Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
98


__ADS_3

Sepulangnya dari klub malam. Charlotte kini sudah tiba di rumahnya. Ia menelepon mansion agar seorang supir menjemputnya karena ia merasa tak mampu membawa mobil sendiri.


Ia tak berniat menelepon sang kakak karena sedang merasa kesal padanya. Charlotte merasa begitu di bohongi oleh pemuda itu.


Bayangkan saja, siang hari setelah makan di restoran, Xander terus mengatakan padanya kalau ia akan datang. Pemuda itu bahkan mengatakan pada Charlotte untuk menunggunya sampai ia datang.


Tapi yang terjadi adalah pemuda itu malah tak muncul sama sekali. Begitu Charlotte mencoba untuk menghubungi, Xander tak mengangkat telepon. Alhasil, Xander membuatnya harus menunggu di klub malam selama berjam-jam.


Ini sudah jam dua malam dan Charlotte baru pulang. Jika sang kakek tau Charlotte akan pasti habis.


Charlotte kini melangkah dengan gontai memasuki mansion. Lihatlah! Ia bahkan hampir tak bisa berdiri dengan benar sekarang.


"Charlotte!" panggil Xander begitu Charlotte memasuki ruang keluarga.


Mendengar seruan itu Charlotte yang tengah menuju ke tangga sontak menghentikan langkah. Ia berbalik untuk menatap sang kakak yang saat ini tengah duduk di sofa.


"Kau baru pulang?"


"Hm.."


Xander menatap jam yang berada di dinding.


"Ini jam dua malam."


"Lalu?"


"Kenapa kau baru pulang?" tanya Xander. "Aku sudah menunggumu sejak tadi."


"Aku tidak bertanya." jawab Charlotte cuek, sedikit ketus.


"Aku hanya memberitahumu."


"Ya, baiklah." Charlotte memutar bola matanya malas. "Sekarang aku sudah tau. Lalu setelah itu apa?"


Sikap pongah yang Charlotte tunjukkan saat ini membuat Xander sedikit kesal.


"Charlotte, setidaknya hargai aku yang sudah menunggumu."


"Aku bahkan tidak memintamu."


"Tapi aku khawatir karena kau belum pulang. Itu sebabnya aku menunggumu."


"Aku tidak perlu dikhawatirkan."


"Charlotte-"


"Ah, tapi jika kau memang butuh ucapan terima kasih dariku, aku akan dengan senang hati mengucapkan terima kasih padamu. Haruskah aku mengucapkannya?"

__ADS_1


Xander memalingkan wajahnya, menahan emosinya yang mulai muncul karena sikap cuek adiknya ini.


Melihat Xander yang hanya diam, Charlotte memilih melanjutkan langkah kakinya dengan langkah yang terlihat sedikit sempoyongan


"Kau mau kemana?" ujar Xander.


"Kamar!"


"Tapi kita belum selesai bicara."


"Selesai atau tidak itu bukan urusanku. Tidak perlu di lanjutkan juga. Percakapan ini tak begitu penting."


"Charlotte!" suara Xander mulai meninggi. "Apa kau sedang memancing emosiku?"


Charlotte kembali menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badan dan menatap kakaknya dengan sinis.


"Apalagi?"


"Kakek hanya membatasimu sampai jam dua belas malam. Kalau kakek-"


"Aku tidak butuh nasehatmu."


"Ya, kau memang tidak butuh. Tapi aku? Aku adalah orang yang di beri amanat oleh kakek untuk menjagamu. Artinya aku bertanggung jawab penuh atas apapun yang kau lakukan."


Charlotte mendecih.


"Ayolah Xander, jangan membual."


"Lihatlah! Kau tengah bicara seolah kau sedang mencoba menuntaskan kewajibanmu saja."


"Aku memang sedang melakukan kewajibanku!"


"Oh, wow. Sungguh? Benarkah begitu? Apakah aku harus percaya?" ujar Charlotte, santai.


Sikap gadis itu begitu bertolak belakang dengan Xander yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan tajam.


Pemuda itu membuang napasnya panjang, ia tampak sedang mengatur amarahnya.


Charlotte lalu melanjutkan kalimatnya.


"Ayolah Xander. Kau pikir kau sudah melakukan kewajibanmu sebagai kakak? Kakak yang baik. Kakak yang bertanggung jawab. Begitu bukan? Semua orang memang selalu menganggap dirimu seperti itu. Padahal kenyataannya tidak sama sekali "


Xander menatap Charlotte kebingungan. "Apa maksudmu?"


"Dengar ini!" Charlotte menunjuk-nunjuk telinganya sendiri sembari menatap Xander tajam. "Jika kau memang merasa bertanggung jawab atas diriku, lantas kenapa kau malah pergi bersama kakek lama sekali?"


Xander tersentak.

__ADS_1


"Semua tidak seperti yang kau pikirkan, Charlotte. Aku pergi dengan kakek bukan untuk main-main."


"Itu tidak ada hubungannya denganku. Yang aku bahas di sini adalah kenapa kau tidak mengabari apapun tentang pembatalan kehadiranmu untuk pergi ke klub malam?"


"Bukankah kau bilang padaku kalau kau akan menyusul?" sambung Charlotte.


Xander mengatupkan bibirnya rapat. Ia seperti di pukul telak.


"Masalah itu..."


Charlotte menghembuskan napasnya dengan kasar dan kembali bicara.


"Aku tau kalau kau memang tidak akan menyusulku. Aku sudah mengatakannya di restoran, bukan. Tapi tidakkah kau ingat? Saat kita pulang dari restoran. Di perjalanan, kau terus saja meyakinkan aku bahwa kau memang akan datang."


"Kau memintaku menunggumu, Xander. Tapi apa? Kau tidak datang bukan." Charlotte lalu melanjutkan. "Dan masalah terbesarnya di sini adalah... kau bahkan tidak memberi kabar apapun padaku kalau kau tidak jadi datang!"


Xander terdiam sejenak. Benar, kemarin sepulangnya mereka dari makan siang, ia memang sempat beberapa kali mengatakan pada Charlotte kalau ia akan menyusul mereka ke klub malam. Ia bahkan meminta pada Charlotte untuk menunggu dirinya sampai ia datang. Inilah sumber masalah sebenarnya.


Dan Xander lupa dengan janjinya sendiri. Ia akui ia salah. Tapi ia punya alasan. Karena, jangankan untuk menyusul gadis itu ke klub malam, Xander bahkan tak bisa memegang ponselnya sama sekali.


Bayangkan saja, semua orang yang ada di hadapannya saat itu adalah para investor di perusahaan mereka.


Dan orang-orang itu tengah fokus membicarakan urusan pekerjaan. Xander hanya merasa tidak baik jika ia bermain ponsel atau pergi dari ruangan rapat, saat itu.


Saking seriusnya Xander saat itu, ia sampai lupa kalau punya janji dengan adiknya sendiri. Ia bahkan tidak ingat untuk mengabari gadis itu. Betapa salahnya ia di sini.


"Charlotte-"


"Pernahkah kau berpikir kalau aku pasti akan menunggumu terlalu lama di sana?"


"Dan begitu aku pulang, kau malah marah-marah padaku seperti saat ini." sambung Charlotte.


"Kau beri dulu aku kesempatan untuk membela diri, Lottie," suara Xander terdengar lirih di telinga Charlotte.


"Salah adalah salah, Xander. Dan aku tidak ingin mendengar penjelasan apalagi pembelaan diri apapun darimu. Lagipula, aku tau kalau ini bukan akhir masalah kita, ini adalah awal. Aku yakin kalau kau akan semakin sering melakukan ini. Kau akan mengecewakan aku, lebih dari ini."


Xander tidak bisa mengatakan apapun sebagai tanggapan. Pemuda itu menghela sambil memijit pangkal hidungnya, merasa frustasi sendiri.


Kata-kata Charlotte terus terngiang di pikirannya. Dan tiba-tiba muncul pertanyaan di kepalanya sendiri. Sebagai kakak, sudahkah ia melakukan kewajibannya?


"Jika kau ingin menjadi pria. Setidaknya tepati janji yang sudah kau buat sendiri." ucap Charlotte tenang, tapi begitu menusuk bagi Xander.


"Aku akan ke kamar sekarang." ujar Charlotte lagi dengan nada datar.


Setelah itu, Charlotte segera berlalu meninggalkan Xander begitu saja di tempat itu.


"Charlotte, dengarkan aku dulu!" seru Xander namun di abaikan begitu saja oleh gadis itu.

__ADS_1


Xander menghela napasnya panjang sambil mengusap wajahnya kasar. Ia menggaruk kepalanya dengan dua tangan, benar-benar merasa frustasi.


***


__ADS_2