Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
86.


__ADS_3

Charlotte yang saat ini tengah fokus menyetir melirik Justin dari sudut matanya. Pemuda tampan itu terlihat duduk diam dengan mata yang mengarah keluar jendela mobil.


Entah kenapa setelah mengatakan sesuatu yang menurutnya terlalu tajam, Charlotte langsung merasa tak enak sendiri. Ia seolah mengatakan kalau Justin adalah seorang pria mata duitan.


Kenapa dia harus merasa tak enak seperti ini? Apa masalahnya kalau Justin tersinggung. Bukankah sebelumnya Charlotte tak pernah peduli bagaimana anggapan orang lain atas perkataannya.


Tapi tetap saja ada yang mengganjal di hatinya saat melihat raut wajah Justin yang berubah karena perkataannya.


"Tapi... ada hal yang membuat aku penasaran...."


Charlotte kembali bicara untuk membuka topik pembicaraan dan membuat Justin langsung menoleh padanya.


"Ya, nona?"


"Apa kau selalu menggunakan sepeda jika pergi kemana pun?" lanjut Charlotte bertanya dengan raut penasaran.


"Iya" Justin menganggukkan kepalanya.


"Tapi kenapa?"


"Kenapa?" Justin berujar tak mengerti.


"Maksudku, kenapa kau selalu pergi kemana-mana dengan menggunakan sepeda?" tanya Charlotte lagi sambil membelokkan stir mobilnya saat melewati tikungan jalan. "Apa kau tidak punya kendaraan lain? Mobil misalnya."


Justin kembali menolehkan pandangannya pada Charlotte sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.


"Tidak punya." balas Justin menggelengkan kepala pelan.


"Bagaimana dengan sepeda motor?"


"Tidak punya juga."


"Ah, begitu rupanya... kuat juga ya..." ujar Charlotte tersenyum miring sementara otaknya mulai memikirkan yang bukan-bukan.


"Hah?"


"Tidak." Charlotte buru-buru menggelengkan kepalanya. "Aku hanya penasaran, apa kau tidak merasa lelah jika harus mengayuh sepedamu terus menerus seperti itu?"


Justin tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya samar. "Tentu saja lelah. Tapi itu dulu, kalau sekarang tidak. Mungkin karena sudah terbiasa!"


"Kenapa kau tidak coba pakai sepeda motor atau mobil, mungkin?"


"Saya mana punya uang." Justin terkekeh pelan. "Tapi saya tidak masalah. Saya selalu berpikiran kalau naik sepeda begitu akan membuat kita jadi lebih sehat."


"Sehat?"


Justin mengangguk mantap. Namun berbeda dengan Charlotte, gadis itu malah terkekeh geli mendengar kalimat itu.


'Sehat apanya. Kau bahkan terlihat lebih seperti tulang tengkorak karena tubuhmu yang terlalu kurus itu.' batin Charlotte sambil menggelengkan kepalanya dengan senyum kecil.


Justin menatap kebingungan. "Kenapa anda tertawa?"


"Bicara tentang sehat, itu agak lucu untukku."


"Lucu?"


"Ya! Kalau kau membahas tentang 'sehat', bukankah itu adalah hal yang lain. Maksudku, ketika kau ingin sehat harusnya kau berolahraga, pergi ke gym, misalnya." ujar Charlotte terkekeh.


"Tapi kau... kalau kau malah menggunakan sepeda kemana-mana. Baiklah, benar kalau itu memang menyehatkan. Tapi bukankah kau justru akan merasa sangat lelah di bandingkan dengan sehat?"


Justin mengangguk, "Ya, saya juga setuju dengan hal itu. Saya memang lelah mengayuh."


"Benarkan kataku."


"Jika kau ingin sehat kau bisa pergi ke Gym."


"Tapi saya tidak mungkin punya waktu untuk pergi ke tempat seperti itu karena saya harus bekerja siang dan malam. Jadi bukankah lebih baik kalau saya memanfaatkan barang yang ada saja. Lagipula saya bisa bekerja sekalian olahraga."


Sekali lagi Charlotte terkekeh. "Benar juga. Aku akan setuju dengan perkataanmu yang itu." ujarnya.

__ADS_1


Setelah percakapan itu Charlotte memilih untuk diam dan fokus pada jalanan. Charlotte yang bungkam juga memaksa Justin untuk diam. Toh dia harus mengatakan apa lagi? Akhirnya, selama beberapa saat mereka terus diam membisu dan di sibukkan oleh pikiran mereka masing-masing.


"Ngomong-ngomong apa aku sudah pernah mengatakan padamu kalau kau punya wajah yang sangat tampan."


"ya?"


Justin menolehkan pandangannya saat mendengar ucapan mengejutkan yang di ucapkan Charlotte padanya.


Charlotte melirik sekilas pada Justin lalu kembali fokus pada jalanan di depannya.


"Pasti sudah banyak yang mengatakan itu padamu."


"Ah, masalah itu." Justin menunduk malu.


"Aku sudah sangat sering bertemu dengan berbagai macam pria tampan. Tapi aku tidak pernah bertemu yang seperti dirimu. Kau… sangat tampan."


Justin yang sebelumnya menunduk malu, memilih untuk segera menghindari tatapan Charlotte dengan memalingkan wajahnya ke arah luar jendela mobil. Sejujurnya, ia memang sudah sangat sering mendapat pujian yang sama, namun kali ini rasanya agak berbeda karena Charlotte yang mengatakannya.


Sementara itu Charlotte hanya terkekeh melihat Justin yang salah tingkah,


'Baru mendapat rayuan seperti itu dia sudah tersipu begitu? Bukankah ini mudah sekali. Ya, terlalu mudah untuk menggodanya. Cih, kalau begini akan mudah bagiku mengajaknya untuk naik ke atas ranjang nanti. Ya ampun...' Charlotte hanya mengejek dalam hati.


Sejujurnya, itu hanya kalimat yang sangat biasa bagi Charlotte. Ia bahkan mengatakannya dengan sangat santai tapi entah kenapa berhasil membuat pemuda itu menuduk malu begitu. Meskipun Charlotte akui kalau ucapannya memang benar dan Justin memang sangat-lah tampan.


"Entah aku saja atau kau memang terlihat sangat gugup sekarang. Terutama saat kau menatapku?" Charlotte berbicara sambil tersenyum miring. "Kau selalu menunduk malu saat menatapku. Apakah benar kau menyukaiku?"


Tubuh Justin seketika menegang. Matanya membulat saat Charlotte kembali menanyakan hal yang mengejutkan kepadanya. Justin buru-buru menundukkan kepalanya, matanya berkedip gugup, ia merasa bingung harus menjawab apa atas pertanyaan ini.


'Apa dia tau perasaanku yang sebenarnya." Justin bergumam pada dirinya sendiri dalam hati.


"Bisa kau angkat wajahmu?" perintah Charlotte dengan nada tegas. "Bukankah tidak sopan jika kau menunduk saat orang lain tengah mengajakmu bicara?"


Dengan perlahan, akhirnya Justin mengangkat kembali wajahnya yang menunduk.


"Jadi, apakah kau memang menyukaiku?"


"Masalah itu... aku..."


"Aku hanya bertanya." ujarnya dengan santai. "Ya sejujurnya aku punya banyak pengalaman soal laki-laki. Dan dari caramu menatapku... itu terlihat jelas kalau sepertinya kau memang menyukaiku."


"Be-benarkah begitu?"


Charlotte diam selama beberapa detik sebelum akhirnya terkekeh kemudian menggelengkan kepalanya.


"Kau ini sangat mudah di bohongi ternyata." ujarnya sambil terus tertawa geli dan membuat Justin mengernyit.


"Dibohongi?"


"Ya." jawab Charlotte.


"Anda membohongi saya?"


"Tentu saja, iya. Lagipula bagaimana aku bisa tahu tentang itu? Bagaimana aku bisa tau bagaimana perasaan orang lain terhadapku. Ya ampun... polos sekali." Charlotte kembali tertawa. "Dan juga... ekspresi wajahmu tadi terlalu lucu."


"Kau terlihat sangat tegang! Jadi aku mengerjaimu. Santai saja,oke! Aku tadi hanya bercanda. Kau terlihat begitu terkejut." ujar Charlotte kembali menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.


"Ah, iya." jawab Justin tersenyum kecil.


Justin menelan ludahnya, berusaha untuk menahan kegugupan. Jauh di dalam lubuk hatinya ia ingin sekali mengiyakan pertanyaan itu. Tapi apalah daya kenyataan menghantam dirinya dengan keras.


Kenyataan jika ia dan Charlotte jelas bagai langit dan bumi.


Charlotte adalah gadis yang cantik.


Model terkenal.


Kaya raya.


Cucu seorang pengusaha.

__ADS_1


Dan cucu dari atasannya sendiri.


Semua kenyataan itu menyadarkan Justin kalau tidak akan ada kesempatan baginya dan Charlotte untuk bersama. Dan lihatlah ini, dari yang Justin lihat Charlotte bahkan seakan tak memiliki perasaan apapun untuknya.


Justin kembali diam setelah itu. Ia memilih menikmati waktu berdua dengan Charlotte. Baginya kesempatan ini, kesempatan untuk duduk bersama dengan gadis ini tak akan datang dua kali.


Tidak sampai sepuluh menit setelah percakapan itu berakhir, Charlorte akhirnya memberhentikkan mobilnya tepat di depan sebuah halte bis.


Charlotte menolehkan pandangan kesebelahnya dimana Justin berada. Di situ, dia bisa melihat pemuda itu ternyata sedang tertidur pulas dengan tangan yang masih memeluk tas ransel miliknya di depan dada.


"Dia tertidur rupanya." gumam Charlotte pelan.


Charlotte tersenyum miring, menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil dengan tubuh yang menghadap Justin. Tidak ada hal lain yang dilakukan Charlotte, gadis itu hanya terdiam, memandangi wajah tampan Justin.


"Jika dia lahir di keluarga kaya, aku akan menjadikannya pacarku."


"Itu pasti akan menjadi standar bagi para lelaki yang mendekatiku kalau mereka harus punya wajah yang lebih tampan darinya." gumam Charlotte. "Sayang sekali."


Sekitar lima menit lamanya, Charlotte hanya diam sambil memandangi pemuda itu sebelum kemudian dia mendekatkan wajahnya pada wajah Justin.


"Tampannya..." puji Charlotte tanpa sadar.


Dan detik selanjutnya Charlotte bisa merasakan kedua pipinya yang memanas. Dengan cepat ia memegangi kedua pipinya. Ia merasa tersipu saat menatap wajah pemuda ini. Entah kenapa ia yakin kalau saat ini kedua pipinya pasti sudah memerah.


"Tunggu dulu," Charlotte menggelengkan kepalanya dengan kencang.


"Kenapa aku berpikir kalau dia tampan? Ya baiklah, dia memang tampan, tapi dia jelas bukan tipeku yang biasanya. Dia ini hanya-lah pemuda biasa yang bahkan tak berarti apapun untuk diriku. Dia tidak kaya dan itu adalah masalahnya." kata gadis itu meracau dengan nada pelan.


Setelah itu, Charlotte bisa melihat tubuh Justin yang bergerak perlahan dan pemuda itu mulai membuka kedua matanya.


Justin mengerjap pelan, menatap Charlotte tanpa mengatakan apa-apa saat itu. Sebenarnya ia agak terkejut saat menyadari wajah Charlotte tengah berada sedekat itu dengan wajahnya.


'Kenapa nona Lottie menatapku sedekat ini?' batin Justin. Wajah Justin terlihat memerah, ia menahan malu. Bagaimana tidak, begitu membuka mata, ia melihat Charlotte menatapnya dengan jarak yang sangat dekat.


Menyadari kecanggungan yang terjadi. Charlotte tersenyum kaku. Sambil berdehem pelan, Charlotte lalu menarik mundur tubuhnya.


"Baru saja aku ingin membangunkanmu. Lihat! Kita sudah sampai!" ujar Charlotte sambil menyandarkan kembali punggungnya ke sandaran kursi, terlihat raut kecewa menghiasi wajahnya.


"A-apa?" Justin bertanya gugup dengan wajah terkejut.


"Kita sudah sampai halte yang kau maksud." ujar Charlotte sekali lagi, mencoba memperjelas perkataannya.


"Benarkah?"


Justin mengintip ke luar, ke area sekitar mobil dan benar saja, mobil itu sudah berhenti tepat di depan halte bis.


Justin menoleh kembali pada Charlotte yang tampak salah tingkah di posisinya. "Kalau begitu saya turun dulu."


"Hm." Charlotte mengangguk pelan tanpa menatap Justin.


Justin tersenyum ragu. Ia lalu melepas sabuk pengamannya dan memasang kedua tali ransel miliknya ke bahu.


Ia hendak membuka pintu mobil sebelum kembali menoleh pada Charlotte, membuat dahi gadis itu mengerut.


"Ada apa?" tanya Charlotte heran.


"Nona, pintu mobilnya masih terkunci..." ujar Justin pelan.


Bibir Charlotte mencebik, sambil membuka kunci pintu dari tombol yang ada di dekatnya.


"Kau tidak bisa membukanya?"


Justin menggeleng pelan. "Tidak."


"Turunlah! Aku sudah membukanya." ujar Charlotte.


Justin mengangguk dan segera turun dari mobil.


Setelah turun dari mobil, Justin sengaja menunggu sampai mobil Charlotte berlalu pergi. Begitu mobil itu kembali melaju, Justin hanya menatap dalam diam kepergian mobil Charlotte dari tempat ia berdiri.

__ADS_1


"Kami benar-benar bagaikan langit dan bumi" gumamnya tersenyum miris.


***


__ADS_2