Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
53.


__ADS_3

Tubuh Justin jatuh ke tanah setelah sebelumnya menabrak sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan karena ia terlambat mengerem sepedanya.


Ia meringis saat merasakan sakit dan nyeri pada siku kanannya yang baru saja menghantam aspal.


Justin perlahan bangkit sembari mengusap-usap dan membersihkan pakaiannya yang sedikit kotor. Dan dengan sedikit tergesa, ia lalu mengambil sepedanya yang tergeletak di dekatnya lalu menstandarkannya di pinggir jalan.


Kemudian, sambil memegangi lengan kanannya yang terluka, Justin dengan perlahan melangkahkan kakinya mendekat pada mobil itu.


Tangannya lalu mulai bergerak menyentuh body mobil yang baru saja ia tabrak itu. Ia berdecak dan menatap kagum pada mobil mewah di hadapannya itu.


"Tidak rusak kan?" tanyanya pada diri sendiri sambil mengelus mobil itu. "Mobilnya mewah sekali. Sepertinya ini mobil mahal." lanjutnya.


Namun tiba-tiba seorang pria turun dari dalam mobil itu, menatapnya dengan raut kesal. Pria itu kemudian melangkah mendekati Justin sambil berkacak pinggang.


'Mati aku, dia pasti pemilik mobil ini.' batin Justin sambil menatap pria itu takut.


"Astaga, apa yang kau lakukan, hah?" teriak pria itu pada Justin. Pria itu terlihat mengenakan setelan jas yang rapi, seperti orang kantoran.


"Aku tadi-"


"Kenapa kau menabrak mobil yang terparkir seperti ini?" ujar pria itu lagi dengan nada marahnya. "Kau tidak punya mata? Apa kau sedang mabuk?" lanjutnya.


"Maaf tuan, aku tidak sengaja menabraknya. Tadi aku sedang terburu-buru, jadi aku-"


"Lain kali gunakan matamu itu, berhati-hatilah. Untung saja tidak terjadi apa-apa pada mobilnya, jika tidak-"


"Ada apa ini?" seru sebuah suara.


Justin menolehkan kepalanya. Terlihat seorang wanita cantik yang juga keluar dari mobil yang baru saja ia tabrak tadi dan berdiri tidak jauh dari mereka.


Justin mengerutkan dahinya.


Gadis ini…


Sepertinya ia pernah melihat gadis ini.


Tapi dimana?


Ah, Justin ingat sekarang.


Ia langsung membulatkan matanya saat berhasil mengingat siapa gadis ini.


Tentu saja.


Dia adalah gadis yang sama dengan gadis yang sudah tanpa sengaja ia tabrak di kafe dekat kampusnya beberapa waktu lalu. Dan juga gadis yang sempat marah-marah padanya, hanya karena Justin tak mengenal siapa dia.


"Kenapa elo marah-marah begitu, Jason?" tanya gadis itu pada lelaki berjas kantoran tadi.


"I-itu Charlotte. Pemuda ini, dia baru saja menabrak mobil lo!"


Charlotte langsung menoleh pada Justin.

__ADS_1


"Elo? Elo ini kan si pemuda kafe!" ujar Charlotte menaikkan sebelah alisnya menunjuk Justin ragu.


"Anda kan si nona pemarah?" ujar Justin yang tampak masih terkejut.


Jason menatap Charlotte dan Justin bergantian lalu mengerutkan dahinya, heran. "Sayang, elo mengenal pemuda ini?"


"Dia..." gumam Charlotte kemudian menganggukkan kepalanya. "Ya, gue mengenal dia. Sedikit!"


"Baguslah, sayang. Kalau begitu lo bisa minta ganti rugi langsung ke orangnya." ujar Jason dengan nada angkuhnya.


Namun bukannya melakukan kata-kata Jason untuk minta ganti rugi pada Justin, Charlotte malah mengibaskan tangannya pertanda ia tidak perduli.


"Lupakan saja!" ujar Charlotte acuh sambil terus menatap Justin.


"A-apa?" Jason menatap Charlotte bingung.


Charlotte kembali menatap Jason. "Emm Jason, gue rasa pertemuan kita hari ini cuma sampai di sini saja dulu! Sekarang gue ada perlu dengan pemuda ini."


"Tapi Charlotte, mobilnya-"


Charlotte yang baru saja hendak melangkah mendekati Justin, langsung menghentikan langkahnya. "Ada apa lagi sih?" ujarnya sebal.


"Pemuda ini baru menabrak mobilmu, sayang. Dan dia-"


"Apa mobilnya rusak?" potong Charlotte.


Lelaki itu sedikit melirik bagian mobil yang di tabrak Justin tadi, kemudian menggeleng. "Tidak, tapi-"


Jason mengepalkan tangannya lalu menggeram kesal. 'Sial' umpatnya dalam hati.


Ia lalu menatap sinis pada Justin. Ia jelas marah pada pemuda itu, karena tadi ia dan Charlotte sedang asyik bermesraan di dalam mobil, tapi karena insiden ini, Justin jelas sudah mengganggunya.


Untuk beberapa detik ia terus menatap sinis pada Justin, sebelum akhirnya ia menghela napasnya pasrah dan mengangguk setuju.


"Baiklah, aku akan kembali ke kantor sekarang." ujar Jason pada Charlotte lalu berjalan menuju mobilnya yang terparkir tepat di belakang mobil milik Charlotte.


Setelah kepergian lelaki itu Charlotte kembali menoleh dan menatap Justin.


"Kita bertemu lagi." ujar Charlotte menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Entah kenapa, setiap bertemu sama elo, selalu saja ada masalah yang menghampiri gue."


"Dan ini jelas suatu kebetulan kita bisa bertemu lagi di sini, dengan cara seperti ini." ujar Charlotte lagi sambil menatap bagian mobilnya yang baru saja di tabrak Justin. "Lo punya uang buat ganti rugi mobil gue?"


Justin menelan ludahnya kasar. "Ganti rugi? Be-berapa?"


"Tiga juta!" jawab Charlotte dengan asal, ia sedang mengarang harga saat ini.


"Tiga juta?" Justin membulat. "Kenapa banyak sekali?"


"Lo lihat, ini penyok!" Charlotte menunjuk bagian mobilnya yang memang terlihat penyok. "Butuh biaya banyak untuk memperbaikinya! Lagipula, ini juga mobil mahal."


Charlotte lalu tersenyum licik.

__ADS_1


Ia jelas sedang berbohong sekarang. Karena, mana mungkin dia bisa tahu biaya perbaikan mobil.


Selain itu dia juga tidak pernah pergi ke bengkel, karena setiap mobilnya rusak ataupun tergores dia tidak perlu memperbaikinya dan hanya tinggal mengganti mobil saja.


"Bagaimana? Apa kau akan ganti rugi?" tanya Charlotte pada Justin yang kini malah terlihat melamun.


Justin menghela pelan. Ia jelas tidak punya uang untuk ganti rugi mobil mahal seperti ini. Ia bahkan baru berhenti bekerja kemarin, jadi bagaimana dia bisa membayar ganti rugi kerusakan ini.


Justin menggelengkan kepalanya. "Aku tidak punya uang, nona."


Charlotte tersenyum penuh kemenangan. "Kalau begitu elo harus mencicil uang ganti ruginya."


"Cicil?" tanya Justin dan langsung di angguki oleh Charlotte.


"Jadi gimana? Lo mau cicil nggak bayarnya? Kalau lo nggak mau, gue terpaksa harus bawa-bawa polisi."


"Iya, aku bersedia. Aku akan ganti rugi tapi jangan bawa polisi." mohon Justin gelagapan.


"Oke! Kalau gitu kasih gue KTP punya elo sekarang!"


"Hah, KTP?" Justin menatap Charlotte bingung sementara Charlotte langsung mengangguk angkuh.


"Tapi untuk apa?" tanya Justin lagi.


Charlotte memutar bola matanya malas. "Untuk ganti rugi tentu saja, apalagi memangnya?"


"Tapi kenapa harus KTP?"


"Ya tentu saja harus KTP!" ujar Charlotte mantap.


"Lo bilang kan nggak punya uang. Dan satu-satunya benda yang berharga buat lo ya cuma KTP. Jadi gue bakal ambil KTP lo sebagai jaminan atas pertanggungjawaban dari insiden yang baru aja terjadi. Gue kan nggak kenal sama lo, jadi gue nggak mau elo kabur nantinya."


"Baiklah." ujar Justin menghela napasnya pasrah. Ia mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan kartu identitas miliknya pada Charlotte. "Ini KTP ku, nona!"


Charlotte tersenyum dan langsung meraih kartu identitas Justin itu. "Oke, gue ambil ini!" ujar Charlotte.


Ia lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Justin, mengedipkan matanya. "Gue Charlotte Clinton, dan kita akan bertemu lagi!" ujarnya pada Justin.


Setelah itu, Charlotte kembali menaiki mobilnya dan langsung pergi meninggalkan Justin tanpa kata-kata lagi.


Sementara itu, Justin kini masih terdiam di tempatnya. Ia hanya bisa berdiri membeku sambil menatap kepergian gadis cantik itu.


Ia terus menatap mobil Charlotte bahkan sampai mobil gadis itu menghilang di tikungan jalan.


"Kenapa jantungku berdebar saat melihatnya dari jarak sedekat itu?" gumam Justin pada dirinya sendiri sambil memegangi dadanya.


***


✔ Note :


▪Author peduli dengan kesehatan mata kalian. Jadi, kalau kalian kurang suka sama ceritanya, Author sarankan kalian untuk mencari cerita yang lain saja, karena cerita ini bisa menyebabkan sakit mata akut.

__ADS_1


__ADS_2