Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
39.


__ADS_3

Begitu jam mata kuliah pertamanya selesai, Justin langsung bergegas keluar kelas karena menurut info, dosen yang akan mengajar di jam kedua tidak hadir hari ini.


Justin berjalan dengan langkah yang sedikit terburu-buru menuju lantai dasar untuk menemui Harry di ruang kuliahnya. Dia ingin menanyakan perihal pekerjaan yang pernah Harry tawarkan padanya beberapa waktu lalu.


Sebelumnya, dia sudah menghubungi Harry untuk mengajaknya bertemu tadi. Dan Harry mengatakan pada Justin untuk langsung menemuinya ke lantai dasar, di mana kelas Harry berada.  Justin lalu sedikit mempercepat laju langkahnya, ia tidak ingin seniornya itu menunggu terlalu lama.


Bagi yang belum tau, Harry sendiri adalah kakak kelas Justin semasa SMA dan satu-satunya orang yang selalu membantu Justin kala itu.


Justin akui, meskipun umur mereka berbeda jauh dan mereka bukanlah teman sebaya, tapi Harry selalu memperlakukannya dengan sangat baik, bahkan selalu membantunya saat ia sedang membutuhkan bantuan.


Satu fakta tentang Harry adalah selama ini Justin bahkan sudah menganggap pria itu sebagai kakak kandungnya sendiri.


"Justin!"


Panggilan itu membuat Justin menghentikan langkahnya tepat sebelum menuruni anak tangga. Ia menolehkan kepalanya dan mendapati Charlie yang saat ini tengah berlari ke arahnya. Justin menghela pelan. Kenapa di saat ia tengah terburu-buru begini Charlie malah memanggilnya.


Charlie berhenti tepat di hadapan Justin. "Kau mau ke kantin bersamaku, aku traktir!"


"Tidak Charlie, terima kasih. Aku sedang buru-buru sekarang."


"Hei, mau kemana?" teriak Charlie pada Justin yang sudah berlari menuruni anak tangga entah menuju kemana.


Justin terus saja berlari menuruni anak tangga dan berhenti tepat di depan kelas Harry yang masih terlihat ramai oleh banyak mahasiswa. Melihat Harry yang belum juga keluar dari ruangannya Justin memutuskan untuk menunggunya di luar kelas.


Tanpa terasa sudah hampir sepuluh menit Justin menunggu Harry keluar dari ruang kuliahnya. Ia bahkan tidak menyadari banyak pasang mata yang yang tengah memperhatikannya di tempat itu.


Justin sendiri sebenarnya tau jika Harry ada di dalam ruang kuliahnya karena dia sempat mengintip ke dalam beberapa saat yang lalu. Namun dia tidak ingin memanggil Harry karena pemuda itu masih terlihat sibuk berbincang dengan teman sekelasnya. Justin juga merasa tidak enak jika harus memanggil Harry untuk keluar, alhasil di memilih untuk menunggu.


"Hei, kau!" sebuah suara membuat Justin terkejut.


Ia menoleh cepat dan terkejut mendapati beberapa gadis tengah berdiri di hadapannya, menatapnya lekat sambil menyunggingkan senyuman termanis mereka.


"Kau Justin kan?" seru salah satu dari para gadis itu.


Justin mengernyit bingung.


Dia tiba-tiba merasa penasaran, bagaimana para gadis di hadapannya ini bisa mengenalnya bahkan mereka juga mengetahui namanya, sedangkan Justin sendiri sama sekali tidak mengenal satu pun dari mereka.


"A-aku?" tanya Justin dengan bingung sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Ya kau, tentu saja. Siapa lagi." ujar gadis itu.


"Kau Justin Kim kan?" tanya gadis lain yang berdiri di sebelahnya, gadis yang bertubuh paling seksi.


Gadis seksi itu lalu bergerak maju, mendekat pada Justin kemudian mengulurkan tangannya. "Perkenalkan namaku Lily!"


Meski tengah di dera kebingungan namun Justin tetap mengangguk sopan. Ia mengangkat tangannya hendak membalas uluran tangan gadis itu namun tiba-tiba tangannya di tahan oleh seseorang.

__ADS_1


"Jauhi dia Lily!" suara berat itu sontak membuat para gadis itu langsung menoleh. 


"Harry?" gumam Justin pelan. Justin mengerjap, ia menatap Harry yang saat ini tengah menatap tajam pada kumpulan gadis di hadapannya itu


Lily membalas menatap Harry tajam lalu mendecih. "Apa masalahmu Harry?"


"Masalahku?" tanya Harry. Ia lalu melepas cekalan tangannya pada lengan Justin "Masalahku adalah aku mengenal pemuda ini."


"Apa?" Lily menaikan sebelah alisnya. "Kau mengenalnya?"


Harry menatap sinis pada gadis itu. "Aku beritahu padamu, dia bukan lelaki sembarangan yang bisa kau dan teman-teman anehmu itu permainkan. Jadi lebih baik kau urungkan saja niat kotormu itu dan pergi dari sini!"


"Bagaimana jika aku tidak mau?" jawab Lily menatap Harry dengan ekspresi menantang.


"Itu artinya kau akan berhadapan denganku!" Harry bergerak maju, meladeni gadis itu.


Lily tersenyum sinis dan tidak menyangka urusannya akan di halangi seperti ini. Ia melirik ke arah Justin kemudian tersenyum miring. "Kita akan bertemu lagi, tampan."


Sementara itu, Harry yang sudah tidak berniat berada di tempat itu lebih lama, langsung menarik bahu Justin agar segera pergi dari tempat itu. Ia dengan cepat membawa Justin menuju taman belakang kampus.


Sesampainya di halaman belakang, Harry langsung menyuruh Justin untuk duduk di kursi taman. Harry lalu pergi selama beberapa saat untuk membeli dua botol minuman dingin.


Tidak lama kemudian, Harry datang ke tempat Justin berada. Ia menyodorkan minuman di tangannya pada pemuda itu.


"Apa lama menunggu?" tanya Harry menatap Justin sambil tersenyum.


Justin menggeleng singkat, kemudian balas tersenyum. "Tidak terlalu lama. Sepertinya sekitar sepuluh atau lima belas menit.


Justin kembali menggeleng. "Tidak, mereka bahkan baru tiba saat kau datang!"


Harry mengangguk paham. "Bagus!"


"Bagus?"


"Iya, bagus. Asal kau tau Justin, para gadis itu, mereka adalah virus yang akan merusakmu. Jika mereka mendapatkanmu, kau akan habis di tangan mereka. Jadi ingat, jangan biarkan mereka menemuimu lagi nanti!" Harry bicara dengan raut wajah serius.


Justin langsung menatap Harry dengan tatapan ngeri. Ia tidak mengerti dengan maksud dari kalimat 'habis di tangan mereka'. Namun meskipun begitu, Justin tetap mengangguk menurut, karena toh selama ini Harry juga selalu menasehatinya dengan hal-hal positif dan tidak pernah membawanya pada hal negatif.


"Baiklah, jadi ada apa? Apa yang membuatmu tiba-tiba mengajakku bertemu?" Harry menatap Justin dengan raut bertanya-tanya.


Justin terdiam sebentar. Ia terlihat tengah  menimbang-nimbang kalimat apa yang akan ia keluarkan. Ia membenarkan posisi duduknya lalu tersenyum kikuk menatap Harry.


"Itu, aku mengajakmu bertemu karena ingin bertanya sesuatu."


"Bertanya sesuatu?"


Justin mengangguk pelan. "Aku ingin bertanya, apa tawaran pekerjaan darimu yang waktu itu masih berlaku?" tanya Justin masih dengan senyum canggung.

__ADS_1


"Oh, itu-" Harry tersenyum kecil sebelum akhirnya menjawab. "Apa kau sedang butuh pekerjaan?"


Justin menunduk lalu menganggukkan kepalanya pelan. Sejujurnya ia merasa sedikit malu karena selama ini selalu saja menemui Harry di saat dia sedang membutuhkan sesuatu.


"Tentu saja." jawab Harry santai.


Mendengar jawaban itu, dengan cepat Justin mengangkat kepalanya, menatap Harry antusias.


"Masih ada?" tanya Justin


"Iya, masih."


Harry lalu tersenyum. "Waktu itu, aku memang sengaja menawarkan pekerjaan itu hanya padamu. Selain kau, aku tidak pernah menawarkannya pada siapapun. Aku bahkan juga melarang teman-teman karyawan lainnya untuk menerima orang lain sebelum kau memberi keputusan. Jika kau menolak tawaranku baru aku menawarkannya pada orang lain!" terang Harry.


"Maksudnya kau menolak mereka?" Justin menatap Harry bingung, ia tak mengerti.


Harry tertawa kecil. "Ya. Setiap ada orang yang datang ke kafe untuk melamar pekerjaan aku selalu mengatakan tidak ada lowongan!"


"Benarkah?" Justin menatap Harry tidak percaya. "Apa bos mu tidak marah jika kau melakukan itu?"


Harry menggeleng sambil tertawa renyah kemudian menepuk bahu Justin pelan. "Tidak. Dia tidak akan marah. Karena aku sudah mengatakan padanya jika kau juniorku sekaligus teman baikku, aku tidak ingin melihatmu susah. Dan dia tidak masalah dengan itu."


"Selain itu aku juga merasa prihatin saat melihatmu bekerja satu hari full dengan berbagai pekerjaan sampingan dengan gaji yang tidak seberapa. Jujur saja, gaji di tempatku bekerja sangat besar, jadi aku harap kau tidak perlu punya banyak pekerjaan lagi untuk mendapatkan uang demi memenuhi kebutuhannmu itu."


Justin hanya mengangguk, mencoba mengerti kekhawatiran teman-teman dekatnya itu. "Charlie juga mengatakan itu padaku. Dia juga tidak suka melihatku bekerja seharian.


"Benarkan! Itu semua karena kami sangat khawatir padamu, Justin!" terang Harry.


Perkataan Harry itu membuat Justin tersenyum kecil. "Aku sangat berterima kasih, Harry."


"Jadi, apa kau menerima tawaran pekerjaan dariku?" tanya Harry antusias.


Justin mengangguk pelan. "Sepertinya aku butuh pekerjaan itu. Aku butuh tambahan uang, dan pekerjaan paruh waktuku saat ini tidak cukup untuk menopang biaya hidupku!"


"Tenang saja, aku berani jamin padamu, gaji di tempatku bekerja saat ini benar-benar sangat tinggi. Bisa tiga kali lipat dari pekerjaanmu sekarang. Karena kafe itu adalah kafe paling ramai di kota ini."


Justin membulat. "Be-benarkah?"


"Hm.. sudah ku katakan barusan, aku berani jamin! Jika bekerja di tempat itu, kau pasti bisa membayar biaya kuliah, biaya makan, dan kebutuhan lainnya." kata Harry berusaha meyakinkan.


"Kalau begitu, aku mau!" ujar Justin mantap.


"Baiklah, kalau begitu ini alamat kafenya," ujar Harry tersenyum sambil mengeluarkan bolpoint dari kantong celananya, lalu menuliskan alamat kafe tempatnya bekerja di kertas kecil dan langsung menyerahkannya pada Justin. "Setelah pulang kuliah, kau pergilah ke sana. Itu adalah waktu yang tepat karena pada jam itu karyawan tidak sedang sibuk, mereka sedang beristirahat."


Justin mengangguk tanda mengerti. "Baiklah!"


"Dan maaf, sepertinya aku tidak bisa mengantarmu kesana karena aku sedang ada urusan dengan temanku." ujar Harry.

__ADS_1


"Tidak apa! Aku bisa sendiri!" jawab Justin sambil menatap kertas berisi alamat yang Harry berikan padanya barusan.


***


__ADS_2