarti saat ada yang salah kau selalu menutupinya, hanya itu pesan kakek padamu!"


"Kakek salah besar! Mendukung apanya?" Charlotte terdengar tidak terima membuat Xander mengangkat sebelah alisnya heran.


"Dia tidak selalu mendukungku kek. Buktinya dia bahkan tidak berhenti memarahiku di depan semua orang saat aku tengah berkelahi dengan seorang gadis di klub malam. Dia bahkan memarahiku sampai esok harinya. Dan itu benar-benar menyebalkan!"


"Ya, tentu saja aku memarahimh, karena waktu itu kau yang sudah menyenggolnya lebih dulu, tapi kau yang marah dan berbuat keributan. Itu sebabnya aku memarahimu. Sekalian melindungi reputasimu sebagai model!"


"Lagipula kau bikin malu saja! Marah-marah nggak jelas sama orang seperti itu." lanjutnya.


"Tunggu dulu, kau bilang aku bikin malu? Kau tak perlu banyak alasan. Aku yakin alasan kau membela gadis itu karena dia bertubuh seksi kan, ngaku aja." Charlotte berdecak malas saat mengingat seberapa seksi tubuh gadis yang berkelahi dengannya waktu itu.


Dasar! Semua lelaki mata keranjang.


Tuan Romanov menghela nafasnya saat melihat kedua anak muda di hadapannya ini mulai kembali berdebat. Bayangkan beberapa jam mereka tiba di mansion ini, tapi sudah terjadi banyak sekali perdebatan.


"Jangan asal bicara!" balas Xander tegas.


"Asal bicara? Kau bilang aku asal bicara? Aku ini bicara fakta dan memang itu yang terjadi. Kau kan mata keranjang dan kebetulan sekali aku ini sedang bertengkar dengan gadis seksi dan kau pasti mengambil kesempatan kan?" Charlotte terus bicara tanpa jeda. "Laurent yang playboy saja membelaku! Tapi kau nggak!"


"Tapi waktu itu kau juga-"


"Bisakah kalian berhenti berdebat, kakek sedang membahas hal serius di sini!" tuan Romanov merasa mulai naik darah menghadapi kedua cucunya ini.

__ADS_1


Ia lalu memijit pelipisnya yang kini mulai berkedut. Pusing? Memangnya siapa yang tidak akan pusing jika harus terus berhadapan dengan situasi seperti ini. 


***


__ADS_2