Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
83.


__ADS_3

Justin menekan knop pintu dari ruang kerja tuan Romanov dengan gerakan ragu. Ia gugup. Pasalnya berdasarkan pengalaman yang ada, ia tak pernah berhasil menebak apalagi sampai mengetahui hal apa yang akan di katakan tuan Romanov padanya. Semua yang di lakukan pria paruh baya itu selalu berhasil mengejutkan dirinya.


Tidak langsung masuk, Justin memilih untuk menyembulkan kepalanya dari celah pintu yang sedikit terbuka.


"Permisi, kakek?" kata Justin.


Tuan Romanov yang terlihat sedang mengerjakan sesuatu yang ada di atas mejanya sontak saja menghentikan pekerjaannya dan menatap pada Justin.


Ia tersenyum dengan lembut.


"Justin." ujarnya pada Justin, menyapa balik.


"Benarkah kakek ingin bertemu dengan saya?" tanyanya ragu.


Tuan Romanov diam untuk beberapa detik.


Setelah itu, tanpa menjawab sepatah kata pun tuan Romanov menunjuk ke arah sofa yang ada di tengah ruangan dengan dagunya, mengisyaratkan pemuda itu untuk duduk di sana.


Justin menganggukkan kepala dengan patuh dan segera melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan. Tuan Romanov kemudian bangkit dari kursi kerjanya dan turut melangkah ke arah sofa dan duduk di sana.


Untuk beberapa saat Justin hanya diam di atas sofa itu. Ia terus memperhatikan wajah tuan Romanov, sepertinya ia menunggu pria paruh baya itu untuk mengatakan apa yang ingin dia utarakan padanya. Alasan kenapa dia meminta Justin datang ke ruangan ini.


"Sejujurnya, kakek sangat ingin mengucapkan terima kasih kepadamu karena sudah bersedia datang kemari malam hari ini." ujar tuan Romanov tersenyum.


"Ah, justru saya-lah yang harusnya berterimakasih karena sudah di izinkan menikmati makanan yang sangat enak." Justin menjawab dengan tersenyum malu.


"Menurutmu makanannya enak?"


"Ya, rasanya sangat enak. Saya hampir tidak pernah menikmati makanan sebanyak ini sebelumnya."


Tuan Romanov terkekeh.


"Kau bisa datang setiap malam jika ingin menikmati makanan yang kau inginkan. Kakek bisa meminta Mario untuk menjemputmu kemari nanti."


"Ah, terima kasih, tapi itu tidak perlu, kek!" Justin menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia tentunya masih punya rasa malu. Ya, betapa tak tahu malunya jika dia sampai melakukan hal seperti itu.


Setelah mendengar jawaban Justin, tuan Romanov tersenyum penuh arti. Ia mengerti dengan jelas kalau Justin pasti merasa tidak enak dengan tawarannya barusan.


Keadaan mendadak berubah menjadi hening setelah itu. Dan beberapa detik kemudian tuan Romanov terdengar menghela napasnya.

__ADS_1


"Justin," serunya sambil menundukkan kepalanya.


"Ya, kek?"


"Kakek berharap mulai sekarang kau akan lebih sering datang kemari. Kau bebas datang dan pergi dari mansion ini."


"Saya akan berkunjung jika sempat, kek." ungkap Justin.


Sebebas apapun ia untuk datang, tapi mana mungkin ia akan terus menerus datang kemari. Ia tau apa itu istilah 'tahu diri'. Ia lalu tersenyum miris sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Kau termasuk penting bagi kakek. Dan kakek juga sudah mengatakan pada Paul agar menyampaikan pada seluruh pekerja mansion tentang siapa dirimu. Kakek hanya tak mau ada satupun penjaga ataupun pelayan yang akan menghadangmu saat kau datang kemari nanti."


Justin menatap terkejut pada pria paruh baya itu.


Tuan Romanov memang sudah mengatakan hal yang serupa beberapa kali padanya. Awalnya Justin merasa kalau tuan Romanov hanya mengatakan perkataan itu sebagai kalimat basa-basi saja agar Justin merasa nyaman. Namun pada akhirnya Justin menyadari kalau tuan Romanov tidak main-main dengan ucapannya.


“Maaf sebelumnya, kek. Tapi kenapa anda bisa sebaik ini pada saya? Jika alasannya adalah karena kejadian kecelakaan waktu itu bukankah kakek sudah memberi saya ganti rugi. Saya juga sudah menerimanya. Tapi ini... kenapa..."


"Jika kau menanyakan alasan. Kakek pun tak tahu kenapa kakek melakukan ini. Mungkin jika kau benar-benar membutuhkan sebuah alasan untuk ini... maka kakek akan mengatakan... tak ada alasan, karena kakek hanya ingin melakukannya."


"Tak ada alasan?"


"Kakek rasa tidak perlu alasan, Justin. Kakek hanya begitu suka pada dirimu. Pada sifatmu. Menurutmu, kemana lagi kakek harus mencari orang yang baik sepertimu?"


"Menurut saya sangat banyak sekali orang baik di dunia ini."


"Tapi tidak menarik perhatian kakek." ujar tuan Romanov. "Kakek adalah orang yang di segani. Semua orang akan baik di hadapan kakek. Itu sebabnya tak ada yang menarik perhatian kakek. Tapi kau berbeda. Kau sudah dapat menarik perhatian kakek bahkan hanya dalam satu kali pertemuan kita. Bagi kakek, kau tulus."


Jawaban tuan Romanov itu berhasil membuat Justin terdiam selama beberapa saat. Ia tak bisa menjawab apapun.


"Kau tahu, kakek akan selalu melihat dirimu seperti cucu kakek sendiri" lanjut tuan Romanov padanya


Justin terdiam sesaat sebelum mulai kembali menjawab, "Saya tahu, kakek sudah mengatakannya beberapa kali. Kakek juga yang meminta saya untuk memanggil dengan sebutan 'kakek' kan? Dan saya juga berpikir kalau anda sudah seperti kakek saya."


"Oleh karena itu, kakek melakukan semua ini untukmu. Kakek selalu menyayangimu seperti cucu kakek sendiri. Jadi janganlah sekalipun kau mempertanyakan alasan kakek terus berbuat baik padamu."


Justin kembali diam. Ia tampak duduk tertegun saat mendengarkan ucapan tuan Romanov itu.


"Saya minta maaf jika mempertanyakan segala kebaikan yang kakek berikan pada saya." Justin menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Jangan sungkan." tuan Romanov tersenyum.


"Lagipula kakek juga paham kenapa kau mempertanyakan apa yang kakek lakukan. Kau pasti merasa bingung karena kebaikan yang kakek berikan tiba-tiba."


"Kakek hanya berharap kalau selanjutkan kau akan menerima apa yang akan kakek berikan padamu."


Justin mengangguk, "Akan saya usahakan sebisa saya untuk menanggapi dengan baik atas apa yang kakek berikan supaya tidak mengecewakan kakek kedepannya.


Kali ini tuan Romanov tidak menjawab apapun tapi hanya tersenyum pada pria muda di hadapannya itu.


Justin melirik kearah jam yang ada di ponselnya.


Ia menghela dan memberi senyuman pada tuan Romanov. "Saya harus pergi, kek!"


"Apa kau akan pulang?"


"Ya, tuan." Justin mengangguk


Tuan Romanov melihat jam pada pergelangan tangannya. "Kakek pikir ini sudah terlalu malam untukmu pulang, kau bisa menginap di sini."


"Ah, masalah itu... saya tidak bisa, kek!"


"Tapi kenapa?"


"Saya..." Justin menjeda kalimatnya dengan senyum canggung. "Saya harus mengantar koran pada pagi hari, saya takut terlambat sampai di rumah."


"Begitu rupanya."


"Kalau begitu, saya pulang dulu, kek." pamit Justin sambil memberi hormat pada tuan Romanov. Ia berdiri dan langsung berjalan menuju pintu keluar ruangan.


Tuan Romanov diam, tampak memikirkan sesuatu di kepalanya. Ia lalu mengadahkan kepalanya dan melihat Justin yang melangkah menjauh darinya.


"Justin!" serunya.


Mendengar seruan itu, tangan Justin yang sudah hampir memegang knop pintu itu seketika saja terhenti. Ia lalu menolehkan kepalanya pada tuan Romanov.


"Ya?" jawab Justin kemudian.


"Kakek akan minta seseorang untuk mengantarmu."

__ADS_1


***


__ADS_2