Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
15


__ADS_3

Suasana bandara sore itu jauh lebih ramai dari biasanya. Di tengah keramaian itu tampak seorang pria paruh baya dengan uban yang sudah terlihat jelas pada kepalanya, tengah berjalan santai menuju lobi bandara di ikuti beberapa pria lain di belakangnya.


Pria tua itu berjalan lurus melewati kerumunan orang-orang yang lalu lalang di dalam gedung bandara itu.


Beberapa saat kemudian, pria tua itu terlihat menghentikan langkahnya sejenak dan mengedarkan pandangannya ke seluruh area bandara. Ia memperhatikan seluruh bagian dari bangunan bandara itu, yang menurutnya jauh lebih mewah sejak kepergiannya lima tahun lalu.


"Lihat ini aku baru pergi selama beberapa tahun saja dari negara ini, tapi bandara ini bahkan sudah banyak berubah." gumam pria tua itu.


"Ya. Anda benar tuan!" jawab salah satu dari beberapa pria yang berdiri di belakangnya yang tak lain adalah bodyguard pribadi~nya itu.


"Hm..." pria tua itu melihat ke sudut yang lain. "Lihatlah! Bangunannya bahkan terlihat sangat modern, Mario."


Mario, pemimpin dari para bodyguard sekaligus pria yang sejak tadi di ajak bicara itu menganggukkan kepalanya sopan pada sang atasan. "Saya sangat setuju, tuan!"


"Bagaimana? Apa kau merindukan negara ini, Mario?"


"Sangat tuan, karena ini adalah negara tempat saya di lahirkan, jadi saya benar-benar merindukannya. Sudah lama sejak saya terakhir kali menginjakkan kaki di negara ini." 


Tangan pria tua itu lalu bergerak perlahan untuk membenarkan bagian jas mewahnya yang saat ini tampak sedikit kusut agar kembali rapi. Ia kemudian kembali melanjutkan langkahnya, mengambil jalan lurus melewati lobi menuju pintu keluar bandara dan berhenti tepat di depan pintu keluar.


Pria tua itu mengeratkan jasnya sekali lagi dan berdiri tegak tanpa menengok kiri dan kanan, hanya menatap lurus ke depan.


"Mobil jemputan anda akan tiba dalam lima menit tuan. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju kemari." ujar Mario berjalan mendekat sambil memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana, rupanya ia baru saja menghubungi seseorang.


"Dimana mereka saat ini?"


Mario menatap majikannya sebentar, lalu menjawab pertanyaan sang atasan. "Baru saja Paul menelepon dan memberitahu jika mobil yang mereka kendarai harusnya tiba setengah jam lebih awal. Namun mereka sempat terjebak macet saat di perjalanan kemari tadi."


"Begitukah? Tidak masalah." ujar pria tua itu sembari mengangguk paham. "Oh ya, bagaimana dengan kesiapan di mansion utama? Apa kau sudah mengabari mereka tentang kepulangan kita ini?"


Mendengar pertanyaan itu, Mario mengangguk. "Ya tuan, sudah. Dan tadi pihak mansion juga mengatakan pada saya kalau mereka sudah mempersiapkan semua yang di perlukan untuk makan malam anda di mansion nanti. Mereka juga sudah meminta chef pribadi datang untuk membuatkan makanan kesukaan anda." terang Mario panjang lebar.


Pria tua itu lalu tersenyum. "Kau menjadi sangat gesit sekarang, Mario!"


Mendengar pujian dari sang atasan, pemuda itu langsung menundukkan kepalanya hormat, "Semua tentu saja karena tuntunan anda yang luar biasa, tuan!"


Tidak lama setelah itu beberapa buah mobil mewah datang dan berjejer tepat di hadapan mereka. Dan beberapa detik setelah itu terlihat seorang pria tua yang mengenakan jaket hitam turun dan berlari kecil mendatangi mereka.


"Tuan Romanov Clinton." ujar pria berjaket hitam itu dengan senyuman.


Mendengar namanya yang baru saja di panggil tuan Romanov pun menoleh ke arah pria tua itu. Dia balas tersenyum saat melihat siapa yang sedang berjalan ke arahnya. Tuan Romanov mengenal jelas siapa pria itu, dia Paul, sang asisten pribadinya.


"Paul!" sapa tuan Romanov balik sembari tersenyum pada sang asisten.

__ADS_1


"Selamat datang tuan." Paul lalu membungkuk sopan, mencoba memberi hormat pada sang majikan. "Maaf saya sedikit terlambat tuan, saya tadi-"


"Aku tahu!" potong tuan Romanov. "Tidak masalah, kami juga baru tiba disini beberapa menit yang lalu."


Paul kembali menundukkan kepalanya. "Sekali lagi saya mohon maaf tuan."


Tuan Romanov tidak menjawab ucapan Paul. Ia hanya mengangguk sembari tersenyum simpul pada asistennya pribadinya itu.


Dan masih dengan senyuman yang terpaut di wajahnya, tuan Romanov kemudian berkata, "Paul, kau belum memberitahu Charlotte dan Xander tentang kedatanganku yang memang tiba lebih awal ini kan?"ujar tuan Romanov.


"Tentu belum, tuan." Paul menggelengkan kepalanya, "Sesuai permintaan anda, saya belum memberitahu nona dan tuan muda perihal kedatangan anda."


Tuan Romanov menerawang. "Aku sudah dengan sengaja mengubah jadwal kepulanganku lebih awal agar bisa sampai di sini lebih awal juga. Aku harus mengetahui apa saja yang para cucuku lakukan. Akan kacau kalau mereka berdua sampai tahu kepulanganku ini."


"Baik tuan, saya juga sudah meminta pada pihak mansion agar mereka merahasiakan kedatangan anda, dan tidak memberitahu nona Lottie dan tuan Xander." jelas Paul dengan nada tenang.


"Bagus, bagus!" puji tuan Romanov.


Mendengar pujian itu, Paul mengangguk dan tersenyum. "Ah, baiklah. Mari tuan! Silahkan ikut saya, tuan!" ujarnya sembari menuntun sang majikan menuju ke arah tempat ia memarkirkan mobil.


Paul lalu bergegas membukakan pintu bagian belakang untuk tuan Romanov. Ia menunggu sampai sang majikan itu masuk ke dalam mobil, baru kemudian dia bergerak masuk ke kursi bagian depan, duduk di sebelah supir.


"Paul, cepat kau perintahkan Mario dan bawahannya untuk pulang saja lebih dulu dan istirahat!" perintah tuan Romanov.


"Saya sudah memberitahu mereka tuan." ujar Paul sembari memasukkan ponselnya ke dalam kantong jaket.


"Hm. Bagus!" tuan Romanov tersenyum.


Tuan Romanov kini duduk santai, menyandarkan punggungnya sambil menatap isi mobil yang ia tumpangi, tidak lama setelah itu terdengar suara decakan dari mulutnya.


"Apa Lottie membeli mobil baru lagi?" tanya tuan Romanov masih terus menatap seluruh isi mobil lekat. "Mobil ini terlihat sangat baru."


Paul yang saat ini tengah mengenakkan sabuk pengamannya langsung menoleh dan menatap tuan Romanov canggung. "y-ya tuan, nona yang membeli mobil ini."


"Sudah ku duga ini pasti ulah Charlotte. Hanya dia-lah satu-satunya orang yang berani melakukan hal-hal seperti ini. Karena jika itu Xander, dia pasti akan meminta izin dariku terlebih dahulu." ujar Tuan Romanov menggeleng pasrah.


"Seingat saya, nona membeli mobil ini sekitar lima hari lalu yang lalu tuan."


"Tapi bukankah kau mengatakan bahwa dia membeli mobil untuk mengganti mobilnya sendiri yang sempat menabrak pohon beberapa waktu lalu?" tuan Romanov menatap Paul heran.


"Maaf tuan! Tapi nona juga membeli mobil untuk mansion utama."


Tuan Romanov menggeram kesal. "Bukankah dia sudah punya mobil sendiri di apartementnya dan juga di rumahnya? Lalu kenapa dia dengan seenaknya mengganti mobil utama di mansion."

__ADS_1


"Beberapa hari lalu nona pergi mengunjungi mansion dan nona terus mengomel perihal keadaan dan juga kondisi mobil di mansion. Nona mengatakan kalau mobil yang sebelumnya sudah terlalu usang untuk di gunakan dan langsung membeli yang baru."


"Begitukah?" tuan Romanov menaikkan sebelah alisnya. "Lalu kenapa kau tidak memberitahu aku?"


Paul menelan ludahnya kasar, ia tidak tahu harus mengatakan apa. "Nona, dia-"


"Apakah dia mengancammu macam-macam?" tebak tuan Romanov yang membaca gelagat gugup dari asistennya itu.


Tuan Romanov sangat hafal sifat dari asistennya itu. Paul begitu setia padanya. Paul akan melakukan apapun yang tuan Romanov katakan padanya. Tapi entah kenapa, untuk kali ini Paul tidak memberitahu masalah pembelian mobil baru ini.


"I-itu..." Paul menghela nafasnya. "Maafkan saya tuan!"


Benar saja!


Charlotte pasti sudah mengancam Paul.


Tuan Romanov menghela dan menggelengkan kepalanya. "Kau tenang saja Paul! Charlotte tidak akan melakukan apapun padamu."


Paul mengangguk.


"Charlotte!" gumam tuan Romanov lelah. Ia memijit kepalanya yang terasa pening, "Anak itu benar-benar pembuat onar.


"Lalu... apakah dia hanya membeli mobil ini saja?" tanya tuan Romanov lagi.


Paul kembali terdiam. Ia menundukkan kepalanya takut dan membuat tuan Romanov berdecak kesal. "Ck, jika mengenal sifat dari gadis itu aku rasa tidak kan?"


Paul mengangguk perlahan. "Anda benar tuan. Selain mobil ini, nona juga membeli tiga mobil baru sekaligus, tuan."


"Apa?" tuan Romanov membelalakkan matanya. "Lalu bagaimana dengan mobil yang lama?"


"Nona sudah menjualnya dan uangnya juga sudah beliau titipkan pada saya." jelas Paul.


Tuan Romanov menggelengkan kepalanya pelan. Jujur saja, sebenarnya dia sangat menyayangkan sifat boros dari cucunya itu.


Dan lihatlah!


Gadis itu bahkan tidak suka melihat mobil usang dan lebih memilih membeli mobil yang baru.


Bukankah orang lain akan mengganti kendaraan mereka saat rusak atau bermasalah. Tapi Charlotte berbeda, ia akan mengganti mobilnya jika dia sudah merasa bosan.


Bukankah itu terlalu boros?


Dia benar-benar terlalu boros!

__ADS_1


***


__ADS_2